Seorang pemuda melakukan percobaan dengan angka. Dia meminta orang yang diwawancarainya untuk menebak sebuah aturan dalam 3 angka. Dia memulai dengan angka 2,4,8, dan meminta narasumber untuk memberikan angka mereka. confirmation bias

Setelah narasumber menjawab, kemudian mereka akan diberitahu apakah tiga angka yang dipilih mereka tersebut masuk kedalam aturan yang dimaksud atau tidak.

Dengan sedikit berpikir dan menerka, narasumber mulai memberikan tiga angka mereka. Mereka memulai dengan angka 16,32,64. Penguji mengatakan bahwa itu masuk ke dalam aturan. Ada yang mengatakan 10,20,40. Lagi-lagi penguji mengatakan bahwa itu masuk dalam aturan.

Sampai ada seorang dari narasumber mengambil sebuah kesimpulan “Jadi, aturannya adalah angka dengan kelipatan 2?”

Dengan tegas, penguji mengatakan ” Tidak, itu bukan aturannya”

Narasumber mulai kebingungan. Angka demi angka terus dicoba sampai narasumber berhasil menemukan apa aturan yang diterapkan ke dalam tiga angka itu.

Tak sedikit dari mereka yang segera ingin tahu apa jawabanya. Tetapi penguji ini terus meyakinkan mereka untuk terus mencoba dengan angka lainnya.

Narasumber memulai lagi dengan angka berbeda, kali ini dengan angka yang acak. Dimulai dengan 2,4,7.

“Itu mengikuti aturannya” 

Tiga angka lainnya terus dicoba oleh narasumber. Penguji terus menjawab bahwa itu mengikuti aturannya. Sampai akhirnya ada titik di mana penguji menemukan jawaban yang tepat karena seorang narasumber menjawab 10,9,8.

“Itu dia, Itu tidak mengikuti peraturannya” Tambah sang penguji.

• • •

Percobaan di atas sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 1960 melalui sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Peter Wason, seorang psikolog Inggris. Dalam percobaannya Wason meminta partisipan untuk menebak aturan tiga angka. Saat itu Wason memulai dengan angka 2,4,6.

Confirmation Bias : Membuat Keputusanmu Lebih Baik

• • •

Tidak masalah  apakah aturan tersebut salah atau benar. Penguji hanya meminta partisipan untuk menyebutkan tiga angka dan bisa mengidentifikasi aturan sesungguhnya.

Dalam percobaan diatas, aturan sesungguhnya sangat simpel, yaitu “angka yang terus naik”, tidak masalah kelipatan 2, 4, 10,1000 asalkan angka itu naik maka jawabannya benar. Tetapi narasumber mengatakan aturan-aturan yang lebih sulit dan spesifik yang justru membuat mereka semakin bingung.

Dalam percobaan ini, Wason kemudian menemukan istilah CONFIRMATION BIAS.

• • •

KITA MEMPERCAYAI APA YANG INGIN KITA PERCAYA

Dalam percobaan diatas narasumber selalu mengambil keputusan terlalu cepat. Mereka menebak bahwa aturan dalam tiga angka tersebut adalah angka kelipatan 2, padahal bukan.

Narasumber mencoba terus, mengambil kesimpulan akan aturan tersebut dan berharap jawabannya adalah “iya”. Tetapi mereka masih juga belum menemukan aturan yang benar.

Kita tak jauh bedanya dengan narasumber itu. Mau bukti?

Katakanlah pasanganmu tidak mengangkat telpon darimu atau membalas pesanmu karena kamu dan dia sebelumnya mengalami sedikit cek-cok. Hal ini kemudian membuatmu mengambil kesimpulan bahwa dia sedang menghindari kamu, atau bahkan yang lebih buruk, kamu beranggapan bahwa dia sedang berselingkuh. Kamu kemudian mencari bukti dengan menelpon temannya, mengirim pesan, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Mengapa ini terjadi?

Kamu percaya bahwa karena cek-cok istrimu menghindarimu dan sedang bermain dibelakangmu. Kamu beranggapan seolah-olah itu semua benar.

Confirmation Bias adalah gangguan mental yang sering terjadi ketika kita lebih mempercayai sesuatu yang mendukung apa yang kita percaya dan menghiraukan sesuatu yang bisa mematahkan apa yang kita percaya.

Kita menutup mata kepada sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita percaya. Hasilnya kita akan mencari bukti yang mendukung apa yang sudah kita percaya.

Kita menganggap bahwa “salah” menandakan bahwa kita tidak pintar dan disalahkan itu sesuatu yang tidak bisa kita terima dengan mudah. Makanya kita lebih mencari bukti yang mendukung kita sehingga akan menunjukkan bahwa kita itu benar.

Tidak herankan mengapa banyak orang yang ngeyel, kolot? Itu semua karena mereka hanya mempercayai apa yang ingin mereka percaya.

A Man recieves only what he is ready to recieve, whether physically, or intellectually, or morally.

— Henry David Thoreau

• • •

CONFIRMATION BIAS DALAM KEHIDUPAN

KEUANGAN

Pada suatu ketika investor mendapatkan hasil tertinggi dalam investasinya. Hal ini kemudian menggiring mereka ke confirmation bias. Para investor menjadi terlalu percaya diri dari hasil dan fakta sebelumnya, mereka mengambil keputusan untuk berinvestasi lebih besar lagi, berkeyakinan akan mendapatkan hasil lebih besar lagi. Mereka kemudian mengesampingkan semua bukti dan data lainnya yang bisa saja membuat mereka rugi bahkan kehilangan semua uangnya.

HUBUNGAN

Ketika kita sedang adu argumen dengan seseorang, kita akan selalu memilih informasi yang mendukung kita dan menggambarkan bahwa lawan bicara kita salah. Bagi kita, hal ini akan membuat kita merasa lebih pintar dan terlihat benar. Sedangkan patner kita akan melihat kita sebagai seseorang yang tidak mau menerima kebenaran sesungguhnya.

KESEHATAN

Setelah berolahraga selama 3 bulan, kamu merasa bahwa tidak ada perubahan yang signifikan atau malah hasil yang nihil. Karena hal ini, kamu memutuskan untuk berhenti untuk berolahraga karena beranggapan itu hanya membuang-buang waktu.

Padahal jika kamu lebih kritis lagi, kamu justru akan bertanya kepada dirimu sendiri, apakah aku sudah benar melakukannya? Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan sehingga hasilnya tidak signifikan? Kemudian kamu akan mencari informasi lagi, berbenah dan memulai olahraga lagi.

• • •

AKIBAT CONFIRMATION BIAS

Confirmation bias bukan merupakan hal yang bisa dianggap sepele. Ketika kita di keadaan ini, banyak hal negatif yang akan kita alami.

BAGAIMANA KITA MENCARI INFORMASI

Ketika kamu di rumah sendirian dan merasa sedih karena dirundung, kamu langsung mencari pelarian untuk melupakan masalah tersebut. Apa itu?

Media sosial.

Katakanlah kali ini kamu membuka Instagram. Kamu melihat orang-orang dengan tubuh yang kamu idam-idamkan. Belum lagi foto liburannya di luar negeri. Senyuman di setiap fotonya menandakan bahwa hidupnya begitu sempurna. Kemudian kamu mulai berpikir bahwa mereka hidup di dalam kehidupan yang hebat, sedangkan kamu hanya sendiri seperti pecundang.

Bukannya berhenti untuk stalking, kamu justru terus mencari informasi yang mendukung sesuatu yang kamu percaya. Hal ini hanya akan membuatmu merasa semakin sedih.

BAGAIMANA KITA MENAFSIRKAN INFORMASI

Teman terbaikmu mungkin bisa menjadi contoh untuk kasus ini.

Dia yang selalu ada disaat kamu membutuhkannya, dia yang selalu menyemangatimu di saat kondisi terbawah dan dia juga yang selalu menjadi seorang yang siap menolong ketika kamu berada dalam kesulitan. Kamu menggambarkan bahwa dia adalah teman terbaik yang dikirimkan Tuhan untukmu. uhhhh!

Suatu ketika terjadi perbedaan pendapat diantara kalian. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kamu menganggap dia sebagai penghianat, menganggap dia orang yang paling bersalah, dan menganggap bahwa dia adalah penyebab dari semua masalah yang timbul.

Kamu mengenal orang yang sama tetapi menganggap mereka berbeda berdasarkan apa yang kamu rasakan.

BAGAIMANA KITA MENGINGAT SESUATU

Dalam sebuah eksperimen klasik, pelajar Princeton dan Dartmouth ditandingkan dalam sebuah permainan. Di akhir permainan itu murid dari Princeton lebih mengingat kesalahan yang dilakukan oleh pelajar dari Dartmouth, dan pelajar dari Darmouth lebih mengingat kesalahan yang dilakukan pelajar dari Princeton.

Kedua grup mempercayai bahwa sekolah mereka jauh lebih baik sehingga mereka lebih mengingat apa yang dilakukan sekolahnya adalah hal yang lebih baik dan benar dan sekolah lawan melakukan hal yang buruk dan salah.

• • •

MENCEGAH CONFIRMATION BIAS

Faktanya confirmation bias adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh setiap individu. Kita tidak bisa mencegah confirmation bias, tetapi kita sangat bisa mencegah hasil negatif yang ditimbulkannya dengan cara tertentu.

SADAR

Kamu harus tahu betul kapan kamu terkena confirmation bias atau tidak. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah“kapan kita di keadaan confirmation bias?”

Kamu ada di fase ini ketika di setiap kejadian, kamu mencoba untuk membuktikan bahwa kamu itu benar.

Solusi?

Jangan terlalu berpaku pada sesuatu yang kamu anggap betul. Cobalah mencari informasi lain melalui pengalaman diri sendiri, orang lain, buku dan sumber-sumber informasi lainnya. Rasa penasaran akan menuntunmu kearah itu.

Dan ketika kamu terbukti salah, jangan jadikan itu sebagai penurun semangat, tetapi jadikan itu sebuah informasi baru yang bisa memperbaiki perspektifmu.

MEMAHAMI KETIDAKSETUJUAN

Kita hidup bukan untuk membuktikan bahwa kita adalah orang yang selalu benar dalam hal apa pun. Kita harus mengerti dengan adanya perbedaan pendapat, justru akan membantu kita untuk mengkaji kembali apakah perspektif kita benar atau tidak. Dengan kata lain kita akan melihat sesuatu tidak hanya dalam satu sudut pandang saja.

Maka ketika kamu merasa kekeuh apa yang kamu anggap benar, segera cari informasi yang kontradiktif dengan itu, kemudian kaji lagi berdasarkan informasi data dan fakta yang ada.

• • •

KESIMPULAN

Seperti apa yang aku katakan diatas bahwa confirmation bias tidak bisa kita hindari. Justru dengan adanya confirmation bias kita lebih bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam mengambil keputusan dan berpikir dahulu sebelum menilai sesuatu.

Pastikan kamu sadar kapan kamu dalam kondisi ini dan gunakan itu untuk menentukan mana yang terbaik dalam hal kesehatan, keuangan, hubungan sosial, dll.

Mengerti betul bagaimana confirmation bias bekerja akan menjadi salah satu modal kita untuk menghindari semua akibat negatif yang bisa ditimbulkan dan membuat kita bisa memutuskan sesuatu lebih rasional.

Next time, Don’t Judge people by their cover!

 

 


FOOTNOTES

  1. Eksperimen pria diatas adalah berasal dari video yang dibuat oleh Veritasium, cek videonya disini jika kalian ingin melihat bagaimana reaksi orang ketika diminta pendapat tentang aturan 3 angka tersebut.
  2. Pengertian, contoh dan sejarah tentang confirmation bias bisa kalian baca secara lebih lengkap di Wikipedia.
  3. Dan juga dibahas oleh Nir Eyal disini

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.