Cinta 1.0

CINTA 1.0

 Artikel “Cinta 1.0” ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Cinta”. Jika kalian belum membacanya, ada baiknya untuk memulainya disini.

Mari kita mulai!

———

PEMBUKAAN

Aku tersentak, heran dan juga bingung bahwa dari sekian artikel yang aku buat, Artikel “Cinta” adalah artikel yang paling banyak dibaca.

Mungkin memang kita, lebih senang untuk belajar yang lebih sulit ketimbang hal-hal yang hanya berisi teori.

Kita lebih suka belajar bahasa hati. Bahasa yang paling sulit untuk dipahami.

Memang hidup tidak akan pernah lepas dari kata cinta.

Cinta kepada Allah, cinta kepada ciptaan-NYA atau bahkan cinta terhadap apa yang diciptakan oleh ciptaan-Nya.

Entah kenapa, hatiku tergerak kembali untuk membuat artikel bertema cinta.

Bukan karena aku single dan menjadikan tulisan ini sebagai ajang promosi atau menjadi obat penenang hati, tapi karena aku ingin membuat benteng, membuat alarm untuk diriku sendiri dari kata-kata yang aku rangkai ini.

Aku juga bersyukur jika satu atau dua kata saja bisa masuk tepat ke hati mereka yang sedang dirundung mendungnya awan yang disebut Cinta.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu atas cinta-Mu.

Cinta orang-orang yang mencintai-Mu

Dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu.

Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin (di padang yang tandus).

— At-Tirmidhi

———

KITA LEMAH

Dia, adalah wanita yang aku tahu memiliki hubungan dengan lelakinya, telah mengikat kasih tanpa dinaungi iman.

Waktu berlalu, hubungan mereka yang harmonis diawal ternyata harus kandas karena berbagai macam hal yang mereka sebut ujian cinta. Atau sebenarnya itu teguran dan pengingat untuk kembali kepada Allah?

Kandasnya hubungan mereka adalah karena adanya perbedaan tujuan untuk mencapai garis akhir yaitu pernikahan.

Si laki-laki belum bisa menikah karena kurungan tradisi yang masih dijunjung tinggi. Dia harus menunggu sampai kakak wanitanya menikah terlebih dahulu dan baru datanglah gilirannya.

Si wanita merasa tidak memiliki banyak waktu, butuh kepastian dan keputusan, seakan-akan pernikahan dianggap sebatas tradisi dan terjadi karena omongan yang tidak enak didengar oleh telinga.

Keputusan besar dibuat. Mereka berembuk untuk mencapai mufakat. Hasilpun telah ditentukan dengan wajah yang memaksa untuk ikhlas.

Mereka putus.

Sebuah akhir. Tapi kita lupa bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang lain kan?

Pertanyaannya kemudian adalah….. ” Apakah awal yang baru itu akan dimulai di jalur yang benar atau dimulai dalam jalur yang sama salahnya? “

Sayangnya beberapa orang kembali memulainya di jalur yang salah. Lagi!.

Seakan peringatan hanyalah sebuah ujian fisika yang bisa dicurangi.

Jarak yang sebelumnya menjadi pembatas telah hancur lebur karena kuatnya cinta.

Pada akhirnya dia kembali kepada sebuah pelukan. Bukan pelukan-Nya, tetapi ke pelukannya.

Mereka kembali mengikat tali, kali ini diikat lebih erat lebih ketat dan berdoa kepada sang Illahi untuk melanggengkan hubungan mereka.

Jika kalian tidak keberatan, tidak ada salahnya untuk bertepuk tangan, mengambil tisu untuk mengeringkan airmata kalian, karena mendengar cerita cinta mereka yang tangguh, kuat, dan kokoh.

———

Akhir-akhir ini aku menemukan sesuatu yang sangat erat kaitanya dengan kita yang sangat sulit untuk melepaskan orang yang pernah kita cintai sekalipun dia menyakiti kita berkali-kali.

Boiling Frog Syndrome

Cinta 1.0

Didalam percobaanya, si penguji melakukan 2 kali percobaan.

Pertama, sang penguji memasukkan katak langsung kedalam air yang mendidih. Hasilnya? Si katak langsung keluar karena tahu bahwa air itu sangat panas.

Percobaan kedua dilakukan dengan berbeda.

Kali ini katak itu diletakkan pada sebuah panci yang berisi air dengan temperatur yang nyaman, kemudian memanaskannya secara perlahan-lahan.

Hasilnya?

Katak tersebut tidak akan keluar langsung dari panci tersebut.

Kenapa?

Katak memiliki kesamaan seperti halnya manusia, yaitu mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dia akan menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air yang perlahan-lahan panas.

Hal yang menarik adalah disini…

Ketika air sudah mencapai batas akan mendidih, si katak tidak bisa lagi menyesuaikan tubunya dan sadar bahwa dia harus keluar dari panci tersebut.

Tapi sayang, si katak sudah kehabisan tenaga karena sudah menggunakannya untuk beradaptasi dengan air yang perlahan-lahan panas.

Iya, Si katak mati.

Apa yang menyebabkan katak itu mati?

Mungkin kalian akan menjawabnya bahwa katak itu mati karena air yang mendidih, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama lagi, katak itu sebenarnya mati karena ketidakmampuannya untuk memutuskan kapan dia harus keluar dari panci tersebut.

Si katak telah kehabisan tenaganya disaat waktu yang benar-benar dibutuhkan.

Lalu apa hubunganya dengan masalah cinta?

Kalian adalah katak itu. Suhu air yang mendidih ibarat hubungan kalian yang tidak selalu harmonis.

Kalian cenderung memilih menderita, merasakan ketidaknyamanan sampai kalian lupa bahwa kekuatan kalian ada batasnya.

Kalian lebih memilih hubungan, mempertahankannya mati-matian, meyakinkan satu sama lain bahwa semua akan berakhir dengan bahagia.

Waktu demi waktu kalian lalui, tapi jalan tidak menunjukkan alamat seperti yang kalian tujukan.

Kalian putus tetapi juga merasa tidak mampu.

Kalian telah kehabisan kekuatan kalian, kalian lupa saat kalian harus melompat keluar dari panasnya hubungan tersebut, kalian malah memilih untuk bertahan dan mencoba beradaptasi dengan semua masalah yang kalian hadapi.

Dengan keras kepalanya kalian memilih untuk tetap tinggal didalam air.

Dengan keras hatinya kalian menutup semua kesempatan untuk keluar.

Kalian bukan katak!

Maka disaat kalian merasa sudah waktunya untuk keluar, keluarlah!

Karena pada dasarnya, pondasi yang salah tidak akan pernah membuat bangunan kokoh dan kuat.

Begitupun cinta, ketika kalian membuat pondasi yang salah, cinta hanya akan menyakitimu.

Lalu bagaimana membangun pondasi cinta yang kokoh?

Pondasi cinta yang kokoh adalah pondasi cinta yang dibangun dengan hanya berharap dari ridho-NYA.

Pondasi cinta yang kokoh adalah pondasi cinta yang dibangun dengan menaati semua perintah-NYA.

Pondasi cinta yang kokoh adalah pondasi cinta yang dibangun dengan menjauhi semua larangan-NYA.

Sekarang, hanya kalian yang bisa menjawab apakah kalian membangun pondasi yang salah yang membuat hubungan kalian akan selalu goyang bahkan bisa hancur, atau kalian sudah membangun pondasi yang benar yang bisa membuat hubungan kalian akan selalu kokoh tegak berdiri?

Allah SWT berfirman,” Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang saling cinta-mencintai karena Aku, saling kunjung-mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku.”

— Hadits Qudsi

———

MENYESAL

Tapi bukankah dengan pacaran kita bisa lebih mengenal satu sama lain?

Tapi bukankah dengan pacaran kita bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan pasangan kita?

Tapi bukankah dengan pacaran kita bisa melatih diri sebelum berlanjut ke hubungan yang lebih serius?

Tapi dengan pacaran aku lebih semangat dalam belajar, bekerja

Tapi dengan pacaran aku bisa lebih bahagia

Tapi banyak kok yang pacaran dan berakhir dengan bahagia

Tapi kan aku pacaran tidak aneh-aneh

Tapi kan aku pacaran secara syariah

Tapi kan….. ,

tapi……,

tapi itu…….,

bukannya bla…bla…bla…

Seharian tidak akan cukup untuk menuliskan semua sanggahan kalian.

Tapi, seharian juga sanggahan-sanggahan kalian bisa di sanggah dengan sanggahan kebenaran.

Kalian ini lucu!

Secara raga saja kalian terlihat sempurna, secara jiwa? Perlu beberapa pertanyaan untuk mengesahkan yang satu ini!

Apalah daya, tangan mereka yang digunakan untuk memegang buku-buku agama, kalian anggap bukan hal yang kekinian, seperti tangan kalian yang digunakan untuk memegang tangan pasangan kalian.

Apalah daya, telinga mereka yang digunakan untuk mendengarkan ilmu-ilmu di majelis, kalian anggap bukan hal yang keren, seperti telinga kalian yang digunakan untuk mendengarkan pasangan kalian mengucapkan kata-kata romantis yang bisa menghanyutkan harga diri.

Apalah daya, mata mereka yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an, kalian anggap bukan hal yang gaul, seperti mata kalian yang digunakan untuk menonton bersama dengan pasangan di layar lebar yang menyempitkan iman.

Jiwa kalian, buta dan tuli!

Buta akan kebenaran yang jelas-jelas nyata didepan dan akan selalu sudi untuk memandu.

Tuli akan kebenaran yang jelas-jelas nyata di segumpal daging bernama hati.

Ah sudahlah, bahkan kalian masih punya sanggahan untuk hal satu ini.

Aku tidak akan menjelaskan alasan dari daftar pertanyaan “tapi” diatas.

Malah, aku ingin mendongeng tentang sejarah. Kuharap kalian masih membaca ini, atau sudah terasa panas di hati untuk melihat kebenaran?

Tutup saja browser kalian! Lupakan tempat akhir kalian dan nikmati dunia yang hanya semenit ini!

———

Story Begins

Diumurnya yang baru 20 tahun, Hiroo Onoda terpanggil hati untuk menjadi seorang pengabdi negara, Prajurit Jepang.

Singkat cerita, pada 26 Desember 1944, Hiroo Onoda yang kala itu sudah menjabat sebagai Letnan Dua dikirim oleh kekaisaran Jepang ke sebuah pulau terpencil di Lubang, Filipina.

Cinta 1.0 Waktu itu adalah berlangsungnya Perang Dunia kedua dan Onoda memiliki tugas utama untuk menghambat Amerika.

Onoda diberi perintah oleh Major Yoshimi Taniguchi dan Major Takahashi untuk memimpin perang gerilya di Lubang, Filipina tersebut.

Isi dari pesan tersebut adalah untuk berperang dengan semua jiwa dan raga, tidak kenal arti menyerah, dan secara garis besar adalah misi bunuh diri untuk mengabdi kepada negara.

Di tahun 1945, Pasukan Amerika tiba di Lubang dan akan mengambil alih pulau dengan pasukan yang mengerikan banyaknya.

Pasukan Jepang hanya mempunyai dua pilihan, maju berperang untuk mati atau menyerah dan kembali dengan kekalahan.

Diluar dugaan, pemimpin benteng memilih untuk tidak membantu Onoda karena kekhawatirannya.

Iya, banyak dari mereka kabur dan pulau berhasil dikuasai oleh sekutu.

Bagaimana dengan Onoda?

Onoda tetap tinggal bersama 3 anak buahnya dan memutuskan untuk bersembunyi di dalam hutan.

Mereka menyerukan perang gerilya melawan pasukan Amerika dan penduduk lokal. Merampas semua persediaan makanan, dan menembak prajurit dan orang-orang yang tidak dikenal.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, Nagasaki mendapat kiriman bom atom dari Amerika setelah tiga hari sebelumnya menghadiahkannya ke kota Hiroshima.

Cinta 1.0 Kota hancur lebur, kehidupan manusia melayang bak debu yang dibawa angin.

Seminggu kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang mengumumkan kekalahannya.

Selesai?

Cerita baru saja dimulai!

Onoda dan pasukannya yang masih bersembunyi di dalam hutan tidak tahu bahwa perang diluar sana telah berakhir.

Pemerintah Jepang kemudian membagikan selebaran kesemua penjuru Pasifik.

” Perang sudah berakhir pada 15 Agustus , turunlah dari gunung “ Isi selebaran tersebut.

Sebuah berita yang menyakitkan dan membahagiakan.

Menyakitkan bahwa negara yang dibela ternyata kalah, membahagiakan karena masih diberi kesempatan untuk bertemu keluarga mereka lagi.

Tapi sayang, Onoda dan teman-temannya hanya menganggap selebaran ini hanyalah akal-akalan sekutu. Selebaran ini palsu dan hanyalah jebakan semata!

Selebaran yang harusnya bisa mengubah hidup hanya berakhir dengan api. Selebaran itu dibakar!

Onoda dan teman-temannya tetap bersembunyi dan melanjutkan perangnya.

5 tahun berlalu, selebaran pengumuman kekalahan Jepang telah dihentikan. Banyak pasukan Amerika yang sudah kembali pulang.

Kehidupan penduduk lokal-pun dimulai dengan normal lagi. Memancing dan bertani adalah kegiatan yang dilanjutkan setelah perang.

Bahagia bukan?

Tidak!, mimpi buruk dimulai bagi penduduk lokal. Mereka ditembaki oleh Onoda dan teman-temannya, dicurinya semua hasil kebun, sawah dibakar, dan tidak membiarkan siapapun masuk kedalam hutan tempat mereka bersembunyi.

Pemerintah Filipina tidak tinggal diam. Selebaran dikirim lagi dan disebar di hutan.

” Keluarlah, perang sudah selesai!, kalian sudah kalah “

Lagi, lagi dan lagi, Onoda dan orang-orangnya menghiraukan selebaran itu.

Tahun 1952, pemerintah Jepang membuat usaha terakhirnya untuk menarik pasukan tersisa yang bersembunyi di area Pasifik.

Kali ini, tidak hanya tulisan, gambar keluarga mereka juga disertakan agar mereka percaya bahwa perang sudah berakhir.

Rasa nasionalisme yang tinggi membutakan Onoda.

Sekali lagi, Onoda menolak untuk mempercayai semua fakta dan kebenaran tersebut.

Sekali lagi, Onoda menganggap semua hanyalah trik Amerika agar mereka keluar dari tempat persembunyian.

Tahun demi tahun berlalu dan telah menunjukkan angka 1972, Pemerintah Filipina muak dengan keadaan ini.

Dikerahkannya pasukan untuk menyerang balik pasukan Jepang yang tersisa di Lubang.

Satu demi satu teman Onoda mati tertembak.

Sampai teman terakhir Onoda bernama Kozuka juga harus meregang nyawa karena ditembak oleh polisi setempat saat dia membakar sawah. Sampai Onoda bertemu titik dimana dia sendiri.

Mungkin sudah saatnya Onoda menyerahkan diri dan meninggalkan semua ego-nya.

TIDAK!

Onoda memilih tetap bersembunyi dan bertahan di dalam hutan.

Dia memilih tinggal sendiri meskipun itu harus bertahun-tahun. Dan hanya kematian yang bisa menjemputnya.

Tahun 1972, kabar kematian Kozuka sampai juga ke Jepang. Jepang geger karena mereka berpikir bahwa semua prajurit yang tersisa sudah kembali ke rumah bertahun-tahun yang lalu.

Media Jepang mulai penasaran, jika Kozuka masih berada di Lubang sampai tahun 1972, maka kemungkinan Onoda juga masih disana dan menjadi prajurit terakhir yang mungkin masih hidup.

Jepang dan Filipina bekerjasama untuk mencari Letnan kedua, yang sekarang menjadi legenda, pahlawan dan setengah menjadi hantu karena ada tetapi tidak berwujud.

Harapan menemukan Onoda berbuah satu jawaban ” Mereka tidak menemukan apa-apa “

Siang berganti malam, Januari kembali ke Januari, cerita Onoda berubah menjadi Legenda Jepang – pahlawan perang yang terdengar sangat gila untuk ada di dunia ini.

Pada 1974, seorang mahasiswa DO bernama Norio Suzuki memutuskan untuk mengelilingi Filipina, Malaysia, Singapura, Burma, Nepal dan beberapa negara tetangganya. Suzuki ingin mencari 3 hal dalam petualangannya. Seekor panda, manusia salju dan yang pasti, Hiroo Onoda.

Suzuki percaya bahwa dia akan menjadi satu-satunya orang yang berhasil menemukan Onoda.

Tidak bersenjata, tidak terlatih, pemuda ini merekonstruksi medan perang di Lubang dan memulai petualangannya.

Strateginya?

Dia berteriak nama Onoda sekeras mungkin dan mengatakan bahwa kaisar Jepang khawatir padanya.

4 hari saja.

Suzuki menemukan Onoda.

Tapi sayang, meskipun berhasil menemukannya, Suzuki tidak bisa meyakinkan Onoda untuk menyerah.

Onoda hanya akan mau menyerah jika pemimpinnya memerintahkannya untuk itu.

Major Taniguchi sendiri sudah pensiun dan telah menjadi seorang penjual buku.

Suzuki kemudian mengatur jadwal dan menerbangkan Major Taniguchi ke Lubang untuk menemui Onoda.

Cinta 1.0 Disinilah Major Taniguchi memberikan perintah terakhirnya kepada prajurit terakhir Jepang di perang dunia kedua.

Cinta 1.0 Onoda menyerah.

Kalian tahu berapa lama Onoda habiskan hidupnya untuk di hutan tersebut?

29 tahun.

29 tahun seseorang tetap memegang teguh apa yang diperintahkan negaranya.

29 tahun seseorang tetap memegang teguh apa yang dia percaya.

Ferdinand Marcos, yang menjabat sebagai presiden Filipina saat itu memaafkan sepenuhnya tentang apa yang telah dilakukan Onoda selama hampir 30 tahun. Onoda menyerahkan semua senjatanya dan menyerah.

Cinta 1.0 Onoda dan Suzuki mempunyai kesamaan bahwa mereka berdua dibawa oleh keadaan yang disebabkan karena niat dan kepercayaan yang sangat besar untuk mencapai sesuatu.

Setelah menemukan Onoda, Suzuki kembali mencari apa yang dipercayainya. dia berhasil menemukan panda, tapi tidak dengan manusia salju. Suzuki meninggal beberapa tahun kemudian di Himalaya dalam pencarian sia-sianya.

Onoda kembali ke Jepang di tahun yang sama, 1974 dan merasa menjadi seorang pahlawan di negaranya sendiri, seorang selebriti yang diwawancarai dan menjadi pembicara dimana-mana, dan mendapatkan sejumlah uang dari pemerintah Jepang.

Tapi apa yang diharapkannya tidak seperti dengan kenyataan.

Onoda menemukan bahwa Jepang sekarang lebih konsumeris, kapitalis, dangkal dan yang telah kehilangan semua tradisi kehormatan dan pengorbanan yang dijunjung tinggi generasinya dulu.

Onoda mencoba untuk mengerahkan semua kemampuannya untuk menjelaskan nilai Jepang zaman dulu, tetapi masyarakat baru telah tuli dengan cerita lalu itu.

Onoda kemudian menjemput sebuah kesadaran bahwa Jepang yang  telah ditinggalinya dan diperjuangkannya sudah tidak ada lagi.

Kesadaran ini lebih menyakitkan daripada sebuah peluru yang menghujam kaki, pedang yang menyayat leher atau bahkan bom yang meledakkan pasukan.

Onoda menyadari bahwa penderitaannya tidak berarti sama sekali, dan menyadari bahwa 29 tahun terbuang.

1980, Onoda pindah ke Brazil, menetap disana sampai hari akhirnya.

Story Over

Lalu apa hubungannya dengan cinta?

Seperti Onoda yang hanya percaya kepada pemimpinnya, kalian hanya percaya kepada hawa nafsu kalian.

Sekalipun selebaran fakta telah disebar untuk menyadarkan bahwa perang sudah berakhir, Onoda tetap memilih untuk tinggal di hutan selama 29 tahun.

Sekalipun banyaknya kebenaran dan jalan lurus yang telah kalian temui, kalian tetap memilih untuk mempertahankan hubungan semu kalian selama mungkin.

Kalian sering menghiraukan fakta dan kebenaran hanya untuk memenuhi birahi.

Kalian tetap bersikeras menjalin hubungan yang sebenarnya tidak dibenarkan dalam kepercayaan kita.

Atau mungkin kalian ingin merekonstruksi cerita Onoda?

Kalian diberi mandat oleh nafsu kalian.

Kalian berangkat ke medan cinta dan berharap pulang dengan kemenangan.

Hari, bulan, bahkan tahun bukanlah masalah yang berarti untuk mencapai kebahagiaan yang kalian anggap hakiki.

Cinta menyambut, kalian dipertemukan dengan dia yang dirasa sangat menjunjung tinggi nilai, mimpi dan harapan kalian berdua.

Hubungan disambung, it’s connected!

Ukuran lama hubungan seperti dijadikan patokan bahwa kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Kalian putus!

Iya, itu adalah semua penantian yang kalian dapatkan.

Pacaran selama 4, 5 atau bahkan 7 tahun bukanlah yang menjamin itu semua.

Anehnya, kalian dengan gampang mengatakan bahwa ” Mungkin dia belum jodohku “ dan kembali ke siklus awal saat kalian diberi mandat nafsu kalian.

Akan ada dua tipe orang yang melalui kegagalan ini.

  • Pertama, mereka yang menyesal dan kembali ke jalan-NYA.
  • Kedua, mereka yang tidak menyesal dan dibutakan lagi oleh ilusi nafsunya.

Adakah hal yang lebih buruk daripada penyesalan ini?

Ada.

Ketika penyesalan kalian berada pada titik puncak kehidupan, dan ketika hidup sudah tidak bisa lagi memberikan kesempatan untuk bertaubat.

Akhirat bukan dunia yang sesaat.

Akhirat adalah tempat akhir dan tempat abadi.

Akhirat adalah penentu dengan semua perbuatan yang telah kita lakukan didunia.

Apakah kita sudah menerima selebaran kebenaran, mempercayainya dan pulang ke jalan kebajikan?

Atau malah kita sudah menerima selebaran kebenaran, mengacuhkannya dan kembali melanjutkan untuk tinggal dalam kesia-siaan?

Dua cerita diatas mengajarkan kita bahwa…

Satu, jangan menjadi katak yang telah kehabisan tenaga disaat waktu yang dibutuhkan. ( read : Jangan menjadi orang yang selalu bertahan pada hubungan yang memang seharusnya tidak boleh dijalin )

Kedua, jangan menjadi Onoda yang menyesal bahwa semua perjuangannya untuk membela negara sia-sia. ( read : Jangan menjadi orang yang sadar setelah semuanya terlambat )

Jatuh cinta itu tidak haram, apa yang kita lakukan terhadap cinta itulah yang akan membuat cinta itu menjadi haram ataukah halal.

— Sheikh Yasir Qadhi

Kisah cinta terlarang (pacaran) berakhir saat menikah, sementara kisah cinta sejati yang halal dimulai saat menikah dan berakhir dengan masuk surga bersama-sama.

— Dr. Bilal Philips

Dalam Islam, yang ada hanyalah status SINGLE (masih lajang) atau MARRIED (sudah menikah) dan tidak ada istilah Pacaran. Jika kamu mencintai seseorang, maka nikahi dia dan jangan hanya bermain-main dengannya.

— Anonim