• Sudahkah kita bijak dalam menggunakan internet?
  • Sudahkah kita bijak dalam menggunakan media sosial?

Dua pertanyaan klasik itu seringkali kita dengarkan, tetapi yang menarik adalah adanya 2 pilihan yang di depan kita. Menghiraukannya atau mengakui dan memperbaiki semuanya.

Kita menghiraukannya karena merasa bahwa internet memberikan lebih banyak efek positif daripada negatifnya. Secara tidak sadar, kita telah membiarkan sedikit efek negatif yang terakumulasi dan kemudian menggiring kita ke keadaan depresi.

Kita mengakuinya dan memperbaiki semuanya karena merasa bahwa internet memberikan efek buruk dalam kehidupan kita. Tetapi, masalah yang kita hadapi sebenarnya adalah belumnya menemukan cara yang tepat dalam memperbaiki itu semua. Alhasil kita selalu kembali mengulang kesalahan yang sama.

Ayo kita bahas lebih lanjut!

Hootsuite adalah platform manajemen media sosial yang dibuat oleh Ryan Holmes pada tahun 2008 di Kanada. Setiap tahun Hootsuite menerbitkan laporan tahunan yang diklaim mereka sebagai salah satu studi paling komprehensif di dunia tentang tren digital.

We Are Social Ltd. adalah global conversation agency yang menyediakan pemasaran media sosial dan layanan komunikasi untuk organisasi di Inggris dan internasional.

Kedua perusahaan tersebut bekerja sama untuk mendapatkan data digital secara global dalam beberapa tahun, termasuk Indonesia.

Tips Menggunakan Media Sosial dengan Bijak

Hasilnya?

Data Tren Internet dan Media Sosial 2019 di Indonesia

Cara Menggunakan Media Sosial yang Baik dan Bijak
Bijak dalam Menggunakan Media Sosial
  • Total Populasi (jumlah penduduk): 268,2 juta (naik sekitar 3 juta populasi (1%) dari tahun 2018.)
  • Pengguna Mobile: 355,5 juta (turun sekitar 83 juta pengguna (19%) dari tahun 2018.)
  • Pengguna Internet: 150 juta (naik sekitar 17 juta pengguna (13%) dari tahun 2018.)
  • Pengguna Media Sosial Aktif: 150 juta (naik sekitar 20 juta pengguna (15%) dari tahun 2018.)
  • Pengguna Media Sosial Mobile: 130 juta (naik sekitar 10 juta pengguana (8,3%) dari tahun 2018.)

Waktu Mengakses Media

Bijak Bersosial Media
  • Rata-rata penggunaan internet harian melalui perangkat apa pun: 8 jam, 36 menit.
  • Rata-rata penggunaan media sosial harian melalui perangkat apa pun: 3 jam, 26 menit.
  • Rata-rata penggunaan TV (broadcast, streaming dan video yang sesuai permintaan) harian: 2 jam, 52 menit.
  • Rata-rata penggunaan streaming musik harian menghabiskan: 1 jam, 22 menit.

Frekuensi Menggunakan Internet

Bijak Menggunakan Media Sosial di Era Milenial
  • Setiap hari: 79%
  • Sekali seminggu: 14%
  • Sekali perbulan: 6%
  • Kurang dari sekali per bulan: 1%

Platform Media Sosial Paling Aktif

Langkah Menggunakan Media Sosial dengan Bijak

Tuh, semua aplikasi yang kamu gunakan masuk ke dalam daftar, kan?

Dari semua data diatas, ada satu hal yang menarik perhatian kita bersama, yaitu rata-rata penggunan harian internet melalui perangkat apa pun yang mencapai 8 jam, 36 menit.

Mengapa menarik?

  • Sehari kita memiliki 24 jam.
  • Jika kita ambil rata-rata lama bekerja 8 jam, maka waktu yang tersisa tinggal 16 jam.
  • Jika kita ambil rata-rata lama kita tidur 8 jam, maka waktu yang sekarang kita miliki tinggal 8 jam.
  • Jika kita masih memiliki 8 jam, dan itu habis untuk internet, kegiatan yang lainnya?

Tentu saja hitungan diatas adalah hitungan kasar. Tetapi kalau kita melihat dari data diatas, kita akan melihat dunia menjadi tiga fase setiap harinya: Tidur – Bekerja – Internet.

Bukanlah sebuah masalah jika penggunaan internet kita menghasilkan sesuatu yang produktif. Jika tidak?

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita tahu itu bahwa penggunaan itu produktif?

  1. Lihat statistik penggunaan ponsel kita!
  2. Lalu,tanyakan pada diri kita:
    • Apa yang sudah aku dapat dari sekian jam ini?
    • Apa yang sudah aku hasilkan dari sekian jam ini?
  3. Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa memberi gambaran apakah penggunaan internet yang kita lakukan produktif atau tidak.

Jika kita menyadari bahwa kita tidak menggunakannya secara produktif, lantas bagaimana penyelesaiannya?

• • •

PENDEKATAN DALAM MENGGUNAKAN INTERNET

Setelah melihat data diatas, kita sekarang tahu bahwa internet mendapat alokasi waktu yang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Penggunaan internet dengan durasi seperti itu yang dilakukan setiap hari sangat memengaruhi bagaimana kehidupan kita.

Jadi pendekatan apa yang cocok untuk menggunakan internet?

Dalam bukunya yang berjudul Deep Work, Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Georgetown, memberikan dua pendekatan agar kita bisa memaksimalkan hidup kita dengan teknologi.

1. The Any-Benefit Approach to Network Tool Selection

You’re justified in using a network tool if you can identify any possible benefit to its use, or anything you might possibly miss out on if you don’t use it.

Kamu dibenarkan menggunakan alat jaringan jika kamu bisa mengidentifikasi kemungkinan manfaat untuk penggunaannya, atau apa pun yang mungkin kamu lewatkan jika kamu tidak menggunakannya.

Terdengar baik, bukan?

Tetapi, masalah yang ditimbulkan ketika menggunakan pendekatan ini adalah kita menghiraukan semua efek negatif yang mengikuti penggunakan internet. Pendekatan ini hanya menyarankan kita untuk melihat sisi positif dari penggunaan internet, sekecil apa pun itu. Akhirnya, kita akan jatuh dalam lubang kecanduan yang akan bisa mengganggu fokus dan mengganggu kegiatan produktif kita.

Sebenarnya, pendekatan ini adalah pendekatan yang selalu kita terapkan dalam hidup kita dalam menggunakan internet, iya kan?

Selama kita mendapatkan satu informasi dari Instagram, kita lupa akan semua video lucu yang hanya membuang waktu.

Selama kita menonton satu video edukasi di Youtube, kita lupa akan semua video gossip yang membuat kita menunda pekerjaan.

2. The Craftsman Approach to Tool Selection

Identify the core factors that determine success and happiness in your professional and personal life. Adopt a tool if its positive impacts on these factors substantially outweigh its negative impacts.

Identifikasikan faktor-faktor inti yang menentukan kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan profesional dan pribadimu. Gunakan alat jika dampak positifnya pada faktor-faktor ini secara substansial lebih besar daripada dampak negatifnya.

Pendekatan kedua ini berlawanan dengan pendekatan pertama. Jika the any-benefit hanya mengidentifikasi dampak positif, the craftsman memperhitungkan dampak negatif dan mengambil keputusan berdasarkan ukuran kemanfaatan yang diberikan.

• • •

Oke, sekarang mari kita gambarkan pendekatan diatas dalam diagram venn.

menggunakan internet dengan bijak

Dalam diagram venn diatas memiliki 3 hal yang bisa kita analisa.

  • Bad: Dampak negatif dari internet. Kita mendapat banyak dampak negatif daripada dampak positif dari penggunaan internet.
  • Few: Dampak negatif dan positif. Di irisan ini kita hanya sedikit mendapat manfaat.
  • Good: Dampak positif dari penggunaan internet.

Jika kita satukan dengan 2 pendekatan tadi maka akan menjadi seperti ini:

  • The Any-Benefit Approach bertumpu pada “good” dan “few,” karena dalam pendekatan ini dampak positif sekecil apa pun masih tetap diperhitungkan.
  • The Craftsman Approach bertumpu hanya pada “good.” Ini artinya, pendekatan ini hanya menyuruh kita untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar dari kerugian. Pendekatan ini juga menyuruh kita untuk menghiraukan pemakaian internet yang hanya memberikan dampak positif dalam porsi sedikit.
  • Kedua pendekatan diatas tidak mendukung penggunaan internet yang hanya memberi “bad” lebih besar daripada yang lainnya.

• • •

JADI SEBENARNYA INTERNET ATAU MEDIA SOSIAL?

Oke, tahan kudamu dulu.

Pembahasan tentang internet diatas sebetulnya adalah pengantar kita saja. Dengan memahami gambaran bagaimana sebenarnya kita dalam menggunakan internet, kita tahu bahwa kita belumlah bijak.

Sekarang mari kita gali lebih dalam lagi.

Penggunaan internet sangatlah bermacam-macam. Kita bisa menggunakannya untuk browsing, streaming musik, mendegarkan podcast, membaca artikel, dll. Tetapi jika kita lihat berdasarkan data diatas tadi, media sosial menjadi pembunuh waktu paling mujarab dalam penggunaan internet. Dan disinilah masalah yang lebih besar itu ditanam.

Dalam konferensi TED-nya, Bailey Parnell, seorang Pendiri, CEO SkillsCamp dan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Wanita Paling Kuat di Kanada, menyampaikan 4 penyebab kenapa media sosial bisa memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental kita.

1. Highlight Reel

Highlight Reel adalah koleksi momen-momen terbaik. Dan media sosial berperan besar dalam hal ini. Masih tidak percaya?

Coba jawab pertanyaan ini:

  • Mana yang kamu pilih untuk diunggah, foto yang kamu anggap jelek atau foto yang kamu anggap bagus?
  • Mana yang kamu pilih, momen yang kamu anggap berkesan atau momen yang kamu anggap biasa?
  • Mana yang kamu pilih, foto yang bisa memberi gambaran baik tentang siapa dirimu, atau foto yang bisa memberi gambaran buruk tentang dirimu?

Tapi apa yang mendasari kita melakukan hal itu?

We struggle with insecurity because we compare our behind-the-scene with everyone’s else highlight reel.

— Steven Furtick

Seperti yang dikatakan Furtick, bahwa kita hanya memilih yang ‘terbaik’ untuk diunggah karena kita merasa gelisah akan apa yang akan orang katakan tentang kita. Kita kemudian berlomba-lomba membentuk feed dengan sebaik mungkin.

Tujuan utamanya? Agar kita mendapatkan sebuah cap “Kehidupanku lebih baik dari kehidupan mereka.”

Perbandingan ini tidak akan pernah berujung, karena terima atau tidak, akan selalu ada seseorang yang lebih dari kita. Kita hanya akan menyambut perasaan ‘aku hanya seperti sisa minyak Indomie yang melekat di plastik dan dibuang.’

2. Social Currency

Seperti halnya uang yang digunakan untuk memberi nilai terhadap sesuatu, media sosial juga memberi kita hal yang sama. Bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk like, komentar dan followers.

  • Ketika foto kita mendapatkan like, kita akan merasa bahwa diri kita diakui.
  • Ketika foto kita mendapatkan komentar positif, kita akan merasa bahwa kita dihargai.
  • Ketika kita mendapatkan banyak followers, kita akan merasa bahwa kita adalah orang yang lebih hebat dari sebagian lainnya.

Tetapi, sadarkah kita bahwa dalam media sosial kita adalah produknya?

Iya, social currency membuat kita menilai harga diri kita berdasarkan penilaian orang lain melalui like, komentar dan followers. Jika tidak, kita akan masuk ke dalam lubang hitam bernama ” aku dan kehidupanku tak berharga.”

3. FoMO (Fear of Missing Out)

Fenomena ini adalah perasaan nyata akan kegelisahan sosial. Kita takut kehilangan koneksi yang dianggap potensial, acara, atau kesempatan.

Masih bandel untuk tidak percaya?

  • Berapa lama kamu bisa untuk tidak menggunakan Instagram, dll?
  • Maukah kamu menonaktifkannya seminggu saja?

Jawaban poin pertama: Hmmm menggunakannya hanya ketika waktu luang aja kok. Masalahnya waktu luang itu lebih banyak daripada waktu produktifmu, kan?

Jawaban poin kedua: tidak bisa.

Tenang, aku dulu seperti itu hingga aku menyadari semua kerugian diatas. Lalu, apa yang aku lakukan? Aku membisukan semua post atau story dari teman-temanku.

Itu tidak semudah yang kamu kira lho, coba saja sendiri. Di awal-awal perasaan kepomu akan menggedor-gedor hatimu. Sebelum kamu bisa menjinakkannya, kamu akan terus kepo dan kepo. Kamu akan terus menerus membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan ‘terbaik’ milik orang lain.

4. Online Harassment

Jika tadi kita membicarakan komentar positif, ini adalah kebalikannya. Media sosial membuka pintu selebar-lebarnya untuk pelecehan online. Jika kita sudah mendapatkan hal semacam ini, kita akan mempertanyakan harga diri kita dan keselamatan kita.

Mungkin satu komenter negatif tentang kita bukanlah masalah. Tetapi, bagaimana jika hal kecil itu berlangsung terus menerus dan terakumulasi menjadi bom waktu dalam kehidupan kita?

Dan ketika bom itu meledak, saatnya kita sambut perasaan stres dan depresi.

• • •

MANA PENDEKATAN YANG TERBAIK?

Sebelum kita kepada kesimpulan mana pendekatan yang terbaik, kita harus cari tahu dulu kapan sih waktu yang tepat untuk berhenti menggunakan media sosial. Mari kembali ke diagram venn tadi.

  • Bad: Tidak ada alasan untuk melanjutkan menggunakannya. Ketika kita telah menyadari bahwa kita telah terjebak dalam 4 faktor diatas tadi, itu artinya kita harus berhenti mengunakan media sosial.
  • Few: Bersifat opsional, tetapi hal inilah yang sering menipu kita. Ketika kita menyadari bahwa efek negatif yang diberikan sama dengan efek positifnya, kita mengambil kesimpulan bahwa menggunakan media sosial itu tidak apa-apa. Tetapi, jika kita perhatikan, hal ini sangatlah berisiko. Dengan tetap menggunakannya kita akan memiliki kesempatan untuk merasakan dampak negatif yang ditimbulkan 4 faktor tadi. Jadi, jika kita bisa mendapatkan yang terbaik, kenapa harus memilih yang baik?
  • Good: Tidak ada alasan untuk tidak menggunakannya. Ketika kita sadar betul bahwa pemakaian media sosial berdampak positif terhadap kita, meningkatkan produktivitas dan memperbaiki hidup kita, maka lanjutkanlah untuk menggunakannya!

Jadi pendekatan mana yang terbaik?

Menggunakan The Any-Benefit Approach to Network Tool Selection akan hanya merugikan kita. Pendekatan ini menyuruh kita untuk melupakan segala dampak negatif, padahal adalah hal yang sangat penting untuk melihat pro dan kontra dalam menggunakan internet agar kita bisa mengukur porsi mana yang mendapat lebih banyak waktu dan menimbangnya apakah itu baik atau buruk.

Tanpa membuka pintu negatif dan dengan janji positif yang dimilikinya, kita harusnya menggunakan The Craftsman Approach to Tool Selection.

Lalu munculah pertanyaan lanjutan..

“Bagaimana cara untuk melatih dalam menerapkan The Craftsman Approach to Tool Selection?”

Cara melatihnya yaitu dengan mengurangi pemakaian internet.

• • •

SAATNYA BIJAK MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Kita sampai di poin terakhir artikel ini. Di poin ini kita akan membahas tentang cara yang ampuh untuk mengurangi pemakaian internet agar lebih bijak dalam menggunakannya, karena aku tahu, adalah hal yang sangat sulit jika kita langsung berhenti total.

Tapi, manfaat besar apa yang bisa kita dapatkan dari pemberhentian ini? Jawabannya adalah untuk meningkatkan fokus. 

Kita tahu bahwa kemudahan yang dibawa internet membuat kita justru lalai dalam menggunakannya. Kita menjadi generasi dengan distraksi terbesar dari generasi yang pernah ada sebelumnya. Kemudahan ini membuat kita semakin sering melakukan multitasking. Padahal kita tahu, multitasking hanya memperburuk produktivitas dan malah menurunkan kemampuan kita untuk fokus terhadap pekerjaan.

Cara Tepat Menggunakan Media Sosial

Bagaimana caranya?

1. Internet Sabbath

Istilah ini diyakini berasal dari William Powers, seorang penulis dan jurnalis dari Amerika. Internet Sabbath juga sering disebut dengan digital detox.

Caranya sangat sederhana. Kita hanya disuruh menyisihkan waktu untuk menahan diri dari teknologi jaringan. Waktunya pun bervariasi, dari sehari dalam seminggu, sampai dengan beberapa bulan dalam setahun.

Mungkin kita lebih mudah memahaminya sebagai puasa internet. Jadi di puasa ini, kita bisa merefleksikan diri dan lebih memfokuskan diri pada dunia nyata (pekerjaan, hubungan, dll.)

Tetapi, menurut Newport, Internet Sabbath adalah cara yang tidak bisa menyembuhkan kita dari otak yang ‘terganggu.’

Alasannya?

  • Jika Internet Sabbath dilakukan dalam waktu yang sebentar, hasilnya tidak akan bisa terasa. Kita masih akan memiliki kesempatan yang besar untuk gagal.
  • Jika Internet Sabbath dilakukan dalam waktu yang lama, itu bukanlah hal yang realistis karena kita semua membutuhkan internet.

Internet Sabbath menyuruh kita untuk menghilangkan gangguan, dan itu adalah hal yang sulit atau bahkan sesuatu yang tidak mungkin.

Newport menawarkan cara alternatif baru, yaitu bukan berhenti dari gangguan, tetapi berhenti dari fokus. Caranya ada di poin kedua.

2. Jadwalkan penggunaan internet!

Dengan menjadwalkan penggunaan internet, kita tidak hanya akan bisa fokus kepada tugas yang menjadi prioritas, tetapi juga tetap bisa terhubung dengan internet dengan pendekatan yang sudah kita pilih.

Aturannya sederhana:

  • Alokasikan waktu antara penggunaan internet dengan bekerja secara fokus.
  • Selama bekerja, kita dilarang menggunakan internet. Kita harus benar-benar fokus dalam mengerjakan tugas tersebut.
  • Setelah selesai bekerja kita baru bisa menggunakan internet, itu pun dengan batas yang sudah ditentukan.

Tetapi, mengapa cara ini ampuh?

  1. Cara ini melatih kita untuk tidak perpindah tugas dari satu ke hal lainnya (multitasking.)
  2. Cara ini melatih otot mental yang bertanggung jawab untuk mengatur banyaknya sumber yang berlomba-lomba dalam mendapatkan perhatian kita.
  3. Cara ini mengajari kita untuk lebih tenang dalam menyikapi hal baru (video kucing lucu sampai ASMR kulit ayam di Instagram.)
  4. Cara ini meminimalisasi jumlah kita menyerah karena gangguan.
  5. Cara ini mengizinkan otot perhatian kita menguat.

Jadi, jangan jauhkan internet secara keseluruhan. Tetapi, alokasikan waktu dalam menggunakannya!

Bijak dalam menggunakan internet, khususnya media sosial adalah sebuah keniscayaan.

What consumes your mind controls your life.

bijak dalam menggunakan media sosial bijak dalam menggunakan media sosial bijak dalam menggunakan media sosial bijak dalam menggunakan media sosial bijak dalam menggunakan media sosial 


FOOTNOTES

  1. Hasil data digital pada bulan April 2019 yang dikumpulkan Hootsuite dan We are social telah keluar, kamu bisa membaca selengkapnya di THE STATE OF DIGITAL IN APRIL 2019: ALL THE NUMBERS YOU NEED TO KNOW.
  2. Baca juga selengkapnya tentang William Powers dan Cal Newport.
  3. Empat faktor yang menyebabkan kesehatan mental kita terganggu aku dapatkan dari konferensi TED-nya Bailey Parnell. Silakan tonton Is Social Media Hurting Your Mental Health? sampai habis untuk mendapatkan info yang lebih lengkap disana.
  4. Cara mengurangi pemakaian internet dan pendekatan dalam pemakaian internet aku dapatkan dari buku Cal Newport yang berjudul Deep Work.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.