Bisakah Kita Multitasking?

Bisakah Kita Multitasking?

Case 1

Waktu menunjukkan jam 23.30 WIB.

Mata tidak bisa terpejam, dan perut pun demikian.

Waktu yang harusnya buat tidur digantikan dengan makan malam.

Kaki melangkah ke dapur, membuka kulkas untuk melihat apa saja yang bisa disantap.

Masih ada beberapa potong ikan, dan teman wajib makan, sambel.

Semua siap. Ikan sudah siap buat mulut ngiler, sambel sudah siap buat mulut jontor, nasi panas sudah siap untuk mengisi kekosongan perut.

Enak kali ya kalau makan sambil lihat TV.

Sesuap demi sesuap,

Ouuuuchhh!!!

Tanganku tertusuk duri ikan. Makanpun terhenti, dan berganti dengan pertanyaan

“Benarkah kita bisa multitasking?”

———

Case 2

Terkadang banyaknya kejadian, entah itu senang, sedih, aneh, akan kita coba untuk ceritakan.

Teman adalah salah satu orang yang bisa kita ajak berbagi cerita.

Malam itu ada kejadian dimana ada bapak supir taksi online yang dihadang oleh supir taksi konvensional. Masalahnya jelas, bahwa supir taksi online dianggap merebut penumpang supir taksi konvensional.

Kuceritakan bagaimana tegangnya suasana saat hal itu terjadi kepada temanku.

Saat aku cerita dia sambil memainkan HP-nya.

Cerita terus kulanjutkan karena dia juga merespon ceritaku meskipun sambil bermain HP.

Tapi yang jadi masalah adalah di akhir cerita dia ingin aku untuk bercerita lagi.

Dia bilang kalau dia tadi tidak berkonsentrasi. 

———

Case 3

Akhir-akhir ini kita agak dikejutkan dengan larangan kepolisian untuk menggunakan GPS saat berkendara.

Tapi tunggu, apakah itu dilarang? dan kenapa kok dilarang?

Dikutip dari detik.com, Kakorlantas Irjen Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan bahwa tidak ada larangan khusus untuk menggunakan GPS, yang dilarang adalah menggunakannya saat berkendara.

Dia menambahkan bahwa kita sebagai pengendara harus tahu etika berkendara. Kalau memang ingin menggunakan GPS atau handphone sebaiknya kita menepi terlebih dahulu.

Hal ini demi keamanan diri sendiri dan juga orang lain.

Penyedia software ponsel untuk keamanan berkendara, Zendrive, melaporkan, bahwa 9 dari 10 perjalanan melibatkan handphone saat berkendara. Data ini dihimpun dari 570 perjalanan yang dilakukan oleh 3,1 juta pengendara di Amerika

Lembaga Nasional Keselamatan Lalu Lintas AS juga menyatakan dari data yang ada bahwa di Amerika sendiri terjadi kenaikan kecelakaan akibat ponsel sebesar 50 persen sejak tahun 2010.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sampai saat ini aku belum menemukan data resmi tentang persentase kecelakaan karena bermain handphone saat berkendara. Silahkan komentar jika kalian ada datanya.

Semua kejadian diatas terjadi akibat adanya Inattentional Blindness

Inattentional Blindness adalah kejadian dimana  kita melihat sesuatu tetapi tidak kita rekam dengan baik di otak karena pikiran kita sedang fokus ke hal yang lain.

Studi paling terkenal tentang Inattentional Blindness adalah The Gorilla Test.

Studi ini dilakukan oleh Daniel Simons dari Universitas Illinois di Urbana-Champaign dan Christoper Charbis dari Harvard tahun 1999

Studi ini adalah studi lanjutan yang sebelumnya dilakukan oleh Ulric Neisser pada tahun 1975

Para subjek diminta menonton video pendek dari 2 kelompok orang. Kelompok pertama menggunakan kaos hitam dan yang kedua  memakai kaos putih.

Di video tersebut kedua kelompok tersebut saling mengoper bola kepada teman yang mamakai warna kaos yang sama. Putih mengoper ke putih, hitam mengoper ke hitam.

Subjek diminta untuk menghitung berapa kali kelompok kaos putih melakukan operan.

Selama proses pengoperan, ada seorang gorilla yang melewati 2 kelompok tersebut.

Video telah selesai dan subjek ditanya apakah mereka melihat sesuatu yang aneh di video tersebut.

50% dari mereka tidak menyadari bahwa ada gorilla yang lewat.

Kenapa hal ini terjadi?

Kegagalan ini disebabkan karena subjek hanya fokus dan memberi perhatian penuh dengan apa yang diperintahkan.

Itu adalah salah satu bukti bahwa sebenarnya otak kita hanya akan bekerja secara maksimal jika kita melakukan satu pekerjaan saja.

Jika mengerjakan  2 hal sekaligus bagaimana?

Maka akan ada gorila yang selalu kita lewatkan!

Dari semua kejadiaan diatas tadi, kembali ke pertanyaan awal.

———

BISAKAH KITA MULTITASKING?

Kita berpikir  bahwa kita seorang yang hebat untuk multitasking.
Mengemudi sambil main handphone.
Membaca artikel ini sambil makan.
Menonton film sambil mengerjakan PR.

Tapi sebenarnya kita tidak memperhatikan kesalahan kita.

Ketika kita berpikir kita bisa multitasking, kita tidak melakukan 2 hal secara bersama, tetapi kita berpindah antara tugas pertama dan kedua secara cepat. Dan bagian terbaiknya adalah kita tidak pernah menyadari hal ini.

———

BERARTI KITA TIDAK BISA MULTITASKING?

Sayangnya, otak kita tidak di design untuk melakukan 2 tugas sekaligus.

Pentingnya sadar apa yang sedang kita lakukan adalah hal yang saat vital.

Executive control prosesses. Singkatnya executive control prosesses adalah dimana otak kita berkonsentrasi dan menerima informasi yang ada secara sadar.

Ada 2 fase dalam Executive Control Prosesses

1.Goal Shifting

Keadaan dimana otak berkonsentrasi mengerjakan tugas A daripada tugas B

2. Rule Activation

Keadaan dimana otak mematikan aturan pada tugas A dan mengaktifkan aturan untuk tugas B

Contoh :

Kita mendesign gambar di komputer, otomatis kita akan menggunakan aturan-aturan yang berlaku saat mendesign gambar.

Kemuadian kita berpindah tugas, sekarang membalas email di handphone. Maka kita harus mematikan aturan design dan memulai aturan baru untuk membalas email.

Ketika kita mengerjakan 2 hal sekaligus ( Baca: Berpindah tugas ) otak kita akan terkena Cognitive Switching Penalty.

Yaitu keadaan dimana otak membutuhkan waktu untuk fokus dan berkonsentrasi saat berpindah tugas. Bolak-balik ke tugas A dan B membuat kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas karena fokus kita terganggu. Jika kita terlalu sering melakukan hal ini yang terjadi adalah kita sama sekali tidak akan fokus dan akan cenderung membuat kesalahan yang lebih banyak.

———

KENAPA KITA SERING MELAKUKAN MULTITASKING?

Dopamin adalah penyebabnya.

Ketika kita menyelesaikan tugas, sekalipun itu tugas kecil, otak akan menghasilkan hormon dopamin yang membuat kita merasa puas, bahagia dan merasa telah berhasil.

Hal ini juga terjadi saat kita multitasking.

Kita akan merasa lebih produktif karena kita beranggapan bahwa kita telah melakukan dan bisa menyelesaikan 2 tugas sekaligus.

Otak akan terus menerus melakukannya meskipun itu sebenarnya sesuatu yang memiliki banyak kerugian.

Sekarang kita sudah tahu kenapa saat menonton video lucu kita ingin mencari lagi dan lagi padahal kita tahu kita sedang belajar.

———

KERUGIAN MULTITASKING

1. Membutuhkan Waktu Yang Lebih Lama

Karena kita terkena cognitive switching penalty kita akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tugas.

Otak akan membutuhkan waktu yang lebih untuk kembali bisa berkonsentrasi.

2. Membuat lebih banyak kesalahan

Karena kita sulit berkonsentrasi, kita akan membuat lebih banyak kesalahan

3. Meningkatkan Level stres

Ketika kita melakukan multitasking otak akan menghasilkan cortisol, yaitu hormon stres.

Itulah kenapa kita terkadang merasa emosi saat mengerjakan 2 hal sekaligus.

———

CARA MENGHINDARI MULTITASKING

Teknik pomodoro adalah salah satu cara terbaik dan terlengkap untuk menghindari multitasking

Kenapa?

Karena dengan pomodoro kita dituntut untuk fokus pada satu tugas saja atau monotasking.

Pomodoro juga mengharamkan segala macam gangguan sampai waktu pomodoro berakhir. Hal ini akan membuat kita maksimal dalam mengerjakan suatu tugas.

Yang terakhir adalah reward atau hadiah setelah menyelesaikan tugas. Dengan hadiah kita akan lebih fresh, termotivasi dan membuat kita bersemangat kembali mengerjakan tugas selanjutnya.

Jika kalian belum tahu tentang pomodoro kalian bisa baca disini.

———

PENGECUALIAN

Yup, dikasus multitasking ini ada pengecualian. Apakah itu?

Kita akan bisa melakukan multitasking pada suatu kegiatan yang sudah menjadi habit dan tidak terlalu membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi.

Kenapa kita bisa berjalan sambil berbicara?

Karena kita tidak lagi memikirkan bagaimana cara berjalan. kita melakukannya otomatis. sehingga ketika disandingkan dengan kegiatan lain, kita masih bisa melakukannya sekaligus.

Bagaimana dengan memasak?

Bisakah kita memasak sekaligus mendengarkan radio?

Bisa, jika apa yang kita masak telah menjadi sebuah habit dan tidak membutuhkan konsentrasi tinggi

Tidak bisa, jika apa yang kita masak adalah menu baru, kita diharuskan membaca resep, mengharuskan kita berkonsentrasi tinggi dan memperhatikan setiap detail maka dalam hal ini jangan pernah melakukan  multitasking kalau tidak mau masakan kalian asin. 🙂

Pada akhirnya adalah, multitasking itu ada, yang tidak ada adalah multi fokus. Kita bukanlah komputer yang di design agar bisa menjalankan banyak program sekaligus.

Cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menyadari dan tahu bagaimana otak kita bekerja, dan melaksanakannya.

Let’s be monotasker fellas!