Cara Memperlambat Waktu

Cara Memperlambat Waktu

Mari kita bernostalgia dimana saat masa anak-anak menggoreskan warna-warni kehidupan.

Sekolah Dasar.

Pukul 7 pagi adalah panggilan kita untuk melangkahkan kaki menuju sekolah tercinta.

Bertemu teman-teman, menikmati jam istirahat, bersenda gurau, dan jajanan-jajanan itu masih tertancap jelas di pikiran kita sampai sekarang.

Pulang sekolah terasa sangat capek? Kurasa tidak.

Jam yang seharusnya dibuat untuk istirahat malah disisihkan untuk menjadi jam menentang dan menipu orangtua.

Iya, kita semua pasti pernah melakukannya. Atau memang aku saja yang memang pantas dicap sebagai anak nakal?

Menentang karena ingin bermain setelah seharian suntuk mendengarkan pelajaran. Dan menipu karena mengatakan ingin bermain ke tempat A, padahal pergi ke tempat B.

Izin yang terkadang bercampur dengan kekhawatiran itupun kita dapatkan.

Kita bermain lagi.

Menjelajah desa yang belum sepenuhnya dikuasai tumpukan batu dan semen itu membuat hari-hari kita berwarna.

Tanah lapang tempat kita bermain sepakbola.

Sungai yang mengalir tempat kita berbasah kuyup.

Atau pohon jambu tempat kita bersembunyi.

Hitam, merah, putih, apapun warnanya, yang jelas, masa kecil itu telah terlukis dan terekam jelas dalam sebuah kata yang kita sebut “Memori”

Bersyukurlah kalian yang melalui masa kecil tanpa sebuah rakitan teknologi yang kita sebut smartphone.

Waktu itu telah berlalu. Zaman telah berubah. Teknologi semakin maju. Kita telah menjadi insan yang berkembang.

Awal yang aku gambarkan diatas mungkin berbeda dengan kehidupan beberapa orang.

Ada beberapa dari mereka yang dari kecil sudah merasakan kejamnya dunia dan harus meninggalkan semua hak-haknya sebagai anak kecil dan menanggung kewajiban yang tak sepatutnya dibebankan kepada mereka.

Di garis tertentu kita tahu, waktu kembali menjadi pemenang. Semua yang telah terukir dimasa kecil, entah indah atau tidak, membuat kita tetap berucap “Itu adalah masa terbaikku”

———

Menjadi dewasa merupakan hal yang aku inginkan saat masih kecil.

Berjalan dengan menggunakan jas dan sepatu bersuara kuda terlihat hebat saat itu.

Menghasilkan uang dan membelanjakannya sesuai dengan keinginan kita terlihat nikmat saat itu.

Terlepas dari dunia pendidikan dan menikmati kebebasan terlihat nyata saat itu.

Dan saat tiba masa itu, sesuatu terjadi.

Aku sadar bahwa aku harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu.

Aku sadar bahwa kebebasan yang aku inginkan masih sulit untuk diwujudkan.

Aku sadar bahwa permen tidak bisa membuatku berhenti menangis.

Aku sadar bahwa masalah hidup bukan sama halnya seperti balon meletus kemudian bisa dibeli lagi.

Aku sadar bahwa tidak ada waktu untuk bermain, duduk santai dan menunggu kebahagiaan datang.

Sampai aku sadar bahwa aku telah terhipnotis dengan kata “ekspektasi”.

Yang lebih parah adalah, tidak ada satupun yang mengatakannya.

Tapi anehnya, kita merasakan bahwa kehidupan sebagai orang yang dewasa terasa begitu cepat. Dan seketika kita sadar bahwa masa anak-anak adalah masa yang lebih bisa dinikmati.

Terbesit kemudian pertanyaan…..

” Kenapa waktu berlalu begitu cepat?”

Jika saja Doraemon memang ada, sekiranya aku meminjam alatnya untuk bisa pergi ke masa lalu.

Bukan untuk merubah sesuatu agar memiliki masa depan yang berbeda.

Tetapi, hanya sekedar menikmati, bahwa waktu tersebut adalah waktu dimana kedewasaanku mulai dibangun, adalah waktu dimana semua kenangan indah dibuat, adalah waktu dimana kita dilupakan tentang beban hidup dan kejamnya realita.

———

KENAPA BISA TERJADI?

Kenapa sekarang kita merasa bahwa waktu begitu cepat? Seakan 1 hari hanya terasa seperti 1 jam.

Apakah ada sesuatu yang membuat kita memandang waktu secara berbeda?

Lalu apa yang membuat kita melihat waktu secara berbeda?

PERHATIAN

Pernah ngga sih merasakan 1 jam pelajaran matematika lebih terasa lama jika dibandingakan dengan bermain Playstation atau bergossip dengan teman sekelas?

Alasanya cuma satu.

Kita menghiraukan waktu.

Saat kita belajar matematika kita merasakan bahwa detik seakan berhenti, karena kita selalu memperhatikan waktu dan dalam keadaan “on mode”.

Sekarang bandingkan saat bermain atau bergossip. Kita sama sekali tidak memperhatikan waktu. Menghiraukannya karena kita terjebak dalam pengaruh dopamin ( hormon yang membuat kita senang )

Kurangnya perhatian terhadap waktu membuat kita merasakan pengalaman yang tidak mendalam.

MONOTON

Saat kita masih kecil kita merasakan begitu banyaknya hal dan pengalaman baru. Setiap waktu saat kita masih kecil terlihat begitu terasa meskipun kita sudah beranjak dewasa. Dan itu sekarang menjadi ingatan yang tidak akan pernah bisa digantikan.

Tetapi saat kita dewasa, kita kehilangan hal dan pengalaman yang baru itu. Tidak hilang sepenuhnya, tetapi tidak sebanyak yang kita dapatkan saat kita masih anak-anak.

Bangun pagi, bekerja seharian, pulang, dan siklus terus berlanjut seperti lingkarang yang tidak ada ujungnya.

Saat dewasa hidup kita justru lebih monoton dengan hal-hal itu saja. itu kenapa masa anak-anak lebih berwarna jika dibandingkan dengan masa kita sekarang.

GANGGUAN

Masa kecil kita hanya disibukkan dengan kegiatan yang membutuhkan seluruh otot untuk menghasilkan hormon dopamin.

Masa sekarang, kita hanya membutuhkan otot jari dan banggg! dopaminpun sudah didapat.

Kita sekarang hidup dizaman instan.

Hal ini merupakan pedang bermata dua. Satu sisi, hal ini akan membantu kita memudahkan segala urusan. Disisi yang lain justru akan bisa membutakan kita terhadap waktu.

Dopamin yang didapatpun dilakukan dengan cara yang berbeda.

Jika dulu kita mendapatkannya dengan bergerak, berpetualang, berlari dan menyusuri desa, sekarang berganti dengan hanya duduk, tidur dan berdiam diri.

Dengan kata lain, kita sekarang lebih banyak mengkonsumsi daripada menciptakan

Mengkonsumsi hiburan dan lupa untuk melakukan dan menciptakan sesuatu.

Ini juga penyebab kenapa sekarang waktu terasa lebih cepat jika dibandingkan masa kecil kita.

———

JAM DITIGAL VS JAM ANALOG

Apakah melihat jam juga mempengaruhi kita dalam melihat kehidupan?

Iya.

Orang yang melihat jam analog lebih sadar akan waktu yang dihabiskan jika dibandingkan dengan orang yang menggunakan jam digital.

Ini adalah jam digital, jam berapa ini?

Cara Memperlambat Waktu

 

Iya, itu jam 10:38.

Sudah. Itu saja yang akan kita dapat ketika melihat jam digital.

Sekarang bandingkan jika kita melihat jam analog,

Cara Memperlambat Waktu

Jam berapa itu?

Itu jam 02:48. Sudah?

Belum. Masih ada hal yang kita lupakan.

Selain mendapatkan pukul berapa waktu menunjukkan, kita mendapatkan hal yang lebih baik lainnya.

Cara Memperlambat Waktu

Kalian bisa lihat kan perbedaannya?

Jika kita melihat jam analog kita tidak akan hanya mendapatkan pukul berapa sekarang, tetapi juga mendapatkan sudah berapa lama kita menghabiskan waktu, dan juga menunjukkan tersisa berapa banyak waktu kita.

Mungkin ini hanya terlihat sepele, tetapi jika kita sadar, kita akan lebih bisa menghargai waktu dan menggunakannya secara baik dan maksimal.

———

2 CARA MEMPERLAMBAT WAKTU

Disini, kita tidak benar-benar membuat waktu berdetak lebih lambat, tetapi memperlambat disini adalah persepsi kita terhadap terhadap waktu.

Ada 2 cara yang bisa kita lakukan.

  1. Carilah pengalaman yang baru dan sebanyak mungkin
  2. Nikmati setiap momen meskipun itu hal yang sudah biasa kita lakukan sehari-hari.

Dengan mencari pengalaman baru kita akan merasakan hal yang baru juga. Hal ini akan membuat kita sadar akan waktu dan membuat kita selalu dalam keadaan “on mode”. Keluar dan carilah pengalaman yang baru.

Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari terkadang membuat kita lupa cara untuk menikmatinya. Kita justru menganggap kegiatan tersebut sebagai kegiatan yang harus dikerjakan begitu saja. Cobalah untuk menikmati setiap aktivitas apapun yang kita lakukan, jika perlu berikan sesuatu yang berbeda sehingga kita merasakan suasana yang berbeda juga. Ini akan membantu kita agar kita selalu bisa menikmati waktu.

 

Time = Life

Therefore, waste your time and waste of your life

or

Master your time and master your life

— Alan Lakein

 


FOOTNOTE

  1. Pertama aku baca masalah ini disini by Chris Bailey