Membuat hidup menjadi lebih tenang adalah sebuah pencapaian yang ingin digapai semua orang. Tetapi hanya sedikit yang tahu bahwa cara untuk mencapainya, kita hanya membutuhkan kesadaran. Dan itu bisa kita dapat dari stoisisme.

Stoisisme adalah salah satu aliran filsafat Yunani-Romawi yang didirikan di Athena oleh Zeno dari Citium pada tahun 108 SM dan tersebar luas hingga ke kehidupan kekaisaran Romawi.

Jika kamu bertanya, “apakah masih relevan dengan kehidupan zaman sekarang?

Iya. Stoisisme masih relevan dan bisa membantu kita dalam menemukan ketenangan di zaman yang penuh gangguan ini. Gangguan? Ayolah, berapa kali notifikasimu muncul saat membaca artikel ini? Kamu tidak fokus!

Aku tahu bahwa di antara kamu, pasti ada hati yang panas dan bergumam, “kita kan punya agama, jadi nggak butuh lagi filsafat-filsafat semacam ini. Filsafat itu berbahaya. Bisa membuat seseorang menjadi angkuh dan akhirnya memilih untuk tidak beragama.”

Ah, aku pernah di fase itu. Menutup diri dari semua hal yang pikiran dan hatiku anggap “asing”, tanpa melihat sisi lain yang dibawanya.

Aku kemudian mencoba berhenti. Menyuapi hati dan pikiran dengan sesuatu yang aku sebut sebagai “api yang menghanguskan”. Hingga pada satu titik, aku justru menemukan “hujan yang menyejukkan”. Aku berdamai dengan diriku dengan membuka sekat penghalang itu agar semua hal baru yang aku sebut “asing” bisa berkenalan lebih dalam.

Sekarang, aku bisa katakan padamu bahwa filsafat tidak akan menjauhkanmu dari agama. Keputusanmu akan hal itu yang menjauhkanmu.

Kamu akan memiliki pilihan ketika ditawarkan roti jenis baru yang belum pernah kamu coba sebelumnya. Menghiraukannya dengan konsekuensi tidak pernah tahu rasanya atau mencicipinya di mana akan memberimu pilihan baru lagi—berhenti karena tahu ternyata rotinya tidak enak, melanjutkan sampai habis karena rotinya memanjakan lidahmu.

Tidak ada salahnya belajar hal baru karena setiap orang memiliki batasannya sendiri-sendiri.

Tetapi, jika kamu tanya tentang batasan yang aku terapkan, maka itu adalah…

Jika hal itu membuat diri dan hidupku lebih buruk, aku akan meninggalkannya.

Jika hal itu membuatku semakin bisa menyambung titik-titik antara ilmu yang sudah aku dapat dengan ilmu baru tersebut, membuat diri dan hidupku menjadi lebih baik, aku akan melanjutkannya.

Belajar hal baru selalu membuka pintu kebaikan dan keburukan secara bersamaan. Pintu mana yang akan kamu masuki tergantung dari bagaimana caramu mengambil keputusan.

Jadi, apa yang akan aku bahas di sini bisa saja cocok denganmu, bisa juga tidak. Kamu hanya perlu mengambil yang bermanfaat dan membuang yang tidak. Sesimpel itu!

• • •

Pertemuanku dengan Stoisisme

Bukan dari rekomendasi orang lain, bukan juga dari pak pos yang mengirim surat. Tetapi, aku menemukan stoisisme dari tanda.

Aku tidak membahas hal mistis di sini. Maksud dari tanda adalah ketidaksengajaan yang aku perhatikan.

Mari aku jelaskan!

Siapa sih yang tidak pegang telepon pintar di kegiatan sehari-harinya? Bahkan ke kamar mandi untuk ngeden saja masih dibawa. Koneksi internet? Ah jangan lupakan hal itu.

Dua hal itulah yang menuntunku mendapatkan tanda itu.

Ketika aku menjelajahi internet, aku sering sekali mendapat artikel, video, podcast tentang stoisisme. Karena tidak hanya satu, dua, atau tiga kali, stoisisme akhirnya mendapatkan satu slot perhatianku. Aku mencoba mencari tahu, hingga aku berhenti pada buku Ryan Holiday, The Daily Stoic.

Lembaran terakhir dari buku itu semakin memantapkan aku bahwa stoisisme cocok denganku dan kehidupanku.

Aku menemukan banyak hal baru yang sangat membantu permasalahan di kehidupanku dari putus cinta, kehilangan hal yang disayang, menghadapi kenyataan, mengendalikan emosi, dan semua itu secara pratikal atau mudah diikuti langkah-langkahnya.

Siap? Mari kita menyelam bersama!

• • •

Stoisisme: Membuat Hidup Menjadi Lebih Tenang

cara menerapakan stoisisme

Semua yang akan kamu baca di bawah ini akan menjadi lebih bernilai jika setiap menyelesaikan satu poin, kamu merefleksikannya ke kehidupanmu sendiri. Jika terhubung, that’s good, jika tidak, move on, dude!

Aku membagi cara ini ke dalam 2 domain: pikiran dan tindakan.

Pikiran adalah hal paling dasar sebelum mengubah perilaku. Dia adalah fondasi yang harus dibangun dengan kuat dan benar. Tanpa pikiran yang benar, kesempatanmu untuk bertindak benar juga tidak akan pernah ada.

Tindakan adalah hal kedua yang harus kita perbaiki. Adalah hal percuma jika kita meningkatkan versi perangkat lunak tetapi tidak meningkatkan versi perangkat keras. Adalah hal percuma jika kita hanya memperbaiki pikiran kita, tetapi tidak memperbaiki tindakan kita. Karena, jika mereka tidak sejalan, yang akan terjadi adalah “you are not responding“.

Jadi bagaimana caranya?

1. Membangun Ekspektasi

Ketika kamu bangun di pagi hari, katakan pada dirimu sendiri: orang-orang yang kuhadapi hari ini akan ikut campur, tidak tahu berterima kasih, sombong, tidak jujur, cemburu dan bermuka masam.

Mereka seperti ini karena mereka tidak bisa membedakan yang baik dari yang jahat. Tetapi saya telah melihat keindahan dari kebaikan, dan keburukan dari kejahatan, dan telah mengakui bahwa orang yang bersalah memiliki sifat yang berhubungan dengan milikku, bukan dari darah dan kelahiran yang sama, tetapi pikiran yang sama, dan memiliki bagian yang ilahi. Dan tidak ada dari mereka yang bisa menyakitiku. Tidak ada yang bisa melibatkanku dalam keburukan. Aku juga tidak bisa merasa marah pada kerabatku, atau membencinya.

Kita dilahirkan untuk bekerja bersama seperti kaki, tangan, dan mata, seperti dua baris gigi, atas dan bawah. Saling menghalangi adalah tidak wajar. Merasa marah pada seseorang, memalingkan punggungmu padanya: ini tidak wajar.

— Marcus Aurelius

Pikiran: Bagaimana cara kita memulai hari sangat memengaruhi bagaimana jalannya suasana hati kita. Jika dalam langkah awal saja kita sudah menyetel harapan tinggi dan juga bayangan hal-hal terbaik, kita juga membuka kesempatan besar untuk jatuh dan kecewa.

Tidak ada yang salah dari tersenyum untuk rencana yang telah tersusun rapi di hari ini, tetapi ingatlah juga bahwa suatu rencana bisa saja gagal karena hal-hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya.

Tidak ada yang salah dari berbahagia karena akan bertemu orang yang spesial, tetapi ingatlah bahwa bisa saja hari ini adalah hari di mana dia menyakitimu.

Tanamkan dalam pikiran kita masing-masing bahwa segala sesuatu yang akan terjadi di hari ini tidak akan selalu berjalan lancar. Akan selalu ada kotoran di jalanan yang lurus.

Tindakan: Sekarang semua hal buruk itu bukan lagi menjadi khayalan, tetapi benar-benar terjadi. Bosmu salah paham denganmu, orang lain yang hampir menabrakmu di jalan, pasanganmu yang tidak jujur, teman yang bermuka dua. Kamu merasakan bahwa hari itu adalah hari terburuk dalam hidupmu.

Tenang, tarik nafas, dan tanyakan ini pada dirimu!

Bagaimana jika kekacauan yang mereka lakukan adalah karena adanya masalah yang tidak kita ketahui? Bagaimana jika masalah itulah yang membuat mereka sulit memutuskan sesuatu dengan tepat?

Ketika kita berhenti sejenak dan mencoba mengerti, kita akan menemukan jawaban bahwa sebenarnya mereka sama seperti kita. Sering lalai, sering melakukan kesalahan dan tentu saja sering lupa memanusiakan manusia. Tindakan terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan memproteksi pikiran dari semua hal yang mereka lakukan.

Mereka marah kepadamu? Jika kamu yang salah, minta maaflah. Jika kamu tidak salah, berusahalah menjelaskannya. Tidak usah melibatkan amarah karena perasaan kita tidak tergantung pada tindakan mereka, tetapi pada pikiran kita.

Bos yang resek? Hei, bukankah itu sudah menjadi konsekuensi pekerjaan? Jika bisa bertahan, mengapa harus membuang tenaga untuk marah? Jika tidak bisa bertahan, mengapa tidak didiskusikan bersama? Tidak melibatkan emosi adalah pilihan terbaik. Selain bisa membuat keadaan tidak memburuk, kamu telah menunjukkan bahwa kamu bisa mengontrol pikiran dan tindakanmu.

Satu lagi, tidak usah membenci satu sama lain. Cukup sadari bahwa aku, kamu, mereka dan kita adalah manusia yang tidak sempurna. Jika mereka sudah di luar batas? Menjauhlah tanpa membenci. Perasaan negatif hanya menggerogoti ketenangan hidup.

2. Terkadang, Hitam Itu Adalah Putih

Suatu ketika, seekor kuda milik petani Cina kabur. Malam itu, semua tetangganya datang untuk bersimpati. Mereka berkata, “kami sangat menyesal mendengar kudamu kabur. Ini sangat disayangkan.”

Petani itu berkata, “Mungkin.”

Hari berikutnya kuda yang hilang itu kembali dengan membawa tujuh kuda liar dan pada malam hari semua orang kembali dan berkata, “oh, bukankah itu keberuntungan. Pergantian peristiwa yang hebat. Anda sekarang memiliki delapan kuda!”

Petani itu berkata, “Mungkin.”

Keesokan harinya putranya mencoba untuk mengistirahatkan salah satu kudanya dan saat menungganginya, ia terlempar dan kakinya patah. Tetangga kemudian berkata, “Ya ampun, itu buruk sekali.”

Petani itu menjawab, “Mungkin.”

Hari berikutnya petugas wajib militer datang untuk merekrut orang-orang menjadi tentara, dan mereka menolak putranya karena kakinya yang patah. Lagi-lagi semua tetangga datang dan berkata, “Tidakkah itu luar biasa!”

Lagi, petani itu berkata, “Mungkin.”

Cerita di atas disampaikan oleh Alan Watts, seorang filsuf Inggris yang mempopulerkan filsafat timur kepada audiens barat, dalam kuliahnya tentang Taoisme yang berjudul Swimming Headless.

Pesan yang terkandung dalam cerita Alan Watts di atas sangat sejalan dengan prinsip stoisisme.

Pikiran: Aku yakin kamu pernah menemukan momen-momen di mana ketika ada hal yang terjadi kepadamu, dengan mudah kamu melabelinya ke dalam “baik” dan “buruk”.

Ketika hal itu kamu anggap sebagai sesuatu yang “baik”, kamu kemudian terbang dalam perasaan yang bisa melupakan, mengecoh dan membuatmu ceroboh dalam memutuskan sesuatu.

Ketika hal itu kamu anggap sebagai sesuatu yang “buruk”, kamu kemudian menyalahkan Tuhan atau orang yang kamu anggap bertanggung jawab atas hal itu semua.

Kamu dilumpuhkan oleh kriteriamu sendiri.

Tindakan: Mengapa kita tidak belajar untuk menerima semua yang terjadi tanpa adanya pelabelan “baik” dan “buruk”?

Mengapa kita tidak belajar untuk menyimpan kemarahan yang hanya menguras energi atau kebahagiaan yang melupakan diri?

Karena ketika kita bisa melakukan itu, tidak ada ruang untuk menyalahkan apa pun atau siapa pun.

Ini tidak mudah, tetapi bukan juga sesuatu yang tidak mungkin.

Seluruh proses alam adalah proses terpadu dari kompleksitas luar biasa, dan sangat mustahil untuk mengatakan apakah sesuatu yang terjadi di dalamnya baik atau buruk—karena Anda tidak pernah tahu apa yang akan menjadi konsekuensi dari nasib buruk atau Anda tidak pernah tahu apa yang akan menjadi konsekuensi dari nasib baik.

— Alan Watts

3. Relakan!

Beberapa hal berada dalam kendali kita, sementara yang lain tidak. Kita mengendalikan opini, pilihan, keinginan, keengganan, dengan kata lain, semua yang kita lakukan sendiri. Kita tidak mengendalikan tubuh, properti, reputasi, posisi kita, dengan kata lain, semua bukan milik kita. Terlebih lagi, hal-hal dalam kendali kita pada dasarnya bebas, tanpa hambatan dan tidak terhalang, sementara mereka yang tidak dalam kendali kita, lemah, seperti budak, dapat dihambat, dan bukan milik kita sendiri.

— Epictetus

Pikiran: Ini adalah hal paling dasar dalam hidup, tetapi kebanyakan orang tidak menyadarinya—bahwa di kehidupan ini terdiri dari hal yang ada dalam kendali kita dan hal yang ada di luar kendali kita.

Coba sekarang ingat kembali, dalam batas waktu hari ini saja, apa saja yang membuat perasaanmu menjadi buruk? Emak-emak yang menyerobot antrean? Hujan mendadak di saat akan berangkat ke kantor? atau mendapati teman kita yang tiba-tiba cuek pada kita dengan alasan yang tidak kita ketahui?

Semua kejadian itulah yang kemudian menciptakan penjara kesedihan, kemarahan, kegelisahan dan perasaan negatif lainnya. Kita lupa bahwa semua hal itu tidak bisa kendalikan.

Bagaimana bisa kita mengendalikan emak-emak untuk taat pada aturan jika mereka hanya berpikir bahwa tindakannya benar?

Bagaimana bisa kita membuat hari sesuai dengan harapan jika alam bekerja untuk membuat hujan?

Dan bagaimana bisa kita memastikan semua teman kita dalam kondisi baik jika dalam waktu yang tidak kita ketahui mereka mendapat kabar tidak benar tentang kita?

Bahkan, kesehatan yang kamu jaga dengan selalu rutin berolahraga pun, masih saja tidak bisa kamu jamin. Berapa banyak contoh di sekeliling kita, orang yang hidup secara sehat, tiba-tiba mendapati dirinya sakit.

Tindakan: Only one thing we can do to fix that mess; let it go!

Iya, terima saja semua hal yang ada di luar kontrol kita dengan tarikan nafas yang panjang tanpa keluhan sedikit pun.

Caranya? Sadari bahwa apa yang bisa kamu kendalikan hanya pikiran dan tindakanmu.

Tidak masalah jika ada emak-emak yang menyerobot antrean, jika sudah memberitahunya dengan baik dan masih tidak menerimanya, bukankah lebih baik mengalah? Ingat, mengubah orang lain itu lebih sulit daripada mengubah diri sendiri! Mereka dengan pikiran dan tindakannya, begitu pun kita.

Tidak masalah jika hujan datang dengan tiba-tiba, bukankah lebih baik mengambil jas hujan dan berangkat bekerja daripada mengawalinya dengan keluhan yang tidak membuat hujan berhenti.

Tidak masalah melihat teman kita yang cuek kepada kita karena kesalahpahaman, jika sudah memberi penjelasan dan masih tidak mempercayainya, bukankah lebih baik melakukan pekerjaan produktif.

Lihat polanya? Semua kejadian di atas bertumpu pada hal yang bisa kita kontrol: pikiran dan tindakan. Jika ada hal di luar kontrol masuk ke kehidupan kita, tugas kita bukanlah pasrah tanpa melakukan apa pun. Usaha harus tetap dilakukan, tanpa harus memasukkan perasaan negatif ke dalamnya.

Tetapi, apa yang seringkali masih kita lakukan? Kita bersedih, marah, kecewa, gelisah dengan berlarut-larut. Kita menjadi budak pada sesuatu yang tidak bisa kita ubah dengan tangan kita sendiri.

Mulai saat ini, kamu akan menjadi seseorang yang berbeda karena kamu telah memiliki dua kotak;

  1. Kotak dengan daftar hal yang dalam kontrolmu (pikiran, keinginan dan tindakan)
  2. Kotak dengan daftar hal yang diluar kontrolmu (kesehatan, tindakan orang lain padamu, bencana, jabatanmu, dll)

Jadi, ketika kamu menemukan sesuatu yang masuk dalam kotak kedua; Let it go! Seperti apa yang dikatakan Marcus Aurelius bahwa kamu seharusnya tidak memberikan kekuatan pada keadaan untuk membangkitkan rasa kemarahanmu. Mengapa? Karena keadaan tidak peduli sama sekali tentang perasaanmu.

4. Terlihat Bodoh untuk Berkembang

Jika kamu ingin berkembang, jadilah puas untuk terlihat tidak mengerti atau bodoh dalam hal-hal yang tidak berhubungan. Jangan berharap untuk tampak berpengetahuan.

— Epictetus

Pikiran: Ini adalah bagian yang sangat aku suka. Memilih untuk tidak mengetahui sesuatu.

Eits, tunggu dulu, ini bukan tentang berhenti mempelajari sesuatu, tetapi ini tentang memilih pelajaran apa yang layak, sejalan dan berhubungan dengan kebutuhan kita.

Masih ingat dengan seorang teman yang memamerkan mobil barunya di media sosial? Masih ingat dengan tokoh politik yang tertangkap karena korupsi? Masih ingat dengan artis yang sedang berlibur ke negara X?

Pertanyaannya, apa yang kamu dapatkan dari itu? Mungkin beberapa di antara kamu memerlukannya karena suatu hal tertentu. Tetapi jika tidak dan hal-hal tadi tidak memberi manfaat pada hidupmu atau justru malah membuat dirimu iri atau stres, apakah mereka layak mendapatkan perhatianmu?

Iya, memang, aku percaya bahwa pasti ada manfaat di setiap hal, tetapi jika manfaat itu lebih kecil daripada kerugian, mengapa harus membakar detik sisa hidup kita?

Aku hanya tahu bahwa informasi-informasi tersebut berguna untuk terhubung dengan orang lain. Membahasnya sedemikian rupa hingga lupa bahwa apa yang dibahas sebenarnya tidak memberikan dampak apa pun pada hidupnya.

Tindakan: Berani tampil tidak tahu adalah sebuah keahlian hebat. Tidak tahu tentang hal yang tidak penting. Tidak tahu tentang hal yang tidak memberi manfaat. Tidak tahu tentang hal yang hanya membuang waktu.

Ah, tidak masalah dinilai tidak gaul oleh teman karena tidak tahu challenge yang sedang viral.

Ah, tidak apa-apa dianggap cupu oleh orang lain karena tidak tahu tentang kehidupan artis X.

Ah, tidak mengapa dianggap bodoh oleh beberapa orang karena tidak tahu tentang berita terbaru.

Jika kamu mau jujur, apa saja hal tidak penting yang kamu baca, tonton, dengar hari ini? Apakah di antara hal itu ada yang membentuk penilaianmu? Entah itu menjadikanmu pesimis, menghakimi orang dengan mudah, atau merendahkan dirimu sendiri?

Tahu “semua” hal bukanlah sebuah jawaban karena ini bukan tentang terlihat pintar di depan semua orang. Ini juga bukan tentang terlihat hebat di depan teman-temanmu.

Ini semua tentang prioritas. Prioritas yang bisa mengembangkan diri dan hidup. Prioritas yang membawa perubahan dengan menghindari semua hal yang tidak berguna.

Setiap orang memiliki batas minimumnya masing-masing, tetapi pastikan batas itu tidak berdasarkan orang lain. Pastikan batas itu berdasarkan kebutuhanmu.

Jadi, malaslah untuk mencari, menerima, dan mempelajari hal-hal yang kamu tahu bahwa itu bukanlah yang kamu butuhkan!

Aku bahkan merasakan sebuah kelegaan ketika ditanya, “kamu tahu si A, teman SMA yang sudah bekerja di perusahaan X dengan gaji Y?“, dan menjawabnya dengan, “Hmmm, tidak (mau) tahu.

Yasss, rasanya aku sudah berhasil merawat pikiranku dari bom yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Mau bergabung denganku untuk bersikap masa bodoh? Mari kita jalan bersama!

5. Berkaca Setiap Hari

Aku akan terus menjaga diriku dan—yang paling berguna—akan memeriksa setiap hari. Karena inilah yang membuat kita jahat—bahwa tidak seorang pun di antara kita memandang hidup kita sendiri. Kita hanya memikirkan apa yang akan kita lakukan. Namun rencana kita untuk masa depan turun dari masa lalu.

— Seneca

Pikiran: Damn! Apa yang kamu pikirkan ketika membaca kutipan Seneca di atas? Kamu pasti dihadapkan pada kenyataan di mana kamu memang lebih memikirkan tentang masa depan, masa depan dan masa depan, hingga lupa memikirkan apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Iya, kan?

Kamu memikirkan tentang bagaimana menggapai mimpimu, tetapi lupa untuk melihat bagaimana usahamu hari ini.

Kamu memikirkan tentang bagaimana cara disukai semua orang, tetapi tidak ingat perbuatan buruk yang kamu lakukan hari ini.

Kamu memikirkan tentang bagaimana menjadi pebisnis yang hebat, tetapi tidak sadar kesalahan yang kamu buat hari ini.

Pikiranmu hanya kamu gantungkan pada masa depan seakan-akan masa lalu tidak memberikan sesuatu yang kamu butuhkan.

Kamu salah. Besar.

Tindakan: Kamu tahu apa yang sering kita lupakan? Mengevaluasi hari.

Kita hanya bisa berkembang dari kesalahan yang diperbaiki. Itulah kegunaan dari mengevaluasi hari. Mengevaluasi masa lalu.

Kita tidak akan pernah sampai pada mimpi kita tanpa tahu apa saja kesalahan yang kita buat dalam keseharian kita. Kita juga tidak akan disukai orang jika kita tidak pernah sadar perilaku buruk apa yang masih kita buat. Atau, kita tidak akan menjadi pebisnis yang hebat apabila tidak mau mengakui kekeliruan yang kita buat di hari itu.

Hei, saatnya kita evaluasi, di mana saja kita “terperosok” hari ini. Jalan apa yang harus kita lalui besok untuk menghindari jalan berlubang yang pernah kita lalui.

Mengevaluasi hari adalah cara terbaik untuk menyelamatkan kita dari kesalahan yang sama.

• • •

Apa yang Harus Aku Lakukan Setelah Ini?

Oke, ada 5 hal yang kamu dapatkan dari artikel ini untuk kamu bawa ke dunia nyata;

  1. Memulai hari tanpa ekspektasi tinggi. Selalu ingat bahwa akan ada kemungkinan hal buruk terjadi. Kesadaran ini akan membantu kita meminimalisir perasaan negatif yang akan terlibat.
  2. Jangan mengeluh karena apa yang terlihat buruk bagimu bisa saja adalah hal baik yang tertunda. Terimalah apa yang dunia berikan padamu!
  3. Ada dua hal di dunia ini—sesuatu yang bisa kamu kontrol dan sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol. Dengan tahu di mana hal tersebut berada, kamu akan bisa lebih mudah untuk menerima segala hal.
  4. Terlihat bodoh bukan mengartikan kamu tidak mau belajar. Terlihat bodoh mengartikan bahwa ada hal yang lebih layak untuk mendapatkan perhatianmu. Ketakutan akan penilaian orang tidak akan hadir jika kamu paham bahwa bagaimana hidupmu terbentuk berasal dari tindakanmu, bukan orang lain.
  5. Mengevaluasi diri setiap hari adalah kebiasaan yang harus kita lakukan. Dengan itu kita bisa tahu apa yang sudah kita lakukan di masa lalu dan apa yang harus kita perbaiki di masa depan.

Semua hal yang aku tulis di atas hanya akan tetap menjadi rangkaian kata yang tidak berguna jika kamu tidak memberikan waktu untuk mencobanya.

Semua hal membutuhkan proses. Kamu tidak akan bisa langsung menghindari perasaan negatif setelah membaca artikel ini.

Sekarang aku kembalikan padamu, apakah kamu mau melihat semua masalah yang akan kamu temui sebagai latihan untuk membuat hidupmu tenang atau malah akan kamu gunakan sebagai tempat untuk meluapkan emosimu.

Dunia ini memang kejam. Tetapi jangan lupa, bahwa solusinya juga sudah tersedia. Jangan menyalahkan Tuhan atas kelaparan, jika pak RT saja masih bisa menanganinya. Jangan menyalahkan diri sendiri atas ketidakberhasilan terhadap sesuatu jika sebenarnya masih banyak kesempatan lain yang terbuka lebar.

Jika dunia dan seisinya jahat padamu, jangan berharap dia berubah baik dan memelukmu. Mungkin itu adalah waktu di mana kamu harus belajar menguatkan dirimu.

Good luck!

Man conquers the world by conquering himself.

— Zeno of Citium

cara membuat hidup menjadi lebih tenang cara membuat hidup menjadi lebih tenang cara membuat hidup menjadi lebih tenang cara membuat hidup menjadi lebih tenang cara membuat hidup menjadi lebih tenang cara membuat hidup menjadi lebih tenang