Makanan datang pada meja sebuah kafe ternama.

Tunggu dulu, jangan disentuh, jangan bergerak, tahan nafas, berikan tembakan terbaik, hell yeah! kasih filter, tambah caption sebagai bumbu dan boom!! You just uploaded it! *claps*

• • •

Angin berhembus saat turun dari kendaraan, terdengar suara air yang bergelombang, pohon kelapa ada dimana-mana, daun-daunnya bergoyang seakan menyapa dan menyambut kita, pasir putih yang berbentuk istana kemudian hancur karena diterjang ombak.

“eyegasm!”

And that is your caption. Lagi, sebuah foto dan sebuah caption yang jenaka telah menambah feed Instagram kamu *claps*

• • •

Pakaian bermerk itu, sepatu yang bernota angka panjang, belum lagi telepon pintar yang kita bangga-banggakan.

Kemanapun, dimanapun, akan terdokumentasikan oleh sebuah foto, dan dijadikan dalih bahwa itu hanya untuk kenang-kenangan semata. Masa sih?

• • •

Apakah benar, jika semua yang kita lihat itu adalah memang asli bagaimana kehidupan mereka?

Sayangnya sebuah foto tidak bisa mewakili bagaimana kenyataan yang asli.

Saatnya bercerita. Baca baik-baik dan lupakan gangguan yang berupa notifikasi itu sesaat.

Kembali ke tahun 1995.  Ratko Mladic adalah pemimpin tentara Republik Srpska. Penduduknya berasal dari sebuah tempat yang bernama Srebrenica, di Bosnia. Foto ini tepat diambil pada July 1995

Mladic memanggil reporter untuk datang dan menyuruh mereka mengabadikan  dalam sebuah foto saat dia membagikan makanan kepada wanita dan anak-anak.

media sosial mengubah kita

Tapi bukankah itu hal baik bahkan sesuatu yang patut dipuji?

Sayangnya, setelah foto tersebut diambil, Mladic berhasil membuat sejarah genosida terbesar setelah perang dunia ke-2.

Iya, Mladic melakukan genosida terhadap laki-laki muslim di kota Srebrenica, diikuti pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. foto tersebut adalah alat agar apa yang diperbuatnya terlihat manusiawi, padahal sama sekali tidak!

Jika kamu pernah mendengar don’t judge a book by its cover!, itulah yang pantas diberikan pada kejadian Mladic ini, don’t judge people by their photos!

• • •

Itulah kenapa banyak pengguna media sosial yang menggunakannya hanya untuk tujuan validasi.

Di media sosial kita tak beda halnya seperti sebuah game dimana akan ada kemampuan yang meningkat setiap pencapaian tertentu.

Kamu mengambil foto di depan menara pizza? Sip, tingkat pengakuan dari orang lain naik!

Kamu memakai make-up terbaik? Bang! tingkat kecantikan kamu naik!

Kamu post kesuksesanmu? Boom! Tingkat kepercayaan diri kamu naik!

Itu adalah hal yang sah-sah saja, yang jadi masalah adalah ketika diri kita telah bergantung kepada itu semua. Ketika kita lebih memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita.

• • •

Lalu apa dampak buruk media sosial bagi kita?

Dikutip dari detik.com, pengguna internet di Indonesia tahun 2017 sebanyak 132 juta, angka ini naik 50% jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Bagaimana dengan pengguna media sosial? Hampir setengah dari jumlah diatas, atau lebih tepatnya  sebesar 40% adalah penggila media sosial.

Apakah kita masuk dari 40% tersebut? 🙂

Lalu apa yang salah? Baik, coba sekarang kamu ingat-ingat atau kasih estimasi berapa lama kamu menghabiskan waktu di media sosial dalam sehari?

Buka Facebook, scrolling feed, tap like, tap dislike, tulis komentar, done. 1 jam berlalu!

Buka Instagram, upload foto terbaru, tulis caption “biarin jelek yang penting sombong”, kasih filter terbaik. post it. menunggu like ke-20 sambil lihat video lucu dan gosip terhangat, done. 1,5  jam lainnya berlalu

Notifikasi WhatsApp masuk, cek dulu ah, shit! it’s from your crush, memikirkan pertanyaan karena sudah kehabisan topik, got it!, send it!, you get reply, dan terus-menerus sampai gombalan Dilan sudah dipakai semua, done, 3 jam terbuang!

Ah lebay lu, nggak selama itu juga kali. That’s good for you!

Faktanya, masalah pertama yang kita hadapi saat berurusan dengan media sosial adalah KECANDUAN.

Like, posting, sharing membuat otak kita menghasilkan dopamin. Karena adanya hormon ini kita merasa bahagia, puas, termotivasi. Hasilnya? Kita akan terus mengejar, melakukan sesuatu yang membuat kita nyaman dan bahagia. Finally, You are addicted!

• • •

Apa ini? oh artis A ternyata, cek Instagram, “enak sekali hidupnya, jalan-jalan terus dapet uang lagi, lha aku? kerja dari pagi sampai malem, liburan belum tentu sebulan sekali.”

Scrolling lagi, tap like, oh foto artis B lagi makan malam dengan pacarnya di Paris. “romantis banget pasangan ini, cowoknya ganteng ceweknya cantik, aku? ah sudahlah.”

Sudah biasa jika apa yang di post di media sosial adalah hal-hal yang bagus saja, terlihat tidak ada masalah padahal sebaliknya, terlihat bergelimangan harta, ternyata banyak hutangnya, terlihat cantik dan ganteng ternyata hasil operasi, filter, dan edit sana-sini.

Berapa kali kita mengambil foto? Kemudian menyeleksi mana yang terbaik dan mana yang tidak. Yang terbaik ibarat dia yang bisa beradaptasi dan yang terburuk ibarat dinosaurus yang lenyap karena meteor.

Ketika kita melihat apa yang dimiliki orang lain dan tidak dimiliki kita, kita lupa untuk bersyukur, akibatnya, Kita tidak percaya diri dan merasa tidak mampu melakukan sesuatu.

Hal ini yang menggiring kita untuk berlomba-lomba siapa yang akan mendapatkan follower terbanyak, tanpa memikirkan tentang kondisi kita sebenarnya. Hidup diluar kemampuan, dan menderita diakhir postingan.

Semua like, komentar pujian, follower tidak lain hanyalah sebuah angka. dan banyak dari kita terjebak fatamorgana itu!

• • •

Mantep banget, sekali posting dapet 100 likes.

Yess, aku di follow Justin Bieber!

Akhirnya follower udah tembus 2000.

Bagus, kamu dapat pencapaian palsu!

Semua apa yang kamu dapat itu bukalah sebuah pencapaian, pencapaian adalah ketika kamu keluar rumah membantu orang yang membutuhkan. Pencapaian adalah ketika kamu belajar, dan membagikan ilmu yang kamu dapat.Pencapaian adalah ketika kamu berkontribusi kepada masyarakat dan agama.

Poinnya adalah, ketika kamu belum mencapai sesuatu pencapaian yang sebenarnya, mengapa harus kamu bangga-banggakan?

Tanyakan pada dirimu, siapa aku? apakah postinganku memberikan manfaat? apakah manfaat untuk diriku sendiri atau manfaat untuk banyak orang?  Apakah aku hanya mencari validasi dari orang?

• • •

Grup Line berbunyi, acara direncanakan, tempat ditentukan, jam diatur, dan dipastikan bahwa semua akan datang.

Hari H telah datang, semua berkumpul, ditempat yang dianggap Instagramable, duduk bersama, kunci mulut, dan swipe layar telepon pintar.

Congratulation! kamu telah MEMBUNUH KEMAMPUAN SOSIAL.

Dr. Daniel Siegel, seorang profesor klinis psikiatri di fakultas kedokteran Universitas UCLA dan direktur eksekutif Mindsight Institute mengatakan bahwa media sosial tidak akan pernah bisa menggantikan komunikasi secara face-to-face. Ada beberapa hal yang tidak akan bisa didapatkan ketika kita menggunakan media sosial.

  1. Eye Contact ( Tatapan mata )
  2. Facial Expression ( Ekspresi Wajah )
  3. Tone of Voice ( Nada suara )
  4. Posture ( Posisi tubuh )
  5. Gesture ( Gerakan tubuh )
  6. Timing ( Waktu )
  7. Insensity (Ukuran)

Pernah curhat lewat media sosial? entah itu berupa status atau lewat chat? itu tidak akan sama ketika kita bercerita langsung didepan orang. Apakah kamu merasakan bahwa kita akan merasa lebih emosional ketika berinteraksi secara langsung jika dibandingkan lewat media sosial?

Tapi bagaimana dengan video call? Tetap ada kurangnya!

Dimana? kamu temukan sendiri!

Jika memang tetap kekeuh bahwa media sosial bisa menggantikan itu semua, kamu tidak perlu bertemu dengan teman-teman lamamu, tidak perlu mengunjungi orang tua ketika kamu jauh. Hiduplah sendiri dan berinteraksilah lewat media sosial!

• • •

Satu tetes air tidak akan menjadi masalah, bagaimana jika menetes dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama?

Satu koin mungkin tidak berarti, bagaimana dengan 1 ton uang koin?

1 jam di media sosial tidak masalah, bagaimana dengan 3-4 jam? Coba hitung berapa banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk olahraga, membaca buku, belajar keahlian baru?

Tidak ada yang salah dengan media sosial, semua tergantung bagaimana penggunanya. Kita diberi kemampuan untuk bisa memilih, memakai mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika tidak bisa menggunakan itu semua maka yang jelas kita akan berakhir dalam penyesalan karena banyak pencapaian yang seharusnya bisa diraih, berakhir menjadi imajinasi belaka.

Bermain media sosial adalah investasi terburuk!

Tahan umpatanmu, tidak semua akan berakhir buruk jika kamu punya TUJUAN.

Selama kamu menggunakan media sosial secara bijak, dan tahu tujuanmu menggunakannya untuk apa, maka itu semua bisa menjadi investasi yang baik.

Aku tidak mengatakan bahwa aku suci, sudah bijak, tapi setidaknya aku selalu berusaha membuat media sosialku menjadi alat yang bermanfaat untuk diriku sendiri dan orang lain. Tenang aku juga masih belajar!

Kita tahu banyak orang-orang diluar sana yang menggunakan media sosial sebagai alat bisnis mereka, dan itu sesuatu yang positif. Tapi tolong digaris bawahi, dan tanyakan padamu, apakah hasil semua yang didapat itu bermula dari sesuatu yang baik? Jika tidak, maka jangan tanyakan akhirnya!

Kita tahu bahwa banyak akun yang menjaring follower-nya karena menjual foto seksi, menebar hoax, menyebar AIB orang. Kemudia semua produk banyak berdatangan, uang pun dihasilkan, tapi maaf, bukan hasil seperti ini yang kita inginkan.

Hasil yang kita inginkan adalah hasil dimana awal dimulai secara baik dan berakhir dengan hasil yang baik.

Yah, meskipun pada akhirnya semua kembali ke pribadi masing-masing, setidaknya batas mana yang dianggap baik dan buruk di masyarakat sangat jelas.

• • •

Lalu bagaimana cara menghindari dampak negatif itu semua?

Inilah beberapa cara untuk menghindari dampak negatif itu.

1. Kita tidak bisa menghindari media sosial, tetapi kita bisa membatasinya.

Kita harus tahu berapa ukuran kita untuk memakai media sosial. Selama pemakaian sebanding atau bahkan lebih dalam memberikan hal positif bagi kita dan kehidupan kita. Lanjutkan!

Semua orang punya batasnya sendiri-sendiri. Tetapi, pastikan kamu tahu sebab dan akibatnya. Dengan cara itu kamu akan bisa membatasi dirimu dari media sosial.

2. Jangan bohongi diri sendiri!

Media sosial mengajarkan kita untuk menampilkan sesuatu yang indah, baik, dan bahagia dalam kehidupan kita. Padahal di balik foto itu banyak sekali masalah yang kita hadapi. Jangan pernah menjual kebahagiaan kita dengan sebuah like, views, atau followers. Jangan pernah hidup dibawah opini orang. Waktu kita hanya sebentar kawan. Ketika memori ditulis, dia tidak akan bisa dihapus.

Keluarlah, GET A LIFE! temukan kebahagiaan sebenarnya  di luar sana. Jangan bohongi dirimu, buang semua pencitraan dan validasi kosong itu!

3. Belajarlah menghadapi kritik!

Kritik dan kebencian sesuatu yang berbeda. Jangan pernah dibingungkan dengan itu semua. Kritik adalah sesuatu yang membangun. Membuat kita lebih baik lagi di kemudian hari. Sedangkan kebencian adalah sesuatu yang merendahkan kita.

Media sosial mengubah kita menjadi seseorang yang anti kritik. Kita merasa bahwa kritikan tak beda halnya dengan kebencian. Kita tidak pernah berpikir terlebih dulu, darimana dia bisa berbicara seperti itu? dan apa alasannya?

Sudah saatnya kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Jika itu mengundang kritik, maka saatnya untuk berinstropeksi diri.

Jika itu mengundang ujaran kebencian, maka saatnya berlatih untuk bersikap bodo amat.

Orang yang menciptakan media sosial, kemudian media sosial membentuk orang. Jangan pernah menjadi budak media sosial!

We don’t have a choice on whether we do social media. The question is how well we do it.

— Erik Qualman

media sosial mengubah kita media sosial mengubah kita media sosial mengubah kita media sosial mengubah kita

2 Comments

  1. Terima kasih atas remindernya. tulisannya sangat relate dengan keadaan sosial sekarang. kita lebih sering kebablasan dalam bersosial media. mungkin itulah alasan kenapa “load more feeds” dinamakan “infinity scroll”. 😁

    • Sama-sama Mas Dhika.
      Emang sudah seharusnya berhati-hati, karena terkadang kita nggak sadar masuk ke “black hole”-nya media sosial haha

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.