People-Pleaser : Belajar Katakan Tidak!

People-Pleaser : Belajar Katakan Tidak!

Kegelapan yang menyelimuti pagi telah membuat sang matahari menyembunyikan dirinya.

Kubuka jadwal pelajaran besok, dan kutemukan satu catatan…

…”UJIAN”

Seketika hati mulai tergetar, badan mulai tergerak.

“Kali ini aku harus belajar dengan baik, agar ujian besok aku mendapatkan nilai yang bagus”

Hati dan pikiran sepertinya kali ini bersahabat dengan baik.

Semua terlihat sesuai rencana, semua terlihat sesuai jadwal, sampai akhirnya ada sebuah notifikasi yang mengalihkan perhatianku.

” Main yuk bro! bosen nih!”

Rupanya sebuah ajakan mematikan dari teman terbaik. Ingin rasanya mengatakan “tidak”, karena aku tahu bahwa aku belum mempersiapkan ujian untuk besok.

Kuberanikan diri, kuhirup nafas, dan kuutarakan perasaanku…

…”Iya, ayo!”

Entah kenapa mulut dan hati tiba-tiba melempar kumpulan kata yang seharusnya tidak boleh keluar. Aku merasa tidak enak untuk menolak.

Aku kalah lagi.

———

Pernah hati ini aku ikatkan pada hati manusia.

Semua berjalan sangat indah dalam versi kita. Semua terlihat membahagiakan jika dilalui bersama.

Tak peduli apapun yang terjadi. Dia adalah prioritas utama dalam hidupku.

Sakit hati? Ah, itu sudah biasa.

Dua kali sakit hati? Aku bisa melewatinya.

Berkali-kali sakit hati? Aku mulai berpikir, apakah dia memang untukku?

Aku mulai menyalahkan keadaan, aku mulai menyalahkan dia, aku mulai menyalahkan semua hal yang membuatku menjadi semakin buruk.

Sampai aku sadar, akulah permasalahannya.

Akan kusampingkan perasaanku, dan kucoba untuk melepas ikatan hati darinya.

Saatnya aku mengatakan “tidak”. Aku ingin melepasnya. Tetapi tidak ingin menyakitinya.

Yang terjadi?

Terlalu mudah kebodohan ini menjadi pemenang. Aku tetap meng“iya”kan dirinya hanya karena perasaan semuku ini.

Aku kalah lagi.

———

Lama sudah kebiasaan buruk ini membayangiku.

Membuang-buang waktu. Tidak mau belajar hal baru. Menyepelekan olahraga. dan hal-hal yang hanya merugikanku sendiri.

Hati kecil bertanya ” Tidak maukah kamu berubah? “

Dengan sigap otak menjawabnya, ” Mau… “

Seakan akan berakhir dengan kebiasaan yang diimpi-impikan. Sayangnya, otak belum menyelesaikan jawabannya secara lengkap.

“Mau, tapi nanti aja, kalau A, kalau B, kalau C, dan kalau Z”

Semudah itukah transisi dari kata “tidak” ke “iya”?

Aku kalah lagi.

———

PEOPLE-PLEASER

Perilaku yang umum terjadi kepada kebanyakan orang di luar sana adalah keinginan untuk menyenangkan orang lain. Kita bisa menyebutnya dengan People Pleaser.

Orang tipe ini adalah orang yang tidak pernah mengatakan “tidak”. Kita akan selalu bisa mengandalkan orang seperti ini. Bahkan, mereka menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal untuk orang lain.

Sejauh ini terdengar seperti hal yang baik, bukan?

Tapi, bagaimana kalau kita sendiri yang merupakan seorang people-pleaser?

MEMBOHONGI DIRI SENDIRI

Masalah utama yang dihadapi seorang people-pleaser adalah mereka selalu membohongi diri sendiri hanya untuk orang lain.

Jika kalian menganggap ada situasi tertentu kita bisa berbohong disitulah kalian sebenarnya berlaku tidak adil.

Iya, kalian tidak adil terhadap diri kalian sendiri.

Disaat kalian membutuhkan jawaban tidak, kenapa harus mengatakan iya?

Disaat kalian ingin mengerjakan tugas, kenapa harus setuju menemani teman untuk nongkrong?

Jika kita membohongi diri sendiri, bukankah itu juga membohongi orang lain?

DIMANFAATKAN!

Ketika kalian selalu mengucapkan “iya” kepada semua hal, Kalian tidak memiliki batasan untuk diri sendiri dan orang lain!

Kalian akan selalu menjunjung kepentingan orang lain lebih dari kepentingan diri kalian sendiri.

Yang terjadi, orang yang jahat akan memanfaatkan kebaikan kalian.

Mereka akan memeras tenaga, pikiran dan waktu kalian hanya untuk menyenangkan dan memuaskan mereka saja.

Kita perlu batasan kapan kita harus mengatakan “iya”, kapan harus mengatakan “tidak”.

Tentukan batasanmu, dan bantulah sesuai kemampuanmu!

STRES

Kalian memang orang yang baik!

Disaat kalian seharusnya mengutamakan diri kalian sendiri, kalian malah memilih untuk menuruti kemauan orang lain.

Mungkin kalian akan dianggap baik dimata mereka. Tapi bagaimana disisi kalian?

Kalian akan semakin keteteran terhadap tugas atau hal-hal yang sebenarnya menuntut untuk dikerjakan segera.

Ini semua karena kalian lebih memilih untuk menjaga image!

Jangan pernah salahkan ketika kalian merasa stres!

Karena semua akhir yang kalian dapat adalah karena awal yang terang-terangan kalian putuskan.

KEHILANGAN ME TIME

Tidak usah berbohong. Pasti ada kalanya kalian ingin menikmati waktu yang terus berdetak maju. ME TIME!

Jika kalian seorang people pleaser, banyak kemungkinan me time kalian akan terganggu.

Ketika itu terjadi, tidak usah mengeluh kepada mereka yang menganggu waktumu.

Tidak usah juga marah karena mereka menyela kesenanganmu.

Karena sumber utamanya adalah tetap dirimu, people pleaser!

When you say “yes” to other, make sure you are not saying “no” to yourself.

— Paolo Coehlo

———

ALASAN KENAPA KITA SEORANG PEOPLE PLEASER

Sebelum berubah, kita harus tahu betul apa yang mendasari kita sehingga menjadi seorang people pleaser.

Dengan begitu kita juga akan bisa menemukan solusi terbaik agar kita tidak lagi menjadi seorang people pleaser.

Ada dua hal yang menyebabkan kenapa kita menjadi seorang people pleaser :

  • Takut penolakan.
  • Takut kegagalan.

TAKUT PENOLAKAN

Takut penolakan adalah ketika kita berpikir ” Jika aku tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia, mereka akan membenciku, mereka akan mengucilkan aku, mereka akan berhenti peduli denganku……..”

Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa penolakan adalah hal yang sangat wajar.

Kalian memiliki hak atas keputusan yang kalian buat, dan mereka tidak berhak atas apa yang telah kalian putuskan.

Tentunya, kalian juga harus menolak dengan santun  dan sopan. Karena penolakan yang kasar justru akan membuat hubungan kalian tidak akur.

Kalian harus ingat bahwa seorang teman adalah orang yang selalu mendukung semua keputusan baik kita. Bukan malah marah dan mengecewakan kita hanya karna kita menolak keinginan mereka.

TAKUT KEGAGALAN

Takut kegagalan adalah ketika kita berpikir ” Kalau aku melakukan kesalahan, aku akan mengecewakan mereka, aku akan disalahkan, aku akan dihukum, ……”

Bicarakan dengan baik apa yang mereka butuhkan dan apa yang kalian sanggupi.

Jika memang kalian tidak bisa, berterus teranglah.

Ini bukan untuk dirimu. Bukan untuk mereka, Tetapi untuk kita semua. Untuk kita bersama.

Ketika keterbukaan menjadi sebuah awal, hasil akhir selalu memberikan hasil positif.

Decide that you want it more than you are afraid of it.

— Bill Cosby

———

WHAT’S NEXT?

Cara terbaik agar kita tidak menjadi seorang people pleaser adalah dengan bertanya kepada diri sendiri.

  • Apakah aku benar-benar menginginkan itu?
  • Apakah aku akan senang, bahagia, atau menikmatinya jika aku mengatakan “iya”?
  • Apakah ini yang aku harapkan?
  • Dampak apakah yang akan aku dapatkan? Dampak yang baik? Atau dampak yang buruk?

Kalian juga harus bisa memprioritaskan tugas. Hal ini bertujuan untuk bisa memutuskan kapan kalian harus membantu orang dan kapan kalian harus mempertahankan keinginan kalian.

Jangan sampai kebaikan kita dimanfaatkan oleh orang yang jahat.

Saatnya kalian menjadi egois secara benar, dan belajarlah untuk mengatakan “tidak”!

Sometimes I regret being nice, apologizing when I didn’t do anything wrong, and for making unworthy people a priority in my life.