The Bandwagon Effect : Ketika Minoritas Tertekan Oleh Mayoritas

The Bandwagon Effect : Ketika Minoritas Tertekan Oleh Mayoritas

  • Kamu yakin bahwa membolos sekolah adalah hal yang tidak boleh dilakukan, tetapi teman-temanmu mengatakan bahwa membolos adalah hal yang wajar dan bukanlah hal yang besar jika dilakukan sekali-kali saja. Kamu memutuskan untuk ikut membolos.

  • Kamu sedang fokus belajar untuk mempersiapkan ujian. Teman-temanmu memprotesmu karena kamu sekarang berubah, tidak ada waktu lagi dengan mereka. Mereka menganggap kamu yang sekarang tidaklah asik seperti dulu. Kamu berhenti belajar dan kembali lagi membuang waktu dengan mereka.

  • Kamu sedang dalam proses diet. Suatu ketika, teman-temanmu mengajakmu untuk makan di restauran cepat saji. Kamu tidak ingin gagal dalam dietmu, tetapi karena alasan teman, kamu makan makanan tidak sehat lagi.

  • Dulu kamu adalah seorang yang malas beribadah, namun teman-temanmu sekarang adalah orang-orang yang tidak pernah meninggalkan ibadah. Kamu berpikir bahwa kamu juga harus berubah dan mulai untuk beribadah.

  • Kamu percaya bahwa calon pemimpin A adalah pemimpin yang memiliki kapabilitas yang lebih baik dibanding calon pemimpin B atau C. Kamu bertukar pendapat dengan teman-temanmu dan hasilnya adalah mereka lebih memilih pemimpin C. Kamu memutuskan juga ikut untuk memilih pemimpin C.

  • Tren pakaian baru telah datang, banyak remaja-remaja yang ikut mengikutinya hanya supaya dibilang hits dan update. Kamu juga mengikuti teman-temanmu.

• • •

KENAPA KITA IKUT-IKUTAN?

Pasti aku yakin kalian sudah tidak asing lagi dengan kejadian-kejadian yang aku contohkan diatas.

Pertanyaanya kemudian adalah, kenapa semua itu bisa terjadi? Kenapa sangat sulit sekali untuk mempertahankan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kita? Kenapa kita sulit sekali untuk berkata tidak?

Jawabannya : Bandwagon Effect.

Bandwagon Effect adalah fenomena di mana tingkat pengambilan keyakinan, ide, atau tren akan meningkat lebih banyak ketika hal itu telah diadopsi oleh orang lain.

Mudahnya adalah, kita akan cenderung untuk memilih sesuatu yang mayoritas pilih, meskipun sebenarnya itu bukanlah hal yang kita inginkan atau bahkan bukan sesuatu yang kita anggap benar.

Contohnya adalah : Katakanlah kamu sedang berada dalam sebuah rapat untuk berdiskusi dan memutuskan tentang jalan keluar sebuah masalah.

Keluarlah dua pilihan yang siap untuk di voting. Pemikiran A adalah solusi yang kamu anggap lebih efektif dibanding pemikiran B.

Sayangnya, ketika pemungutan suara dimulai, mayoritas orang memilih pemikiran B.

Yang terjadi?

Kamu mengubur pilihan pertamamu ( pemikiran A ) dan ikut-ikutan untuk memilih pemikiran B. Inilah yang disebut Bandwagon Effect.

Menurut konsep ini, meningkatnya popularitas suatu produk atau fenomena mendorong lebih banyak orang untuk ikut-ikutan. Ngga heran kan kalau ada sebuah challenge di Instagram, akan ada banyak orang yang ikut-ikutan.

Bandwagon Effect inilah alasan kenapa ada sebuah tren.

kenapa kita suka ikut-ikutan

• • •

ALASAN KENAPA KITA DALAM BANDWAGON EFFECT

Jika kalian menganggap bahwa diri kalian sudah baik dalam mempertahankan apa yang kalian inginkan, aku ucapkan selamat.

Tetapi, faktanya masih banyak orang yang awalnya merasa kuat dan akhirnya jatuh juga kedalam efek ini.

Masih ingat tren bermain secreto? atau challenge yang akhir-akhir ini yang sedang booming?

Begitu banyaknya orang yang menggunakannya membuat kita juga followed the trend.

Tetapi apa saja alasan hingga kita bisa terjebak dalam bandwagon Effect ini?

  • Keinginan untuk benar, ketika kita menjadi minoritas, kita akan menganggap bahwa apa yang dilakukan mayoritas adalah sesuatu yang benar. Akhirnya kita mengubur semua hal yang bertentangan dengan pilihan mayoritas termasuk pilihan kita sendiri. Kita lupa bahwa banyaknya mereka bukanlah tolak ukur bahwa sesuatu itu benar. Tak jarang kita malah terkena Confirmation Bias.
  • Keinginan untuk dilibatkan, Takut akan pengecualian juga memainkan peran dalam efek bandwagon. Orang pada umumnya tidak ingin menjadi orang yang aneh. Jadi pergi bersama dengan apa yang dilakukan kelompok lainnya adalah cara untuk memastikan penerimaan sosial. Kita beranggapan bahwa untuk mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari kelompok kita harus mengadopsi norma dan sikap yang diambil oleh mayoritas.
  • Fear Of Missing Out ( FOMo ), adalah ketakutan untuk melewatkan sesuatu hal yang baru. FOMO ini membuat kita percaya bahwa untuk menjadi orang yang selalu update kita harus tahu segala hal yang sedang hits. Padalah tidak semua hal yang hits itu adalah hal yang memang kita butuhkan.  Contoh yang paling nyata adalah gossip.
  • Comformity, atau kesesuaian adalah hal yang berperan besar dalam bandwagon effect ini. Pasti kalian tidak akan merasa nyaman ketika kalian menjadi minoritas atas pilihan yang dipilih mayoritas. Kalian akan merasa tertekan jika tidak ikut memilih sesuatu yang mayoritas pilih. Dengan singkatnya, kalian takut dicap aneh atau berbeda. Hal inilah kemudian yang membuat para pakar melakukan eksperimen untuk mengetahui bukti dan kebenaran akan hal ini.

penyebab adanya tren

• • •

PILIHAN MAYORITAS ADALAH PILIHANKU 

Apakah benar jika pilihan mayoritas membuat minoritas tertekan?

Apakah benar jika pilihan mayoritas membuat minoritas menjadi tidak nyaman?

Apakah benar jika pilihan mayoritas membuat minoritas mengubah keputusannya?

Pertanyaan-pertayaan itu adalah pembuka untuk melihat bagaimana hasil percobaan yang telah dilakukan oleh para pakar di zamannya.

Percobaan yang paling terkenal tentang bagaimana pilihan mayoritas bisa mempengaruhi pilihan minoritas adalah percobaan yang dilakukan oleh Solomon Asch.

ASCH COMFORMITY EXPERIMENTS

Pada tahun 1951, Solomon Asch melakukan eksperimen laboratorium konformitas pertamanya di Swarthmore College di AS. Percobaan ini dilakukan untuk menyelidiki sejauh mana tekanan sosial dari kelompok mayoritas dapat mempengaruhi seseorang untuk menyesuaikan diri.

Di dalam eksperimen laboratoriumnya 50 siswa laki-laki berpartisipasi dalam ‘tes penglihatan’. Menggunakan tugas penilaian garis, Asch menempatkan satu peserta yang tidak tahu apa-apa ( peserta asli ) di sebuah ruangan dengan tujuh orang yang sudah bekerjasama dengan Asch.

Ketujuh orang tersebut telah memiliki jawaban apa yang akan diberikan. Dan ketujuh-tujuhnya memiliki jawaban yang sama ( jawaban yang salah ) atas tugas penilaian garis yang diberikan.

Peserta asli hanya mengetahui bahwa peserta lainnya adalah peserta yang sama dengan dia.

minoritas tertekan mayoritas

Setiap orang di dalam ruangan harus menyatakan dengan keras garis pembanding mana (A, B atau C) yang paling mirip garis target.

Peserta asli duduk berada paling akhir, sehingga juga akan memberikan jawaban terkahir. Ada 18 percobaan secara total, dan peserta yang sudah bekerjasama memberikan jawaban yang sama yaitu jawaban yang salah pada 12 percobaan (disebut uji coba kritis).

Asch tertarik untuk melihat apakah peserta asli akan mengikuti dan menyesuaikan jawaban yang diberikan oleh mayoritas. Percobaan Asch juga memiliki kondisi kontrol di mana tidak ada sekutu, hanya “peserta nyata.”

Asch mengukur berapa kali setiap peserta sesuai dengan pandangan mayoritas. Rata-rata, sekitar sepertiga (32%) dari peserta yang ditempatkan dalam situasi ini ikut serta dan menyesuaikan diri dengan mayoritas yang menjawab salah dalam uji coba kritis. 

Selama 12 uji coba kritis, sekitar 75% peserta mengikuti setidaknya sekali, dan 25% peserta tidak pernah menyesuaikan diri. Dalam kelompok kontrol, tanpa adanya tekanan dari mayoritas yang menjawab salah, kurang dari 1% peserta memberikan jawaban yang salah.

Mengapa para peserta sangat patuh?

Ketika mereka diwawancarai setelah percobaan, kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak benar-benar percaya jawaban mereka. Mereka malah mengikuti jawaban mayoritas karena takut diejek atau berpikir “aneh.”

Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar percaya bahwa jawaban kelompok itu benar.

Rupanya, orang-orang menyesuaikan diri dengan dua alasan utama: karena mereka ingin menyesuaikan diri dengan kelompok (pengaruh normatif) dan karena mereka percaya kelompok yang lebih banyak itu memiliki informasi yang lebih baik (pengaruh informasi).

THE ELEVATOR EXPERIMENTS

Tidak hanya itu, pada tahun 1962 Solomon Asch melakukan percobaan baru yang diberi nama The Elevator Experiment.

Tujuannya masih sama. Yaitu untuk menunjukkan sejauh mana pendapat seseorang dipengaruhi oleh kelompok mayoritas.

Percobaan The Elevator Experiment ini terbilang sederhana. Peserta yang bekerjasama dengan Asch telah diberitahu untuk menghadap berlawanan arah dengan pintu elevator.

Dalam hal ini, peserta asli juga tidak tahu bahwa dialah satu-satunya orang yang dites. 

apa itu bandwagon effectSaat peserta asli memasuki elevator dan mengetahui bahwa ada seorang yang menghadap berlawanan arah dengan pintu, dia masih memiliki perilaku yang biasa. Dia tidak menganggap bahwa ada sesuatu yang aneh.

Tibalah kemudian peserta kedua yang datang dan mengambil posisi yang sama ( membelakangi pintu ).

kenyamananPeserta asli masih memilih untuk mempertahankan posisinya. Tetapi, perubahan mulai terlihat, ketika peserta ketiga masuk.

Sekarang, peserta asli terlihat mulai bingung dan bimbang.

akibat bandwagon effectHasilnya?

apa itu efek bandwagonDia jatuh pada Bandwagon Effect.

• • •

DAMPAK BANDWAGON EFFECT

Dampak negatif dari bandwagon effect ini sering relatif tidak berbahaya, jika hal seperti mode, musik, atau budaya.

Tetapi, dampak itu bisa  jauh lebih berbahaya, ketika ide-ide tertentu memiliki masalah tentang kesehatan, sampai kepercayaan.

Beberapa contoh negatif atau bahkan berbahaya dari bandwagon effect:

  • Individu yang dipengaruhi oleh gerakan anti-vaksinasi, misalnya, menjadi kurang cenderung mendapatkan imunisasi rutin anak untuk anak-anak mereka. Penghindaran vaksinasi skala besar ini telah dikaitkan dengan wabah campak baru-baru ini.
  • Para peneliti telah menemukan bahwa masyarakat memiliki kemungkinan mengubah suara mereka untuk menyesuaikan diri dengan pihak yang menang.
  • Individu yang dipengaruhi oleh teman-temannya yang merokok, minum alkohol, narkoba, lama kelamaan juga akan mengikuti perilaku tidak sehat tersebut.

Selain memiliki dampak negatif, efek ini juga memberikan kita efek positif.

Contohnya adalah ketika mayoritas memiliki hidup yang sehat, taat beribadah dan selalu berbuat baik, kita juga akan terhanyut dalam aliran kebaikan ini juga.

Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya, hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.

— HR. Tirmidzi

• • •

CATATAN AKHIR

Pada akhirnya kita harus sadar bahwa sesuatu yang dipilih mayoritas belum tentu memiliki kebenaran yang kita cari.

Memang ada batasan dimana kita memang harus mengikuti Bandwagon Effect ini. Contoh saja, ketika kalian berpikir bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih memiliki banyak masalah, bukan berarti kalian berhenti dan tidak bersekolah, kan?

Maka, cara terbaik untuk memilih adalah dengan tahu apa konsekuensi yang akan kita dapatkan jika kita mengikuti bandwagon ini.

Jika dampak baik yang diberikan efek ini lebih banyak dari dampak yang buruk, maka sudah sepantasnya kita turunkan ego dan bergerak bersama untuk mendapat kebaikan.

Tetapi jika sebaliknya, dampak buruk lebih banyak dari dampak yang baik, sudah seharusnya kita menentangnya.

Pertahankan pilihanmu secara bijak!

Before you jump on the bandwagon. make sure it’s playing your song.

— Linda Poindexter

 

 


FOOTNOTES

1. Jika kalian ingin membaca lebih rinci lagi tentang Asch Experiment, kalian bisa baca di simplypsychology.

2. Sangat menyenangkan sekali jika kalian tahu bagaimana reaksi peserta asli ketika harus mengikuti pilihan mayoritas. Kalian bisa lihat video eksperimen Asch ini yang dibuat tahun 1970-an disini.

3. Penjelasan lain tentang Bandwagon Effect bisa kalian baca di verywellmind.

4. Reaksi peserta di Elevator Experiment? Bisa kalian cek disini.