The missing point wahyu saputra

13×19 cm | Softcover | xii+225 halaman | EA Books, 2021

Kita melihat bahwa gerak setiap individu didorong oleh tujuan, terlepas itu spesifik atau tidak. Bagi kita, dorongan itu adalah pilihan paling tepat untuk berhadapan dengan masa depan. Sebuah orientasi yang jika tidak dilakukan akan menjadikan hidup bergantung pada keacakan yang membuat kondisi internal tidak teratur.

Ketika para ilmuwan mencoba memetakan bagaimana adaptasi psikologis manusia dalam prosesnya mencapai puncak, tujuan, atau status sosial, secara umum mereka menemukan dua jalan berbeda: dominasi dan prestise.

Dominasi bersifat kompetitif. Di dalamnya berisi “aku melawan kamu”. Di sini, individu ingin meraih kemenangan, mendapatkan keuntungan terbesar, untuk meninggikan “aku”. Prestise bersifat kooperatif. Di dalamnya berisi “aku dan kamu”. Di sini, individu ingin menciptakan sinergi, berbagi keuntungan, untuk menghidupkan “kita”.

Jalur dominasi adalah tentang mencapai tujuan menggunakan intimidasi atau kedudukan yang kita miliki, kepada orang lain yang memiliki ketakutan atau kekhawatiran. Sedangkan jalur prestise adalah tentang mencapai tujuan menggunakan tingkah laku yang baik, pengetahuan, atau keahlian. Adolf Hitler memiliki dominasi. Mahatma Gandhi memiliki prestise.

Meskipun sangat berlawanan, ada satu kesamaan dari kedua jalur itu bahwa penerapan usaha terhadap tujuan bersumber dari keinginan untuk mendapat kekuasaan. Tujuan untuk kebebasan finansial dilandasi keinginan kita untuk menguasai pilihan-pilihan di dunia material secara leluasa. Tujuan untuk berbuat kebaikan dilandasi keinginan kita untuk menguasai perasaan yang lebih menenangkan. Kita melakukan sesuatu untuk mengendalikan sesuatu.

Semakin dalam kita mempelajarinya, semakin kita sadar bahwa kehidupan yang stabil tidak lahir dari satu hal, melainkan kombinasi dua hal: dominasi dan prestise. Ketika orang lain memiliki perasaan yang rentan, dominasi akan mempercepat perwujudan rencana yang kita miliki.

Ketika orang lain memiliki kondisi perasaan yang sama dengan kita, prestise mampu jadi alat yang sesuai. Singkatnya, masing-masing jalur bisa berfungsi sesuai keadaan yang menuntutnya.

Namun alam semesta begitu kompleks sehingga cara kerjanya sering kali berada di luar pemahaman kita. Ketika itu terjadi, kita kerap melihatnya sebagai tekanan atau bahkan kita transformasikan sebagai bentuk kegagalan. Jalur prestise misalnya, meskipun terlihat tidak kompetitif, sebenarnya juga tetap dapat menawarkan label baik atau buruk, kurang atau cukup, sukses atau gagal. Memang jalur prestise mampu menghasilkan hal positif seperti seni, inovasi dalam bisnis, atau karya-karya lain, tetapi karena itu jugalah kebanyakan dari kita mudah membandingkan diri dengan apa yang orang lain lakukan. Sesuatu yang kerap menarik diri ke arah perasaan negatif.

Bagaimanapun, kegagalan—yang dilihat dari sisi internal, eksternal, atau keduanya—adalah sebuah kepastian hidup yang tidak bisa kita hindari. Masalahnya adalah kita tidak lagi bisa membedakan “sesuatu yang harus terjadi” dengan “sesuatu yang harus berhasil”. Yang pertama, kegagalan diteguhkan sebagai alat adaptasi. Sedangkan yang kedua, kegagalan ditegaskan sebagai alat untuk memaksa diri.

Dari dua pilihan itu, pilihan pertama tampak lebih baik, tetapi kenyataannya kita sering melakukan sebaliknya. Ketika menghadapi kegagalan dalam proses kompetisi atau kooperasi, yang kita anggap adaptasi sebenarnya adalah bentuk pemaksaan. Pikiran kita terikat pada kepuasan yang dijanjikan pencapaian tertentu, membuat kita tidak lagi bisa mengamati secara luas gambaran realitas. Kita lalu melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan diri kita demi menjemput “keberhasilan”. Kita enggan mengakui kekurangan, sambil menampik umpan balik yang menyakitkan.

Kini dunia semakin terfragmen menjadi jutaan kultur-kultur kecil. Tiap hari kita membuka diri pada paparan informasi baru yang bisa berdampak baik, tetapi juga bisa memperkeruh pikiran. Informasi-informasi itu berperang satu sama lain, mencoba mendapatkan tempat di pikiran kita sebelum akhirnya jadi kepercayaan yang dapat memengaruhi keputusan dan tindakan.

Bagaimanapun, bukan informasi yang saling bertarung, tetapi kita dengan seluruh informasi yang kita konsumsi. Ketika kita tidak mampu mengintegrasikan informasi-informasi berbeda, kita tidak akan mendapatkan nilai yang lebih besar dari aktivitas konsumsi informasi.

Itulah inti pembahasan buku ini: mencari sudut pandang lain mengenai tujuan, kegagalan, dan realitas, agar kita bisa menjalani hidup dengan pemahaman lebih dalam. Aku hanya menawarkan satu hal: ruang berpikir yang mungkin kamu lewatkan. Jangan pernah memberi titik pada setiap hal yang aku bahas di buku ini, atau sederhananya, olah lagi apa yang aku sampaikan.

Di buku ini, kamu juga akan menemukan beberapa hasil penelitian, nilai-nilai stoisisme, dan taoisme. Jadi, semua kebijaksanaan di halaman-halaman berikutnya dilandasi gagasan pemikir besar yang mendahuluiku.

Secara keseluruhan, ada tiga bagian yang bisa kamu selesaikan.

Di bagian pertama, kamu akan menjelajahi tujuan. Ini untuk kamu yang memiliki keinginan yang menggebu-gebu, tetapi masih kesulitan bertindak. Ini untuk kamu yang sedang berproses, tetapi merasa bingung di tengah perjalanan. Dan, ini untuk kamu yang sudah berada di puncak, tetapi masih belum menemukan apa yang kamu cari.

Di bagian kedua, kamu akan mendalami kegagalan. Kamu akan melihat sisi lain dari sikap pantang menyerah. Kamu akan mengamati bagaimana kegagalan mengubah cara pandangmu terhadap diri sendiri. Dan, kamu akan memahami pentingnya melepaskan keterikatan pada apa yang tidak ada dalam kontrolmu.

Di bagian ketiga, kamu akan mengeksplorasi langkah selanjutnya. Ini akan menjelaskan tentang harmoni dalam tujuan dan kegagalan.

Indra kita mungkin memang terbatas dalam memahami dunia. Mungkin juga tidak sepenuhnya akurat dalam memetakan alur kehidupan. Namun itu bukan alasan untuk berhenti bergerak. Itu adalah jalan kita untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam. Sebab kita tahu, sejak lahir indra-indra kita dikondisikan untuk menggambarkan dunia dengan cara tertentu, oleh pikiran-pikiran di lingkungan kita.

Mengapa kita perlu melakukannya? Karena dalam banyak kasus, kita hanya bergerak dalam pola lama, yang jika tidak pernah dipertimbangkan dan dievaluasi secara terus-menerus, tidak akan pernah bergerak ke arah yang lebih relevan.

Sebelum melakukannya, kita harus membuka diri untuk menerima nilai baru, yang terkadang berlawanan dengan apa yang kita percaya. Pemaparan di buku ini mungkin tidak sepenuhnya membawa kamu ke dasar. Oleh sebab itu, selanjutnya kamu bisa bertanya pada diri sendiri untuk mendapatkan pemahaman dan struktur pemaknaan yang lebih baik. Jika pada akhirnya kamu berada di kesimpulan yang salah, setidaknya kamu sudah memahami pola yang tidak terlihat sebelumnya.

Where can I purchase online?