Kamu melihat kesempatan baru di depan matamu. Kamu mengambilnya dengan antusias yang tinggi, jiwa yang menggebu-gebu dan rancangan bayangan masa depan yang dibuat seindah mungkin sebagai hadiah besar yang akan kamu dapatkan. Hal baru bisa membuatmu tersesat. 

Semua berjalan normal, hingga suatu hari, kamu merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Kamu merasa bahwa ada yang hilang dari dalam dirimu, atau kamu merasa bahwa apa yang kamu lakukan tidaklah mencerminkan dirimu, atau apa yang kamu lakukan hanya membuatmu melangkah ke jalan yang salah.

Jika kamu pernah merasakan hal di atas, maka kita sama.

Beberapa minggu ke belakang, aku mencoba memulai sesuatu yang sudah lama aku rencanakan—berjualan. Meskipun dibantu dengan seorang teman, hal itu masih membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dari merencanakan hal-hal yang diperlukan dan hal yang harus dilakukan, sampai mengeksekusinya menjadi tindakan nyata.

Semua hal itu adalah tantangan baru. Aku bisa menemukan kesempatan dan jalan baru untuk berkembang. Tetapi, yang menjadi persoalan adalah di saat yang bersamaan, aku juga harus mengorbankan aktivitas lainnya. Bukan karena tidak memiliki cukup waktu, tetapi karena tidak memiliki cukup tenaga.

Dari beberapa aktivitas yang aku tinggalkan, ada satu aktivitas yang paling membuatku merasa kehilangan—membaca buku. Satu hari, dua hari, tiga hari, aku merasakan bahwa bukanlah sebuah hal besar jika aku tidak membaca buku. Tetapi, lama-kelamaan, aku merasa bahwa aku telah kehilangan banyak momen “aha”.

Apakah kamu masih ingat bahwa “kebiasaan” tidak bisa kita hilangkan, tetapi hanya bisa kita ganti? Kasusnya sama.

“Berjualan” membuka pintu baru dengan mengambil waktu dari aktivitas “membaca buku”. Jika aku lakukan secara terus menerus, lama-kelamaan, membaca buku bukan aku lihat lagi sebagai kebiasaan, tetapi sebagai kegiatan yang akan membebaniku.

• • •

MENGAPA KITA (MERASA) TERSESAT

Jika kamu ingin menuju ke sebuah tujuan yang belum pernah kamu singgahi, kamu akan mencari tahu jalan untuk menuju ke sana. Sekarang, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan GPS. Atur lokasi kita sekarang, atur tujuan kita, ikuti jalan dan kamu sampai.

Tetapi, hidup kita tidak seotomatis itu. Hidup kita ini seperti mencari jalan secara manual menggunakan peta. Kita harus mencari jalan sendiri dan mengukur jalan mana yang bisa membawa kita ke tujuan lebih cepat. Setelah semuanya siap, kita akan memulai perjalanan dan akan selalu membawa peta tersebut.

Peta itu sama seperti mimpi-mimpi kita, tujuan-tujuan kita, keingingan-keinginan yang ada di dalam hidup kita. Apa pun kamu menyebutnya, mereka semua adalah petunjuk ke mana kita harus pergi. Itu bisa menjadi dokter, berkuliah di luar negeri, membuka bisnis, memiliki X, dll.

Jadi, mengapa kita (merasa) tersesat?

  1. Kita tidak memiliki peta, kita hanya mengikuti apa yang ada di depan kita sekalipun itu sebenarnya bukanlah hal yang kita inginkan dan butuhkan. Kita lupa bahwa tidak semua hal layak untuk diperjuangkan. Kita akan semakin mudah berpindah jalan tanpa tujuan yang pasti.
  2. Kita lupa membaca peta, jalan yang menunjukkan keindahannya membuat kita seringkali lupa. Kita memilih berhenti untuk menikmatinya hal lainnya. Itu tidaklah salah karena yang kita lakukan hanyalah menghiraukan sesuatu yang sedang menunggu kita di sana, lupa bahwa sesuatu yang di sana harus segera didatangi, mengabaikan bahwa waktu dalam hidup ini terus berjalan maju, acuh bahwa waktu dalam hidup ini semakin sedikit, tidak melihat bahwa prioritas kita telah berubah, tidak sadar bahwa ada hal yang sedang kita lewatkan.

• • •

THOREAU’S NEW ECONOMIC

Ini adalah Henry David Thoreau.

Henry David Thoreau

Seorang penulis esai, penyair, dan filsuf dari Amerika. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah buku yang berjudul Walden—berisi tentang refleksi kehidupan sederhana di lingkungan alami.

Cal Newport, professor ilmu komputer di Georgetown University, melihat Thoreau sebagai ekonom dan menuangkan idenya ke dalam bukunya yang berjudul Digital Minimalism. Newport membahas tabel dalam bab pertama Walden—ekonomi—yang merupakan bab terpanjang. Tabel itu adalah tabel biaya yang berisi:

Henry David Thoreau

Newport menuliskan…

Tujuan Thoreau dalam tabel tersebut adalah untuk menangkap dengan tepat (tidak secara puitis atau filosofis) berapa biaya untuk menunjang hidupnya di Walden Pond—gaya hidup, seperti yang ia katakan panjang lebar dalam bab pertama, memuaskan semua kebutuhan dasar manusia: makanan, perlindungan, kehangatan, dan sebagainya. Thoreau kemudian mengontraskan biaya-biaya tersebut dengan upah per jam yang bisa didapat dengan kerja kerasnya untuk sampai pada nilai akhir yang paling ia pedulikan: Berapa banyak waktu yang harus dikorbankan untuk mendukung gaya hidupnya yang minimalis? Setelah memasukkan angka-angka yang dikumpulkan selama eksperimennya, ia memutuskan bahwa mempekerjakan tenaganya hanya satu hari per minggu sudah cukup.

Trik pesulap untuk memindahkan satuan ukuran dari uang ke waktu adalah inti baru dari apa yang oleh filsuf Frédéric Gros disebut Thoreau’s new economics, sebuah teori yang didasarkan pada aksioma yang dibangun Thoreau di awal Walden: “Biaya sebuah hal adalah jumlah dari apa yang saya sebut sebagai kehidupan yang harus ditukar untuk itu (hal yang kita kerjakan), segera atau dalam jangka panjang.”

Mari kita ke contoh.

Katakanlah mengerjakan satu projek akan menghasilkan keuntungan sebesar 1 juta dan mengerjakan 10 projek akan menghasilkanmu 10 juta. Maka, dengan kata lain, untuk meningkatkan keuntungan, kamu harus mengerjakan lebih banyak projek.

Tetapi, dalam Thoreau’s new economic, hitungan di atas mengartikan bahwa kamu akan membutuhkan lebih banyak waktu dalam hidup untuk mendapatkan 9 juta keuntungan tambahan.

• • •

PENERAPAN THOREAU’S NEW ECONOMIC

“Apakah lupa membaca peta bisa membuat kita tersesat?”

Tentu saja. Lupa membaca peta akan membuat kita ragu jalan mana yang harus kita lalui, membuat kita menghabiskan waktu pada hal yang belum tentu sejalan dengan tujuan awal kita. Sedangkan membaca peta bisa memberikan gambaran di mana kita berada, dan apa saja yang telah kita lalui. Dia akan menjadi petunjuk di saat kita kehilangan arah. Dia akan memberi tahu kita jalan mana yang salah dan jalan mana yang benar. Hal ini menegaskan prinsip Thoreau’s new economic.c

Tapi, bukankah kita bisa kembali lagi ke jalur utama jika kita mendapatkan kerugian dari lupa membaca peta?

Iya. Tetapi apakah kamu sadar berapa waktu yang kamu butuhkan untuk melakukan hal di luar tujuanmu? Ukuran yang tidak jelas akan membuatmu semakin kehilangan detik dalam hidup hanya untuk mencari sesuatu yang di luar rencana. Hal ini sejalan dengan Thoreau’s new economic.

Jadi, bagaimana cara menerapkan Thoreau’s new economic ketika kita dipertemukan dengan kesempatan baru/jalan baru/tantangan baru/hal baru?

1. LAKUKAN DAN DAPATKAN FAKTANYA

Seperti yang pernah aku bahas di artikel Menciptakan Karya? I Don’t Give A Kcuf!, tugas pertama kita ketika ada kesempatan baru yang sejalan dengan mimpi kita adalah mengambil dan melakukannya dengan efektif dan sebaik mungkin.

Tapi, kita kan diharuskan untuk fokus pada tujuan awal? Betul. Dan itu tidak mengartikan bahwa kita harus menghiraukan kesempatan lain yang mungkin saja membawa kita ke tempat yang lebih baik.

Ingat, tujuan kita adalah untuk mendapatkan fakta!

Jika videografi adalah hal baru yang kamu jalani, maka kerjakanlah terlebih dulu. Fakta yang akan kamu dapatkan dari hasil karyamu antara lain: bagaimana kemampuanmu dalam mengambil video, apa saja yang harus kamu perbaiki, bagaimana hasil editan videomu, dll.

Jika membangun bisnis adalah tantangan baru yang kamu ambil, maka kerjakanlah terlebih dulu. Fakta yang akan kamu dapatkan dari memulai berbisnis adalah: bagaimana produkmu, apakah produkmu diterima pasar, apa saja yang menyebabkan penjualanmu kurang maksimal, apa yang harus kamu maksimalkan, dll.

Fakta-fakta yang kamu dapatkan akan memberimu sebuah pencerahan tentang apa efek yang diberikan kepada dirimu sendiri dan tujuan awalmu.

2. BAWALAH PETAMU KEMANA PUN KAMU PERGI

Iya, kamu memang mendapatkan jalan baru. Iya, kamu memang ingin mencapai salah satu daftar dalam petamu. Iya, kamu memang berusaha keras untuk itu.

Pertanyaanya, apakah kamu sadar bahwa ada hal yang kamu korbankan ketika berproses dalam mencapai hal baru tersebut?

Seperti yang dikatakan Thoreau…

…keep calculating, keep weighing. What exactly do i gain, or lose?

Tetaplah menghitung, tetaplah menimbang. Apa yang sebenarnya aku dapatkan, atau lewatkan? Kalimat itu menegaskan bahwa kita harus membawa dan melihat peta kita setiap saat.

  • Apakah aku masih berada dalam jalur yang benar karena adanya hal baru itu? Jika tidak, apa yang harus aku lakukan?
  • Apakah hal baru itu memiliki efek yang buruk terhadap tujuan lain? Jika tidak, bagaimana caranya agar aku bisa memaksimalkannya?
  • Apakah aku harus menjadikan hal baru itu sebagai prioritas utama? Aktivitas apa yang akan aku korbankan?

Selalu ingatlah untuk mengevaluasi apa yang kamu dapatkan dan apa yang kamu lewatkan.

3. AMBIL KEPUTUSANMU SECARA BIJAK

Jika semua pertimbangan telah dibuat, sekarang saat kamu membuat keputusan akhir. Jika kamu bingung, ingat satu ini—ambil sesuatu yang paling penting dan paling memberi dampak positif dalam hidupmu.

Apa pun itu, pastikan kamu tidak mengorbankan keuntungan besar hanya untuk keuntungan kecil, apalagi kehilangan keuntungan besar hanya untuk kerugian yang tidak kamu sadari.

• • •

PENUTUP

Kenyataan pahit itu selalu ada dan aku tidak akan membuatmu melupakannya. Kenyataan pahit itu adalah tidak ada yang menjamin bahwa kamu akan sampai ke tujuan awalmu!

Kamu bisa saja memasukkan Y sebagai salah satu mimpimu, tetapi di tengah perjalanan kamu bisa saja dipertemukan Z yang kemudian malah menjadi pemberhentian terakhirmu.

Apa pun yang kamu capai, ingatlah bahwa itu adalah hasil keputusanmu secara sadar, hasil evaluasimu, dan hasil pengorbananmu terhadap mimpi lainnya. Adanya penyesalan mengartikan bahwa kamu tidak mengevaluasi apa yang kamu lakukan dengan benar.

Iya, hal baru bisa membuatmu tersesat jika kamu tidak menimbang dan menghitung keuntungan yang kamu dapatkan.

Ask yourself at every moment, “is this necessary?”

— Marcus Aurelius

hal baru bisa membuatmu tersesat hal baru bisa membuatmu tersesat hal baru bisa membuatmu tersesat

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.