Pada tahun 1900, ibu kota Alabama, Montgomery, Amerika Serikat, mengesahkan dan menetapkan peraturan kota untuk memisahkan penumpang bus berdasarkan ras.

Pembagian penumpang itu sangat terlihat jelas dari denah di bawah ini:

  • Bagian depan (10 tempat duduk) hanya dikhususkan untuk penumpang kulit putih.
  • Bagian tengah (16 tempat duduk) boleh diduduki orang kulit hitam selama tidak ada orang kulit putih yang berdiri. Jika ada orang kulit putih yang membutuhkan tempat duduk, orang kulit hitam harus pindah ke tempat duduk di belakang atau jika tidak ada ruang, bisa meninggalkan bus.
  • Bagian belakang (10 tempat duduk) dikhususkan untuk penumpang kulit hitam.
  • Orang kulit hitam tidak bisa duduk di seberang lorong di barisan yang sama dengan orang kulit putih.
  • Jika orang kulit putih sudah duduk di bagian depan, orang kulit hitam yang akan naik bus hanya diperbolehkan naik di depan untuk membayar ongkos, kemudian turun dan masuk kembali melalui pintu belakang.
  • Supir diberi wewenang untuk menentukan posisi duduk penumpang dalam sebuah perjalanan.

Menurut undang-undang, tidak ada penumpang yang akan diminta untuk pindah, menyerahkan kursi mereka, atau berdiri, jika bus penuh dan tidak ada kursi lain yang tersedia. Namun, fakta di lapangan mengatakan berbeda: Supir bus mengharuskan penumpang kulit hitam untuk pindah ketika tidak ada kursi yang tersisa untuk penumpang kulit putih.

Di hari-hari biasa, apa yang dilakukan supir bus bekerja dengan mudah, tetapi pada hari Kamis, 1 Desember 1955, sesuatu yang berbeda terjadi.

Sekitar jam 6 sore, setelah bekerja seharian, seorang wanita yang bekerja di Montgomery Fair department store, Rosa Parks, menaiki bus Cleveland Avenue milik Montgomery City Lines yang dikemudikan oleh James F. Blake.

Rosa Parks duduk tepat di belakang sepuluh kursi yang disediakan untuk penumpang kulit putih.

Ketika bus itu menempuh rute regulernya, semua kursi untuk penumpang kulit putih sudah terisi penuh. Saat berada di halte ketiga, beberapa penumpang kulit putih naik. Blake memperhatikan bahwa beberapa di antara mereka berdiri karena bagian depan bus telah memenuhi kapasitas.

Blake kemudian menyuruh agar empat orang kulit hitam yang saat itu duduk (termasuk Parks) untuk menyerahkan kursi mereka di bagian tengah sehingga penumpang kulit putih bisa duduk.

“Kalian lebih baik membuat ini menjadi mudah, biarkan aku memiliki kursi itu!” perintah Blake.

3 di antaranya menuruti kata Blake, tetapi tidak dengan Parks yang masih tidak beranjak dari tempat duduknya.

Merasa tidak didengar, Blake bertanya dengan keras, “Kenapa kamu tidak berdiri?

Tidak, aku tidak mau! Aku pikir, aku tidak harus berdiri.”

“Jika kamu tidak berdiri, aku harus memanggil polisi untuk menahanmu.” 

Takut? Pindah ke kursi belakang? Tidak keduanya. Dengan berani, Parks menjawab, “Silakan saja!”

Singkat cerita, Rosa Parks ditangkap.

Dia kemudian mengabari suaminya. Dari satu panggilan itu, berita penangkapan Parks menyebar dan sampai di telinga E. Nixon, seorang pemimpin hak-hak sipil Afrika-Amerika. Malam itu juga, Parks dibebaskan dengan jaminan berkat Nixon.

Nixon justru bersyukur atas kejadian tersebut karena dia telah menemukan orang kulit hitam yang berani jujur dan memiliki integritas yang tidak perlu dipertanyakan lagi untuk menjadi penggugat dalam kasus yang bisa menguji validitas undang-undang segregasi.

Duduk di rumah Parks, Nixon meyakinkan dia, suami serta ibunya, bahwa Parks bisa menjadi penggugat itu. Gagasan lain yang juga muncul adalah orang-orang kulit hitam Montgomery akan memboikot bus-bus pada hari persidangan Parks.

Rencana itu bukan bualan belaka. Menjelang tengah malam, 35.000 selebaran dikirim ke rumah oleh anak-anak sekolah kulit hitam, memberitahu orangtua mereka tentang boikot yang akan dilakukan.

Pada tanggal 5 Desember 1955, Parks dinyatakan bersalah karena melanggar undang-undang segregasi. Parks diberi hukuman percobaan dan didenda $10 ditambah $4 sebagai biaya pengadilan.

Keputusan itu membuat boikot yang terjadi semakin lebih besar daripada yang diperkirakan. Nixon dan beberapa orang berpengaruh lainnya memutuskan untuk mengambil keuntungan dari momentum tersebut. Dia membentuk Montgomery Improvement Association (MIA) untuk mengelola boikot, dan memilih Dr. Martin Luther King Jr. yang saat itu masih berusia 26 tahun, sebagai presiden MIA.

Dr. Martin Luther King Jr. kemudian mengorganisir aksi boikot tersebut di Holt Street Baptist Church dan dalam pertemuan, mereka melahirkan tiga tuntutan:

  1. Mengubah hukum yang mengatakan penumpang Afrika-Amerika harus menyerahkan kursi mereka kepada penumpang kulit putih
  2. Pengemudi bus harus sopan kepada semua penumpang
  3. Mempekerjakan supir bus keturunan Afrika-Amerika

Di tanggal yang sama, peristiwa yang dikenal sebagai Montgomery bus boycott terjadi dan terus berkembang. Drama yang semakin memanas mendapat perhatian dari pers nasional dan internasional. Tidak hanya di situ, ketika kasus naik banding hingga Mahkamah Agung A.S, populasi kulit putih Montgomery marah dan menimbulkan kekerasan di mana rumah Nixon dan Dr. King dibom.

Pada 13 November 1956, sebuah titik terang lahir. Mahkamah Agung memutuskan bahwa segregasi bus tidak konstitusional. Boikot tersebut berakhir pada 20 Desember 1956, sehari setelah perintah tertulis pengadilan tiba di Montgomery.

Keberanian Rosa Parks tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga mengubah hidup banyak orang. Atas kejadian itu, Rosa Parks dikenal sebagai “the mother of the civil rights movement”.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa saya tidak menyerah karena saya lelah, tapi itu tidak benar. Saya tidak lelah secara fisik, atau tidak lebih lelah dari biasanya di akhir hari kerja. Saya belum tua, meskipun beberapa orang memiliki citra saya sudah tua. Saya berumur empat puluh dua. Tidak, satu-satunya yang membuat saya lelah, adalah lelah untuk menyerah.

— Rosa Parks

• • •

Memahami Dunia Ideal Orang Lain

Kualitas kehidupan kita adalah kumpulan dari keputusan yang kita buat. Keputusan yang kita buat akan dipengaruhi oleh dunia ideal kita—kriteria, batasan, dan kebenaran versi diri sendiri dalam melihat dunia.

“Versi diri sendiri” bukanlah sesuatu yang kita bawa sejak lahir, atau muncul secara tiba-tiba. Dia tercipta dari berbagai sumber yang bisa berasal dari nilai yang diberikan orangtua, ilmu dari buku yang dibaca, pelajaran dari pengalaman hidup, perintah agama, atau hasil meniru orang-orang yang ada di lingkungan.

Beragamnya input yang didapat dan bervariasinya hasil seleksi yang dilakukan oleh setiap individu sangat menjelaskan mengapa dunia ideal setiap orang akan berbeda-beda.

Seperti Parks dan Blake, mereka memiliki dunia ideal yang bertolak belakang. Meskipun begitu, mereka berdua sama-sama benar. Alasannya karena mereka mendasarkan pada dunia ideal mereka masing-masing—Parks mendasarkan keputusannya pada hak yang dimiliki setiap orang. Sedangkan Blake mendasarkannya pada hukum yang berlaku.

Kontradiksi dunia ideal seperti itu akan mudah kita jumpai sekarang ini. Lihat saja di kolom komentar media sosial. Di sana kamu akan bisa menemukan banyak hal yang diperdebatkan dan tak jarang orang-orang yang terlibat saling menolak kebenaran satu sama lain untuk memvalidasi kebenaran versi dirinya sendiri.

Mereka memiliki keinginan yang besar untuk menunjukkan bahwa cara pandang mereka adalah yang paling tepat. Bahkan, menyalahkan atau mencemooh mereka yang memiliki sudut pandang berbeda adalah sesuatu yang pantas dan berpikir jika orang lain mengadopsi pemikiran yang sama, masalah akan terselesaikan.

Di satu titik, kita mungkin menganggap orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan, lancang, atau terlalu mencampuri kehidupan orang lain, tetapi kamu dan aku, sebenarnya juga tidak lepas dari kecenderungan yang sama—berusaha mengubah seseorang jika mereka menyuguhkan realitas yang berlawanan dengan dunia ideal kita. Mungkin tidak dalam dunia maya, tetapi iya dalam dunia nyata.

Kita berusaha mengoreksi seseorang yang memiliki prinsip X. Kita mencoba mengkritisi seseorang yang percaya dengan Y. Kita menyalahkan seseorang yang melakukan tindakan Z.

Andai saja semua hal bisa ditempatkan pada keranjang hitam atau putih, salah atau benar, seperti jujur itu baik (putih), mencuri itu buruk (hitam), kita akan lebih mudah menyelaraskan dunia ideal kita dengan orang lain.

Sayangnya, realitas menyajikan banyak hal abu-abu yang diperlakukan secara berbeda oleh setiap isi kepala, seperti gaya hidup, kebiasaan sehari-hari, cara mencapai kesuksesan, cara mengekspresikan diri, dll, sehingga menyamakan dunia ideal kita dengan orang lain adalah misi yang mendekati ketidakmungkinan.

Kita bisa melihat bahwa ujian terberat kita bukanlah bagaimana cara membentuk dunia ideal, tetapi melepaskan perasaan superior bahwa dunia ideal milik kita—yang seringkali didasarkan pada hal abu-abu—lebih baik daripada milik orang lain.

Memahami perbedaan antara mana hal yang bisa dikategorikan hitam-putih dengan mana hal yang abu-abu akan menjadi pengubah permainan sesungguhnya.

• • •

Masalah Berkontribusi dengan Dunia Ideal

Ungkapan terakhir tadi hanya mudah dalam bentuk tulisan, tetapi dalam tindakan nyata, kita masih akan sering melihat dunia ideal orang lain sebagai kesalahan yang harus diperbaiki. Faktor terbesar mengapa kita memaksakan dunia ideal milik kita adalah ingin mendapatkan kebahagiaan karena telah berkontribusi.

Untuk memahaminya, kita membutuhkan konteks.

Sekitar 12.000 tahun yang lalu, ada kelompok nomaden prasejarah yang dikenal sebagai hunter-gatherer. Mereka memanfaatkan penggunaan api, mengembangkan pengetahuan untuk bercocok tanam dan memperbarui alat untuk berburu saat mereka menyebar dari Afrika ke Asia, Eropa dan seterusnya.

Salah satu peneliti, James Woodburn, mengklasifikasikan mereka menjadi dua kategori: immediate-return dan delayed-return.

Immediate-return menjelaskan bahwa hunter-gatherer akan langsung mengonsumsi makanan mereka dalam 1-2 hari. Sedangkan delayed-return akan menyimpan kelebihan makanan untuk di lain hari. Dengan kata lain, orang-orang yang hidup dengan sistem immediate-return adalah orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan atau manfaat secepat mungkin daripada mereka yang hidup dengan sistem delayed-return.

Zaman yang serba maju sekarang ini memang memudahkan kita untuk terjebak dalam sistem immediate-return. Contoh umumnya, kita lebih memilih mengunjungi media sosial yang bisa memberikan efek bahagia secara langsung daripada mengerjakan tugas yang hadiahnya masih harus kita tunggu.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sistem immediate-return juga seringkali menjadi pemandu kita. Kita memiliki keinginan untuk mencari keuntungan secepat mungkin yang salah satunya bisa kita dapatkan dengan memberikan kontribusi. Dengan berkontribusi, kita semakin merasa berguna. Semakin kita merasa berguna, semakin bahagia diri kita.

Dalam bukunya Courage to be Disliked, Fumitake Koga yang bekerjasama dengan Ichiro Kishimi menuliskan…

Contribution to others does not connote self-sacrifice. Adler goes so far as to warn that those who sacrifice their own lives for others are people who have conformed to society too much. And please do not forget: We are truly aware of our own worth only when we  feel that our existence and behavior are beneficial to the community, that is to say, when one feels “I am of use to someone.” Do you remember this? In other words, contribution to others, rather than being about getting rid of the “I” and being of service to someone, is  actually something one does in order to be truly aware of the worth of the “I”

Terjemahan secara bebas: Kontribusi kepada orang lain tidak berkonotasi pengorbanan diri. Adler (red: pendiri psikologi individual) bertindak lebih jauh dengan memperingatkan bahwa mereka yang mengorbankan hidup mereka sendiri untuk orang lain adalah orang-orang yang terlalu banyak menyesuaikan diri dengan masyarakat. Dan tolong jangan lupa: Kita yang benar-benar menyadari nilai diri kita sendiri hanya ketika kita merasa bahwa keberadaan dan perilaku kita bermanfaat bagi masyarakat, yaitu ketika seseorang merasa “Aku berguna bagi seseorang.” Kamu ingat ini? Dengan kata lain, kontribusi kepada orang lain, alih-alih menghilangkan “aku” dan melayani seseorang, sebenarnya adalah sesuatu yang seseorang lakukan untuk benar-benar menyadari nilai dari “aku”.

Katakanlah ada seseorang yang meninggalkan komentar jahat di media sosial pada postingan yang berlawanan dengan dunia ideal mereka. Hal itu dilakukan karena mereka sedang memburu keuntungan secara instan—bisa didengar, dimengerti, dihargai oleh orang yang sepemikiran dengan mereka berupa like atau komentar yang mengiyakan (bagaimanapun pendapat seseorang di dunia maya, akan selalu saja ada yang sepemikiran dengan mereka, bukan?).

Keuntungan yang berhasil mereka dapatkan memberikan perasaan bahagia karena mereka merasa berguna telah berkontribusi di masyarakat.

Sebenarnya, berkontribusi dengan nilai yang hanya dipercayai adalah hal yang sah-sah saja. Kita memang perlu melakukan itu untuk menuntun kita pada tujuan yang ingin kita capai, tetapi masalah akan timbul ketika kita hanya mau berkontribusi dalam masyarakat komunitas kecil—komunitas yang sejalan dengan nilai kita saja.

Tindakan seperti itu akan menggiring kita untuk menjunjung tinggi kebenaran diri dan komunitas kita saja serta menolak segala hal yang berlawanan dengan itu. Jika orang tersebut memiliki dunia ideal yang sama, kita saling berkompromi. Sedangkan yang berlawanan kita anggap sebagai seseorang yang tersesat dan jauh dari kebenaran.

Aku tidak bisa menyalahkan tindakan itu karena keputusan yang mereka buat dihasilkan dari pikiran rasional dengan segala acuan-acuannya. Aku hanya menyayangkan saja jika kita melihat kehidupan dari kacamata yang kecil. Kata Joseph Fort Newton, seorang pendeta Baptis Amerika, “Orang-orang terlalu banyak membangun tembok, dan tidak cukup jembatan.”

Iya, ketika kita mengunci diri untuk hanya berkiblat pada kebenaran komunitas kecil atau diri sendiri, itu sama artinya kita sedang membangun tembok. Kita menutup diri dari realitas lain yang sebenarnya memiliki nilai yang bisa kita gunakan untuk memperbesar pemahaman tentang manusia.

Berkontribusi dalam lingkaran yang sempit, seperti Blake yang mendasarkan keputusannya pada hukum kala itu, akan memberi kita alasan untuk memaksakan kehendak dalam dunia yang berisi manusia heterogen dan memberi makan ego untuk merendahkan orang lain. Akhirnya, tidak jarang kontribusi yang kita berikan hanya berujung pada perpecahan dan perasaan negatif.

Sebaliknya, membuka diri adalah cara untuk membangun jembatan. Itu tidak mengartikan bahwa kita harus melupakan dunia ideal kita. Itu mengartikan bahwa kita harus menghargai dunia ideal orang lain dengan nilai-nilainya. Kita tidak menolak dunia ideal yang bertentangan untuk melihat, memeriksa, dan mencari nilai apa yang bisa memperbaiki kehidupan kita.

Parks memberi tahu kita secara tidak langsung bahwa kita harus menomorsatukan komunitas besar—kemanusiaan,—agar kontribusi yang diberikan melahirkan ketenangan, keamanan, kebahagiaan, dan kedamaian tanpa melukai siapa pun.

Jiddu Krishnamurti, seorang filsuf dari India, menjelaskan bahwa ketika kamu menyebut dirimu orang India atau Muslim atau Kristen atau Eropa, atau apa pun, kamu bersikap kejam. Apakah kamu melihat mengapa itu kejam? Karena kamu memisahkan diri dari umat manusia. Ketika kamu memisahkan dirimu karena keyakinan, karena kebangsaan, karena tradisi, itu melahirkan kekejaman. Jadi seseorang yang berusaha memahami kekejaman dengan tidak melibatkan negara, agama, partai politik atau sistem parsial, dia peduli dengan pemahaman lengkap tentag umat manusia.

Dengan memahami kemanusiaan, kita mendapat alasan untuk tidak lagi memaksakan kehendak sendiri dan paham bahwa apa yang kita anggap sebagai masalah belum tentu masalah bagi orang lain. Kita akan melihat manusia dengan segala keunikannya sebagai seorang teman yang sedang sama-sama belajar. Kita akan selalu bisa mengedepankan dialog yang sehat dan menghargai hasil pemikiran yang mereka berikan.

Ini akan menjadi tugas seumur hidup yang tidak mudah, tetapi setidaknya kita memiliki patokan tujuan yang lebih sehat dari “Ingin hal eksternal menerima dan menerapkan dunia ideal kita,” menjadi “Bertukar pikiran untuk mengambil pelajaran dari dunia ideal orang lain”.


FOOTNOTES

  1. Kamu bisa membaca lebih lengkap cerita hidup Rosa Parks di sini: Rosa Parks (Wikipedia), Rosa Parks (History.com), Interview With Rosa Parks, The Boycott is Working, Montgomery bus boycott