Pada tanggal 28 Agustus 1981, tepatnya di Matara, Sri Lanka, untuk pertama kalinya aku memulai kehidupanku sebagai insan baru di dunia.

Aku adalah anak ke tiga dari delapan bersaudara dan ayahku adalah seorang pensiunan kepala sekolah dan petugas layanan administrasi. Sedangkan ibuku sepenuhnya berada dirumah untuk merawat keluarganya.

Masa kecilku sama seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Bermain, belajar, dan bersenda gurau bersama teman-teman.

Tetapi, ada satu hal yang membedakanku dengan teman-temanku. Aku bisa berjalan, tetapi tidak bisa berlari atau melompat.

Oh ya, meskipun aku sering terjatuh, aku masih bisa mengendarai sepeda.

Ayahku sangat menyadari bahwa aku memiliki kesulitan-kesulitan itu. Bahkan, dia meluangkan waktunya untuk melatihku.

Suatu hari, saat aku duduk di kelas satu, aku mengikuti perlombaan lari yang ada di sekolahku. Nyatanya, aku masih memiliki kesulitan untuk berlari, dan selalu menjadi yang terakhir.

Dengan kebaikan dan perhatiannya, guruku memberitahu ayahku bahwa kesulitan yang aku hadapi harus di tindak lanjuti.

Singkat cerita, orangtuaku membawaku ke dokter.

Hasilnya?

Aku di diagnosis penyakit langka yang bernama Duchenne Muscular Dystrophy  atau DMD. Sebuah  penyakit distrofi otot yang menjangkiti satu dari 3.600 anak laki-laki dan dapat menyebabkan degenerasi otot dan kematian.

Mudahnya, penyakit ini membuat otot tubuhku melemah dari waktu ke waktu.

Hal yang selanjutnya membuatku semakin sedih adalah…

…penyakit ini belum ada obatnya.

• • •

Di kelas 3 Sekolah Dasar, kondisiku semakin memburuk. Aku kesulitan untuk berjalan. Bahkan untuk pergi ke sekolah, kakakku-lah yang selalu mengantarku dengan sepeda.

Di sekolah, aku juga bukan murid bintang yang bersinar seperti saudara-saudaraku, tetapi aku selalu berusaha untuk mengerahkan semua kemampuan terbaikku.

Kesulitan yang aku hadapi waktu itu tidaklah begitu terasa karena aku dikelilingi orang yang selalu ada untukku. Teman-temanku, guruku, dan keluarga yang selalu menyemangatiku.

Suatu hari, saat aku menghadiri pertemuan pagi…

…Aku terjatuh.

Dan sejak saat itulah, aku tidak pernah lagi meninggalkan kelasku.

• • •

Setelah liburan pada bulan Agustus, aku yang saat itu sudah kelas 5, harus kembali menjalani hari-hari untuk belajar di sekolah.

Sayangnya, dalam perjalanan aku merasa tidak nyaman untuk duduk di bar sepeda tempat aku dibonceng kakakku.

Tanpa pikir panjang, kakakku kembali mengantarku pulang, dan pergi kembali ke sekolah seorang diri.

Lagi-lagi, aku harus menghapus satu kegiatan yang merupakan salah satu jalan menuju masa depanku.

Aku berhenti sekolah.

Menjalani hari di rumah dan memulai kehidupan yang berbeda dengan anak-anak lainnya adalah titik hidup yang baru bagiku.

Meskipun kondisiku yang seperti ini, kakakku, dengan kesabarannya selalu mengajariku tentang pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Hari ke hari telah aku lalui, sampai aku berada dikenyataan bahwa rasa ketertarikanku untuk belajar, hilang.

Tidak semuanya, karena aku masih memiliki dua hal yang memacu semangatku, yaitu Bahasa Inggris dan Komputer.

Aku melatih Bahasa Inggrisku dengan membaca dan menghabiskan banyak waktuku untuk belajar percetakan di percetakan milik ayahku.

 • • •

Di saat umurku 12 tahun, kehidupan baru harus kujalani. Kali ini aku harus melalui hari-hariku dengan menggunakan kursi roda.

Aku merasa kehidupanku mulai membosankan dan rasa frustasi selalu menghantui pikiranku.

Pergerakanku dengan kondisi sekarang sangatlah terbatas dan hal itu membuatku hampir tidak mungkin untuk melakukan sesuatu.

Rasa frustasiku itu membawaku pada perubahan perilaku. Aku mulai berteriak meskipun itu adalah sesuatu yang kecil dan sepele. Aku sering marah kepada saudaraku hanya karena masalah yang tidak penting. Bahkan, untuk memanggil wanita yang melahirkanku, aku juga berteriak.

Semua kejadian yang menerpaku membuatku menjadi seorang yang keras kepala.

Nenek yang selalu menasihatiku untuk tidak marah dan keras kepala hanya berakhir dengan tindakkan nol. Itu semua disebabkan karena aku hanya mau mendengarkan nasihat ayahku.

Kamu tahu apa yang membuatku bahagia untuk menjalani kehidupan diatas kursi roda?

Kebahagiaan itu datang ketika kakakku mengajakku jalan-jalan keliling lapangan dimana aku bisa menikmati dan melihat banyak hal.

 • • •

Waktu terus berdetak dan tak sedikutpun memberikan tambahan agar aku bisa menikmati kebahagiaan yang sesaat itu.

Sudah 18 tahun aku duduk di kursi roda dan kondisiku semakin memburuk.

Aku mulai mengalami kesakitan di punggungku karena duduk selama berjam-jam.

Hingga suatu hari, aku merasakan bagaimana sulitnya bernafas. Seketika itu aku menceritakannya kepada ibuku, dan ibuku langsung menelpon ayahku yang sedang tidak berada di rumah.

Ayahku menyadari bahwa semua itu adalah karena otot pernafasanku yang juga mulai melemah. DMD memang membuat semuanya berubah.

Fase berikutnya adalah fase yang lebih buruk dalam hidupku. Kali ini aku harus membiasakan hidup baru lagi. Menjalani hidup di atas tempat tidur.

Selamat tinggal kursi roda!

Kondisiku yang semakin memburuk mengartikan bahwa hidupku yang akan semakin memburuk juga. Bahkan, untuk duduk saja aku sudah tidak bisa lagi dan untuk bernafas, aku mengandalkan alat bantu.

Waktu-pun seakan tidak pernah berdetak lagi sekarang. Membosankan dan terasa lama.

Itulah kehidupanku sekarang.

 • • •

Waktu yang aku anggap sebagai teman, nyatanya juga menyakiti hatiku.

Aku harus menghadapi realita baru, bahwa kakak yang paling dekat denganku, kakak yang selalu ada untukku, kakak yang selalu membuatku bahagia, dan kakak terbaikku, harus  menutup mata selama-lamanya.

Kebersamaan, pelajaran, dan semua perjuangannya untukku, tidak akan pernah aku lupakan.

Itu adalah kesedihan yang paling besar yang pernah aku rasakan dalam hidupku.

 • • •

Hai kawan, perkenalkan namaku Irfan Hafiz.

pejuang hidup

Stand in faith, even when you are having the hardest time of your life.

• • •

THE SILENT FIGHTER

Hmmmm, mungkin terlihat lebay, tapi percaya atau tidak, artikel ini adalah artikel yang paling menguras emosiku.

Jika kamu menganggap bahwa cerita diatas hanyalah cerita sedih. Kamu salah!

Ini adalah cerita yang penuh inspirasi dan cerita diatas belumlah selesai.

Irfan telah menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangannya untuk menjalani hidup, yang dimana, orang lain mungkin akan memilih untuk mengakhiri hidup yang seperti itu.

Jika kamu mengira Irfan hanya menghabiskan hidupnya diatas tempat tidur tanpa melakukan apapun.

Lagi-lagi kamu salah!

Kamu tahu, di saat dia 100% hanya terbaring di atas tempat tidur. Hanya ada satu kekuatan yang bisa dirasakannya.

Satu jari telunjuk.

Apa yang dilakukan Irfan akan membuat pikiran kita meledak, tidak percaya, dan akan mengubah pandangan kita terhadap hidup.

Hidup dengan alat bantu pernafasan, puasa selama ramadhan, dan dengan satu jari itu, Irfan menulis, menulis, dan terus menulis.

Bukan di selembar kertas, tetapi dia melakukannya di laptop atau di iphone miliknya.

Hasilnya?

Dia berhasil menyelesaikan 3 buku. Full English.

tidak ada kata terlambat

Sayangnya, sekarang kita hanya bisa mengenang Irfan melalui karya-karyanya tersebut.

Pasalnya, pada 26 Juli 2018, Irfan Hafiz, sang Keyboard Warrior, telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Rest In Peace Irfan Hafiz.

Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it.

— Charles S. Swindoll

• • •

AKU TIDAK PUNYA…

Pertama kali aku mendengar cerita ini, seketika aku mengaca kepada kehidupanku dan bertanya kepada diriku…

Apa yang sudah aku lakukan dengan semua kesehatan ini?

Ternyata pikiranku sejalan dengan hati yang selalu jujur, bahwa banyak hal yang telah aku sia-siakan.

Aku banyak berpikir daripada bertindak.

Aku banyak mengeluh daripada bersyukur.

Aku banyak berjanji daripada menepati.

Aku banyak, aku banyak, aku banyak membuat alasan untuk menjalani hidup ini.

Dan alasan yang paling sering kita junjung tinggi adalah AKU TIDAK PUNYA.

Aku tidak punya kamera, jadi aku tidak bisa belajar memotret.

Aku tidak punya laptop yang canggih, jadi aku tidak bisa belajar mengedit video.

Aku tidak punya buku, jadi aku tidak bisa membaca.

Aku tidak berlangganan di GYM, jadi aku tidak bisa berolahraga.

Aku tidak punya uang yang banyak, jadi aku tidak bisa membuka usaha.

Dan yang paling legend dari semua itu adalah, aku tidak punya waktu.

Setelah mendengar cerita Irfan, kita bisa simpulkan bersama, bahwa semua alasan diatas adalah Bullshit!

• • •

BERPIKIR VS BERTINDAK

Tidak dipungkiri lagi, bahwa kita masih sangat sulit menyeimbangkan antara pikiran dan tindakan.

Bertindak : Melakukan serangkaian tugas.

Berpikir : Merefleksikan tugas-tugas yang akan dikerjakan

Berapa lama kita mengalokasikan waktu untuk berpikir dan hanya merencanakan suatu tugas?

Bahkan kita sendiri tidak bisa menjawabnya karena begitu banyaknya waktu yang terbuang tanpa eksekusi yang nyata.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Arie Kruglanski, Tory Higgins, dan rekan-rekan mereka menunjukkan bahwa kita memiliki dua sistem motivasi yang saling melengkapi : sistem “berpikir” dan sistem “melakukan”.

Terlihat baik bukan? Iya, tapi ada satu masalah disini.

Kita hanya bisa menggunakan satu saja dari kedua sistem tersebut.

Maka kita bisa ambil garis besar sampai disini.

Jika kita mengikuti sistem “berpikir”, kita hanya akan berakhir dengan daftar tugas yang menumpuk, dan rencana tanpa tindakan sama sekali.

Sebaliknya, jika kita mengikuti sistem “melakukan”, kita akan melihat sebuah kemajuan di dalam segala aspek kehidupan kita. Aksi akan selalu menghasilkan sebuah timbal balik yang jauh lebih baik dari berpikir.

Do you want to know who you are? Don’t ask. Act! Action will delineate and define you.

— Thomas Jefferson

• • •

Kita tahu bahwa melakukan sesuatu akan melibatkan resiko, tapi bukankah lebih berisiko jika kita tidak melakukan sesuatu sama sekali?

Dengan melakukan kita akan melihat sejauh mana progress yang telah kita buat.

Memprioritaskan tugas juga akan menjadi hal yang krusial bagi kita untuk membunuh segala ketidakpastian yang ditimbulkan dari jadwal yang (sok) sibuk.

Tapi ingat!

Jangan terlalu banyak merencanakan, bertindak adalah tujuan utamanya!

Tidak mempunyai kamera, aku bisa mulai dengan telepon pintarku.

Tidak mempunyai laptop yang canggih, aku bisa mulai belajar mengedit dengan perangkat lunak ringan.

Tidak mempunyai buku, aku bisa meminjam di perpustakaan.

Tidak berlangganan di GYM, aku bisa berolahraga dirumah.

Tidak mempunyai uang banyak untuk usaha, aku bisa memulainya dengan sistem kerjasama.

Garis besarnya adalah, ambilah satu langkah kecil, dan mulai bergeraklah!

Warren Buffett juga menyarankan untuk bertindak dengan hal yang paling penting dengan membuang semua daftar yang tidak perlu.

Keraguan dan ketakutan akan terus menahan kita untuk melakukan sesuatu. Kita akan dibayangi kata “seandainya”, dan ketika kembali ke realita, kita sadar bahwa kita tidak memiliki itu semua.

Tindakan akan melahirkan kepercayaan dan keberanian. Dan dengan tindakanlah hidup kita akan berubah.

Selesaikan sesuatu yang memang harus kita lakukan. Tanpa ditunda dan mulai secepat mungkin!

You don’t have to be great to start. But you have to star to be great!

— Zig Ziglar

 

 


FOOTNOTES

1. Artikel ini terinspirasi dari salah satu Youtuber favoritku, Matt D’Avella, dalam videonya yang berjudul The Myth of “I don’t have”. Check his videos and thank me later!

2. Irfan Hafiz juga menuliskan kisah ceritanya dalam sebuah dokumen singkat. Awalnya aku mendapatkan dokumen tersebut melalui website mistyvanderweele[dot]com. Tetapi karena alasan keamanan, aku menguploadnya ke Drive milikku. Kamu bisa mendownloadnya disini.

2. Cerita Irfan Hafiz, sang keyboard warrior, pertama kali aku dapatkan melalui NAS Daily. Sayangnya video asli di kanalnya sudah di hapus. Tapi kamu bisa menonton di kanal milik Salman Mohamed dengan judul About Irfan Hafiz. Dan berita kematian Irfan, masih ada di kanal NAS daily, Our Friend Died. || Irfan Hafiz – our Friend ||

3. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Arie Kruglanski, Tory Higgins aku dapat dari The Psychology of Thinking VS Doing.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.