rangkuman essentialism

Essentialism: The Disciplined Pursuit Of Less menunjukkan kepada kita bahwa kita bisa mencapai kehidupan yang kita inginkan dengan memilih sesuatu yang sedikit.

Memilih sedikit di atas adalah disiplin diri tentang cara memprioritaskan hidup kepada hal-hal terpenting saja, mengatakan “tidak” kepada hal yang tidak kita butuhkan dan memberika satu kesimpulan bahwa less is more.Essentialism: The Disciplined Pursuit Of Less

My Reading Notes

  • Proporsi nilai dasar dari essentialism adalah ketika kita memberi izin kepada diri kita untuk berhenti mencoba segala hal, berhenti mengatakan “ya” kepada setiap orang, sehingga kita bisa membuat kontribusi tertinggi terhadap sesuatu yang sangat penting bagi kita.
  • Seorang essentialist tahu bahwa essentialism bukan tentang membuat rencana tahunan dan mengatakan “tidak” kepada semua hal, bukan tentang mempelajari banyak hal baru. Tetapi, ini tentang berhenti sejenak dan bertanya “Apakah aku sedang menginvestasikan diriku kepada hal yang tepat?”
  • Tidak semua hal yang kita pilih adalah hal yang penting. Seringkali, secara tidak sadar, kita melakukan sesuatu yang sebenarnya sepele dan tidak memberikan dampak besar kepada hidup kita.
  • Seorang essentialist bisa membedakan pilihan yang ada dan hanya memilih hal yang benar-benar penting.
  • Essentialism bukan tentang menyelesaikan banyak hal, tetapi tentang menyelesaikan hal yang tepat.
  • Ketika kita memberikan fokus kita kepada banyak hal, kita hanya akan kehilangan banyak energi dan menghasilkan sesuatu yang kecil. Tetapi, jika kita hanya memberikan fokus kepada satu hal saja, kita akan menghemat banyak energi dan menghasilkan sesuatu yang besar. Essentialism tidak mengenal multitasking!
  • Seorang essentialist hidup dalam sebuah rancangan. Sedangkan nonessentialist hidup dalam sebuah kelalaian.

Remember that if you don’t prioritize your life someone else will.

  • Essentialism adalah sebuah kedisiplinan, pendekatan sistematis dalam penentuan dimana kontribusi tertinggi kita berada, kemudian mengeksekusinya dengan fokus.
  • Menjadi seorang essentialist adalah jalan untuk hidup dalam kontrol atas pilihan-pilihan kita. Jalan di mana tidak hanya membuat kita puas dengan tujuan, tetapi juga menikmati setiap prosesnya.
  • Semua akan berubah ketika kita memberi diri kita izin untuk lebih selektif dalam apa yang kita pilih.
  • Kita sering menekankan lebih aspek eksternal (pilihan) dan kurang menekankan kemampuan internal untuk memilih (aksi.)
  • Seorang essentialist mengetahui bahwa ketika kita menyerah pada sebuah pilihan, kita memberi pillihan lainnya kekuatan.
  • Ketika dihadapkan pada sebuah pilihan, kita tidak bisa mengambil semua manfaatnya. Ketika kita memilih satu hal, kita mengorbankan hal lain. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa memilih adalah berdagang.
  • Untuk memilih, berilah kesempatan untuk berpikir agar mendapat kejelasan. Sikap proaktif sangat diperlukan agar keputusan yang dibuat bisa membawa kita kepada perbaikan.
  • Belajarlah dari seorang jurnalis. Mereka tidak hanya bergantung kepada informasi yang tersedia, tetapi juga menemukan sesuatu yang bernilai dari apa yang mereka cari dan dapatkan. Maka, jadilah jurnalis untuk hidupmu sendiri dan lihat gambaran besar tentang hal apa saja yang sesuai dengan nilaimu.
  • Melakukan hal yang di mana jarang ada orang yang melakukannya akan membawa kita pada pengetahuan, peralatan dan keahlian untuk menjadi tokoh utama dalam kehidupan.
  • Menolak permintaan seseorang berbeda dengan menolak sebuah hubungan atau orang tersebut. Jangan takut mengatakan tidak kepada hal yang tidak kita inginkan!

When you say ‘yes’ to others, make sure you aren’t saying ‘no’ to yourself.
— Paulo Coelho

  • Semua orang menjual sesuatu (ide, pendapat, sudut pandang,) kepada kita dan hal itu akan ditukarkan dengan waktu kita. Maka bijaklah dalam memutuskan!
  • Ketika kita menolak permintaan seseorang, kita akan mengorbankan perasaan kita dan perasaannya dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, kita akan bisa mencapai kebahagiaan dari sesuatu yang kita anggap lebih penting, dan mereka bisa lebih menghargai waktu dan diri kita.
  • Secara alami, kita percaya istilah “jangan kehilangan,” dan itu berlaku untuk apa pun. Alhasil, kita sering mempertahankan sesuatu yang sebenarnya hanya membuang waktu. Kita akhirnya terjebak Sunk Cost Fallacy.
  • Seorang essentialist tahu bahwa satu hal yang bisa mereka harapkan adalah ketidakpastian. Jadi, mereka selalu mempersiapkan diri setiap saat untuk bereaksi secara tepat. Sedangkan non-essentiatist selalu berpikir tentang skenario terbaik, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri.
  • Essentialist memfokuskan diri pada halangan yang harus dihilangkan, bukan pada usaha atau hal lain yang harus ditambah.
  • Essentialist selalu memulai dari hal kecil terlebih dulu, sehingga membuat mereka tenang dan menghasilkan sesuatu dengan maksimal. Non-essentialist lebih suka mengerjakan hal besar di akhir waktu dan malah membuatnya keteteran dan menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal.
  • Essentialist memfokuskan dirinya di waktu sekarang. Non-essentialist memfokuskan dirinya di masa lalu dan di masa depan.

Whatever desicion or challenge or crossroads you face in your life, simply ask yourself, “What is essential?” Eliminate everything else.

Essentialism: The Disciplined Pursuit Of Less

Essentialism: The Disciplined Pursuit Of Less

MENIKMATI CATATAN BUKU SEPERTI INI?

Aku merangkum setiap buku yang aku baca. Baca rangkuman lainnya di sini!