Beruntunglah kita yang pernah melewati fase alay dan berterimakasihlah juga kepada teknologi yang menunjang kita untuk menyimpan semua memori tersebut.

Jika kita mau menggali segala hal yang berhubungan dengan diri kita di internet atau juga alat elektronik pintar, kita akan menemukan gundukan bukti betapa alay-nya kita di masa dulu.

  1. Ada pose jadul menjulurkan lidah sambil memegang kepala.
  2. Ada gaya rambut emo yang melintang di depan wajah.
  3. Ada foto yang diberi kutipan-kutipan puitis.
  4. Ada foto yang disunting hingga terlihat seperti taman bunga di pusat kota.

Dan ketika pertanyaan “Apa yang kamu rasakan ketika melihat masa alay tesebut?” ditujukan kepada kita, sebagian besar dari kita akan menyeringai karena parameter cringe yang memuncak. Kita seakan enggan untuk melihat, ingin menghapusnya langsung atau lari terbirit-birit karena menahan malu.

Hei, itu kita! Itu adalah fakta yang tidak bisa kita elakkan lagi. Terimalah bahwa kita dulu memang alay.

Bahkan sekarang fase alay itu bisa dijadikan pundi-pundi kekayan oleh sebagian orang. Lihat saja para Youtuber yang membuat lelucon tentang diri mereka sendiri atau orang lain di masa-masa alay mereka.

Tidak masalah jika mereka menertawakan fase alay dalam hidupnya. Yang lucu adalah ketika mereka menertawakan orang lain yang mereka anggap alay seakan-akan mereka tidak pernah melalui fase itu. Tidak hanya itu, terkadang mereka kehilangan empati sehingga merendahkan, mencemooh, dan mencaci maki mereka.

Kita? Tak jauh beda dengan para Youtuber tersebut.

Satu hal yang pasti adalah ketika kita menertawakan anak remaja alay zaman sekarang, secara tidak sadar kita juga menertawakan diri kita sendiri di masa lalu.

• • •

Semalam aku mencoba membuka artikel-artikel yang aku buat di website ini. Masih berada pada satu artikel, aku sudah mengerutkan dahi karena merasa cringe dengan apa yang dulu aku tulis.

apa yang dimaksud dengan cringe

Aku bahkan berpikir betapa beraninya aku menerbitkan artikel semacam itu. Artikel yang masih memiliki kesalahan tanda baca, kesalahan ejaan, dan hal-hal penting lainnya.

Hasil dari sidak tersebut membuatku harus menyembunyikan bahkan menghapus beberapa artikelku dulu. Alasannya? Kesalahan yang tidak bisa ditolerir (bagiku).

Tetapi, aku menyadari suatu hal yang lebih dalam.

Artikel-artikel yang telah aku buat adalah sebuah dokumentasi berupa karya di masa lalu. Hal itu tidak jauh beda dengan sesuatu yang kita simpan dan sebar di dunia maya. Dokumentasi-dokumentasi yang berbentuk foto, video, podcast, tulisan , dll itu memberikan kita dimensi waktu antara kita yang dulu dan kita yang sekarang.

Maka jika kamu termasuk orang yang banyak mendokumentasikan masa-masa di dalam hidupmu, bersyukurlah karena kamu sebenarnya telah menginvestasikan sesuatu yang bisa memberimu kesadaran baru di titik sekarang ini.

Jadi, kesadaran apa yang bisa kita ambil dari masa alay tersebut?

Ketika kita melihat perbedaan kita yang dulu dan yang sekarang, kita akan menemukan satu kesimpulan: Kita berubah.

Bukankah itu adalah hal yang baik? Hal itu mengartikan bahwa kita tidak menjadi pribadi yang stuck dalam hidup ini. Kita telah bermetamorfosis. Bukan dari “alay” ke “tidak alay,” tetapi dari “alay” ke “sedikit alay.”

Mengapa aku mengatakan sedikit alay? Karena seiring berjalannya waktu, semua hal yang kita simpan atau hasilkan sekarang mungkin akan kita lihat sebagai hal yang alay di masa yang akan datang.

• • •

ALASAN MENGAPA KITA CRINGE

Jika masa alay adalah sebuah alat pembuktian, maka rasa cringe adalah indikator bahwa ada yang berubah dari kita dan hidup kita.

Ambil contoh artikelku. Aku mencap alay tulisanku yang dulu karena banyaknya kata-kata yang aneh, konotasi yang bikin merinding, dan kesalahan tanda baca yang banyak.

Mengapa aku sampai merasakan cringe? Itu semua karena aku telah memperkaya pengalaman hidup, membaca lebih banyak buku dan telah belajar lebih banyak lagi. Merangkum semua: standarku berubah karena input (faktor pengalaman, lingkungan, dan pendidikan) yang aku dapat.

Hal ini bisa berlaku dalam dirimu juga:

  • Kamu bisa saja melihat video hasil karyamu sebagai sesuatu yang aneh karena kamu telah mempelajari bagaimana cara menyunting video yang baik.
  • Kamu bisa saja melihat hasil gambarmu sebagai sesuatu yang jelek karena kamu telah mempelajari bagaimana cara menggambar yang benar.
  • Kamu bisa saja mendengar suaramu sebagai sesuatu yang menaikkan bulu kudukmu karena kamu telah mempelajari bagaimana cara menyanyi yang tepat.

Semua itu terjadi karena kamu telah memperbanyak inputmu.

Itulah yang menjadi alasan bahwa tingkat kealayan setiap orang akan berbeda dari satu dengan yang lainnya. Makanya jika ada orang yang mencemooh orang lain sebagai orang alay, itu bukanlah penilaian yang objektif mengingat setiap orang memiliki standar alaynya masing-masing.

Di saat kamu menemukan titik di mana apa yang kamu kerjakan dulu adalah sesuatu yang bisa membuatmu cringe, hal itu mengartikan bahwa kamu telah mendapat input baru. Kamu telah menemukan standar baru.

• • •

KEKUATAN DARI FASE ALAY

Mengakui bahwa kita telah melalui masa alay tidaklah cukup. Pengakuan akan masa alay hanyalah tahap awal yang mengartikan bahwa kita berubah. Padahal ada sesuatu yang bisa kita gali lebih dalam lagi. Sebuah berlian yang bisa memperbaiki dan mengubah hidup kita. Yaitu refleksi diri.

Tanyakan pada dirimu pertanyaan-pertanyaan ini:

1. Apa yang membuatku dulu melakukan hal alay itu?

  • Karena belum stabilnya emosi?
  • Karena memang kesadaran penuh?

2. Apa yang berubah dari aku sekarang?

  • Sifat?
  • Fisik?

Dan hasil dari refleksi tersebut akan memberikan kita 3 gambaran:

1. TIDAK ADA PERUBAHAN

Ini adalah momen di mana ketika kita melihat dokumentasi lama masih sebagai hal yang biasa, tidak ada yang salah atau tidak ada hal-hal yang membuat diri kita cringe.

Momen ini mengartikan 1 hal: standar kita masih sama. Kita tidak memiliki input baru yang bisa mengubah cara pandang kita terhadap dokumentasi tersebut.

2. LEBIH BAIK

Momen ini membuat kita merasa cringe ketika melihat dokumentasi lama, tetapi cenderung menipu diri kita.

Ketika kita sudah merasa lebih baik, tak jarang kita berhenti mencari input baru dan memilih untuk melakukan hal sama dengan apa yang kita punya di titik sekarang secara berulang kali.

Momen ini memang mengartikan bahwa standar kita berubah, tetapi juga menjadi pembunuh perbaikan jika kita merasa puas dengan apa yang ada. Dan ya, kita akan kembali ke momen pertama—tidak ada perubahan.

Dan jangan lupa! “lebih baik” di sini adalah perbandingan antara dirimu yang dulu dan dirimu yang sekarang, bukan perbandingan antara dirimu dengan orang lain!

3. LEBIH BURUK

Momen ini membuat kita merasa cringe ketika melihat dokumentasi lama karena merasa ada hal yang seharunya diperbaiki atau bahkan tidak dilakukan.

Momen ini mengartikan bahwa kita tidak puas dan harus memperkaya input lagi agar standar kita terus berubah ke arah yang lebih baik.

Berharaplah untuk selalu merasakan momen ini setiap melihat apa yang sudah kita buat. Hal itu akan memotivasi kita untuk berusaha memperbaiki segala kekurangan di kesempatan selanjutnya.

• • •

KESIMPULAN

Fase alay bukanlah masa yang harus kita lupakan begitu saja. Fase ini adalah fase yang bisa menjadi ukuran tentang perubahan yang terjadi dalam diri dan hidup kita.

Cringe adalah sesuatu yang sangat positif jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Dia bisa memberikan kita sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak biasa.

Gabungan dari dua hal tersebut memunculkan sebuah pertanyaan akhir “Apa yang harus aku lakukan setelah merasakan cringe dari masa alay?

  • Apakah aku menerima segala hal yang terjadi begitu saja?
  • Atau apakah aku akan terus mencari hal-hal yang masih menjadi kekuranganku dan memperkaya input untuk memperbaiki kualitas?

Pada akhirnya, menjadi lebih buruk, tidak berubah, atau menjadi lebih baik adalah hasil dari akumulasi input. Maka, pastikan untuk selalu mendapatkan input dari orang-orang terbaik di bidangnya!

• • •

Pesan yang ingin aku tekankan di sini adalah, tidak usah malu atau takut untuk mendokumentasikan memoar kita. Dalam bentuk apa pun itu.

Jika dalam bentuk kenangan pribadi yang bisa diakses diri sendiri atau publik dan bisa dipertanggungjawabkan, lanjutkan!

Jika dalam bentuk karya, sebarluaskan! Dapatkan kritik dan saran sebanyak-banyaknya. Semua itu akan menjadi input-input baru yang berharga sehingga kita bisa melihat sejauh mana perkembangan karya yang kita buat.

Jadi, beranikah kamu menyimpan atau menciptakan sesuatu yang memiliki potensi alay di masa yang akan datang?

Change is inevitable. Growth is optional.

— John C. Maxwell

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.