Cinta

CINTA

WARNING!!

Semua isi pada artikel ini hanyalah untuk pengingat diriku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mungkin sebagian besar isi ini hanyalah opiniku semata. Jadi tolong disaring dengan pikiran yang terbuka. Merasa terintimidasi? Oh maaf, sekali lagi ini hanya untuk pengingatku saja.

Jika ada yang baik silahkan diambil dan dibagi. Jika tidak, simpan energi kalian. Tidak usah membuang tenaga untuk mengumpat atau mencemooh.

Mari kita mulai!

———

NOVEL CINTA.

Aku bukan seorang yang suka membaca novel, apalagi novel seputar cinta yang HANYA menjurus kepada isi dunia. Jadi jangan heran jika artikel ini tidak akan menggunakan bahasa-bahasa cinta yang biasanya kalian jadikan sebagai pelipur lara atau bahkan menjadi bahan update-an di sosial media.

Aku tidak bermaksud untuk menyerang atau menyalahkan sang penulis, tidak sama sekali. Mereka-pun tidak ada salah sedikitpun selama isi dalam novel tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Di dunia? Iya, Di akhirat? hmmmm…

Aku tahu banyak novel cinta diluar sana yang memberikan nilai-nilai islam, dan malah mengajak kita untuk lebih dekat dengan Allah. Dan itu semua bagus.

Tapi aku juga sadar bahwa tidak sedikit novel cinta yang beredar diluar sana, yang hanya memberikan nilai cinta sebatas dunia saja.

Lalu apa masalahnya?

Banyak dari kita yang termakan kalimat-kalimat indah itu, menjadikannya sebagai alat untuk mendapatkan cinta semu, terobsesi gila dan tinggi harap hanya kepada seseorang yang hanya disebut “HAMBA”

Hei, aku tidak melarangmu untuk membaca novel pengecualian itu. Poinku disini adalah, kita sebagai manusia jangan sampai terpedaya oleh rangkaian kata-kata yang sering kita sebut romantis itu. Jangan sampai kita membuang waktu hanya untuk mengejar mereka, sampai harus mengorbankan hati dan seluruh cinta kita. Ingatkah bahwa waktu kita terbatas?

———

Cintailah seseorang sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi  orang yang kamu benci

Bencilah sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan kau cintai.

~ HR Tirmidzi

Dia, wanita yang pernah aku temui, hanya sebatas teman memulai percakapan di pagi dimana ketidaksengajaan mempertemukan kita.

Dia : “Hai bagaimana kabarmu?”

Aku : ” Baik, kamu gimana? “

Dia : ” Aku lagi bahagia, karena ini tahun ke-3 aku pacaran sama cowokku”

Aku : ” Ya semoga mendapat yang terbaik ya”

Waktu memang meninggalkan kita begitu cepat, dan kabar itu akhirnya sampai ke telingaku juga. Lagi, aku bertemu dia.

Aku : ” Jadi kapan nih diresmikan?”

Dia : ” Aku udah putus kok sama dia, mungkin dia belum jodohku, ada cowok lain yang lebih baik diluar sana “

Tak lama kemudian, story instagramnya memberikan tanda, oh sebuah quote indah bagi dia untuk mewakili apa isi hatinya

“Kenapa Tuhan Menciptakan Hati Kalau Untuk Dipatahin ?” Tulisnya

Menarik kumbang baru untuk datang. Dan Bammmm! You get a new boy!

 

YOU NAILED IT!

Sekarang aku tahu tetapi juga tidak mengerti.

Aku tahu bahwa cinta tidak bisa memilih, dia datang kepada hati dan menuntun kepada siapa yang ia kehendaki.

Aku tidak mengerti, kenapa kita, manusia yang dianggap menjadi makhluk yang paling sempurna, memiliki akal pikiran, tetapi masih menganggap cinta itu tak lebih hanya sebagai “percobaan”.

” Jalanin aja dulu “

” Apapun endingnya, itulah yang terbaik buat kita”

Kuno.

Kita hanya membuang waktu, menimbun dosa, selebihnya hanya menyakiti hati. Dengan gampangnya hati ini mencari pelabuhannya yang baru, iya masih dengan yang sama, manusia.

———

Aku sudah merasakan kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia

~ Ali bin Abi Thalib

Setelah terbang kesana kemari, seekor lebah akhirnya berhenti pada sebuah kaktus.

Dengan sabarnya dia menunggu kaktus itu berbunga

Hanya satu tujuan. Untuk mendapatkan madu dan pulang dengan kebanggaan.

1 hari, 5 hari, lebah tersebut masih setia menuggu bunga yang akan tumbuh pada kaktus itu.

1 minggu berlalu, kesabaran lebah akhirnya terbayarkan, bukan dengan bunga atau setetes madu.

Tetapi adalah kematian yang membayar tuntas apa yang lebah inginkan.

Kaktus? Meskipun tidak berbunga, setidaknya dia masih hidup dan tetap menjalani hari dengan bahagia.

Kamu adalah lebah itu, dan dia, pacarmu, adalah kaktus itu.

Ketika semua kepercayaan hanya kamu gantungkan padanya, masih ada kiranya dia menghianatinya.

Ketika semua cinta hanya kamu berikan padanya, masih ada kiranya dia menghancurkannya

Tetapi…..

Ketika semua kepercayaan hanya kamu gantungkan pada-NYA, takkan pernah ada insan yang pernah kecewa

Ketika semua cinta hanya kamu berikan pada-NYA, takkan pernah ada insan yang pernah merana

Jangan kau gantungkan pengharapanmu kepada dia, ciptaan-NYA, tetapi gantungkanlah pengharapanmu hanya kepada DIA, Sang Pencipta.

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap

~ QS Al- Insyirah 8

———

Bagiku, hidup hanyalah sekedar masalah prioritas. Dalam segala hal. Keuangan, pelajaran, mimpi, bahkan sebuah hubungan yang lebih dikenal dengan cinta. Cinta, tidak akan jauh dari namanya diprioritaskan, atau memprioritaskan.

Ketika kamu menjadi prioritasnya

Balasan pesan yang begitu cepat meskipun kesibukan menyitanya

Meluangkan waktu untuk menemanimu kemana-mana

Menghargai kamu tanpa ada kiranya

Memahimu disetiap air matamu

Peduli dan mencintaimu tanpa ada keraguan

 

Ketika kamu tidak menjadi prioritasnya

Balasan pesan yang begitu lama meskipun waktu tidak mengikatnya.

Sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk menemanimu kemana-mana.

Menghargai kamu ketika kamu memberikan timbal balik karena apa yang dia telah berikan.

Air mata sudah menjadi agenda rutin sehari-hari.

Peduli dan mencintaimu dengan keraguan, hanya berlewatkan kata-kata tanpa adanya bukti nyata

 

Ketika prioritasmu berubah maka hidupmu juga berubah.

Cinta akan memudar seiring berlalunya waktu jika……

Jika prioritas cintamu adalah uang, dia akan memudar ketika uang tidak ada lagi padanya.

Jika prioritas cintamu adalah fisiknya, dia akan memudar ketika kecantikan dan ketampanannya tertutup dengan usianya yang menua.

Jika prioritas cintamu adalah jabatan, dia akan memudar ketika semua apa yang dia duduki telah dia tinggalkan.

Tetapi….

Jika cintamu karena Allah, dia tidak akan pernah memudar, dia akan semakin menguat, meskipun uang tak ada pada kalian, meskipun jabatan tidak kalian duduki, meskipun fisik yang sudah tidak muda lagi, kenapa?

Karena kamu mencintai pasanganmu tidak lebih hanya karena untuk mencari ridhoNYA, dan untuk beribadah kepada-NYA.

Istri berbakti kepada suami bukan karena semata-mata cinta kepada suaminya saja, tetapi lebih daripada itu, dia tahu bahwa dengan berbakti dia sudah menjalankan perintah-NYA, dan akan menjadikan amal untuk kembali kepada-NYA kelak.

Suami menjalankan tugasnya bukan karena semata-mata cinta kepada istrinya saja, tetapi lebih daripada itu, dia tahu bahwa dengan menjalankan kewajibannya kepada istri itu berarti dia sudah menjalankan perintah-NYA, dan akan menjadikan amal untuk kembali kepada-NYA kelak.

Pasangan yang selalu memprioritaskan Allah, akan selalu sejalan, akan selalu beriringan, akan selalu padu dan harmonis, tak ada cek cok, karena yang ada adalah saling mengingatkan ketika salah satu dari mereka lalai terhadap apa yang harus dipertanggung jawabkan kelak di akhirat, karena yang ada adalah saling berjuang untuk menuju ke surganya, tidak suami saja, tidak istri saja, tapi seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Maka menikahlah karena Allah, bukan karena nafsu.

Menikahlah karena Allah bukan karena cemoohan orang lain.

Menikahlah karena Allah, bukan karena melihat lamanya kalian pacaran.

Menikahlah dan tinggalkan pacaran.

Pacaran hanya membuatmu besar, besar akan dosa. Membuatmu jauh, jauh dari Sang Illahi, dan membuatmu sedih, sedih karena pengharapan palsu.

———

RENUNGAN.

Aku kutip sedikit isi dari buku La-Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni hal 52.

Orang mukmin akan senantiasa bersedih atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, sementara orang yang durhaka akan senantiasa lalai, tidak pernah serius, dan berdendang kegirangan justru karena dosa-dosanya. Dan kalaupun ada kesedihan yang menimpa orang salih, maka itu tak lebih dari sebuah penyesalan terhadap kebaikan-kebaikan yang terlewatkan, ketidakmampuan mereka mencapai derajat yang tinggi dan kesadaran bahwa mereka telah melakukan banyak kesalahan. Demikianlah, alasan yang mendasari kesedihan ini berbeda dengan alasan yang mendasari kesedihan orang-orang yang durhaka. Mereka bersedih karena tidak mendapatkan keduniaan, keindahan, dan kenikmatan duniawi. Kesedihan, kegundahan, dan kegelisahan mereka adalah karena keduniaan, untuk keduniaan dan di jalan menuju keduniaan.

Kita berbeda, berbeda karena kita memiliki iman. Lalu kenapa masih mau melakukan seperti apa yang dilakukan mereka yang tak beriman?

Kita berbeda, berbeda karena kita hidup bukan hanya soal materi dan gengsi. Lalu kenapa masih mau dibutakan dunia?

Kita berbeda, berbeda karena kita hidup tidak hanya melulu soal perut. Lalu kenapa masih mau diarahkan oleh nafsu?

Lebih dari itu, kita harusnya tahu bahwa dunia adalah ladang untuk mencari amal sebanyak-banyaknya

Lebih dari itu, kita harusnya tahu bahwa dunia hanyalah tempat penentu dimana kita akan lulus dan menghadapnya, dalam keadaan hina atau mulia.

Aku bukan manusia suci yang sudah menjalankan semua apa yang aku tulis diatas, tetapi aku selalu berusaha untuk mencapai kearah itu.

Jika kalian mengenalku, maka ingatkan aku ketika aku keluar dari jalur-NYA.

Jika kalian sahabatku, maka tegur aku ketika aku melawan aturan-NYA.

Pada akhirnya ini adalah peringatan untukku, untuk diriku sendiri, oh, atau mungkin tepat ke hati mereka yang sedang membaca ini, tepat ke hati mereka yang mau menerima kebenaran, tepat ke hati mereka yang yang tidak mengacuhkan jalan lurus.

Aku tidak sebaik yang kau ucapkan, namun aku tak seburuk yang terlintas di hatimu

~ Ali Bin Abi Thalib