Siapkan semua cemilan kesukaanmu karena kita akan mengunjungi sebuah konser akbar di masa lalu menggunakan mesin waktu Doraemon.apakah bakat itu ada

Kita akan pergi ke konser Niccolò Paganini, seorang virtuoso (individu yang memiliki kemampuan teknis luar biasa dalam bidang atau seni tertentu seperti seni rupa, musik, menyanyi, memainkan alat musik, atau komposisi) biola asal Italia yang paling terkenal di zamannya.

apakah bakat itu ada

Mari kita duduk di barisan paling depan dengan penonton lainnya untuk melihat seberapa hebat Paganini dalam memainkan biolanya.

Permainan dimulai.

Paganini mengawali permainan biolanya dengan sangat indah. Semua mata tertuju padanya. Tidak ada yang lainnya. Alunan nada yang dimainkannya tepat menyapa hati semua penonton dan membawa kita ke dalam dimensinya.

Ting! suara senar ke empat dari biola putus. Tetapi, tidak ada reaksi dari Paganini. Dia masih terus meneruskan lagunya dengan hanya menggunakan 3 senarnya. Dari sini kita tahu bahwa hanya nyawa satu senar yang mati, tetapi tidak dengan nyawa musiknya.

Kemudian, itu terjadi lagi. Senar kedua putus. Sekarang perasaan penonton menjadi tidak percaya karena Paganini terus memainkan biolannya seperti tidak ada apa pun yang terjadi.

Kualitas tetap menjadi nomor satu. Itulah yang dipegang teguh Paganini. Sekarang kita masih disuguhkan permainan yang luar biasa hanya dengan menggunakan 2 senar. Bisakah?

Tak lama setelah menghela nafas dan membetulkan posisi tempat duduk, kita dikejutkan dengan hal yang lebih mustahil.

Yap, kamu benar. Senar ketiga juga putus. Reaksi dari Paganini hanya satu—fokus dalam memainkan biolanya yang memberi sihir kepada kita.

Berakhir. Paganini sukses menyelesaikan lagu itu dengan hanya menggunakan satu senar. Tak salah kan jika kita juga ikut berdiri dengan penonton lainnya karena telah disuguhkan penampilan yang membuat kepala kita meledak dari Paganini?

bakat itu tidak ada

• • •

Apa pendapatmu tentang Paganini?

Kamu akan berpikir bahwa dia memang layak disebut sebagai salah satu pemain biola terbaik di zamannya atau dia memang merupakan penghibur sejati yang tetap memberikan kemampuan terbaiknya dalam kondisi apa pun.

Tetapi, adakah sesuatu yang tidak kita ketahui?

Kurang lebih 200 tahun lalu, Paganini tampil di Lucca, sebuah kota di Italia di mana Napoleon Bonaparte—yang kemudian menjadi kaisar Perancis—menghabiskan waktunya bersama keluarganya.

Di sana, salah satu wanita yang menonton, menarik mata Paganini. Ketertarikan itu kemudian membuat Paganini ingin membuat komposisi untuknya yang akan dia mainkan di konser selanjutnya.

Paganini memang luar biasa. Komposisi yang disebut dengan “Love Scene” tersebut hanya dimainkan menggunakan 2 senar. Senar-senar itu mencerminkan dua orang—wanita dan pria—yang berdialog bersama. Senar G yang menggambarkan suara pria, dan senar E tinggi yang menggambarkan suara wanita.

Bisa kita tebak, Paganini kembali sukses membawakan komposisi tersebut dalam konser. Setelah konser itu selesai, Paganini menerima permintaan yang tidak biasa. Seorang wanita dari keluarga Napoleon datang kepadanya dan memintanya untuk membuat komposisi hanya dengan menggunakan satu senar.

Paganini menyetujuinya dan menamainya komposisi yang dimainkan di senar G tersebut dengan nama “Napoleon”. Nama itu diambil karena dekat dengan ulang tahun kaisar.

Dan begitulah cerita di balik penampilan Paganini di konser awal tadi.

Tetapi mengapa harus dimulai dari 4 senar? Ya itulah kehebatan seorang penghibur sejati. Paganini tahu bahwa jika dia langsung memainkan komposisi itu dengan satu senar, penonton tidak akan mendapatkan sensasi terkejut, heran dan tak percaya dalam level tertinggi.

Hal itu juga mengartikan, bahwa semua penampilannya memang sudah direncanakan. Dia sudah berlatih kapan harus memutus senar, dan kapan harus memainkannya. Terlebih lagi, jika Paganini salah dalam memainkannya, siapa yang akan tahu mengingat komposisi tersebut adalah komposisi baru yang belum pernah di dengar oleh siapa pun?

• • •

BAKAT DALAM PANDANGAN KITA

Masih ingat dengan teman yang paling mahir dalam bermain basket? Masih ingat bagaimana teman yang paling jago saat berdansa dengan bola? Atau dia yang menggoreskan pensilnya dan menghasilkan karya yang membuat kita berkata wow?

Semua anak luar biasa itu kemudian kita beri label sebagai anak “berbakat”.

Sebenarnya, cerita mereka sama dengan kasus Paganini. Kita ibarat penonton yang menyaksikan konser. Sedangkan teman yang “berbakat” itu ibarat Paganini.

Dari sini, apakah kamu sudah bisa menyimpulkan bagaimana lahirnya pelabelan “berbakat” kepada seseorang?

Orang seperti penonton atau orang-orang yang terkejut akan suatu kemampuan adalah orang yang hanya melihat sebuah hasil.

Mereka percaya bahwa bakat adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir dan memberikan hasil yang tidak biasa. Hasil yang tidak mereka temukan pada orang lain. Hasil yang memberi gambaran kepada mereka bahwa kemampuan yang ditampilkan tidak membutuhkan latihan khusus.

K. Anders Ericsson, seorang psikolog Swedia dan profesor psikologi di Florida State University, yang telah meneliti bakat bawaan selama 30 tahun mengatakan dengan yakin bahwa belum ada temuan yang menunjukkan seseorang memiliki kemampuan luar biasa tanpa adanya latihan yang intens, lama, dan berkualitas.

Jika dari sini kamu menganggap bahwa bakat bawaan itu ada, coba jawab pertanyaan ini…

…Apa itu bakat bawaan?

• • •

ALASAN MENGAPA SESEORANG LEBIH CEPAT DALAM BELAJAR

Aku yakin kamu sudah banyak melihat bagaimana seseorang bisa menguasai suatu keahlian dengan cepat, seperti bermain alat musik atau bermain olahraga. Mereka terlihat seperti seseorang yang telah diturunkan Tuhan dengan kemampuan khusus dibanding dengan yang lain.

Sebenarnya kita masih melihat itu dalam tahapan awal. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang beruntung daripada yang lainnya.

Iya, kita salah! Apa yang kita lihat lihat belum menggambarkan apa pun karena kita tidak melihat seluruh perjalanan mereka.

Mari kita ambil contoh permainan catur.

Selama bertahun-tahun para peneliti telah menguji kemampuan anak yang belajar bermain catur. Data ini diambil dari perbandingan antara tingkat IQ dan kadar latihan. Ketika menganalisa semua data-data mereka, ditemukan bahwa semakin banyak dan baik latihan yang dilakukan oleh anak-anak, semakin baik mereka bermain catur.

IQ hanya berperan kecil tetapi masih memiliki pengaruh signifikan. Intelegensi hanya membantu anak dalam memproses ingatan yang mereka dapat.

Dan hal itu berlaku dalam pengembangan keahlian apa pun.

Ketika ada anak yang belajar suatu keahlian, tingkat IQ mereka berperan dalam seberapa cepat mereka bisa belajar untuk mencapai tingkat kompetensi minimal. Anak dengan IQ yang tinggi lebih mudah dalam mengingat aturan dan mengembangkan strategi.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, mereka yang memiliki IQ lebih rendah tetap bisa mengejar kemampuan mereka yang memiliki IQ yang tinggi. Hal ini karena anak yang memiliki IQ rendah memiliki kesadaran untuk berusaha lebih, berlatih lebih, kemudian memiliki kebiasaan berlatih hingga akhirnya memiliki kemampuan yang sama atau bahkan lebih baik dari mereka yang memiliki IQ tinggi.

Yang menarik, dalam jangka lama, anak dengan IQ tinggi bisa saja lebih buruk dalam bermain karena mereka terlena, tidak memiliki tekanan, dan merasa tidak membutuhkan latihan terus-menerus.

Dari sini kita bisa mengambil sebuah pesan penting: mereka yang menang adalah mereka yang intens dalam melakukan latihan berkualitas, bukan mereka yang memiliki intelegensi tinggi atau orang yang memiliki “bakat”.

Selain itu, bentuk fisik juga memengaruhi cara kita dalam belajar suatu keahlian. Katakanlah pemain basket. Mereka yang memiliki genetik baik akan memiliki tinggi tubuh yang ideal. Artinya, mereka juga akan memiliki keunggulan dalam proses belajar.

Tetapi, lagi-lagi, hal itu tidak bisa menjadi acuan bahwa seseorang pasti sukses dan berhasil mencapai tingkatan ahli. Mereka yang pendek tetap bisa memiliki kemampuan yang (lebih) baik karena semua di dasarkan pada latihan.

• • •

MEREKA YANG TIDAK “BERBAKAT”

Apakah kamu termasuk orang yang merasa berkecil hati karena merasa tidak memiliki kemampuan baik dalam hal apa pun? Jika iya, pesan ini untukmu.

Kamu bukan tidak mampu untuk menguasai kemampuan itu. Kamu hanya memang “dibunuh” secara tidak sadar.

Ketika kamu memiliki mimpi untuk menjadi penyanyi, kamu diolok-olok karena sumbang. Ketika kamu ingin memiliki kemampuan bermain bulutangkis, kamu dirundung karena kamu gagal berulang kali dalam mengembalikan kok. Itu semua terjadi karena mereka hanya mau melihat seseorang yang sudah berada di tinkat kemampuan yang baik.

Karena hal itu kamu kemudian percaya bahwa kamu memang orang yang payah, tidak berguna dan gagal. Kamu mengambil semua bualan mereka dan memilih untuk menyerah. Kamu kehilangan nilai dalam dirimu.

Kegagalanmu terjadi karena ada andil dari hilangannya perhatian dan pujian orang-orang—guru, pelatih, teman-teman yang memiliki kemampuan baik—yang seharusnya melakukannya. Padahal, bagaimanapun perhatian dan pujian itu tetap kamu perlukan untuk memberimu dorongan untuk memperbaiki kemampuanmu.

Sedih memang jika mengingat bagaimana lingkungan kita memperlakukan satu sama lain. Mereka yang terlihat hebat diperlakukan dengan baik, sedangkan mereka yang membutuhkan waktu belajar lebih dihiraukan dan ditinggalkan begitu saja.

Pesan terakhirku:

  • Untuk kamu yang putus asa: semua kemampuan hebat yang mereka miliki terjadi karena adanya latihan. IQ mereka hanya mengartikan mereka lebih cepat dalam tahap awal. Dalam jangka panjang, kamu masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik jika memiliki latihan yang tepat.
  • Untuk kamu yang merendahkan: kamu melakukannya, kamu membunuh harapan seseorang. Belajarlah objektif, bantu mereka yang membutuhkan arah, bukan menghancurkan dan mengubur mimpi mereka.

Pertanyaan akhir, latihan apa yang akan membawamu kepada tingkatan lebih baik? Deliberate practice. Dan itu akan aku bahas di artikel selanjutnya.

This is a fundamental truth about any sort of practice: If you never push yourself beyond your comfort zone, you will never improve.

K. Anders Ericsson

apakah bakat itu ada apakah bakat itu ada apakah bakat itu ada 


FOOTNOTES

  1. Artikel ini terinspirasi dari salah satu intisari buku K. Anders Ericsson, Peak.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.