Fundamental Attribution Error : Aku Benar, Mereka Salah (Titik)

Fundamental Attribution Error : Aku Benar, Mereka Salah (Titik)

Hari yang terik menemaniku saat itu.

Sebuah tugas menuntutku harus menempuh perjalanan antar kota.

Kupersiapkan semua hal, kunyalakan mesin motorku, dan kutarik gas yang ku pegang perlahan-lahan.

Di tengah perjalanan aku harus berhenti karena sebuah warna lampu lalu lintas di sebuah perempatan.

Oke, tidak masalah bagiku“, itulah ucapan warga negara yang ingin mengedepankan keselamatan.

Hitungan mundur menuju hijau sudah tampak nyata di depan, 5, 4, 3, 2, 1, Go!

Melajulah motorku, dan disitulah aku kehilangan keseimbangan.

Seorang pemuda yang berlawanan arah, dengan kencangnya memotong jalan didepanku, itu semua karena dia mengejar sebuah lampu hijau pada sisi perempatan lainnya.

*******” itulah ekspresi rasa jengkelku yang hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Dalam hatiku ocehan itu masih berlanjut, ” Sembrono sekali orang itu, bagaimana kalau sampai, apa yang dipikirannya, udah sekolah masih saja bod**

• • •

Hari memberikan lembaran baru, pena hidup siap untuk dituliskan pada hari itu.

Sebuah acara yang harus dihadiri tepat waktu, harus aku kejar, karena sebuah keteledoranku menata waktu.

Bukan panas yang menemaniku kali ini, sebuah rahmat yang turun dengan derasnya. Hujan.

Tak bisa aku berpikir dua kali lagi, jas hujan yang sudah kupakai memaksa diri untuk memulai perjalanan.

Perempatan di depan mata, lampu hijau menunjukkan hitungan mundur.

Sial, hanya ada 5 detik untuk melewatinya.

Kubuka kaca helmku untuk memastikan pandangan yang jelas, kutancap gas dan kulepas rem.

Hati bergumam ” Semoga masih sempat, karena ini bisa menghemat waktu untuk sampai ke tujuan

2 detik lagi dan 20 meter harus ku tempuh.

Yes aku berhasil.

Bukan isyarat jalan, melainkan isyarat berhenti.

Remku akhirnya berfungsi juga, hampir kutabrak motor yang mendapatkan haknya untuk jalan dari sisi lain.

” Tak mengapa lah, ini kan hujan, aku juga lagi buru-buru, aku kan melakukannya sekali ini, biasanya juga nggak pernah kok. Oke, ini bukan salahku! “

Familiar dengan cerita diatas?

Kenapa kita hanya selalu memaklumi dan berbuat baik kepada diri sendiri, dan menilai orang seenak hati kita?

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, aku ingin memberi tahu bahwa buku panduan tentang cara membuang dan membangun kebiasaan ( di dukung dengan ilmu ilmiah ) sudah bisa kamu download. Ingin merubah kebiasaan dan hidup?  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis 

• • •

AKU BENAR, MEREKA SALAH ( TITIK )

Jika setelah membaca cerita diatas, kamu merasa bahwa selama ini itulah kenyataan yang kamu sering lakukan. Itu merupakan sebuah titik balik!.

Sekarang, saatnya kita belajar bersama, kenapa hal itu terjadi? Adakah alasan kenapa kita selalu merasa benar, dan mereka selalu salah?

Ucapkan selamat datang pada bintang kita hari ini, Fundamental Attribution Error.

Juga dikenal sebagai bias korespondensi atau efek atribusi, adalah kecenderungan untuk percaya bahwa apa yang dilakukan orang lain mencerminkan siapa mereka karena kita hanya menekankan faktor internal ( sifat, kepribadian ), daripada faktor eksternal ( lingkungan, sebab lain ).

— Wikipedia

Jika kamu masih bingung, ada satu contoh lain yang sering kita temui atau bahkan kita alami sendiri.

Ketika pasanganmu melakukan kesalahan, kamu menuduhnya karena masalah itu berasal darinya. Kamu percaya bahwa pasanganmu adalah orang yang ceroboh, malas, tidak setia, dll.

Kamu sama sekali tidak memikirkan faktor eksternal yang membuat masalah itu terjadi. Kamu hanya berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah cerminan bagaimana dan siapa dia.

Tetapi, ketika kamu yang melakukan kesalahan, dengan sekuat hati kamu akan mempertahankan dirimu, dan menganggap bahwa semua hal yang terjadi adalah karena situasi yang diluar kontrolmu. Kamu menyerahkan semua masalah kepada dunia luar, dan menganggap dirimu yang paling benar.

Contoh kedua adalah ketika kamu menonton bioskop. Ketika ada orang yang terlambat datang dan menganggu kenikmatanmu menonton, kamu akan berpikir bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak tepat waktu dan orang yang tidak bisa menghargai orang lain.

Tetapi, ketika kamu yang terlamabat, kamu memaklumi keadaan, dan menyalahkan sesuatu yang yang diluar tanggung jawabmu.

Kasus lainnya ketika kita melihat sebuah keberhasilan orang lain. Saat kita dalam kondisi benar, kita akan berpikir bahwa keberhasilan yang orang lain dapat adalah karena usaha keras mereka, itu semua adalah hasil jerih payah dan hasil itu semua memang pantas mereka dapatkan.

Tetapi, ketika peran Fundamental Attribution Error ini berada pada diri kita, kita akan beranggapan dan percaya bahwa keberhasilan yang mereka dapat adalah karena mereka adalah orang yang beruntung, atau yang parah adalah karena mereka orang yang curang, yang menghalalkan segala cara,

Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.

— HR. Bukhari Muslim

• • •

NITIZEN OH NITIZEN!

Nitizen adalah orang yang paling benar!

Oke, faktanya memang kita masih saja menjumpai masyarakat kita yang sering berkomentar atau mengkritik suatu hal dengan cara yang tidak sepatutnya.

Mereka menganggap merekalah yang paling benar, dan siapa yang di nilai mereka adalah orang yang salah.

Fundamental Attribution Error : Aku Benar, Mereka Salah (Titik)

Kita masih sering terjebak dalam bias lain, yaitu confirmation bias. Di bias ini kita hanya ingin mempercayai sesuatu yang mendukung dugaan kita sebelumnya.

Hal ini kemudian menggiring kita untuk tidak mencari bukti lain kenapa hal itu terjadi. Kita lupa bahwa ada kemungkinan lain yang membuat hal itu terjadi, tetapi kita buta akan hal itu.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita melihat mereka sebagai penyebab masalah utama. Kita tidak melihat penyebab lain yang mungkin saja adalah sumber masalah utamanya.

Tetapi, ketika menyangkut kesalahan kita sendiri, kita menyadari bahwa itu semua terjadi karena faktor luar yang tidak bisa kita kendallikan. Kita akan bersikap netral terhadap diri sendiri, dan mengkambinghitamkan hal lain.

Ups, jangan khawatir. Fundamental Attribution Error bisa juga memberikan dampak positif terhadap kita. Jika kita berhasil dalam suatu hal, ini akan membuat kita merasa baik karena kita merasa percaya diri ( menganggap bahwa semua keberhasilannya karena dirinya sendiri ).

Sebagai contoh, sebuah studi tentang lulusan perguruan tinggi yang tidak bekerja menemukan mereka yang menghargai keberhasilan mereka untuk diri mereka sendiri, lebih mungkin untuk mencari pekerjaan daripada siswa yang cenderung menyalahkan diri sendiri karena kegagalan.

Para peneliti percaya siswa yang melihat hal-hal dengan cara yang lebih mandiri lebih termotivasi dan optimis tentang masa depan mereka.

Yang menjadi poin penting adalah, Fundamental Attribution Error akan tetap selalu memberikan dampak negatif jika kita tidak bisa menyadari dan mengubahnya.

Don’t be angry with people who don’t have the capacity to change.

• • •

SAATNYA KITA BERUBAH

Masih denganku? Bagus!

Jika kita masih merasa sering melakukan error ini, saatnya kita untuk berubah.

Ingatlah satu hal, setiap orang selalu memiliki pilihan untuk berubah, tetapi tidak semua orang mengambil kesempatan itu.

Error ini sangat merugikan kita dalam banyak hal, lalu bagaimana cara mengatasinya?

1. TEMPATKAN DIRIMU MENJADI MEREKA

Kita lebih cenderung terperangkap error ini ketika kita membuat penilaian terlalu cepat terhadap orang lain.

Maka, ketika kita menemukan diri kita bersikap kritis terhadap perilaku orang lain, jangan salahkan siapa mereka, tapi salahkan apa yang mereka lakukan. Disinilah kita akan berlatih untuk membangun kritik yang benar. Tanpa cemooh, tanpa umpatan.

Berpura-pura berada di posisi orang yang kita salahkan akan membuat kita lebih baik dan kurang menghakimi.

Misalnya, seperti tadi, ketika ada orang yang memotong jalan kita secara tiba-tiba dan berakhir dengan umpatan kita, atau pilihan lainnya adalah, mungkin pengemudi sedang dalam perjalanan yang membutuhkannya segera ( rumah sakit, dll ).

Kita memang tidak akan pernah tahu apakah itu benar atau tidak, dan bukan juga membela mereka yang melakukan pelanggaran lalu lintas.

Poinnya adalah, kita harus tetap bisa berpikir sejernih mungkin, tanpa harus ada pertengkaran, dan kerugiaan yang lebih banyak. Alangkah baiknya jika kita mengambil pelajaran dari mereka, daripada mengeluarkan energi untuk mengumpat.

Inilah kekuatan berempati.

Kemarahan kita tidak akan mengubah situasi yang sudah terjadi dan hanya akan membuat kita stres. Sebelum mengambil kesimpulan dan menilai sesorang, cobalah berpikir tentang hal positif.

2. KITA HANYA MANUSIA

Kita adalah tempat salah dan dosa, maka tidak sepantasnya kita menghakimi seseoarang yang melakukan kesalahan. Itu sama artinya kita harus bersedia dihakimi orang lain karena kesalahan kita. tetapi masalahnya adalah kita tidak mau itu. Kita hanya mau menghakimi tanpa mau dihakimi.

Dengan menyadari bahwa mereka sama seperti kita, kita akan memiliki cara pandang yang berbeda. Bukan menghakimi, kita akan lebih bisa mengulurkan tangan untuk membantu dan berkontribusi untuk mereka.

Bersabar, tenang, santun dan tetap memegang teguh kepada kebenaran.

• • •

KESIMPULAN

Pada akhirnya, semua akan membutuhkan ilmu. Ketika kita mau belajar dan menerapkannya, kita tidak hanya bisa mengubah hidup sendiri, tetapi juga bisa mengubah hidup orang lain.

Dengan memahami error ini, kita akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, terutama dalam hal menilai orang. Kita juga akan belajar bagaimana berempati terhadap orang lain.

Pahamilah, bahwa apa yang kita lihat masih berada pada satu sisi.

Your life doesn’t get better by chance, it gets better by change.

— Jim Rohn