Jangan Pernah Menyerah : Nasihat Baik Yang Masih Di Salah Artikan

Jangan Pernah Menyerah : Nasihat Baik Yang Masih Di Salah Artikan

Mata tertuju padanya. Seorang wanita yang dikaguminya.

Pendekatan mulai dilakukan. Hati tak bisa membohonginya.

Dia jatuh cinta.

Yang lebih baik?

Dia rela begadang untuk melihat apakah pesannya telah dibalas.

Dia menunggu sebuah nama agar segera muncul pada layar pintarnya.

Kesempurnaan? Dia sangat menghargai setiap inci darinya.

Pujian? Bukanlah hal yang sulit untuk diutarakan.

Balasan itu akhirnya datang juga. Oh, dari wanita yang sedang membutuhkannya.

Semua sudah disiapkan, bahkan pundaknya siap untuk menjadi tempat air matanya.

Dia perempuan tersenyum, bergumam dalam hati ” Ada tempat untuk bersandar, ada tempat untuk beristirahat”.

Dia laki-laki menjamunya dengan berbahagia, ” Tidak akan pernah aku mengecewakanmu, aku akan selalu ada untukmu”

Hari itu telah tiba, si wanita pergi tanpa kabar, terbang tanpa sayap. Tak ada obrolan penutup untuk pamit untuk dia yang hanya sesaat.

Dia sadar, bahwa si wanita tidaklah memilihnya. Hati yang hancur bukanlah persoalan yang besar. Karena tekad yang kuat dan nasihat ” Jangan pernah menyerah” selalu ada dalam kamus hidupnya.

Dia berjuang. Lebih keras lagi!

Percobaan kedua? Gagal!

Dia hanya mendapati wanitanya dengan lelaki lain.

Menyerah? jangan harap!

Percobaan ketiga? Keempat? Atau kelima?

Tekad bajanya membuatnya sanggup berdiri meskipun hati tertatih.

Akhir yang bahagia. Bukan untuk dia, tetapi untuk wanitanya.

Si wanita menikah dengan lelaki pilihannya.

Kejadian itu sontak membuatnya beralih arah. Minuman beralkohol, beberapa batang rokok dan obat-obatan terlarang adalah teman sedihnya sekarang.

Depresi menemuinya, bunuh diri dianggap solusi baginya.

Tragis.

Kematian menjemputnya.

Setidaknya, dia pernah mencoba dan “tidak pernah menyerah”.

• • •

Muda, bertenaga, berambisi, dan yang pasti pantang menyerah.

Menjadi pengusaha, gaya hidup mewah, liburan ke luar negeri adalah impian dari seorang anak laki-laki milenial ini.

Resiko diambil, dia meninggalkan pekerjaannya.

Tidak terlalu buruk, karena dia sudah menemukan sebuah produk yang dianggapnya sebuah berlian yang akan mengubah hidupnya.

Bertahun-tahun dia mencoba menembus pasar, dan gagal.

” Aku tidak akan menyerah! “, teriaknya dalam hati untuk menyulut tekadnya.

Satu, dua, tiga, berpuluh-puluh investor tidak ada yang mau bekerja sama denganya.

Tak masalah, baginya impian bisa tercapai dengan terus memperjuangkannya.

Uang yang sudah terkuras memaksanya untuk meminjam.

Keadaan semakin memburuk, dan dia masih yakin dengan apa yang dia lakukan.

Perlahan demi perlahan, mimpinya masih belum mau mendekat. Keluargnya malah menjauh.

Dia bercerai dengan istrinya.

Jangan sebut dia seorang eksekutor bila tidak bisa mewujudkan mimpinya. Dia tidak menyerah!

Dia tetap mencoba, mencoba dan mencoba.

Sebuah kenyataan akhirnya harus dia hadapi.

Hutang yang semakin bertumpuk, dan keluarga yang telah hancur membuatnya hanya memiliki satu pilihan.

Dia menyerah untuk hidup.

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, aku ingin memberi tahu bahwa buku panduan tentang cara membuang dan membangun kebiasaan ( di dukung dengan ilmu ilmiah ) sudah bisa kalian download. Ingin merubah kebiasaan dan hidup?  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis 

• • •

KEPERCAYAAN YANG SALAH

Kita sering kali mendengar nasihat ” Jangan pernah menyerah “. Tidak hanya itu, cerita-cerita orang sukses selalu menunjukkan nasihat yang sama.

Itu semua membuat kita berpikir bahwa dengan tidak menyerah, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan tidak menyerah semuanya akan berakhir dengan sebuah kebahagiaan.

Tahukah kita ada sesuatu yang kita tidak sadari?

Sikap tidak pernah menyerah tidak selalu membawa kita kepada apa yang kita inginkan.

Tidak pernah menyerah terkadang bisa diartikan keras kepala daripada diartikan determinasi.

• • •

Ketika Winston Churchill menjadi Sekretaris Angkatan Laut Inggris selama Perang Dunia I, ia menganjurkan untuk menyerang kota Galipoli di Turki.

Dengan 50 ribu pasukan dan kekuatan alutsista lautnya, serangan terhadap Gallipoli ini dimulai pada pagi hari, 19 Februari 1915.

Ternyata rencananya tidak berbuah manis, pertempuran terhenti karena cuaca semakin memburuk dan kapal penyapu ranjau Sekutu (Inggris, Jerman, Hungaria, Austria, Perancis) mengalami kerusakan.

Lebih parah lagi,  komandan angkatan laut Inggris Admiral Sackville Carden memilih mundur dan digantikan oleh Wakil Laksamana John de Robeck. Itu semua karena tekanan Churchill yang ingin melanjutkan serangan tersebut,

Churchill memang memaksakan pertempuran itu dan tetap memerintahkan Inggris untuk menyerang.

Bencana besar dimulai!.

Setelah serangan angkatan laut yang gagal, Sekutu akhirnya meluncurkan invasi darat ke Gallipoli pada tanggal 25 April di tahun yang sama. Serangan ini untuk menghilangkan pergerakan artileri Turki dan menyapu ranjau air.

Kurangnya kecerdasan dan pengetahuan yang memadai tentang medan, seiring dengan perlawanan Turki yang sengit, menghambat keberhasilan invasi tersebut.

Pada pertengahan Oktober, pasukan Sekutu telah menderita korban yang sangat banyak yakni 500.000 jiwa. Pertempuran tersebut juga membuat Panglima Laut Inggris Laksamana John Fisher mengundurkan diri secara dramatis.

Pertempuran itu menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah militer. Hal ini dikarenakan keputusan salah yang dilakukan satu orang, Lord First of Admiralty, Winston Churchill.

Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.

— Winston Churchill

motivasi hidup jangan pernah menyerah• • •

KENAPA ITU SEMUA TERJADI?

Selama Perang Dunia II, ahli statistik Abraham Wald diminta untuk membantu Inggris memutuskan di mana harus menambahkan pelindung ke pesawat pembom mereka.

Setelah menganalisa catatan, dia merekomendasikan untuk menambahkan lebih banyak pelindung ke tempat-tempat di mana tidak ada kerusakan!

Wald menyadari datanya berasal dari pesawat pembom yang selamat. Artinya, Inggris hanya mampu menganalisis para pesawat pembom yang kembali ke Inggris. Mereka yang ditembak jatuh di atas wilayah musuh bukan bagian dari sampel mereka.

Kerusakan yang terjadi menunjukkan di mana mereka bisa diserang. Dengan kata lain, area yang tidak rusak menunjukkan alasan kenapa ada pesawat yang hilang ( pesawat jatuh di daerah tersebut dan tidak kembali dari misi mereka).

Wald berasumsi bahwa peluru-peluru itu ditembakkan secara acak, bahwa tidak seorang pun dapat secara akurat mengarah pada bagian tertentu dari pesawat pembom tersebut, atau terkadang mereka hanya beruntung untuk tepat sasaran.

Wald melihat bahwa lebih banyak pesawat pembom dalam sampelnya memiliki lubang peluru di tengah sayap, dia tidak menyimpulkan bahwa Nazi suka membidik sayap bagian tengah.

Dia percaya bahwa pasti ada banyak pesawat pembom dengan lubang peluru di setiap bagian lain ( selain sayap ) dari pesawat, sehingga pesawat pembom itu bukan bagian dari sampelnya, karena mereka telah jatuh ditembak.

Jangan Pernah Menyerah : Nasihat Baik Yang Masih Di Salah Artikan

• • •

Semua contoh diatas mengacu pada satu jawaban, dan menunjukkan kepada kita, kenapa nasihat ” jangan pernah menyerah ” tidak selamanya berlaku.

Jawabannya : Selection Bias.

Yaitu keadaan dimana kita hanya memperhitungkan beberapa bukti yang ada, dan melupakan bukti-bukti lain yang melengkapinya.

Kita kembali pada kasus pesawat pembom Inggris. Disitu terlihat bahwa Inggris salah memperhitungkan data yang ada ketika ingin memperbaiki pesawat pembom mereka.

Mereka hanya mengambil sampel pesawat yang kembali, dan tidak memperhitungkan bagaimana pesawat yang tidak kembali.

• • •

AKIBAT SELECTION BIAS

Ironinya adalah, bias ini memberikan dampak yang sangat luar biasa ruginya jika kita tidak menyadarinya.

  •  BUTA AKAN BUKTI LAIN.

Ketika kita berada dalam bias ini kita akan lupa untuk menganalisa hal lain yang sebenarnya lebih fatal.

Katakanlah kalian gagal dalam menjual produk kalian, mungkin saja itu semua bukan karena usaha kalian untuk menembus pasar. Tetapi itu semua karena produk yang kalian tawarkan memang tidak bisa diterima masyarakat. Dan kalian tidak menyadari akan hal itu. Kalian hanya percaya bahwa dengan tidak menyerah, kalian akan berhasil.

  •  TIDAK TAHU BATAS KALIAN.

Ada seekor semut yang dihadapkan pada sebuah tembok besar. Dia hanya ada dua pilihan.

1. Mengambil rute lain yang lebih panjang dan memakan waktu yang lama.

2. Merobohkan tembok kemudian melewatinya.

Semut itu dimotivasi oleh teman-temannya untuk tidak menyeerah. Dia mempercayainya dan berpikir bahwa dia akan bisa merobohkan dinding itu. Apa yang kalian pikirkan?

Terkadang kita harus tahu dimana batas kita.

Akan ada banyak orang disekitar kita untuk selalu menyemangati kita dalam meraih semua mimpi, karena hal ini juga kita lupa akan ketidakmampuan kita.

Kita harus ingat bahwa di setiap kesuksesan selalu ada kegagalan dan kesedihan. Mungkin saja apa yang kamu pilih bukanlah sesuatu yang sejalan dengan kemampuanmu.

• • •

PESAN TERAKHIR

Setiap orang di dunia ini harus memahami betul bagaimana kemampuannya jika menginginkan kesuksesan.

Jika kamu tahu kamu bisa menaklukkannya, perjuangkan!

Jangan pernah hidup di negeri dongeng.

Hidup ini terlalu singkat untuk mengejar sesuatu yang bukan milik kita. Semua itu hanya akan membuang waktu dan tenaga kita saja.

Pilihlah pertarunganmu secara bijak, karena tidak semua pertarungan layak diperjuangkan!

You must either modify your dreams, or magnify your skills.

— Jim Rohn

 

Baca juga lanjutan dari artikel ini : Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Menyerah?


FOOTNOTES

  1. Cerita gagalnya Winston Churchill dalam penyerangan Gallipoli bisa kalian baca di gardanasional.
  2. Cerita selection bias dalam kasus pesawat pembom inggris bisa kalian baca di johndcook.