Berbeda-beda tetapi tetap satu. egois

Itulah semboyan bangsa kita, Indonesia. Semua dilandasi oleh keberagaman budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Tetapi, apakah kita selalu mempraktikkan semboyan diatas dalam kehidupan sehari-hari?

Nyatanya tidak!

Akan ada banyak kasus yang terjadi di sekitar kita, dari hal yang sepele sampai hal yang sensitif. Tetapi, ada satu hal yang sangat menarik perhatianku terkait dengan perbedaan pendapat.

Ketika dihadapkan pada sebuah diskusi, akan ada momen dimana persilangan pendapat terjadi. Dan itu adalah hal yang wajar.

• • •

Suatu hari, aku dan teman-temanku membuat jadwal untuk bertemu dan menghabiskan akhir minggu. Di waktu itu juga, kami menjumpai momen dimana kami berdiskusi. Mulai dari hal sepele seperti “kapan kamu nikah?” sampai “bagaimana sebuah roket dirakit?.” Ayolah, kami tidak sepintar itu!

Pertanyaan demi pertanyaan yang dibuat mengharuskan kami untuk memberi pendapat. Jika itu pendapat yang berbasis data mungkin bukanlah sebuah masalah karena fakta yang berbicara. Tetapi ketika itu menyangkut pendapat berdasarkan pengalaman dan keyakinan, tak jarang perdebatan dimulai.

Dan di momen itulah sebenarnya kita bisa belajar dari orang yang terlibat. Kita bisa mengamati bagaimana cara satu dengan lainnya dalam menanggapi pendapat.

  • Akan ada orang yang ketika terjadi sebuah perbedaan pendapat, mereka dengan mudahnya mengumpat, mencaci, menghina orang yang tidak sependapat dengan mereka.
  • Akan ada orang yang ketika terjadi sebuah perbedaan pendapat, mereka akan diam untuk mendengar, mendengar untuk mengerti.

Orang tipe pertama menggambarkan bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa mereka benar, dan yang lain salah. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka lebih baik, dan yang lain lebih buruk.

Mereka menunjukkan ketidaksetujuan dengan cara langsung dan menyakitkan. Risikonya, mereka menjadi orang yang tidak disukai oleh orang yang tersakiti.

Orang tipe kedua menggambarkan bahwa mereka ingin memahami perbedaan yang ada, tanpa adanya emosi, tanpa adanya perselisihan.

Mungkin sekarang, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang tipe kedua adalah orang yang sangat baik, tidak lupa untuk berempati, dan perlu dicontoh.

Tetapi, bagaimana kalau sebenarnya orang tipe kedua sama saja dengan orang tipe pertama, hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang berbeda?

Bagaimana kalau orang tipe kedua juga memiliki resiko merenggangkan sebuah hubungan?

Dan bagaimana kalau orang tipe kedua sebenarnya adalah diri kita?

• • •

Sekarang mari kita sama-sama berefleksi kepada diri sendiri!

Peernah nggak sih kamu menemukan dirimu merasa kesal ketika ada orang yang tidak sependapat denganmu?

Mungkin kamu hanya diam dan tidak mengutarakannya, tetapi di dalam hati, sebenarnya kamu sedang membicarakan mereka, kamu sedang bertarung dengan kalimat “kenapa sih orang ini tidak setuju denganku?” atau “kenapa sih orang ini ngeyel banget“.

Bahkan yang lebih buruk, terkadang kita akan berperilaku dan bersikap secara berbeda ketika harus dihadapkan dengan orang itu lagi.

Mungkin kita akan menghindari mereka untuk mencegah perasaan jengkel itu datang lagi.

Mungkin kita akan menjawab “ya” tanpa diiringi dengan kesetujuan yang sesungguhnya.

Percaya atau tidak, setiap dari kita pernah mengalami 3 fase dalam melihat perbedaan pendapat:

  • Pertama, kita berasumsi bahwa mereka tidak tahu. Kita lupa bahwa setiap orang tidak memiliki akses informasi sama seperti kita. Justru, ketika mereka memiliki pendapat yang sebenarnya salah, kita bisa menyampaikannya dengan rendah hati dan tidak menggurui, itu akan bisa memberikan sebuah tolak ukur pada mereka.
  • Jika asumsi pertama tidak bekerja dan kita tahu betul bahwa mereka memiliki informasi yang sama, tetapi tetap memberikan pendapat yang tidak sejalan, kita akan masuk ke asumsi bahwa mereka bodoh. Itu semua karena mereka tidak bisa menyusun potongan puzzle secara benar. Di tahap ini kita mengalami superiority complex, dimana kita merasa lebih baik dari mereka. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki bidangnya masing-masing.
  • Meskipun mereka memiliki informasi yang sama dan bahkan sebenarnya mereka adalah orang yang pintar, kita masih saja membuat asumsi, mereka tahu kebenaran tetapi mendistorsinya untuk tujuan jahat mereka sendiri.

• • •

Apa sifat egois yang masih kita lakukan tanpa kita sadari?

Kita masih berpikir bahwa orang lain harus melihat keluar di jendela yang sama dan melihat hal yang sama.

menyikapi perbedaan pendapat

Coba lihat gambar diatas!

Setiap orang memiliki ukuran jendela yang berbeda.

Setiap orang memiliki tinggi rendah jendela yang berbeda.

Setiap orang memiliki pemandangan yang berbeda.

Dan itulah yang membuat dunia ini tidak membosankan.

Perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang harus kita perdebatkan dengan cara yang tidak santun, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jangan menganggukkan kepala jika setuju, jangan menggelengkan kepala jika tidak setuju. Cari tahu mengapa dan dari mana mereka mendapatkan pendapat tersebut.

Jika sudah, terimalah, tanpa adanya penghakiman, tanpa adanya perselisihan!

The miracle of your mind isn’t that you can see the world as it is. It is that you see the world as it isn’t.

— Kathryn Schulz

egois egois


FOOTNOTES

  1. 3 fase dalam diatas diambil dari materi Kathryn Schulz yang berjudul On being wrong saat menjadi pembicara di TED.
  2. Pengecualian itu selalu ada. Pendapat yang aku bahas diatas adalah pendapat yang tidak memiliki unsur menghina, mengecam, atau mengarah ke hal-hal negatif lainnya. Sekalipun iya, selesaikan dengan kepala dingin dan tetap sans.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.