Salah satu kemudahan yang diberikan teknologi adalah kemudahan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain.

Media sosial menjadi tempat di mana kita bisa melihat pasangan yang harmonis dan melihat diri sendiri yang masih gagal dalam menjalin hubungan. Kita bisa melihat mereka yang berlibur ke luar negeri dan melihat diri sendiri yang masih sebatas memenuhi kebutuhan pokok. Kita bisa melihat mereka yang mendapatkan jabatan penting di perusahaannya dan melihat diri sendiri yang masih bingung mencari pekerjaan.

Apa yang kita dapat dari perbandingan tersebut? Kita seperti diundang ke dalam sebuah koloseum di mana ada pertandingan pola pikirgrowth mindset dan fixed mindset. Jika pemenangnya adalah growth mindset, kita akan berakhir dengan perasaan berapi-api untuk berusaha lagi dan lagi, tetapi jika yang terjadi sebaliknya, kita akan berakhir dengan merendahkan diri.

Kita ini aneh. Kita sering mengatakan bahwa kita harus mencintai diri sendiri dan akan menjaga diri jika ada sesuatu yang membahayakan. Jika ada api yang membakar tangan, sebisa mungkin kita akan menyelamatkan tangan kita. Jika ada seseorang yang akan memukul kita, secepat mungkin kita akan menghindarinya. Itu memang bentuk mencintai diri sendiri, tetapi apakah kita sudah melakukan itu dengan sepenuhnya?

“Aku sering bertanya-tanya bagaimana mungkin setiap orang mencintai dirinya sendiri lebih dari orang lain,” kata Marcus Aurelius, “tetapi masih menempatkan pendapatnya sendiri dengan nilai yang lebih rendah daripada milik orang lain.” Dengan kata lain, kita ini seringkali mencintai diri sendiri hanya sebatas fisik, tetapi jika berbicara tentang mental, kita belum melakukannya. Kita kuat untuk menjaga tubuh, tetapi lemah untuk menjaga pikiran.

• • •

Air yang Mematikan

Dalam serial dokumenternya, Inside Bill’s Brain: Decoding Bill Gates, Bill diberi pertanyaan tentang apa ketakutan terbesar yang dimilikinya. Dengan sedikit merenung, dia kemudian menjawab, “Aku tidak mau otakku berhenti berpikir.

Bill adalah seorang yang gila belajar. Sejak kecil, dia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar untuk membaca meskipun itu adalah saatnya makan bersama keluarga. Kebiasaannya tersebut selalu dia jaga sampai sekarang untuk menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaannya atau jawaban atas permasalahan yang ingin diselesaikannya.

Suatu hari, Bill membaca koran pagi. Perhatiannya kemudian tertuju pada sebuah judul artikel dan anak-anak yang mengambil air.

“Bagi negara berkembang, air masih menjadi minuman yang mematikan”

Artikel tersebut ditulis pada tahun 1997 oleh Nicholas D. Kristof, seorang jurnalis dari Amerika yang pernah memenangkan dua penghargaan Pulitzer.

Inti dari artikel tersebut adalah mengingatkan kepada orang-orang bahwa ada anak-anak di dunia ini yang sekarat karena alasan yang sebenarnya bisa dihindari. Mereka meninggal karena diare yang didapat dari air yang kotor. “Keberuntungan” mereka yang lahir di India menyebabkan mereka kehilangan persamaan yang didapat oleh anak-anak di Amerika.

Melinda Gates mengatakan bahwa hal semacam itu sulit dipercaya. Dia kemudian membayangkan jika anak perempuannya sakit, Melinda bisa membawanya ke rumah sakit, tetapi jika dia tinggal dengan kondisi yang sama di lingkungan anak-anak yang terkena diare, besar kemungkinan anaknya juga meninggal.

Bill Gates kemudian menggali informasi lebih dalam lagi. Keinginannya agar semua anak di dunia diperlakukan sama menuntunnya untuk mengumpulkan data tentang diare. Salah satunya adalah dengan membaca The World Development Report.

Dari sana, Bill Gates tergerak melakukan sesuatu. Melakukan hal nyata yang bisa membantu mereka yang sulit mendapatkan air bersih. Berawal dari rancangannya di papan tulis, tim dari Yayasan yang didirikannya berhasil membuat omni processor—alat yang bisa mengolah kotoran manusia menjadi air bersih. Pada akhirnya, semua kerja keras mereka membuahkan hasil karena mereka menjadi perantara untuk menyelamatkan banyak nyawa.

• • •

Memainkan Peran Masing-masing

Ada banyak orang berpengaruh yang memiliki The World Development Report, tetapi tidak membacanya. Bill Gates? Dia adalah salah satu orang berpengaruh yang memiliki, membaca, memahami dan memberikan kontribusi nyata.

Jika kita mau melihat deretan cerita yang lebih panjang mengapa Bill menciptakan sebuah terobosan, maka itu akan seperti ini: Berawal dari mengunjungi daerah kumuh yang berada di India, Kristof mendapatkan kenyataan pahit yang masih diabaikan banyak orang dan mengubah pengalaman itu menjadi sebuah tulisan. Selanjutnya, melalui perusahaan media, tulisan tersebut diterbitkan agar mendapatkan jangkauan yang lebih luas dan efek beruntun yang lebih besar. Di sisi Bill, tulisan itu menjadi awal dalam mewujudkan keinginannya hingga kemudian mengajak kerja sama orang-orang terbaik dan memiliki pengaruh dalam proyek dalam menciptakan perubahan itu. 

Apakah kamu bisa melihatnya? Di sana, setiap orang memiliki perannya masing-masing. Setiap orang memberi kontribusinya sendiri-sendiri. Kristof memainkan perannya sebagai jurnalis. Bill memainkan perannya sebagai filantropi. Begitu juga orang-orang lainnya yang memainkan perannya sebagai penerbit, editor, tim yang bekerja, penduduk setempat, dll.

Aku tidak tahu bagaimana kondisi nyata di sana. Aku juga tidak tahu apa yang ada di hati setiap orang. Namun, kita bisa mengambil pelajaran dari Kristof saat mendeskripsikan perasaannya dengan mengatakan, “Itu adalah artikel paling penting yang pernah kutulis.

Aku yakin dari pernyataan itu, Kristof secara tidak langsung menyampaikan pesan kepada kita bahwa dia tidak memiliki kecemburuan kepada Bill yang berhasil menindaklanjuti kemirisan tersebut. Dia juga tidak iri melihat insinyur yang berhasil menciptakan omni processor. Dia justru merasa senang karena tulisannya memiliki andil dalam menyelamatkan nyawa banyak orang.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sini adalah Kristof tidak membandingkan dirinya dengan orang lain karena dia sadar apa perannya, dan apa kekuatan yang dimilikinya.

• • •

Memainkan Peran untuk Berhenti Membandingkan Diri

Masalah bagi orang yang selalu membandingkan diri atau kehidupan mereka dengan orang lain adalah ketidaksadaran atau bahkan ketidaktahuan mereka tentang apa peran dan kekuatan yang mereka miliki.

Aku kira semua orang pernah mengalami fase yang sama dan itu adalah hal yang normal. Tidak masalah jika di antara kamu masih belum menemukan peran dan kekuatanmu karena hidup adalah sebuah perjalanan.

Aku sendiri membutuhkan waktu untuk memainkan peranku sebaik mungkin. Dan, itu masih berlanjut sampai sekarang. Dalam prosesnya, aku sadar bahwa untuk menemukan dan memaksimalkan kekuatan, kita harus bisa mengidentifikasi peran terlebih dahulu.

  • Peran dalam dunia profesional: dokter, fotografer, penjahit, pekerja seni, penulis, dll
  • Peran dalam dunia personal: istri, suami, anak, kakak, dll
  • Peran dalam kehidupan: menjadi manusia

Kebanyakan dari kita akan memainkan ketiga peran tersebut, tetapi mode membandingkan diri seringkali terjadi pada peran pertama dan kedua.

Perbandingan di Dunia Profesional

Di dunia profesional, kita sering kali mendasarkan baik buruknya seseorang dengan ukuran status dan materi. Jika ada orang yang memiliki status dan materi yang lebih, mereka akan dicap sebagai orang yang berhasil. Jika sebaliknya, mereka akan dicap sebagai orang yang biasa atau perlu menambah daya juang.

Masalah utama bagi para pembanding hidup terletak pada keinginan untuk mendapatkan hal yang sama atau lebih. Hal itu tidak salah, tetapi jika perbandingan itu tidak menghasilkan apa-apa, itu sama seperti menghabiskan waktu dengan bermain flappy bird—tidak akan pernah berakhir. Mereka tidak hanya lelah energi, tetapi juga lelah mental.

Para pembanding hidup harus sadar apa peran mereka. Jika mereka adalah seorang guru, jangan melihat orang lain yang berperan sebagai pelukis. Selain memiliki tujuan yang berbeda, mereka juga memiliki kekuatan dan tantangan yang berbeda. Dengan kata lain, membandingkan mana peran yang lebih baik adalah hal yang percuma.

Ini bukan berarti seseorang harus memilih stuck dengan apa perannya sekarang. Jika merasa peran yang dimainkan tidak lagi memberinya kebaikan, mereka selalu punya kesempatan untuk mengubahnya.

Sayangnya, masalahnya tidak berhenti di sana. Bagaimana jika mereka membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki peran yang sama, tetapi memiliki pencapaian yang berbeda?

Begini, membandingkan diri itu ada yang pasif, ada yang aktif. Membandingkan diri secara pasif hanya akan melahirkan keluhan tanpa adanya tindakan konkret untuk membuat perubahan. Misalnya, seorang guru yang hanya pasrah dan iri ketika melihat guru lain lebih berprestasi.

Sebaliknya, membandingkan diri secara aktif selalu mengusahakan tindakan konkret untuk membuat perubahan dengan atau tanpa keluhan. Contohnya, seorang guru yang akan mendorong dirinya untuk berusaha lebih keras ketika melihat guru lain lebih berprestasi.

Jadi, mana yang baik? Tidak ada! Keduanya sama-sama menyajikan satu kerugian besar yang jarang disadari: ketidakpuasan. Cara pasif hanya membuat seseorang berkubang pada realitas yang tidak dimilikinya. Sedangkan cara aktif cenderung membuat seseorang memaksakan batasannya. Umpan balik positif yang didapat hanya akan bertahan dalam jangka yang pendek karena ketika mereka melihat seseorang lainnya yang memiliki pencapaian lebih, mereka akan merasa rendah diri (lagi) sebelum akhirnya bekerja (lagi) untuk melampauinya. Tujuan mereka hanya ingin membuktikan kepada orang lain bahwa mereka lebih baik dan melupakan hal yang lebih penting, ketenangan diri.

Apakah di sini aku berusaha mengatakan bahwa membuktikan diri kepada orang lain itu salah? Tidak! Di sini aku hanya ingin mengatakan bahwa pembuktian yang ditujukan kepada orang lain membawa risiko yang besar. Pembuktian dengan cara itu mengharuskan kita menggantungkan harapan. Itu mengartikan bahwa jika kita tidak kunjung mendapatkan apa yang kita inginkan (baca: gagal), kesempatan kita untuk merendahkan diri juga akan semakin besar.

Jika kamu bisa menanggung konsekuensinya, mungkin kamu bisa mencobanya, tetapi jika kamu ingin berhenti membandingkan diri, ada baiknya kamu memilih jalur yang lebih sehat: melakukan kesempatan semaksimal mungkin dengan patokan diri sendiri dan menghargai hasil apa pun.

Perbandingan di Dunia Personal

Dunia personal juga tak jarang dijadikan alat perbandingan. Ada mereka yang membandingkan keluarganya dengan keluarga orang lain, atau membandingkan bagaimana orang tuanya dengan orang tua temannya, atau membandingkan bentuk fisik mereka dengan bentuk fisik orang lain.

Bukankah itu aneh? Kita membandingkan sesuatu yang ada di luar kontrol kita? Kita iri karena melihat mereka yang dilahirkan di keluarga kaya. Kita marah karena melihat mereka yang dirawat oleh keluarga yang harmonis. Kita kecewa karena melihat mereka yang diberi fisik yang rupawan. Padahal, kita dan mereka sama, sama-sama tidak bisa memilih garis awal hidup.

Di lain sisi, kita juga anti dengan nasihat ‘Sabar ya, ini ujian. Kamu pasti bisa kok!’ Kita menganggap bahwa nasihat itu hanya bisa diberikan orang lain yang tidak pernah berada di posisi kita. Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa melihat keindahan hidup orang lain hanya membuat kita capek? Mengapa? Karena kesalahan itu bukan berasal dari kita yang melihat apa yang terjadi berdasarkan standar yang kita inginkan, tetapi berasal dari kita yang menolak kenyataan.

Tidak ada yang bisa kita lakukan ketika apa yang di luar kontrol terjadi dalam hidup kita. Keinginan untuk memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain lahir dari persepsi kita yang melihat semua hal itu sebagai alat pembahagia diri. Kita berpikir bahwa jika kita berada di posisi mereka, semua yang kita anggap sebagai masalah bisa terselesaikan.

Coba bayangkan, kalau kamu hidup dalam dunia di mana semua orangnya sama, kepada siapa kamu membandingkan diri? Kamu tidak akan membandingkan dirimu karena tidak ada ukuran lain yang bisa dibandingkan. Dengan kata lain, kamu tidak bisa membentuk persepsi tentang kehidupan yang ‘lebih baik’ karena kamu hanya tahu tentang kehidupanmu. Kamu tidak melihat posisi mereka sebagai jawaban atas permasalahanmu karena fokusmu sudah habis digunakan untuk memaksimalkan pengalaman diri sendiri.

Pelajaran yang bisa kita tarik untuk digunakan dalam kehidupan nyata ini adalah kita hanya bisa menerima peran yang ada, memfokuskan diri pada apa yang bisa diperbaiki, dan melanjutkan hidup. Mereka dengan kehidupan mereka, kita dengan kehidupan kita. Mereka dengan masalah mereka, kita dengan masalah kita.

Mungkin itu adalah cara yang sudah bosan kita dengarkan. Mungkin itu adalah cara dasar yang tidak ingin kita ketahui lagi, tetapi mau tidak mau, cara itulah yang memang bisa membuat kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

• • •

Peran Ketiga untuk Berhenti Membandingkan Diri

Ketika kita menyadari apa peran kita, kekuatan itu juga akan semakin jelas untuk kita tingkatkan. Jika peranku adalah penulis, maka kekuatan yang harus aku tingkatkan adalah cara mengekspresikan pikiran melalui tulisan. Jika peranmu adalah fotografer, maka kekuatan yang harus kamu tingkatkan adalah mengambil gambar dengan komposisi yang pas. Jika peranku adalah anak, maka kekuatan yang harus aku tingkatkan adalah menjaga nama baik orang tua. Jika peranmu adalah kakak, maka kekuatan yang harus kamu tingkatkan adalah menjaga dan mendidik adikmu.

Namun, berhenti membandingkan diri dengan orang lain akan lebih mudah terjadi ketika kita bisa memainkan peran ketiga—menjadi manusia.

Di sana, kita tidak akan membeda-bedakan orang berdasarkan status, materi, ras, agama, dll, karena kita berada pada kotak yang sama—manusia. Kita tidak berada pada posisi vertikal yang menyajikan tingkatan berbeda, tetapi horizontal yang menawarkan keselarasan posisi.

Aku tidak mengatakan bahwa peran pertama dan kedua itu tidak penting, aku hanya menekankan bahwa ketika memainkan peran pertama dan kedua, ingatlah untuk selalu memainkan peran ketiga.

Dengan peran ketiga, kita bisa mendapatkan ketenangan diri karena memahami bahwa berlangsungnya kehidupan memang berasal dari perbedaan peran (pertama dan kedua). Kita juga akan lebih mencintai peran kita dan disiplin akan hal itu karena ‘memberi kontribusi’ menjadi tujuan yang lebih besar daripada ‘membandingkannya’. Kita akan melupakan kalimat ‘lebih baik dari orang lain’ karena setiap orang di dunia ini bekerja untuk melayani satu sama lain, dan dilayani satu sama lain.

Dalam kata-kata Marcus Aurelius, “Berikan hatimu pada pertukaran yang telah kamu pelajari, dan dapatkan penyegaran darinya. Biarlah sisa hari-harimu dihabiskan sebagai orang yang menyerahkan segalanya kepada para dewa dengan sepenuh hati dan sejak saat itu tidak ada majikan atau budak manusia.”

Jadi, mengapa kita harus membandingkan diri jika sebenarnya kehidupan bekerja dalam harmoni?