Kita berpikir  bahwa kita seorang yang hebat untuk melakukan multitasking.

  • Mengendarai mobil sembil menelepon bos yang cerewet.(Hampir saja menabrak motor di depan.)
  • Memasak sambil mendengarkan audiobook (Iya, makanannya jadi asin. Banget.)
  • Mengerjakan tugas sambil scrolling Instagram (Jadi typo ketika harus menulis ‘kontrol’.)
  • Membaca buku sambil mendegarkan musik (“produktivitas adalah havana una na”, eh….)

Tapi sebenarnya kita tidak memperhatikan kesalahan kita. Otak kita tidak dirancang untuk melakukan 2 tugas sekaligus.

Setiap kali kita beralih dari melakukan A ke melakukan B, ada proses jeda dimana kita akan berhenti dan mulai. Hal ini menyebabkan kita terkena switching cost.

Switching cost adalah gangguan dalam kinerja yang kita alami ketika kita mengalihkan perhatian kita dari satu tugas ke tugas lain.

Sebuah studi tahun 2003 yang diterbitkan dalam International Journal of Information Management menemukan bahwa biasanya orang memeriksa surel setiap lima menit dan rata-rata dibutuhkan 64 detik untuk kembali fokus dan bisa melanjutkan tugas sebelumnya setelah memeriksa surel.

Dengan kata lain, karena surel saja, kita membuang satu dari setiap enam menit.

Bagaimana kalau tugasnya lebih berat? mungkin kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa kembali fokus pada tugas sebelumnya.

Masih tidak percaya?

Oke, sekarang ambil secarik kertas dan lakukan hal ini:

  • Di baris pertama, tulislah : Saya pilih Nurhadi Aldo.
  • Pada baris kedua, tulislah angka 1-20 secara berurutan (1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20.)

Berapa lama waktumu menyelesaikan tugas diatas? Paling hanya sekitar 25 detik.

Ayo kita coba melakukannya dengan multitasking!

  • Kali ini, tulislah satu huruf pada baris pertama,
    • S
  • Dan kemudian angka pada baris kedua,
    • 1
  • Kemudian huruf berikutnya dalam kalimat di baris pertama,
    • Sa
  • Dan kemudian nomor berikutnya di baris kedua,
    • 1 2
  • Ulangi terus, sampai kamu menyelesaikan kedua baris.

Aku yakin waktumu menyelesaikan tugas diatas menjadi dua kali lipat atau lebih dan mungkin juga kamu membuat beberapa kesalahan.

Sudah terbukti, bahwa dengan multitasking, produktivitas kita akan menurun, kemudian hal itu justru membuat kita menghabiskan waktu secara tidak efisien, memberi ruang besar untuk melakukan kesalahan pada tugas, dan pada akhirnya malah menguras energi kita.

• • •

KENAPA KITA SERING MELAKUKAN MULTITASKING?

Pertama, kareana adanya pengaruh dopamin.

Ketika kita menyelesaikan tugas, sekalipun itu tugas kecil, otak akan menghasilkan hormon dopamin yang membuat kita merasa puas, bahagia dan merasa telah berhasil.

Hal ini juga terjadi saat kita multitasking.

Kita akan merasa lebih produktif karena kita beranggapan bahwa kita telah melakukan dan bisa menyelesaikan 2 tugas sekaligus.

Otak akan terus menerus melakukannya meskipun itu sebenarnya sesuatu yang memiliki banyak kerugian.

Hal diatas didukung oleh penelitian yang menemukan bahwa:

Multitasking sering memberi siswa dorongan emosional, meskipun itu melukai fungsi kognitif mereka, seperti belajar.

“Ada mitos di antara beberapa orang bahwa multitasking membuat mereka lebih produktif,” kata Zheng Wang, penulis utama penelitian dan asisten profesor komunikasi di Ohio State University.

“Tetapi mereka tampaknya salah memahami perasaan positif yang mereka dapatkan dari melakukan banyak tugas. Mereka tidak lebih produktif, mereka hanya merasa lebih puas secara emosional dari pekerjaan mereka.”

Ambil, misalnya, siswa yang menonton TV sambil membaca buku. Mereka melaporkan merasa lebih puas secara emosional daripada mereka yang belajar tanpa menonton TV, tetapi juga melaporkan bahwa mereka juga tidak mencapai tujuan kognitif mereka, kata Wang.

• • •

CARA MENGHINDARI MULTITASKING

Teknik pomodoro adalah salah satu cara terbaik dan terlengkap untuk menghindari multitasking.

Kenapa?

Karena dengan pomodoro kita dituntut untuk fokus pada satu tugas saja atau monotasking.

Pomodoro juga mengharamkan segala macam gangguan sampai waktu pomodoro berakhir. Hal ini akan membuat kita maksimal dalam mengerjakan suatu tugas.

Yang terakhir adalah reward atau hadiah setelah menyelesaikan tugas. Dengan hadiah kita akan lebih fresh, termotivasi dan membuat kita bersemangat kembali mengerjakan tugas selanjutnya.

• • •

PENGECUALIAN

Yup, dikasus multitasking ini ada pengecualian. Apakah itu?

Kita akan bisa melakukan multitasking pada suatu kegiatan yang sudah menjadi habit dan tidak terlalu membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi.

Kenapa kita bisa berjalan sambil berbicara?

Karena kita tidak lagi memikirkan bagaimana cara berjalan. kita melakukannya otomatis. sehingga ketika disandingkan dengan kegiatan lain, kita masih bisa melakukannya sekaligus.

Bagaimana dengan memasak?

Bisakah kita memasak sekaligus mendengarkan radio?

Bisa, jika apa yang kita masak telah menjadi sebuah habit dan tidak membutuhkan konsentrasi tinggi

Tidak bisa, jika apa yang kita masak adalah menu baru, kita diharuskan membaca resep, mengharuskan kita berkonsentrasi tinggi dan memperhatikan setiap detail maka dalam hal ini jangan pernah melakukan multitasking.

Pada akhirnya adalah, multitasking itu ada, yang tidak ada adalah multifokus. Kita bukanlah komputer yang di design agar bisa menjalankan banyak program sekaligus.

Cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan memprioritaskan tugas dengan baik dan fokus pada hal yang tersebut.

Let’s be monotasker!

 

 


FOOTNOTES

  1. Hasil penelitian tentang switching cost dan alasan kenapa kita masih melakukan multitasking bisa kamu baca selengkapnya di The Myth of Multitasking: Why Fewer Priorities Leads to Better Work dan Multitasking may hurt your performance, but it makes you feel better.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.