“Ketidakbahagiaan kita terbentuk karena tidak adanya rasa syukur terhadap apa yang kita miliki.” Seperti itulah satu kalimat yang sering diucapkan seseorang kepada orang lain yang sedang menghadapi ketidakpuasan.

Kita tidak hanya diajari bahwa bersyukur adalah tentang menerima dan berterima kasih kepada Tuhan atas segala hal yang telah terjadi di kehidupan, tetapi juga diajari bahwa untuk melakukannya, kita tidak boleh melihat orang lain “di atas” kita. Kita harus melihat apa yang kita miliki dan membandingkannya dengan kekurangan, atau kemalangan yang diterima orang lain “di bawah” kita.

Misalnya, kita disuruh bersyukur meskipun hanya makan dengan tempe karena ada banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan.

Cara bersyukur seperti itu sama artinya menjadikan kesulitan orang lain sebagai penenang diri. Kita membandingkan keadaan individu secara vertikal hanya untuk membenarkan bahwa kondisi kita lebih baik, dan lebih beruntung.

Itu memang sifat alami kita. Tidak mau mengakui bahwa kita ini lebih lemah dari orang lain, lebih buruk dari orang lain, karena kita terobsesi untuk menjadi signifikan. Kita membedakan diri dari orang “di bawah” kita karena ingin merasakan kepuasan dan ketenangan.

Ego menuntun kita untuk hanya berpikir tentang “aku”, dan tidak peduli—dalam waktu sementara—tentang “kita”. Lagipula, menjalani kehidupan dalam garis horizontal di mana orang-orang di dalamnya berjalan bersama, maju bersama, dan saling tolong menolong memang hanya menjadi utopia.

Setidaknya, kita bisa memulai dari diri kita sendiri dengan menerapkan pesan penting bahwa ketika kita bisa melepas perasaan lebih baik dari orang lain, rasa syukur yang kita panjatkan akan jauh lebih indah karena kita menginternalisasi kenyataan hidup kita sendiri dan akan berusaha mewujudkan solusi dalam tindakan yang berguna bagi sesama, bukan menginternalisasi kenyataan hidup orang lain hanya untuk menenangkan diri tanpa melakukan apa-apa.

• • •

Sistem yang Rusak dan Menolak Bersyukur

Kemampuan kita dalam bersyukur tidak murni dari dalam diri kita saja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang-orang di sekitar kita bereaksi dalam melihat perbedaan.

Bayangkan kamu tinggal di dunia yang berisi manusia homogen. Aku yakin kamu tidak akan pernah mengeluh karena kamu tidak memiliki ukuran lain untuk kamu bandingkan. Kamu menerima segalanya karena semua orang mendapatkan hal yang sama dan diperlakukan dengan sama.

Tentu saja itu hanya imajinasi konyol karena faktanya kita tinggal di bumi yang berisikan manusia heterogen dengan sistem yang rusak.

Pertama, dalam konteks perbedaan yang menjadikan kita manusia, masyarakat kita cenderung menjunjung tinggi satu hal dan merendahkan hal lainnya. Memilih satu hal dan mengucilkan hal lainnya. Akibatnya, kita, dengan segala keunikan, akan merasionalkan perbedaan yang kita miliki.

Kita ditarik kesadaran bahwa perbedaan yang kita miliki adalah kesalahan. Kita merasa perbedaan yang kita miliki adalah kekurangan diri terbesar karena melihat perbedaan mana yang diterima di masyarakat dan mana yang tidak. Kita kemudian melihat bahwa dunia ini tidak adil, atau Tuhan tidak adil, karena kita tidak mendapatkan hal yang sama seperti orang lain.

Gabungan antara perlakuan masyarakat dan subjektivitas diri membuat kita jatuh pada kesimpulan yang menyakitkan.

Kedua, masyarakat kita memiliki budaya yang sama ketika meladeni seseorang yang sedang mengeluhkan kehidupan: Menyuruh mereka untuk bersyukur.

Mereka (termasuk kita) membawa budaya tersebut ke mana pun dan di mana pun karena percaya bahwa itu adalah cara terbaik untuk menenangkan seseorang. Kita menjadikannya patokan kebenaran hingga tanpa berat hati melabeli orang-orang yang menolaknya sebagai orang yang jauh dari Tuhan, tidak memahami takdir, dll.

Pola itu tidak sehat karena si pemberi nasihat buta—menyamaratakan kadar dan kemampuan orang dalam menghadapi masalah. Sedangkan si penerima sakit—merasa tidak didengar, dan tidak dipahami.

Kita mudah saja mengatakan, “Sabar, jangan lupa bersyukur” kepada seseorang yang memiliki masalah lebih besar dari kita, tetapi jika posisi kehidupan kita ditukar, aku tidak yakin kita mampu menerima nasihat yang sama.

Maka, tidak usah kaget ketika orang-orang yang tinggal dalam sistem rusak ini mengubah paradigma mereka bahwa bersyukur adalah hal yang percuma karena tidak mengubah apa pun.

Sah-sah saja mereka, atau bahkan juga kita, untuk tidak bersyukur, tetapi kita juga harus menerima konsekuensi seperti mengalami krisis percaya diri, insecure, menyalahkan keadaan, tanpa adanya perbaikan sedikit pun.

Berharap kepada seluruh masyarakat untuk berubah akan menjadi tugas yang tidak akan pernah mencapai garis akhir. Jika begitu, kita harus mengandalkan diri sendiri dengan mencari kerangka baru untuk bersyukur.

• • •

Kerangka Baru Bersyukur

Pada tahun 1757, salah satu satu filsuf abad 18, Edmund Burke, menulis sebuah buku berjudul A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful. Di dalam bukunya tersebut, Burke membedakan antara the beautiful dengan the sublime.

The beautiful atau juga bisa kita artikan keindahan, adalah sesuatu yang bisa menyenangkan mata dan perasaan kita. Sedangkan the sublime atau keindahan dalam bentuk tertinggi tidak hanya memiliki kekuatan untuk mempekerjakan visual, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menenggelamkan kita.

Burke menuliskan, “Whatever is fitted in any sort to excite the ideas of pain, and danger, that is to say, whatever is in any sort terrible, or is conversant about terrible objects, or operates in a manner analogous to terror, is a source of the sublime; that is, it is productive of the strongest emotion which the mind is capable of feeling … When danger or pain press too nearly, they are incapable of giving any delight, and [yet] with certain modifications, they may be, and they are delightful, as we every day experience.

Sebuah rumah besar bisa kita sebut sebagai the beautiful karena bisa menghasilkan perasaan positif, tetapi gunung, sungai, laut, dan hal-hal yang dimiliki kekuatan alam adalah the sublime karena membuat kita merasa bahagia sekaligus rentan terhadap perasaan negatif, seperti takut terjadinya bencana atau kekacauan—gunung meletus, banjir, tsunami, tanah longsor—pada karya seni sang Pencipta atau apa pun sebutanmu.

Secara jelas, kita tahu bahwa bagaimana the sublime beroperasi tidak bergantung pada kebebasan kita, tetapi pada kebebasan sang Penciptanya. Bahkan, jika kita mau berpikir lebih jauh, adanya kita dan kebebasan yang kita punya di dunia ini juga berasal dari kebebasan sang Pencipta.

Ketika kita memilih berhenti bersyukur, kita akan cenderung mengagung-agungkan kebebasan yang kita miliki, meletakkan sang Pencipta sebagai aktor yang kejam dan menarasikan mengapa Dia menakdirkan X, mengapa Dia memutuskan Y, tanpa menemukan jawaban yang bisa memuaskan dahaga.

Alasannya jelas: Kita tidak bisa membedakan mana kebebasan diri dan mana kebebasan sang Pencipta.

Kebebasan diri meliputi keputusan dan tanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Artinya kita bebas melakukan apa pun yang kita inginkan, dan bebas mengikuti apa pun yang kita percaya. Kebebasan sang Pencipta meliputi keputusan dan tanggung jawab-NYA. Artinya, Dia bebas melakukan apa pun yang ingin Dia lakukan kepada seluruh ciptaan-NYA.

Kita ini egois. Kita menyalahkan, bahkan marah, terhadap kebebasan yang dimiliki dan dilakukan sang Pencipta—kebebasan menciptakan makhluk seperti apa, kebebasan menentukan jalan hidup seperti apa, kebebasan memberi masalah seperti apa, dan daftar lain yang menjadikan-NYA Pencipta.

Bersyukur dalam kerangka baru adalah menghargai kebebasan satu sama lain. Seperti sang Pencipta yang tidak pernah mengintervensi kebebasan kita, kita juga tidak seharusnya mengintervensi kebebasan-NYA.

Selain bisa membuat hubungan kita dengan zat yang lebih besar berjalan dengan baik, kita juga tidak akan membuat keluhan seperti, “Aku tidak ingin dilahirkan,” atau pernyataan dan pertanyaan lain yang menyangkut kebebasan-NYA.

Kita hanya tahu bahwa ketika Dia telah menggunakan kebebasan-NYA, tugas kita adalah menggunakan kebebasan kita sendiri. Dalam bahasa lain, apa pun hasil kebebasan-NYA, kita harus bertanggung jawab—menghadapi fakta dan mengambil tindakan atas hal itu—untuk menjaga diri sendiri karena itulah yang menjadikan kita manusia.