Jangan Bersedih, Lihatlah Dimana Kamu Sekarang!

Jangan Bersedih, Lihatlah Dimana Kamu Sekarang

Suatu hari, seorang anak laki-laki bertanya kepada ayahnya…

…”Ayah, apa nilai hidupku? “

Jawaban yang diharapkan ternyata tidak terucap begitu saja. Ayahnya meminta anaknya untuk melakukan sesuatu.

” Nak, bawa batu ini, dan jual di pasar. Jika ada orang yang bertanya harganya, acungkan dua jarimu dan jangan katakan apapun “ Balas ayahnya.

Tak menunggu lama, anak laki-laki tersebut segera ke pasar untuk melakukan apa yang diperintahkan ayahnya.

Disana dia bertemu dengan seorang wanita yang berminat dengan batu yang dibawanya.

” Berapa harga batu ini? Aku ingin meletakkannya di kebunku “ Tanya wanita tersebut dengan penasaran.

Anak laki-laki tersebut tidak mengatakan apapun dan hanya mengacungkan dua jarinya.

Wanita tersebut kemudian menyahutnya ” Dua ribu rupiah? Aku akan membelinya “

Anak laki-laki tersebut tetap diam dan pergi pulang meninggalkan wanita tersebut.

Sampai dirumah, dia bercerita kepada ayahnya bahwa ada seorang wanita yang ingin membeli batu itu dua ribu rupiah.

Ceritanya tersebut hanya dibalas perintah baru oleh ayahnya…

…” Nak, sekarang ayah ingin kamu membawa batu ini ke museum. Jika ada orang yang bertanya harganya, acungkan dua jarimu dan jangan katakan apapun. “

Dengan rasa bingung dan penasaran, anak laki-laki itu menuruti perintah ayahnya sekali lagi. Dia pergi ke museum dengan batu tersebut.

Disana, dia disambut oleh pertanyaan dari seorang bapak-bapak paruh baya yang sudah melihat dia membawa batu itu…

…” Hei nak, berapa batu yang kamu bawa itu? Aku akan membelinya “

Teringat pesan ayahnya, dia hanya diam dan mengacungkan dua jarinya.

Bapak itu kemudian menjawab ” Dua juta rupiah? Sini bapak yang beli “

Anak tersebu kaget, dan untuk kedua kalinya dia pulang tanpa menjawab pertanyaan dari bapak tersebut. Seperti biasa, dirumah, dia bercerita kejadian itu kepada ayahnya.

” Yah, ada seorang bapak yang ingin membeli batu ini dua juta rupiah “

Dengan tenang ayahnya menjawab ” Nak, hal terakhir yang ayah inginkan adalah kamu bawa batu ini ke toko perhiasan. Tunjukkan batu ini kepada pemilik toko dan jangan katakan apapun. Dan jika dia bertanya harganya, jangan menjawab dan acungkan dua jarimu “

Jawaban yang anak itu inginkan sedikit lagi akan dia dapatkan. Dia bergegas ke toko perhiasan, tempat terakhir yang ayahnya minta.

Dia menunjukkan batu itu kepada pemilik toko dan seketika itu pemiliki toko kaget dan berteriak…

…” Hei, dimana kamu menemukan batu ini? Ini adalah salah satu batu terlangka di dunia. Aku harus memilikinya. Berapa kamu jual batu ini? “

Mulut terkunci, dan dua jari menjawab.

” Oke, aku akan membelinya dua milyar “ Tanggapan pemilik toko melihat dua jari tersebut.

Terkejut, gugup, dan tak sanggup berkata apa-apa. Anak itu berlari meninggalkan toko perhiasaan tersebut dan pulang untuk menceritakan kejadian luar biasa itu kepada ayahnya.

” Ayah, pemilik toko ingin membeli batu ini dua milyar ” cerita anak itu dengan nafas tersengal-sengal.

Dan disitulah ayahnya mengajarkan kepadanya apa nilai hidupnya.

Jangan Bersedih, Lihatlah Dimana Kamu Sekarang

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, aku ingin memberi tahu bahwa buku panduan tentang cara membuang dan membangun kebiasaan ( di dukung dengan ilmu ilmiah ) sudah bisa kalian download. Ingin merubah kebiasaan dan hidup?  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis 

• • •

APA YANG SALAH?

Kalian sudah berjuang sebaik mungkin, kalian sudah memberikan yang terbaik dalam diri kalian, kalian sudah mempersiapkan semuanya, tetapi hasil hanya bertepuk sebelah tangan.

Bayangan dan imajinasimu tidak bersambut dengan realita.

Bukannya di hargai, kalian malah di cemooh.

Bukan di puji, kalian malah di hina.

Bukan di dukung, kalian malah di salahkan.

Lalu kalian mengajukan sebuah pertanyaan besar kepada hati kecil kalian. ” Apa yang salah dariku? ”

Ketika pertanyaan itu mencuat, kalian mengkambing hitamkan diri kalian sendiri dan mencap diri kalian sebagai pecundang.

Akhir yang tragis. Kalian harus bertemu dan memeluk lagi rasa kesedihan.

• • •

Cerita ayah dan anak laki-lakinya berlanjut.

Ayahnya menjawab ” Nak, sekarang kamu tahu kan apa nilai hidupmu sekarang? “

Sang anak diam dalam kebingungannya. Dan dengan suara yang pelan, lembut dan penuh dengan makna ayahnya melanjutkan pelajarannya.

” Kamu lihat, tidak masalah dari mana kamu berasal, dimana kamu lahir, apa warna kulitmu, atau berapa banyak uang yang kamu hasilkan. Yang menjadi masalah adalah dimana kamu meletakkan dirimu, dengan siapa kamu bergaul, dan bagaimana kamu memilih untuk membawa dirimu sendiri.

Kamu mungkin berpikir seumur hidupmu bahwa kamu adalah batu yang berharga dua ribu rupiah. Itu semua karena kamu memilih untuk dikelilingi orang yang menghargaimu dua ribu rupiah.

Yang harus kamu ingat nak, setiap orang memiliki permata di dalam dirinya dan kita bisa memilih orang-orang mana yang pantas mengelilingi kita, yaitu orang yang bisa melihat nilai kita, orang yang bisa melihat permata di dalam diri kita.

Kita bisa meletakkan diri kita di pasar, atau meletakkan diri kita di toko perhiasan.

Kamu juga bisa melihat nilai dalam diri orang lain. 

Kamu bisa membantu orang lain untuk melihat bahwa ada permata di dalam mereka.

Pilihlah orang yang pantas mengelilingimu dengan bijak, dan itu akan membuat perbedaan besar pada hidupmu.

• • •

Kita sering melihat umpan balik hanya dari luar dan lupa untuk melihatnya dari dalam.

Kita lupa bahwa apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita putuskan.

Hinaan, cemoohan, dan hal-hal yang membuat kita jatuh bisa jadi memang salah kita.

Atau mungkin tidak!

Yang perlu kita ingat, ketika kita dihadapkan pada situasi tersebut, kita harus bisa berintrospeksi.

Jangan dihipnotis dengan feedback positif saja, kita juga harus mau menerima feedback negatif!

Jika memang tidak ada yang salah dari dalam, maka permasalahannya dari luar.

Jika memang tidak ada yang salah dengan diri kita, maka permasalahannya pada orang di lingkungan kita.

Jangan bersedih, lihatlah dimana kalian sekarang!

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.

— HR. Bukhari dan Muslim

 

 


FOOTNOTES

1. Artikel ini dibuat setelah aku melihat video dari Dare to do. Motivation