Bosan Itu Baik, Bosan Itu Menyenangkan

Bosan Itu Baik, Bosan Itu Menyenangkan

Pekerjaan terkadang memang bisa membuat pikiran kita penat. Dan itulah yang juga sering aku alami.

Lalu apa solusinya?

Pergi mengunjungi rumah nenek di desa adalah pilihan yang tepat.

Tempat yang masih memiliki hamparan sawah yang luas, dan juga merupakan tempat yang masih menyediakan paduan suara, antara alam dan binatang.

Seakan masalah kepenatan telah terselesaikan, ternyata muncul masalah baru lagi.

Apa itu?

BOSAN!

Lalu apa yang sering aku lakukan ketika merasa bosan?

Kalian benar. Smartphone.

Tetapi, masalah baru yang mengikutinya adalah, di desa nenekku, sangat sulit mendapatkan sinyal secara stabil. Jadi, lupakan soal internet!

Untuk menghilangkan kebosananku, aku kemudian beralih membaca ebook, yang sangat sulit aku lakukan ketika dirumah atau ketika internet menyediakan dunianya.

Tetapi, lebih dari itu, ada beberapa hal yang juga aku sadari.

  • Ternyata aku masih sangat bergantung dengan smartphone dalam menghilangkan kebosanan.
  • Poin pertama juga menjelaskan bahwa aku masih belum bisa menggunakan smartphone dengan kadar yang seharusnya.
  • Ternyata banyak waktu yang terbuang karena janji dopamin yang diberikan secara instan.

Kejadian itu membukakan mataku, bahwa aku masih sangat kesulitan dalam memprioritaskan tugas.

• • •

Jika bosan adalah akar dari permasalahan penggunaan smartphone yang berlebihan, lalu sebenarnya berapa lama waktu rata-rata yang kita habiskan dalam sehari?

Dalam sebuah riset yang dilakukan Digital GFK Asia, orang Indonesia menghabiskan waktu dengan smartphone sampai 5,5 jam per hari.  Penelitian ini adalah hasil observasi lima wilayah di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Bodetabek, Bandung, Surabaya, dan Semarang, pada periode Oktober-November 2015.

Hasil tersebut langsung di utarakan oleh Regional Director, Digital GFK Asia, Karthik Venkatakrishnan di acara Social Media Week 2016.

Riset tersebut juga menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan pengguna tidaklah selalu online, tetapi, juga melakukan kegiatan seperti mengirim pesan, mencatat sesuatu, dll.

Baik, sekarang mari kita berhitung.

Jika sehari kita bekerja dan tidur selama 8 jam, berarti kita sudah menghabiskan 16 jam dari 24 jam.

Jika 5,5 jam adalah waktu yang kita butuhkan untuk menggunakan smartphone dalam sehari. Waktu yang tersisa menjadi 2,5 jam. Dan kita belum menghitung waktu yang dibutuhkan  untuk makan, mandi, dan bersih-bersih, dll.

Memang hitungan diatas adalah hitungan kasar, tetapi yang perlu diperhatikan adalah, ternyata smartphone adalah benda yang memiliki andil besar dalam kegiatan kita sehari-hari.

Berapa jam waktu yang terakumulasi di hari ke tujuh dalam menggunakan smartphone? Hari 30? Hari 90? Hari 365?

Jika kita menggunakannya sebagai keperluan yang produktif, menggunakan smartphone akan memberikan timbal balik yang baik.

Tapi, bagaimana kalau digunakan untuk sesuatu yang membuang-buang tenaga dan waktu? Stalking mantan, membaca gosip, dll.

Memang iya, kita membutuhkan hiburan, aku sangat paham hal tersebut, tetapi yang perlu di catat adalah…

Sudahkan kita memberikan porsi yang benar dalam menggunakan smartphone kita?

Dengan kemudahan yang disediakan oleh smartphone, kita bisa saja menjadi lalai dalam menggunakannya secara bijak. Terlebih lagi ketika kita merasa bosan.

Fakta di lapangan juga menunjukkan hal yang sama…

Kita menunggu seseorang? Smartphone!

Waktu istirahat kerja atau sekolah? Smartphone!

Bangun tidur? Smartphone!

Akan tidur? Smartphone!

Kita masih lemah untuk menyambut segala kemudahan yang dimilikinya.

Hingga aku memiliki sebuah formula…

Bosan = smartphone time!

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, kamu bisa mendownload e-book tentang Minimalisme dan Hidupku Kebiasaanku ( Panduan Membangun dan Membuang Kebiasaan ).  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis 

• • •

LEBIH BAIK MERASAKAN SAKIT DARIPADA HARUS MERASA BOSAN

Baik, sekarang coba bayangkan kamu di dalam sebuah ruangan kosong, dan hanya ada sebuah kursi untuk tempatmu menghabiskan waktu, bosanmu.

Tanpa ada TV, tanpa ada majalah, komik, atau senjata andalan, smartphone, dalam waktu tertentu. Mampu?

Bosan Itu Baik, Bosan Itu Menyenangkan

Jika kamu berpikir itu adalah hal yang mudah, mungkin kamu salah.

Dalam lebih dari 11 penelitian terpisah, para peneliti menunjukkan bahwa orang-orang membenci untuk dibiarkan berpikir, terlepas dari usia, pendidikan, pendapatan atau jumlah penggunaan smartphone mereka.

Laporan dari psikolog di Universitas Virginia dan Harvard juga menyimpulkan bahwa sebagian besar dari kita merasa begitu sulit untuk tidak melakukan apa-apa.

Prof Timothy Wilson, yang memimpin penelitian di University of Virginia, AS, mengatakan,

Para peserta penelitian kami secara konsisten menunjukkan bahwa mereka lebih suka melakukan sesuatu daripada tidak melakukan apa-apa selain menikmati pikiran mereka bahkan untuk jangka waktu yang cukup singkat.

Percobaan pertama dimulai dengan melibatkan mahasiswa yang disuruh untuk masuk ke dalam ruangan kosong, sendirian, tanpa telepon, buku atau apa pun untuk ditulis.

Yang harus mereka lakukan hanyalah diam dan menikmati pikiran mereka. Sedangkan aturan yang harus dipatuhi adalah mereka harus tetap duduk dan tidak tertidur.

Berapa lama? Mereka harus melakukannya hingga 15 menit.

Setelah waktu selesai, para peserta ditanya bagaimana pengalaman mereka.

Jawabannya?

Rata-rata, mereka tidak menikmati pengalaman itu. Mereka berjuang untuk berkonsentrasi. Pikiran mereka mengembara tidak ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian mereka. 

Untuk menunjukkan bahwa ini bukan masalah yang timbul dari ruang laboratorium yang sempit, atau kelemahan yang dimiliki mahasiswa, eksperimen lain pun dilakukan.

Kali ini, percobaan yang dilakukan membutuhkan kumpulan sukarelawan yang lebih luas, yang berusia hingga 77 tahun, untuk menyelesaikan tes serupa di rumah dengan duduk di depan komputer.

Sayangnya banyak dari mereka berbuat curang dengan memeriksa ponsel mereka atau mendengarkan musik.

Sebuah kelompok kontrol yang diminta untuk menemukan gangguan eksternal, seperti menonton TV atau menjelajahi internet,  memiliki waktu yang jauh lebih baik daripada mereka yang hanya disuruh untuk melamun.

Akhirnya, tim Prof Wilson melakukan percobaan kejutan listrik untuk mencari tahu apakah mereka akan memilih melakukan sesuatu yang menyakitkan daripada harus melamun dan tidak melakukan apapun.

Yang mengejutkan para peneliti, 12 dari 18 pria memberi diri mereka hingga empat kejutan listrik, seperti yang dilakukan 6 dari 24 wanita ketika dibiarkan sendirian selama 15 menit.

Research has shown that happiness is not only about experiencing pleasure. You need a sense of meaning and purpose – which you lack in these conditions. And when you have a task to do, you do have that sense – even if it’s a simple task.

• • •

KELEBIHAN MERASA BOSAN

Merasa bosan mungkin adalah sebuah awal kita untuk memutuskan apa tugas yang kita “butuh’kan untuk dikerjakan. Iya “butuh”, bukan “ingin”.

Ketika kita memilih untuk melakukan hal yang hanya membuang waktu, kita akan mendapatkan semua kerugiannya.

Contohnya, ketika bosan membuatmu memutuskan untuk pergi dugem, ketika bosan membuatmu memutuskan untuk minum-minuman keras, ketika bosan membuatmu memutuskan untuk memakai narkoba, dll.

Tetapi, jika kita bisa membuat rasa bosan sebagai momentum untuk berkembang, lakukan itu.

Karena faktanya, bosan memiliki beberapa keuntungan.

MENJADI KREATIF

Dengan merasa bosan kita akan memiliki waktu dan ruang untuk mengembangkan ide-ide kreatif. Karena selain mencari kegiatan lain, otak kita juga akan sering mengandai-andai dalam menciptakan sesuatu.

Tentunya, hal ini tidak akan bisa kita capai ketika otak terus menerus menjadi konsumer ( Melihat video, stalking, dll ).

Ketika kita hanya mengkonsumsi, otak akan kehilangan rangsangan dan juga dunia eksplorasinya. Maka bosanlah, dan gunakan itu untuk berpikir aktif!

INTROSPEKSI DIRI

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih rentan terhadap kebosanan juga lebih mungkin banyak terlibat dalam refleksi diri.

Menjadi bosan memungkinkan kita untuk duduk dan berpikir tentang keadaan kita saat ini. Refleksi semacam itu sering memunculkan jawaban untuk perubahan yang kita inginkan dalam kehidupan kita.

DERMAWAN

Menurut sebuah studi pada tahun 2011, kebosanan dapat menginspirasi orang untuk bersikap altruis, empati, dan terlibat dalam tugas-tugas tanpa pamrih seperti memberi sedekah, menjadi sukarelawan, atau bahkan menyumbangkan darah.

Kebosanan sering dikaitkan dengan kurang adanya makna dan melakukan perbuatan baik dapat membuat kita merasa bahwa hidup memiliki makna lagi.

MENIKMATI LEBIH

Ketika kita merasa bosan, kita terlalu mudah untuk beralih ke ponsel untuk mendapatkan hiburan secara instan.

Artinya, kita akan beralih dari dunia nyata ke dunia maya. Lalu berapa banyak hal yang kita lewatkan?

Padahal dengan menikmati dunia nyata, kita bisa berkenalan dengan orang baru, bertukar pengalaman, belajar sesuatu, dll.

Sekali-kali, lupakanlah ponsel pintar kita itu!

Selain itu, kita bisa menjadikan rasa bosan sebagai alat untuk menghindarkan kita dari kecanduan smartphone.

PERENCANAAN AUTOBIOGRAFI

Ketika bosan kita juga bisa melibatkan identifikasi dan pengaturan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai semua tujuan di masa yang akan datang.

Dengan kata lain, kita akan memiliki waktu untuk merencakan hidup kita.

• • •

SAMBUTLAH RASA BOSANMU

Pada poin tertentu, kita akan selalu merasakan kebosanan.

Dan itu adalah hal yang baik. Karena bosan adalah sebuah indikator bahwa keadaan yang sekarang kita alami sudah tidak bekerja lagi terhadap kita.

Dari percobaan kejutan listrik tadi, kita bisa menyimpulkan bahwa rasa bosan membuat kegiatan yang tidak menyenangkan menjadi lebih bernilai. Itulah kenapa aku lebih mudah membaca ebook ketika tidak ada koneksi internet.

Yang perlu kita garis bawahi disini bukanlah kenapa kita bisa merasa bosan, tetapi lebih kegiatan apa yang bisa memberikan dampak positif dalam pelarian rasa bosan itu.

Jadilah orang yang tidak membosankan dengan merasa bosan

 


FOOTNOTES

1. Hasil riset penggunaan smartphone di Indonesia bisa kalian baca di kompas.

2. Percobaan kejutan litrik bisa kamu baca di Theguardian dan BBC.