Ini akan menjadi hal yang berbeda karena nasihat “jangan menjadi orang baik!” adalah nasihat yang lebih tepat daripada nasihat “jadilah orang baik!”

Apakah itu berarti kita harus menjadi orang yang jahat? Bukan, bukan seperti itu!

Kita tahu bahwa nasihat “jadilah orang baik!” adalah nasihat yang sudah tertanam dalam pikiran kita tidak hanya satu atau dua hari, tetapi setiap waktu ke mana pun dan di mana pun kita berada.

Orangtua kita selalu mengingatkannya.

Teman-teman kita selalu membahasnya.

Guru-guru kita selalu menyarankannya.

Semua orang yang pernah terlibat dalam hidup kita setidaknya pernah mengatakan hal yang sama, Jadilah orang baik!

Tetapi, bagaimana jika menjadi orang baik justru membuat kita menjadi orang yang tidak baik?

• • •

Kenegatifan dari Nasihat “Jadilah Orang Baik!”

Nasihat “jadilah orang baik!” memang terdengar positif, tetapi kenyataannya dia membungkus sesuatu yang negatif. Tanpa kita sadari.

Sejak kecil, kita telah dididik orang tua kita tentang konsep baik dan buruk. Masalahnya, karena setiap orang dibesarkan dari keluarga yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, setiap orang juga akan memiliki patokan yang berbeda dalam melihat baik dan buruk. Berbeda orang akan menghasilkan perspektif yang berbeda.

Dan di sana masalahnya dimulai.

Bayangkan sejak kecil, kamu diajarkan bahwa apa pun dan bagaimanapun, tato adalah sesuatu yang buruk. Kamu kemudian membawa patokan itu selama hidupmu. Kamu membuat sebuah kotak yang berisi “orang yang bertato adalah orang yang memiliki perangai buruk.”

Suatu hari, ketika kamu menemukan hal yang menegaskan itu, kamu akan berada pada titik di mana kamu berusaha mempertahankan identitasmu. Identitas sebagai orang yang baik.

And guess what?

Kamu tidak akan lagi sungkan untuk masuk ke wilayah orang lain. Dalam batas “wajar”, menggunjing mereka yang bertato dengan orang-orang yang sepemikiran denganmu adalah sebuah kepastian, atau yang lebih buruk? kamu menasihatinya tentang sesuatu sebenarnya yang tidak dia minta dan berperan sebagai pengadil dalam hidupnya.

Kamu mengkotak-kotakan orang berdasarkan standar yang kamu punya yang kemudian dicocokkan dengan satu referensi saja. Jika sesuai maka mereka adalah orang baik, jika tidak maka mereka adalah orang buruk. Kamu tidak mau lagi mencoba mengerti mereka. Kamu tidak mau lagi mencari sisi lain yang tidak kamu ketahui. Duniamu sempit karena kamu tidak lagi melihat manusia sebagai manusia.

Padahal, apa yang kamu lihat, dengar, dan ketahui, seringkali bukanlah sesuatu yang penuh atau sesuatu yang menggambarkan semuanya. Pengalaman, harapan, pendidikan, pengaruh orang lain membuat kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan yang sebenarnya salah.

Sekarang, ceritanya berbeda. Bagi orang lain, orang yang bertato tidaklah buruk karena mereka tahu bahwa coretan yang ada di tubuh seseorang tidak mencerminkan bagaimana sifat orang tersebut, karena mereka tahu bahwa tato atau tidak bertato adalah hak pribadi yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun, karena mereka tahu bahwa tidak ada orang yang dirugikan dari hal itu.

See, menjadi orang baik tidak selamanya akan baik. Menjadi orang baik bisa membuatmu menutup mata, telinga, hati serta menghapus ruangmu untuk berkembang dan mematikan empati.

Itu baru tato, bagaimana dengan lainnya?

• • •

Jadilah Ini…

Aku hanya ingin mengatakan, jangan menjadi orang baik, jadilah orang yang lebih baik!

Ketika kamu menjadi orang baik, kamu menganggap segala hal yang sudah kamu lakukan adalah sesuatu yang benar dan hanya berpikir tentang bagaimana cara untuk selalu berbuat baik.

Tetapi, ketika kamu ingin menjadi orang yang lebih baik, kamu akan berpikir tentang kesalahan apa yang sudah kamu lakukan, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Menjadi orang baik hanya membuatmu masuk ke mode “mencari apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan identitas”. Kamu hanya melihat waktu di masa yang akan datang dan lupa melihat diri sebagai manusia yang akan selalu membuat kesalahan dan kecacatan.

Menjadi orang yang lebih baik membuatmu masuk ke mode “mencari apa saja kesalahan yang sudah aku lakukan”. Kamu akan melihat waktu di masa lalu dan menemukan hal yang harus diperbaiki di masa depan.

Menjadi orang baik membuatmu takut kehilangan identitasmu sebagai orang baik. Makanya tidak heran,  kamu akan menemukan keadaan di mana kamu berusaha melindungi dirimu, bagaimanapun caranya, meskipun harus melukai perasaan orang lain.

Menjadi orang yang lebih baik tidak akan membuatmu takut kehilangan identitas itu karena kamu melihat dirimu sebagai manusia biasa yang lemah dan rentan terhadap kesalahan.

Menjadi orang baik akan membuatmu cenderung ingin mengubah orang lain yang kamu anggap salah. Sedangkan menjadi orang yang lebih baik tidak. Kamu tahu bahwa mengubah orang lain adalah hal yang sulit dan sesuatu diluar kontrol. Lagipula, selama hal itu tidak menganggu, mengapa harus repot-repot mendikte kehidupan orang lain?

Menjadi orang baik membuat kamu tidak lagi melihat keberagaman manusia dan meninggikan kata “aku” di setiap apa yang kamu lakukan.

Sebaliknya, menjadi orang yang lebih baik membuat kamu menerima apa itu keberagaman dan lebih meninggikan kata “kita” daripada “aku.”

menjadi orang baik

Menjadi orang baik menekankan sebuah tujuan, maka, ketika kamu telah sampai, kamu akan berhenti.

Menjadi orang yang lebih baik menekankan proses. Maka kamu tidak akan pernah sampai, kamu akan terus berkembang dengan mengevaluasi hal-hal yang mendekatkankamu dengan memanusiakan manusia.

Setelah ini, kamu akan kembali mendapati orang-orang yang tidak sesuai dengan kotak-kotak yang telah kamu buat. Berhentilah sejenak sebelum “keinginan menjadi orang baik” memberimu alasan untuk membenarkan semua hal yang kamu pahami. Belajarlah untuk melepaskan kotak-kotakmu, belajarlah mencari referensi lain, belajarlah mengambil manfaat dari itu semua tanpa meninggalkan luka pada perasaan orang lain.

Ingat, jangan menjadi orang baik, jadilah orang yang lebih baik!

When we are connected to others, we become better people.

— Randy Pausch