2020 sudah di penghujung usianya. Deretan cerita yang terekam dalam durasi satu tahun ini hanya membuat kita sadar bahwa 2020 bukanlah tahun yang mudah. Terlebih lagi ketika virus mengambil panggungnya, alur kehidupan mendadak berubah. Mulai dari kita yang bersosialisasi secara berjarak, pelajar yang menjemput pendidikan secara berjauhan, hingga pelaku usaha yang jika tidak bisa bertahan dengan inovasi baru, menutup bisnis jauh lebih masuk akal untuk menghadapi kegagalan pasar.

Memang, fokus kita sama-sama terbagi, pergerakan kita sama-sama terbatas, tetapi kesenjangan itu masih tetap dalam posisinya. Mereka yang berada dalam tingkat atas hierarki sosial lebih mudah mendapatkan akses untuk memenuhi kebutuhan diri, dan mereka yang di bawah harus menghadapi kerasnya realitas, bertarung dengan dilema yang dihadapinya.

Di lain sisi, perusahaan media tetap hidup dalam nafas panjangnya dengan tenang karena semakin banyak peristiwa di luar kebiasaan terjadi, semakin lebar tempat penyimpanan uang yang harus dipersiapkan. Di momen itu, kualitas berita menjadi nomor sekian. Headline yang memancing emosi menjadi langkah yang lebih vital untuk mendapatkan jumlah klik sebanyak mungkin.

Namun, kita tidak perlu mengutuk mereka mengingat perannya dalam menunjukkan potongan realitas lain yang tidak kita ketahui—apa pun cara yang diambil—dan menjadi tambahan pilihan yang bisa kita konsumsi. Kemudahan dalam mengakses informasi tersebut akhirnya membentuk realitas tersendiri: membuka ruang bagi setiap individu dalam mengkreasikan pola yang diinginkan.

Bisa kita tebak, persilangan pandangan tentang virus mahkota menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Kesatuan dalam bentuk manusia terbagi dalam bentuk kiblat informasi yang berbeda. Yang paling mencolok, beberapa mendasarkannya pada sains, dan beberapa yang lain mendasarkannya pada konspirasi.

Ini bukan lagi menjadi hal yang aneh karena setiap individu yang sehat akan menggunakan nalarnya untuk membuat sebuah kejadian menjadi masuk akal dengan memadukan realitas, informasi, dan kepercayaan yang dimilikinya. Apa pun cara yang dilakukan, tujuannya hanya satu: mematikan keraguan.

Lalu, apa pentingnya bagi diri kita untuk menghilangkan keraguan? Jawabannya jelas: Keraguan membuat kita terjebak dalam pikiran tak berujung dan terbatas dalam mengambil tindakan. Hanya ketika kita bisa mematikannya, kelancaran jalannya hidup bisa terjadi.

Hal itulah yang akhirnya menuntun manusia untuk selalu mencari kebenaran. Sayangnya, perbedaan kebutuhan, kualitas pola asuh, dorongan lingkungan, dan faktor berpengaruh lain yang membentuk siapa diri kita menyebabkan terjadinya polarisasi: Beberapa di antara kita bertujuan untuk mendapatkan kebenaran diri, dan beberapa yang lain bertujuan untuk mendapatkan kebenaran tentang apa yang terjadi.

Itu dua hal yang berbeda. Individu pertama menutup diri untuk menerima pembaruan karena menganggap kebenaran yang dimiliki adalah sesuatu yang final dan mengakui dirinya salah adalah tanda kebodohan yang bisa merusak reputasi. Sedangkan individu kedua tidak takut dengan cap buruk apa pun, sangat bersedia mengubah kebenaran yang dibawanya jika itu memang terbukti salah, karena prioritasnya adalah pikiran terstruktur agar bisa membangun kehidupan yang optimal.

Untuk sementara waktu, mari kita letakkan kotak kebenaran kita masing-masing sebagai langkah untuk melihat sisi lain yang mungkin terlewatkan.

• • •

Konspirasi dan Kehidupannya

Mengapa orang percaya teori konspirasi? Ada satu kemungkinan terbaik yang bisa aku lihat: teori konspirasi membuat mereka merasa dalam kontrol.

Kita tahu bahwa teori konspirasi selalu bisa menyuguhkan sesuatu yang baru—di luar pola yang biasa terjadi. Kualitas isi yang terkandung tidak lagi menjadi pertimbangan jika individu tidak bisa mengontrol diri terhadap daya kejut yang diberikan hal baru tersebut. Para peneliti menemukan bahwa hal baru menyebabkan sistem dopamin—sistem dalam batang otak yang bertugas mengirimkan neurotransmiter dopamin—menjadi aktif sehingga membuat kita tidak hanya merasa baik, tetapi juga menginginkan lagi dan lagi.

Dengan kata lain, ada kecenderungan bagi seseorang untuk kehilangan kendali ketika mengonsumsi teori konspirasi secara terus-menerus akibat hal baru yang membuat mereka merasa puas, atau spesial lantaran telah mengetahui informasi yang dianggap eksklusif, dan berharga. Informasi tersebut menciptakan ilusi bahwa mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui banyak orang, dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan untuk mengontrol hidup mereka sendiri.

Namun, keputusan seseorang untuk mempercayai teori konspirasi—atau informasi apa pun itu—tidak bisa hanya didasarkan pada kebaruan yang ada di dalamnya. Penentu sesungguhnya terletak pada skeptisisme yang dimiliki individu, dan siapa pengirim pesan tersebut.

Jika kamu memiliki keraguan terhadap kerja pemerintah, ilmuwan, atau organisasi dunia, teori konspirasi akan mudah mendapatkan ruang di dalam kepalamu. Alasannya karena teori konspirasi bisa memberikanmu gambaran jelas tentang siapa penjahat utama yang kamu yakini ada di dalam kejadian yang terjadi.

Jika pengirim pesan memiliki basis pendukung yang kuat, memiliki jabatan penting, atau dianggap sebagai orang yang sukses, teori konspirasi akan mudah menutup ruang keraguanmu. Alasannya karena semua pencapaian yang ditunjukkan pengirim pesan sesuai dengan standarmu dan membuatmu melihat mereka sebagai orang yang kredibel. Kamu percaya bahwa mereka sedang menyampaikan kebenaran yang bisa menolongmu untuk keluar dari kontrol orang lain, untuk keluar dari rencana jahat.

Sah-sah saja bagi seseorang untuk ragu kepada orang atau lembaga yang memiliki kewenangan. Boleh-boleh saja bagi seseorang untuk menemukan jawaban dengan menyelami teori konspirasi. Namun, hal yang lebih penting dari itu adalah seberapa akurat hasil yang disediakan di sana.

Mungkin, sekali lagi hanya mungkin, informasi tunggal yang ada di dalam sebuah teori konspirasi memang benar adanya, tetapi ketika itu disambungkan dengan informasi lain, skenario yang yang dianggap ideal itu perlu diuji lagi.

Masalahnya, tidak ada cara pasti, tidak ada langkah yang sistematis, tidak ada ukuran pasti, atau lebih tepatnya tidak ada tes untuk membuktikan kebenaran teori konspirasi. Terlebih lagi, penalaran yang digunakan dalam teori konspirasi adalah penalaran melingkar—di mana orang sudah percaya pada asumsi yang dikemukakan—yang menjelaskan bahwa A benar karena B benar, dan B benar karena A benar. Misalnya, elite global menciptakan virus karena mereka ingin mengontrol dunia. Argumen ini didasarkan pada penerimaan seseorang bahwa elite global yang merekayasa virus sebagai kebenaran. Padahal, itu sebenarnya sangat diragukan karena kurang atau bahkan tidak adanya dukungan informasi lain yang bisa membuktikan.

Walaupun begitu, beberapa orang akan tetap meletakkan kepercayaannya pada teori konspirasi karena itu bisa memberikan mereka umpan balik yang positif. Kegelisahan mereka tentang apa yang diragukan hilang disebabkan oleh pola di dalam teori konspirasi yang membuat semuanya terlihat masuk akal.

• • •

Sains dan Kehidupannya

Mengapa orang percaya sains? Sebenarnya, sains bukanlah sesuatu yang menyangkut kepercayaan. Dia tidak diimani, tetapi diterima karena telah dibuktikan dan berlaku secara universal.

Hal menarik yang sering dilewatkan oleh beberapa orang adalah melalui metode yang terstruktur, sebuah hipotesis memang berhasil dikonfirmasi oleh peneliti, tetapi akan sangat mungkin hasil yang dianggap benar sebenarnya adalah kesalahan yang tidak disadari.

Naomi Oreskes, seorang profesor sejarah sains dan profesor di Universitas Harvard, menjelaskan bahwa ada 3 masalah yang dihadapi peneliti ketika menguji sebuah hipotesis.

  1. The fallacy of affirming the consequent atau kesalahan dalam menegaskan akibat. Peneliti bisa membuat prediksi secara benar, tetapi itu tidak membuktikan secara logis bahwa teorinya benar.
  2. Auxiliary hypotheses atau asumsi tambahan yang digunakan untuk menyimpulkan prediksi. Ini adalah keadaan di mana peneliti membuat tambahan hipotesis, tetapi tidak sadar telah membuatnya. Akibatnya, asumsi yang tercipta justru memendungkan pikiran dan menjauhkan keakuratan yang dicari.
  3. Banyak sains yang tidak sesuai dengan model standar. Kebanyakan peneliti tidak melakukan cara deduktif, tetapi dengan cara induktif di mana mereka tidak memulai dari teori atau hipotesis, tetapi memulainya dengan mengobservasi hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Kita tidak perlu memahami secara detail tentang penjelasan rumit tersebut. Poin penting yang bisa mewakili itu semua adalah jawaban dari pertanyaan ini: Jika para peneliti dengan metode yang ada masih tidak menjamin kebenaran yang dicari, apakah kita tetap bisa mengandalkan sains?

Hal ini semakin rumit ketika beberapa orang beranggapan bahwa para peneliti bisa memalsukan hasil sesuai dengan pesanan para petinggi dunia. Ini terlihat seperti hal yang mudah untuk diwujudkan. Kita berpikir dengan uang dan kekuasan yang dimiliki, para pemesan bisa merancang sebuah manipulasi.

Sekarang, ambil minuman favoritmu dan duduklah dengan nyaman. Tidak usah khawatir tentang alur cerita yang tidak akan terjadi itu. Kalaupun para peneliti memang bisa memanipulasi hasil, di sana bukanlah tempat pemberhentian terakhir di mana mereka bisa bersulang sambil memberi selamat satu sama lain.

Kamu tahu alasannya? Karena sains masih memiliki satu tahap lagi yang tidak diketahui oleh banyak orang. Tahap itu dinamakan konsensus. Ketika ada peneliti yang berhasil membuat kesimpulan ilmiah tentang suatu hal, kesimpulan itu akan diperiksa oleh ilmuwan lain. Jika hasilnya konsisten, klaim yang ada benar, dan siap dipublikasikan.

Sebaliknya, jika setelah uji ulang ditemukan inkonsistensi, atau bisa dibuktikan salah—sifat yang hanya dimiliki sains—maka pencarian jawaban terus berlanjut. Kita bisa melihat bahwa para ilmuwan menilai hasil berdasarkan bukti, bukan berdasarkan ‘katanya’ sekalipun dari sesama ilmuwan.

Sosiolog Robert Merton menyebutnya sebagai organized skepticism atau skeptisisme yang terorganisir di mana hasil yang ada harus diverifikasi ulang secara kolektif oleh para ilmuwan lain untuk mendapatkan kebenaran yang akurat.

Dengan kata lain, sains adalah hasil dari kesepakatan para ahli di mana pun mereka berada melalui proses pengawasan yang terorganisir untuk menilai bukti hingga kemudian menarik kesimpulan apakah itu benar atau tidak. Jadi kita sangat bisa mengandalkannya, atau jika kamu masih memiliki keraguan terhadap kebenaran sains, kamu bisa mengambil PhD dan membuktikannya dengan metode yang tersedia.

Walaupun begitu, fakta yang ada dalam jawaban sains tidak cukup untuk mengubah cara pandang beberapa orang. Penyebab terbesarnya adalah bias konfirmasi di mana seseorang cenderung menerima sesuatu yang hanya sesuai dengan apa yang sudah diyakini sebelumnya dan menolak bukti-bukti yang berlawanan. Berlogika menjadi hal yang sulit karena memuaskan emosi lebih bisa menenangkan diri daripada menerima kebenaran yang dianggap mengundang ketidaknyamanan.

Kita bisa setuju bahwa mengabaikan atau menyangkal bukti berlawanan yang memiliki karakter objektif, netral, dan terverifikasi secara kolektif bukanlah tanda pencari kebenaran yang sejati, tetapi tanda gagalnya mengembangkan pencarian kebenaran yang berlaku sebenarnya.

• • •

Bagaimana Kita Terhubung dengan Perbedaan

Keputusan seseorang dalam mengambil sikap tentang informasi yang dikonsumsi memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi kekuatan untuk memegangnya sebagai panduan sangat dipengaruhi oleh orang lain karena apa pun acuan kita, itu akan menjadi rentan ketika kita hanya hidup sendirian. Kita membutuhkan kelompok sebagai sistem dukungan yang bisa menjunjung ideologi yang sama untuk mencapai tujuan yang sama.

Sistem dukungan itu bisa kita sebut sebagai budaya bersama—berisi tentang pengetahuan apa yang dihargai, aturan apa yang harus dipatuhi, dan perilaku apa yang harus ditindaklanjuti—yang diciptakan dan disetujui oleh semua orang yang terlibat di dalam kelompok tersebut. Ini jugalah yang menjadi landasan terciptanya ikatan dan asosiasi antara satu individu dengan individu lain di sebuah kelompok.

Tentu saja, kebenaran informasi yang ditukar dalam budaya kelompok haruslah terjaga agar bisa membentuk kualitas hubungan seobjektif mungkin. Namun, dalam kenyataannya, hal sebaliknya justru sering terjadi. Kualitas informasi tidak selalu diperhatikan ketika ukuran utamanya adalah kemampuan yang dibawa budaya tersebut. Jika budaya yang ada sudah bisa menginspirasi satu sama lain—terlepas benar secara objektif atau tidak—maka tindakan akan lahir.

Sisi baiknya, kelompok akan menjadi solid, memahami satu sama lain, bekerja sama secara efektif, dan bahkan bisa membangun hal yang besar. Ini tidak hanya berlaku bagi penganut teori konspirasi atau penerima sains. Ini juga bisa berlaku bagi mereka yang memiliki perbedaan pandangan politik, atau juga agama.

Kesamaan lain dari kelompok kontradiktif itu terletak pada ilusi kendali. Ketika budaya bersama dalam sebuah kelompok dianggap benar—bisa mematikan keraguan atau ketakutan—setiap individu yang tinggal di dalamnya akan mendapatkan kebebasan untuk mengendalikan diri terhadap apa yang mereka anggap bahaya.

Hal itu jugalah yang akhirnya melahirkan sisi negatif. Saat satu individu melihat perbedaan kelompoknya sebagai kebenaran, dan melihat perbedaan kelompok lain sebagai kesalahan, pertukaran pandangan yang terjadi menjadi tidak kondusif. Sifat alami manusia yang ingin mempertahankan kebenaran yang diyakini menjadi penyebab terbesarnya.

Kathryn Schulz, seorang jurnalis Amerika, menjelaskan dalam bukunya Being Wrong tentang 3 fase yang dialami kebanyakan orang ketika menghadapi ketidaksetujuan.

  1. Ignorance Assumption. Kita berpikir bahwa kepercayaan kita berdasarkan fakta dan menyimpulkan bahwa orang yang tidak setuju dengan kita adalah orang yang tidak memiliki akses informasi yang sama benarnya dengan kita.
  2. Idiocy Assumption. Jika kita tahu bahwa mereka memiliki informasi yang sama, kita akan berasumsi bahwa mereka bodoh karena tidak mampu menyusun potongan informasi secara benar.
  3. Evil Assumption. Jika kita tahu bahwa mereka memiliki informasi yang sama, dan merupakan orang yang pintar, kita masih membuat asumsi bahwa mereka telah mendistorsi kebenaran untuk tujuan jahat mereka.

Keterikatan pada kebenaran diri kita sendiri membuat kita mencegah kesalahan saat kita benar-benar membutuhkannya dan menyebabkan kita memperlakukan satu sama lain dengan buruk.

— Kathryn Schulz

Jika itu dilakukan terus-menerus, tatanan kehidupan yang lebih luas berada dalam bayang kehancuran. Bukan karena adanya kontradiksi kepercayaan, tetapi karena dorongan individu yang memaksakan kebenaran kelompoknya agar dijadikan patokan bagi kelompok lain.

Jadi, bagaimana kita bisa terhubung dalam perbedaan dengan lebih sehat?

• • •

Membangun Hubungan yang Lebih Sehat

Kita tidak bisa menyangkal pentingnya hidup secara berkelompok, tetapi kita juga tidak bisa menjalani hidup hanya dengan budaya yang berlaku di sana. Jika sumber kebahagiaan memang bergantung pada kualitas hubungan, maka kita juga harus memprioritaskan jalan lain: terhubung dengan membangun budaya baru dalam situasi pribadi.

Artinya, ketika bertemu orang baru atau orang yang memiliki budaya kelompok berbeda, kita tidak menghubungkan diri dengan kebenaran yang kita pegang, tetapi kita menghubungkan diri dengan semua hal yang ada di dalam kepala mereka sebagai alat pembelajaran. Kita menepikan satu budaya untuk membangun budaya baru yang bisa diterima secara dua arah. Secara resmi, kita telah membentuk hubungan tanpa terbatas dengan kepercayaan yang berbeda.

Selagi lagi, itu bukanlah hal yang mudah. Kondisi tersebut membutuhkan diri yang berfungsi berdasarkan logika, sedangkan kebanyakan orang berfungsi berdasarkan emosi. Perbedaan ini juga mendeskripsikan perbedaan usaha yang dikeluarkan. Satu bertumpu pada opini yang didukung data, satu lagi menggantungkannya pada opini semata.

Kita mungkin merasa lebih baik ketika menanggapi emosi dengan fakta. Kita paham bahwa fakta tidak peduli dengan perasaan orang lain. Namun, sebaliknya juga benar. Seseorang yang menyusun jawaban dari perasaan juga tidak peduli dengan fakta yang kita sediakan. Dengan demikian, hubungan yang kita bangun di sana lebih mendekati kesia-siaan.

Ada kutipan bijak kuno yang melekat padaku sejak beberapa tahun lalu. Confucius, seorang filsuf Cina, mengatakan, “Berjalan di antara tiga orang, aku menemukan guruku di antara mereka. Aku memilih yang baik di dalamnya dan mengikutinya, dan yang buruk dan mengubahnya.”

Poinnya adalah apa yang kita dapatkan bergantung pada apa yang kita investasikan. Jika dalam berhubungan kita memperlakukan perbedaan orang lain sebagai kesalahan dan memaksakan kebenaran yang kita pegang, pengalaman yang terbentuk menjadi semakin buruk. Namun, jika dalam koneksi kita memperlakukan perbedaan sebagai informasi, pengalaman yang ada menjelaskan kedekatan. Selain itu, kita bisa menormalkan perasaan tidak nyaman saat berhadapan dengan mentalitas irasional.

Selalu dan yang paling penting, kualitas informasi yang didapat harus diaudit. Jika informasi tersebut tidak bisa diubah ke dalam pengalaman lingkungan, tempat kerja, rumah, komunitas, atau kehidupan pribadi, informasi tersebut hanya memperburuk penilaian kita. Semakin sering kita memupuknya, akumulasinya bisa membelokkan fokus yang akhirnya memangkas kendali yang kita miliki.

Kita harus selalu mengasah kemampuan untuk hanya memerhatikan informasi yang bisa dikelola dan ditingkatkan. Kita harus memperjelas tentang dampak positif apa yang diperoleh jika kita mematuhi informasi tersebut, dan apa konsekuensinya terhadap diri sendiri dan orang lain jika tidak mematuhinya. Dengan cara ini, penilaian dan pengambilan keputusan kita semakin menjadi lebih baik karena didukung oleh pemahaman yang lebih sehat tentang apa yang sedang dan akan terjadi.

Lalu, bagaimana jika perbedaan orang lain—yang kita perlakukan sebagai informasi—memiliki sedikit kegunaan?

Di kesempatan itu, apa pun tindakan yang diambil seseorang harus dihormati selama tidak dimaksudkan untuk meninggalkan luka kepada si penerima. Namun, hal terpenting yang bisa menunjukkan panduan adalah pengalaman dan konteks. Sederhananya, jika kita bisa menafsirkan informasi tersebut melalui penggabungan titik-titik yang kita punya sebelumnya, peningkatan makna dan guna yang sesuai dengan siapa diri kita dan apa kebutuhan kita juga lebih mudah untuk direalisasikan.

Bagaimanapun, kita memang seharusnya membuka ruang untuk terhubung dalam perbedaan, dan ketika pertukaran nilai terjadi, meletakkan koma menjadi hal yang bisa mengubah jalannya permainan.

Dengan meletakkan koma, kita tidak berusaha menjadi hakim orang lain dengan segala pola yang dibawanya. Tidak ada kesempatan untuk menertawakan mereka yang tidak percaya, ataupun sebaliknya.

Dengan meletakkan koma, kita sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik di mana melihat kontradiksi dan evaluasi sebagai pembentuk kenyataan terbaik. Semakin banyak domain—yang kita dapatkan dari kontradiksi—yang kita pahami, semakin meningkat hubungan kita dengan dunia di sekitar kita.

Catatan terakhirku, jika tidak ada kesempatan untuk terhubung dengan landasan berpikir yang sama, setidaknya kita selalu memiliki kesempatan untuk memperkaya hubungan dengan cerita yang berbeda. Tanpa adanya kerusakan ikatan hubungan itu sendiri.

Inilah yang harus kita pegang di mana pun dan kapan pun setiap langkah dalam ruang dan waktu ketika menghadapi perbedaan untuk membuat kehidupan kita tetap dalam harmoni.