Membaca seperti menarik nafas, menulis seperti menghembuskan nafas.

— Pam Allyn

Teknologi telah mengubah dunia, termasuk bagaimana cara kita mendapatkan informasi. Dulu kita hanya bisa mencari informasi melalui bentuk fisik saja, tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi, mencari informasi menjadi lebih praktis karena bisa dimanapun dan kapanpun.

Bagi mereka yang gila membaca, perkembangan teknologi sangat membantu mereka. Mereka tidak lagi dipusingkan dengan harus membawa bentuk fisik, seperti buku, koran, atau majalah saat mereka berpergian. Cukup menggunakan telepon pintar, tablet, atau laptop, beratus-ratus, beribu-ribu informasi bisa mereka dapatkan.

Sosial media juga menjadi tempat yang tidak hanya digunakan untuk pamer foto atau update status, tetapi menjadi salah satu alat untuk mencari informasi. Entah itu informasi tentang teknologi, bisnis, berita terhangat, bahkan sampai aib orang.

• • •

Apakah kamu suka mencari informasi melalui media sosial? Entah karena malas atau alasan-alasan lainnya, kamu lupa bahwa banyak hal yang menyebabkan media sosial bukanlah tempat terbaik.

GANGGUAN

Di media sosial, kamu akan lebih mudah terganggu karena tujuan utamamu sebenarnya memang bukan untuk mencari informasi, tetapi karena lainnya. Memposting foto terbaru, update status ketika lagi galau, senang, atau stalking seseorang.

Kamu membaca informasi yang ada bukan di dasari ole niat, tetapi karena memang kebetulan pas di scroll, tuh berita nongol, akhirnya baca deh. Habis membaca kamu liat sebuah postingan cowok ganteng, dibuka. Ada postingan cewek cantik, dibuka, eh ada DM, bales dulu ah.

Hal inilah yang akan membuatmu tidak fokus, alhasil otakmu tidak bisa menyerap informasi dengan maksimal. Informasi tersebut kemudian hanya sekedar lewat begitu saja.

Ingin bukti? coba sekarang kamu ingat-ingat informasi apa yang kmu dapat seharian ini dari media sosial? Kalau kamu masih ingat, good job!, kalau tidak, ada sesuatu yang perlu dibenahi.

MULTITASKING

Informasi yang ada di media sosial banyak sekali, apa pun yang kamu cari akan tersedia di sana. Yang menjadi masalah disini adalah kamu akan sering melakukan multitasking. Membaca informasi kemudian melanjutkan stalking lagi, kembali ke informasi lagi, kemudian menonton video.

Saat multitasking inilah otak kita akan terkena Cognitive Switching Penalty, yaitu keadaan di mana otak membutuhkan waktu untuk fokus dan berkonsentrasi saat berpindah tugas. Akhirnya otak memiliki kesulitan untuk fokus pada tugas selanjutnya karena masih ada residu dari aktivitas sebelumnya.

SEPOTONG-SEPOTONG

Informasi di media sosial hanya dibuat sesingkat mungkin—hanya sekedar intinya saja. Kamu hanya akan mendapatkan informasi yang tidak lengkap. Coba bandingkan jika kamu membaca buku. Kamu akan mendapatkan informasi yang jauh lebih berisi, dari pembahasan A sampai Z.

PENCAPAIAN PALSU

Membaca banyak informasi dengan berbagai topik akan membuat kamu merasa bahwa kamu telah mendapatkan banyak informasi, lebih produktif, dan telah menggunakan waktu dengan baik. Apakah benar? Sayangnya pencapaian yang kamu rasakan itu hanyalah sebuah ilusi.

Saat kamu selesai membaca suatu informasi, otak akan menghasilkan dopamin karena menganggap itu sebagai pencapaian. Hal itu membuatmu merasa ” Yes, aku telah berhasil mendapatkan informasi baru“, karena kepuasan ini kamu akan mencari informasi lagi dan lagi. Hal ini bagus, tetapi jika kamu melakukannya dengan multitasking, hasilnya adalah nol dan pencapaian yang kamu anggap hebat itu sebenarnya adalah tipu daya otakmu saja. Kamu sebenarnya tidak tahu apa yang kamu tahu.

Jika kamu menjadikan informasi di media sosial sebagai sumber utama dan mengesampingkan buku, maka kamu tidak akan mendapatkan manfaat dalam poin tertinggi. Tetapi jika kamu menjadikan buku sebagai sumber utama, dan informasi sosial media sebagai sumber penunjang, kamu akan memaksimalkan hasilnya.

• • •

MENERAPKAN APA YANG KAMU BACA

Kita seharusnya tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga harus bisa menerapkan apa yang telah kita baca sehingga kita benar-benar mendapatkan manfaat darinya. Informasi tidak hanya menjadi sebuah informasi, tetapi juga bisa menjadi sebuah pengubah hidup.

Jika kamu membaca buku tentang keuangan, maka jangan hanya sekedar membacanya saja, tetapi kamu juga harus bisa mengambil pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu bagaimana langkahnya?

LANGKAH 1 : PILIH SUMBER INFORMASI

Seperti apa yang aku sudah jelaskan di atas, bahwa informasi sangat bermacam-macam bentuknya. Ada yang berbentuk video, podcast, audiobook, atau buku/e-book, majalah dll. Pilih salah satu dari bentuk informasi tersebut, dan syarat utama untuk fokus adalah NO INTERRUPTION, NO DISTRACTION!, artinya, jika kamu ingin memaksimalkan apa yang kamu dapatkan, gunakanlah media tersebut sesuai fungsinya.

Kamu akan mudah terganggu jika mencari informasi melalui Instagram, Facebook atau YouTube. Saranku adalah sebisa mungkin kurangi gangguan ketika kamu ingin mencari informasi. Kalau memang ingin mencari di YouTube, alangkah baiknya kamu menentukan tujuan tentang informasi apa yang ingin kamu cari, unduh videonya, matikan internet dan mulai fokus hanya kepada informasi tersebut.

LANGKAH 2 : TULIS!

Siapkan kertas atau buku di mana kamu bisa mencatat sesuatu yang kamu anggap penting.

Apakah hanya dengan menulis?

Tidak, kamu bisa mengetiknya. Tetapi menurut Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer, menulis akan lebih membuat informasi lebih lama tertanam di dalam otak karena kita harus mengulangi informasi tersebut ke dalam sesuatu yang lebih jelas dan lebih mudah untuk kita mengerti.

LANGKAH 3 : KUMPULKAN CATATANMU

Kita tahu, terkadang kita masih menulis informasi penting itu secara acak dan tidak teratur. Maka tahap selanjutnya adalah mengumpulkannya ke dalam selembar kertas, buku atau aplikasi, sehingga informasi tersebut lebih rapi, dan sistematis. Hal ini akan memudahkan kita untuk mereview kembali jika kita membutuhkannya.

Aku sendiri membuat reading notes untuk memudahkanku dalam mereview kembali buku yang sudah aku baca.

LANGKAH 4 : TULIS KEBIASAAN YANG BISA DITERAPKAN

Tahap terakhir adalah mengubah informasi tersebut ke dalam sebuah perilaku. Ini bertujuan agar kita tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga bisa menerapkan informasi tersebut kedalaam kehidupan sehari-hari.

Contoh: menerapkan apa yang kamu baca

Kamu adalah seorang pemimpin organisasi. Untuk menjadikan organisasi yang baik maka kamu juga harus menjadi pemimpin yang baik.

Kamu mulai mencari dan membaca informasi tentang bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik. Kamu kemudian menulis dan mengumpulkan semua informasi penting tentang kepemimpinan. Ternyata kamu mendapatkan 3 kebiasaan yang bisa diterapkan dari informasi yang didapat untuk diaplikasikan.

3 kebiasaan itu adalah belajar menerima pendapat orang lain, rendah hati, dan yang terakhir adalah mengayomi anggota.

• • •

Memahami informasi saja tidaklah cukup, kita juga harus bisa menerapkannya.

Kita tidak akan membaca satu buku besar kecuali mendapatkan manfaat didalamnya. Jika kmu membaca atau mendapatkan informasi kemudian merasakan tidak ada perubahan, itu tandanya kamu hanya membuang waktu.

Maka mulai dari sekarang belajarlah untuk menerapkan apa yang telah kamu baca!

Reading is not just an escape, it is access to a better way of life.

— Karin Slaughter

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.