Jika kamu menemukan lampu ajaib dan bisa meminta tiga permohonan, apa yang akan kamu minta? Harta yang tidak akan habis sampai 8 turunan? Antibodi yang mampu melawan segala bakteri, virus, dan racun? Atau menjadikan junk food sebagai makanan sehat?

Setiap orang akan memiliki imajinasinya masing-masing, tetapi jika kamu bertanya satu di antara tiga permohonan tersebut, aku akan memilih hubungan yang baik.

Ahhh, sekarang, lupakan kemustahilan itu, dan mari kembali ke realitas. Di dunia nyata, menjalin sebuah hubungan akan menjadi hal yang rumit karena kita harus tahu dengan siapa kita berbicara, bagaimana kita menyampaikan pembicaraan, bagaimana cara menanggapi lawan bicara, dan daftar masih akan terus berlanjut.

Ada aturan-aturan tak tertulis yang jika tidak kita patuhi, sebuah hubungan akan berakhir dengan perselisihan, atau hal terburuk yang bisa terjadi, kita menganggap hubungan itu tidak pantas diperbaiki dan diperjuangkan lagi. Dengan tingkat kerusakannya masing-masing, kita pasti pernah mengalami hal semacam itu dengan seseorang.

Kontaminasi dari teknologi juga memengaruhi kualitas sebuah hubungan. Iya, teknologi memang membuat kita terhubung dengan lebih mudah. Itu adalah kepastian yang tidak bisa kita pungkiri lagi. Lihat saja pasangan LDR yang bisa saling berhubungan dengan begitu mudah dan cepat, atau juga anak rantau yang bisa bertukar kabar dengan keluarganya.

Masalahnya, di sisi lain, teknologi juga mengubah cara pandang kita terhadap orang lain. Sekarang, jika ada seseorang yang terlambat membalas pesan atau telepon dari kita, perasaan marah akan lebih mudah tersulut karena kita percaya bahwa cepat tidaknya seseorang menanggapi kita adalah sebuah tolok ukur apakah orang lain menghargai kita atau tidak. Pengambilan keputusan yang terlalu cepat membuat kita buta hati dengan kondisi berlawanan yang melengkapi kenyataan utuhnya. Akhirnya, tak jarang, hubungan itu sendirilah yang menjadi korban.

Lebih dalam lagi, kita ini memang cenderung menuntut dalam sebuah hubungan, entah itu persahabatan, percintaan, orangtua dengan anak-anaknya, karyawan dengan bosnya. Kita hanya berpikir tentang diri kita dan apa yang bisa ditawarkan orang lain. Kita hanya akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Hubungan kita itu transaksional.

Itu dijelaskan dengan baik oleh seorang filsuf Jerman yang terkenal dengan filosofi dialognya dan pernah menyabet 7 kali Penghargaan Nobel untuk Perdamaian, Martin Buber.

hal yang paling sulit dalam sebuah hubungan

Pada tahun 1923, Buber menulis esai tentang keberadaan, Ich und Du,—karyanya yang paling terkenal—yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai I and Thou. Buber menjelaskan bagaimana cara kita, manusia, berinteraksi atau berhubungan dengan manusia dan objek lain yang ada di dunia. Buber membagi hubungan itu ke dalam: I-It dan I-You.

• • •

I-It: Hubungan yang Didasarkan pada Manfaat

Buber menamai hubungan pertama sebagai I-It, sebuah hubungan antara subjek—diri kita sendiri (I)—dan juga objek (It). Hubungan ini didasari oleh pengalaman dan manfaat.

Menggunakan telepon pintar (objek mati) adalah contoh sederhananya. Kita berhubungan dengan teknologi tersebut hanya karena kita melihat adanya manfaat yang diberikan.

Masalahnya, secara tidak sadar, kita juga menggunakan I-It dalam berinteraksi dengan manusia (objek hidup). Pernyataan itu akan sulit untuk kita terima jika kita tidak mau mencoba kritis dan jujur terhadap diri sendiri.

Gambaran mudahnya adalah ketika kita marah, mengeluh, dan merasa dimanfaatkan oleh orang lain dalam sebuah hubungan, kita menganggap orang tersebut sebagai parasit—hanya datang ketika membutuhkan kita dan hilang seperti asap yang diterpa angin ketika kita membutuhkan mereka.

Kita seperti tutup mata bahwa kita juga sering memainkan peran yang sama. Ketika kita mendengar keluhan seorang teman, kita sebenarnya hanya mengejar status sebagai teman yang baik. Ketika kita memberikan bantuan yang teman kita butuhkan, kita sebenarnya memperjuangkan nilai diri di mata mereka. Ketika kita memfokuskan perhatian kepada pasangan, kita sebenarnya menginginkan kesetiaan mereka kepada kita.

Kamu lihat di sana? Kita sama-sama menjadikan pemenuhan kebutuhan sebagai nilai tukar dalam sebuah hubungan secara sadar ataupun tidak. Kita melihat orang lain sebagai objek yang bisa memenuhi tujuan kita. Dan, dalam banyak kesempatan, jika orang yang dimaksud tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, memberi mereka label negatif dipandang sebagai kewajaran.

Emosi yang terlibat di sana bukan lahir karena hubungan, tetapi lahir dari puas tidaknya diri kita karena reaksi yang diberikan objek tersebut. Dengan kata lain, apa yang mendasari hubungan kita bukanlah cinta, tetapi keuntungan apa yang bisa diberikan objek kepada diri dan hidup kita.

Di fase ini kita tidak melakukan dialog, tetapi monolog.

• • •

I-You: Hubungan yang Didasarkan pada Kenyataan

Dikotomi kedua adalah I-You, sebuah hubungan yang didasari pada kenyataan. Kita tidak memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan apa pun. Kita melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki pemikiran yang unik, pengambil tindakan yang berbeda, dan kejutan dengan ketidakpastiaannya.

Ketika kita melihat seseorang sebagai subjek, kita tidak akan terpengaruh dengan kemungkinan perubahan karena kita melihatnya sebagai jalan kehidupan yang membentuk harmoni, sebagai rasa hormat terhadap realitas.

Jika temanmu tidak sama seperti dulu lagi, tidak akan ada perasaan marah atau kecewa karena kamu melihatnya sebagai hal yang wajar—manusia yang selalu berubah dan kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari.

Di fase ini, kita tidak memperlakukan orang lain dengan batasan atau kriteria khususpekerjaan mereka, cara mereka berbicara, bersikap, agama mereka, warna kulit, tingkat pendidikanyang bisa memengaruhi cara pandang kita terhadap orang tersebut, tetapi kita memperlakukan mereka semata-mata karena pertemuan ruang, waktu, kepribadian, pikiran yang dibungkus satu dalam sebuah realitas.

• • •

Hal yang Paling Sulit

Pemahaman kita terhadap I-It dan I-You bisa mengubah paradigma kita tentang sebuah hubungan. Kita melihat titik yang luput dari kesadaran kita selama ini.

I-It memang bisa memberikan kebahagiaan jika kita mendapatkan manfaat yang kita cari, tetapi dia juga bisa memberikan goncangan batin ketika hal yang kita harapkan tidak diterima dengan sesuai oleh realitas. Kita akhirnya menemukan kesulitan untuk tumbuh dan menganggap tujuan yang tidak terpenuhi disebabkan oleh orang lain yang egois, tidak tahu diri, dan menggantungkan hidup kepada inangnya.

I-You memberikan kita cahaya baru bahwa hubungan itu dua arah, subjek—I—dengan subjek dan kenyataannya—You. Dengan melihat seperti ini, kita akan lebih mudah menerima segala hal yang terjadi dan melihat manusia sebagai manusia.

Meskipun I-You tampak memberikan hal yang lebih baik, dia adalah hal yang paling sulit untuk diterapkan. Bahkan, jika mau jujur, kebanyakan hubungan yang kita jalani sekarang ini, sangat mungkin dibangun dengan I-It, sedangkan I-You akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa kita jawab dengan pasti.

Setelah kesadaran ini, kita tidak harus mengubah cara pandang kita menjadi I-You dalam waktu yang singkat dan ekstrem. Alangkah baiknya, kita tidak memaksakan diri dan mungkin mengenali konteks mana yang membutuhkan cara pandang I-It dan mana yang membutuhkan I-You adalah hal yang lebih baik.

Bagaimanapun, kita ini manusia yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerapkan suatu hal. Tidak usah merendahkan diri jika orang lain lebih baik dari kita, karena poin utamanya bukanlah lebih baik dari orang lain, tetapi lebih baik dari diri kita sebelumnya.

Jika setelah ini kita masih melihat sebuah hubungan secara I-It, itu bukanlah sebuah masalah. Hal yang terpenting adalah kita harus bisa bereaksi secara tepat ketika hal buruk terjadi kepada diri kita. Seperti yang dikatakan Marcus Aurelius, “If it’s in your control, why do you do it? If it’s in someone else’s control, then who are you blaming? Atoms? The gods? Stupid either way. Blame no one. Set people straight, if you can. If not, just repair the damage.