Artikel ini dibuat karena keresahanku terhadap bagaimana kita yang masih lupa apa itu empati.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita samakan arti empati terlebih dulu.

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

KBBI

Mungkin kita sudah sama-sama sering mendengar, bahkan mengerti 101% bagaimana empati itu bekerja. Sederhananya sih, empati adalah kemampuan kita menempatkan diri di sepatu orang lain.

Terdengar mudah.

Terdengar sepele.

Tapi kenyataannya?

Kita (sangat sering) lupa dalam menerapkannya.

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan kita lupa bagaimana menerapkan rasa empati. Tetapi kali ini aku akan membahas 2 hal yang sangat sangat krusial dan selalu kita hadapi di zaman ketelanjangan dunia lewat internet.

Dua hal tersebut berkaitan dengan :

  1. Pilihan.
  2. Ilmu pengetahuan.

• • •

1. PILIHAN

Ada seorang temanku yang sedang merintis bisnis.

Akupun sebagai temannya sangat senang sekali jika melihat bagaimana temanku berani melangkah untuk sesuatu yang memang di inginkannya.

Semua terlihat lancar dan terkendali.

Bahkan sering juga dia membuat status tentang perkembangan bisnisnya.

Suatu hari, aku menemukan bahwa ada masalah dalam statusnya.

Dia membukanya dengan sebuah potongan cerita bagaimana dia dulu yang sempat diremehkan oleh teman-temannya, tetapi berhasil membuktikan keberhasilannya dengan jerih payahnya sendiri. Poin positif bukan?

Selanjutnya, kalimat setajam pedang ditancapkan dibelakang curahan hati tersebut. Dia menilai bahwa posisi yang dicapainya sekarang jauh lebih baik dibanding teman-teman yang sempat meremehkannya.

Mission complete?

Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Iya, karena temanku bisa memenuhi egonya untuk membuktikan siapa dia sekarang.

Tidak, karena siklus pertemanan mereka berubah menjadi hubungan yang tidak sehat.

• • •

Aku melihat dua orang yang saling tidak bisa menghargai satu sama lain.

Aku melihat dua orang yang ingin menunjukkan bahwa dirinyalah yang terhebat.

Aku melihat dua orang yang ingin menunjukkan bahwa apa yang dipilih adalah yang terbaik.

Aku melihat dua orang yang ingin mengumbar kejelekan orang lain di khalayak umum ( sosmed ).

Aku melihat dua orang yang tersesat.

Aku mengambil waktu untuk berpikir dan merenung…

…”Jika aku diposisi mereka, apakah aku melakukan hal yang mereka lakukan? Aku rasa jawabannya iya”

Seketika aku sadar dan mulai menyelami dalamnya lubang hitam masa lalu.

Disana aku melihat diriku yang tidak jauh dengan mereka berdua.

• • •

Berapa kali kita menghadapi kejadian-kejadian berikut ini :

  • Mereka yang memiliki bisnis sendiri mengejek mereka yang masih bekerja dengan orang lain.
  • Mereka yang menyukai musik jazz menghina mereka yang menyukai musik dangdut.
  • Mereka yang sudah menikah mencemooh mereka yang masih jomblo.
  • Mereka yang mengidolakan A mencibir mereka yang mengidolakan B.
  • Mereka yang sudah bekerja mengolok-olok mereka yang masih menganggur.
  • Mereka yang membeli barang-barang mewah mencaci mereka yang membeli barang tak bermerk.
  • Mereka yang memiliki hobi A menghujat mereka yang memiliki hobi B.

Hei, kita yang disebut manusia. lupakah kita bahwa kita berbeda?

Lupakah kita bahwa setiap orang memiliki preferensi masing-masing?

Lupakah kita bahwa setiap orang memiliki keadaan hidup masing-masing?

Lupakah kita bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing?

Lalu, kenapa kita berani menjadi juri yang seakan-akan berhak menghakimi suatu hal yang sepenuhnya bukanlah ranah kita?

Itu pilihan mereka. Itu hidup mereka.

Selama mereka tidak menganggu aku, kamu, kita dan masyarakat, kenapa harus meninggikan diri dan merendahkan orang lain?

Ada apa dengan kita? Sepenting itukah arti pelabelan “lebih hebat” dari orang lain?

.

.

.

Miris!

Ternyata, kita memang payah.

Kita manusia yang lupa dengan manusia.

• • •

ALASAN KENAPA KITA LUPA

Aku yakin 90% bahwa kamu pernah menjumpai atau bahkan mengalami hal-hal diatas.

Tapi, apa sih yang membuat kita seperti itu?

Penyebab utamanya adalah Superiority complex.

Istilah ini diciptakan oleh Alfred Adler, seorang dokter medis Austria, psikoterapis, dan pendiri sekolah psikologi individu.

Superiority complex atau kompleks Superioritas diperkenalkan dalam seri bukunya, termasuk “Understanding Human Nature” dan “Social Interest“.

Menurut Adler, setiap manusia akan mempunyai titik dimana dia merasa rendah diri. Ini sebenarnya adalah hal yang baik, karena perasaan rendah diri memotivasi kita untuk terus berjuang agar tujuan yang kita tetapkan bisa terlaksana.

Tetapi kadang-kadang, orang tidak mampu mengatasi standar baru yang berhasil mereka capai. Mereka akhirnya berakhir dengan kompleks superioritas, yang merupakan perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan.

Ciri-cirinya?

Mudah.

Kesombongan yang terpendam di dalam diri tiba-tiba keluar dengan luar biasa.  Mereka akan selalu senang menceritakan kisah aneh, hebat, menakjubkan, luar biasa, semata-mata hanya untuk tetap berada di pusat perhatian.

Mereka lebih sering membual daripada mendengarkan!

orang sok tahu

Oh ya satu lagi, orang yang terjatuh dalam kompleks superioritas ini akan mempunyai pendapat tentang segala sesuatu, terlepas dari mereka memiliki pengetahuan tentang subjek atau tidak. Atau dengan kata lain mereka adalah “orang sok”.

Orang-orang superior juga mengindikasikan kurangnya Emotional Intelligence. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan empati dan memahami apa yang orang lain rasakan.

Mereka selalu berada di zona “Oh, aku tahu itu” dan “aku lebih baik daripada kamu dan mereka”. Mereka tunduk pada pemikiran yang berlebihan.

• • •

CARA MENGATASI SUPERIORITY COMPLEX

Oke, jika kita merasa pernah menjadi mereka, itu adalah hal baik. Artinya kita telah mencapai hal terpenting dalam mengubahnya, yaitu pengakuan.

Sekarang, saatnya kita mendalami cara-cara yang bisa kita gunakan agar tidak menjadi orang yang sok dalam segala hal.

1. JANGAN TERBAWA PUJIAN

Dihargai orang lain adalah hal yang bisa membuat kita bahagia. Lagi-lagi hal ini akan bisa menimbulkan 2 efek.

Pertama, pujian ini akan membuat kita semakin termotivasi untuk melakukan lebih dan lebih.

Kedua, melakukan hal lebih bisa juga bisa membuat kita kehilangan kendali yang malah akan membuat kita menjadi pembual kelas kakap. Meninggikan diri dan merendahkan orang lain.

Maka, anggaplah bahwa pujian itu bernilai nol.

Kita tidak akan menjadi lebih baik, dan juga tidak akan menjadi lebih buruk. karena yang membuat kita untuk itu hanyalah tindakan setelah mendapat pujian. Maka, terima dengan biasa dan lanjutkan apa yang sedang kita kerjakan. Tidak lebih dari itu!

2. TINGGALKAN PENGHAKIMAN

Masih ingat dengan artikel “Jangan Menilai Orang Lain! Yakin Bisa?” ?

Hanya karena kita memiliki A tidak mengartikan bahwa kita lebih baik dari mereka.

Hanya karena kita mampu melakukan B tidak mengartikan bahwa kita lebih hebat dari mereka.

Memang benar jika terkadang lidah ini lebih cepat daripada pikiran kita. Tak jarang kita akan berakhir dengan penyesalan karena ketidakmampuan dalam menjaga lisan yang lebih tajam dari sebilah pedang ini.

Ingat, semua orang memiliki spesialisasinya masing-masing. Sekalipun memiliki tujuan yang sama, kita harus sadar bahwa kita memiliki cara yang berbeda. Maka kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menghakimi dan merendahkan orang lain.

3. BELAJARLAH MENDENGARKAN

Kita memang lebih suka bercerita tentang diri kita sendiri, sampai kita lupa bahwa sebenarnya hal yang tidak seharusnya keluar harus dibebaskan dari hati melalui mulut.

Saatnya kita belajar untuk mendengarkan lebih. Mendengarkan untuk mengerti, bukan mendengarkan untuk menjawab.

Saatnya kita tempatkan diri kita di keadaan mereka.

Saatnya kita memberi saran sesuai dengan apa yang diminta, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Dan disaat bersamaan kita telah berhasil menang dalam melawan ego untuk selalu menjadi nomor satu.

• • •

2. ILMU PENGETAHUAN

Kita kembali ke waktu dimana bangku sekolah adalah tempat bersandar paling indah.

Di bangku ini juga, kita sering menghabiskan waktu bersama. Mengerjakan PR, bermain nggak jelas, bahkan tempat paling mengerti untuk tidur di jam pelajaran membosankan.

Hari indah itu ternyata tidak selalu ada di setiap harinya. Akan ada jam-jam dimana kita tidak bisa berkutik sedikitpun karena pelajaran yang kita anggap sulit atau karena guru yang kita anggap killer.

Satu, dua, tiga, dan materi itu terus mengalir dan masuk kedalam telinga dan pikiran kita.

Seakan tidak mau berhenti dan menetap di dalam otak, materi-materi ini justru kembali keluar melalui telinga lainnya.

Dengan segenap kekuatan, diri ini meyakinkan mulut untuk memberanikan diri bertanya.

“Bu/Pak, saya masih belum mengerti, bisa dijelaskan lagi?”

Dan seketika perbandingan itu datang lagi…

“Kamu ini gitu aja nggak paham-paham, lihat si A tuh, gampang ngertinya bla…bla..bla…”

Ya, jika ada pertanyaan kenapa kita, siswa, menjadi pelajar yang pasif, salah satunya adalah karena guru kita mengajari untuk itu.

• • •

Atau jika ada waktu, aku minta kamu untuk membuka akun/kanal yang menyajikan berita terpanas yang terdapat di sosial media atau Youtube.

Jelajahilah kolom komentar dan kamu akan menemukan beberapa komentar yang tidak jauh dari kata-kata ini :

“Gobl*k, gitu aja nggak tahu”

“Tolol, bla…blaa…blaa”

“Lah, jadi orang jangan kelewatan bodohnya, bla…blaa.blaa”

Pernahkan kita menemukan diri kita di posisi yang sama?

Pasti!

Mari berhenti sejenak, dan saatnya kita renungkan bersama.

  • Apakah jika kita tahu A, maka B juga sudah tahu?
  • Apakah jika kita sadar C, maka D juga dipastikan sudah sadar?
  • Apakah jika kita mengerti E, maka F juga sudah pasti mengerti?

Aku yakin pasti kamu tahu jawabannya : TIDAK.

Jika pertanyaan-pertanyaan diatas menghasilkan jawaban tidak, lalu kenapa kita masih memberi kata-kata yang sepatutnya tidak kita ucapkan secuilpun?

Lagi-lagi, kenapa kita merasa lebih baik dari mereka?

Apakah dengan mengetahui lebih dulu kemudian itu berarti kita memiliki hak untuk mencaci maki mereka?

Apakah dengan sadar lebih dulu berarti kita memiliki hak untuk menghina mereka?

Tidak!

Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan dan hak menilai kualitas mereka.

Kita, manusia yang mudah menarik kesimpulan, manusia yang sering lupa menempatkan diri terlebih dulu di sepatu orang lain.

Kita ada bukan untuk mengutuk kegelapan, tapi untuk menyalakan lilin yang bisa membimbing kita melalui kegelapan itu ke tempat yang aman dan masa depan yang bijaksana.

— John F. Kennedy

• • •

Tapi kenapa kita seperti itu? Kenapa kita sering sekali menghina seseorang yang belum mengetahui sesuatu sekalipun hal itu sederhana?

Alasannya adalah karena kita terjebak dalam bias kognitif  bernama The Curse of Knowledge.

Adalah keadaan dimana semakin kita tahu hal-hal yang tidak diketahui orang lain semakin kita sulit menempatkan diri di sepatu mereka dan lupa bagaimana rasanya tidak memiliki pengetahuan tersebut.

apa itu empati

Pada tahun 1990, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Stanford di bidang psikologi bernama Elizabeth Newton mengilustrasikan curse of knowledge dengan mempelajari permainan sederhana di mana ia menugaskan orang yang dibagi menjadi dua kelompok : “pengetuk” atau “pendengar.”

Tugasnya adalah, setiap pengetuk diminta untuk memilih lagu yang terkenal dan familiar, seperti “Selamat Ulang Tahun,” dan mengetuk ritme lagu tersebut di atas meja.

Sedangkan pendengar hanya disuruh untuk menebak lagu tersebut.

Sebelum percobaan dimulai, Newton meminta para pengetuk untuk memperkirakan kemungkinan pendengar menebak dengan benar. Hasilnya, mereka memperkirakan 50%.

Percobaan dimulai dan 120 lagu telah diketuk.

Hasilnya jauh dari apa yang diperkirakan oleh pengetuk. Pendengar hanya bisa menebak tiga lagu dengan benar (rasio keberhasilan 2,5%).

Kenapa itu terjadi?

Itu semua karena ketika pengetuk melakukan tugasnya, pengetuk tidak hanya mendengar ketukannya di meja saja, tetapi juga irama dalam kepalanya, dan hal itulah yang tidak di dengar oleh pendengar.

Hal yang menarik adalah, para pengetuk terkejut karena melihat sulitnya para pendengar menebak lagu-lagu yang dimainkan.

Satu hal yang bisa kita ambil adalah, pengetuk tidak sadar bahwa semua pendengar sebenarnya hanya mendengar sesuatu semacam kode Morse yang aneh.

Dari sini kita sekarang tahu bagaimana pengetahuan bisa “mengutuk” kita dan melakukan hal yang menutup hati dan mata.

• • •

KATAKAN TIDAK PADA CURSE OF KNOWLEDGE

Saatnya kita mengubah hal ini. Karena semakin kita tidak menyadarinya, kita akan selalu menyepelekan orang lain.

Bagaimana caranya?

Hanya satu cara yang bisa kita lakukan. Jangan berasumsi!

Terkadang apa yang kita tahu membuat kita meyakinkan diri bahwa itu adalah hal yang sederhana, mudah, dan semua orang pasti tahu.

Kita lupa bahwa selalu ada pengecualian.

Maka, ketika kita menemukannya, jangan menghakimi, jangan mencaci dan jangan mengejek.

Sadarlah bahwa kita adalah salah satu jembatan agar mereka bisa melaluinya, tanpa adanya hambatan berupa penghakiman.

• • •

RASA VS LOGIKA

Kita sampai pada akhir artikel ini. apa itu empati

Dari dua hal diatas, kita akan menjumpai diri kita pada keadaan rasa vs logika. Siapa yang menang?

Ketika kita menjumpai seseorang yang memiliki pilahan berbeda, kita akan merasa bahwa mereka adalah orang aneh, orang yang payah, orang yang memiliki selera rendah.

Ketika kita menjumpai seseorang yang memiliki ketidaktahuan akan sesuatu, kita akan merasa bahwa mereka bodoh, tidak gaul, tidak mengerti perkembangan zaman.

Kemudian rasa kita tertarik oleh emosi dan menghasilkan amarah, sinis, sombong. Dan pada akhirnya keluarlah semua kalimat kebun binatang yang malah memperburuk keadaan.

Jika kita bisa berhenti dan berpikir jernih, logika akan mendukung kita untuk menahan semua emosi yang ada itu demi satu tujuan : damai dalam perbedaan.

Kita harus ingat, bahwa kemarahan tidak akan membuat mereka mengubah pilihannya.

Kita harus ingat, bahwa kesombongan tidak akan membuat mereka mengubah preferensinya.

Kita harus ingat, bahwa cacian tidak akan membuat mereka tahu.

Kita harus ingat, bahwa hinaan tidak akan membuat mereka mengerti.

Jika pada akhirnya dengan cara buruk diatas mereka bisa berubah, aku yakin pasti mereka memiliki rasa sakit hati yang amat dalam.

Jika memang ada pandangan yang berbeda, selesaikanlah dengan tenang, tanpa ada pertikaian.

Hai kawan, saatnya kita berubah.

Semua orang memiliki keunikannya masing-masing.

Semua orang memiliki keahliannya masing-masing.

Jika semua masih dalam batas aman, jangan pernah menyentuh mereka sedikitpun.

Karena perbedaan diantara kita menghasilkan kekuatan.

apa itu empati apa itu empati apa itu empati apa itu empati apa itu empati 


FOOTNOTES

  1. Keterangan tentang superiority complex bisa kamu baca lebih lengkap di Wikipedia – Superiority complex, How to overcome your Superiority Complex?, An Insight into the Concept of Superiority Complex in Psychology.
  2. Penjelasan tentang curse of knowledge bisa kamu baca di Wikipedia – Curse of knowledge, Harvard Business Review – The Curse of Knowledge.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.