Temen macam apaan kamu. Datang pas cuma butuh doang.”

Keluhan semacam itu hanya terjadi ketika kita merasa ada ketidakseimbangan porsi antara apa yang kita beri dan apa yang mereka beri. Kita kemudian meletakkan diri pada peran protagonis dan dengan mudah melihat diri sendiri sebagai korban.

Itu adalah hal yang umum terjadi dalam sebuah hubungan, khususnya hubungan persahabatan. Perasaan negatif yang ditimbulkan dari persepsi tidak lengkap seringkali membuat kita mengambil sebuah pemberhentian—mengakhiri hubungan dengan mereka.

Ekspektasi yang dilekatkan pada seseorang yang kita anggap sebagai sahabat memang menjadi salah satu faktor mengapa perasaan negatif terjadi, tetapi ada hal yang harus kita lihat lebih dalam lagi dalam sebuah hubungan persahabatan, yaitu bagaimana cara kita bertukar tujuan.

Kita memang bisa menemukan sebuah pencerahan dari pengalaman persahabatan yang kita lalui, tetapi itu akan membutuhkan banyak waktu. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih cepat dan menghindari kerusakan yang lebih parah, aku percaya dengan manfaat menyelisik sejarah. Di dunia masa lalu itu, kita akan bisa menemukan jalan yang lebih jelas dari orang-orang bijaksana, salah satunya adalah Aristoteles.

Saat umurnya masih 17 tahun, Aristoteles bergabung dengan akademi yang didirikan Plato di Athena dan belajar di sana selama 20 tahun. Setelah Plato meninggal dunia, Aristoteles mendirikan perpustakaan di Lyceum, tempatnya bekerjasama dengan pikirannya untuk menghasilkan banyak buku.

Meskipun sudah lebih dari 2000 tahun yang lalu, pengaruh karya Aristoteles masih bisa kita lihat di berbagai bidang seperti astronomi, ekonomi, biologi, bahkan fisika. Aku yakin, kita bisa menyetujui bahwa dia merupakan salah satu polymath terbaik yang pernah dimiliki dunia ini.

Sedangkan dalam filsafat, observasinya tentang persahabatan akan bisa membuat kita mendalami hubungan yang lebih sehat.

• • •

Jenis Persahabatan di Mata Aristoteles

Kehidupan yang baik bagi Aristoteles digambarkan dengan adanya kebajikan—kebaikan internal yang ada dalam tanggung jawab kita—di dalam diri dan ditransferkan ke dunia luar melalui hal eksternal untuk mengaktifkan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Katakanlah hobimu adalah menulis. Pesan kebaikan yang ada tidak akan pernah menemukan pelabuhan baru sebagai tempat pemberhentiannya jika kamu tidak menuangkannya melalui hal eksternal seperti media sosial, buku, video, dll, yang merupakan objek mati.

Hubungan persahabatan berbeda karena dia membutuhkan hal eksternal berupa objek hidup. Ini juga akan menjadi lebih rumit karena terbatasnya kemampuan kita untuk mengatur objek hidup yang memiliki dunianya sendiri.

Karena itulah kita sebaiknya bisa mengusai seni berteman agar bisa memaksimalkan kebahagiaan ketika terhubung dengan objek hidup. Salah satunya adalah dengan memahami tiga jenis persahabatan yang merupakan hasil pemikiran Aristoteles.

Persahabatan pertama berdasarkan utility (kegunaan). Di dalam hubungan seperti ini, bukan kasih sayang yang menjadi prioritas, melainkan pertukaran keuntungan antara kedua belah pihak.

Ketahanan hubungan seperti ini ditentukan pada jumlah keuntungan yang dipertukarkan. Jika keuntungan yang diinginkan sudah terpenuhi, maka hubungan tersebut akan disudahi.

Dalam dunia kerja misalnya. Kita memang bisa menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang ada di kantor, tetapi ketika keadaan sudah berubah, level hubunganmu juga akan berubah.

Persahabatan yang kedua berdasarkan pleasure (kesenangan). Hubungan ini menitikberatkan kenikmatan yang didapat dari aktivitas bersama. Kita bisa melihat bahwa hubungan ini memang melibatkan emosi, tetapi masih tidak menjamin ketahanannya.

Hubungan ini umumnya terjadi pada anak muda yang sedang mencari kejelasan diri. Jadi, ketidaksamaan pendapat yang terjadi di tengah perjalanan adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah mengingat setiap dari mereka akan terus mengakumulasikan pemahaman baru yang berefek pada tindakan yang diambil. Perbedaan itulah yang kemudian digunakan sebagai alasan kuat untuk mengakhiri hubungan.

Jenis persahabatan yang terakhir adalah persahabatan yang dilandaskan pada virtue (kebajikan). Ini adalah hubungan yang menggambarkan simbiosis mutualisme berupa dorongan perbaikan antara satu dengan yang lainnya. Mereka akan saling bertukar kualitas—menekankan apa yang harus didengar daripada apa yang ingin didengar.

Karena kebaikan menjadi hal yang sama-sama dipegang teguh, ketahanan hubungan ini akan lebih stabil dan solid daripada dua hubungan sebelumnya.

Kita bisa menebak bahwa hubungan ini adalah hubungan yang paling sulit kita temukan. Bahkan, jika mau melihat kondisi persahabatan kita sekarang, aku yakin kamu bisa menghitung jumlahnya dengan jari.

Piglet sidled up to Pooh from behind.
“Pooh!” he whispered.
“Yes, Piglet?”
“Nothing,” said Piglet, taking Pooh’s paw. “I just wanted to be sure of you.”

― A.A. Milne, The House at Pooh Corner

• • •

Membentuk Persahabatan yang Solid

Baik persahabatan yang terbentuk secara tidak sengaja ataupun persahabatan yang diniatkan, kita harus menerima fakta bahwa sahabat bisa memengaruhi hidup kita.

Persahabatan yang didasarkan pada kegunaan dan kesenangan memang tidak akan memberikan keawetan berlangsungnya hubungan, tetapi kedua kategori tersebut tidaklah salah atau buruk. Kedua kategori itu hanya menunjukkan terbatasnya kualitas yang kita dapat ketika menginvestasikan waktu dan kepercayaan kita. Selain itu, mereka juga masih menjadi kebutuhan dalam menjadikan kita manusia.

Keluhan, ketidakadilan, kekurangan, atau hal-hal lain yang menggambarkan kerugian akan menjadi realitas kita jika hubungan persahabatan kita bertepuk sebelah tangan.

Misalnya, jika kamu mendasarkan hubungan yang ada pada kebajikan, tetapi temanmu mendasarkannya pada kegunaan, maka timbal balik yang dirasakan setiap individu juga akan berbeda.

Kita tahu bahwa langgengnya persahabatan yang menjadikan kebajikan sebagai fondasi memang hal yang sangat masuk akal, tetapi kita juga harus ingat bahwa ini adalah tugas dua arah. Dia terbentuk dari usaha kedua belah pihak.

Saat hal itu bisa direalisasikan, kesulitan dan kelangkaan yang ada pada jenis persahabatan terakhir bisa diatasi meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan kepercayaan yang harus senantiasa dibangun.

Benang merah dalam pengkategorian yang dibuat Aristoteles bukanlah sebagai panduan kita untuk mengakhiri dua kategori pertama, tetapi sebagai panduan kita untuk menempatkan diri pada porsi yang pas sehingga bisa mencegah perasaan yang selalu kita hindari.

Hidup ini terlalu singkat jika kita hanya berada pada hubungan yang sementara. Kita membutuhkan kebersamaan dalam jangka yang lama untuk memacu kita menjadi seseorang yang terus bisa menyedikitkan kesalahan.

Tidak ada salahnya kita menjadikan kebajikan sebagai landasan utama setiap memulai hubungan persahabatan. Kita memang tidak bisa menjamin orang lain untuk menyambutnya dengan hal yang sama, tetapi setidaknya kita telah mengambil langkah aktif yang bisa memperbesar peluang.

Di saat kita menemukan ketidakcocokan antara apa yang kita perjuangan dengan apa yang orang lain perjuangkan, jangan menjadikan itu alasan untuk mengeluh, merugi, atau bahkan menyerah pada hubungan yang dibangun. Beradaptasi dengan keadaanlah yang harusnya menjadi keputusan yang kita ambil karena tidak memberi kita banyak emosi negatif.

Jika timbal balik yang sudah melewati evaluasi tidak mencerminkan rasa terhubung yang intim dan kuat, mengikuti alur persahabatan berdasarkan kegunaan dan kesenangan bukanlah menjadi sebuah masalah.

Tidak usah terlalu dibingungkan dengan perbedaan yang ditunjukkan oleh setiap jenis persahabatan. Tidak usah juga kaku pada satu jenis dan menarik kepercayaan pada jenis lainnya.

Prinsip utama yang harus selalu kita pegang adalah selama hubungan itu memberikan sesuatu yang bermanfaat, memperjuangkannya akan lebih memberi kebaikan daripada membatasinya dengan jarak.

Friendship—my definition—is built on two things. Respect and trust. Both elements have to be there. And it has to be mutual. You can have respect for someone, but if you don’t have trust, the friendship will crumble.

― Stieg Larsson, The Girl with the Dragon Tattoo