Albert Einstein pernah mengatakan “Once you stop learning, you start dying.” Dunia kita seakan berhenti, jika kita berhenti belajar. Kita hidup sebatas bergerak, tetapi mati secara jiwa dan pikiran. keahlian yang harus dimiliki

Untungnya, kita diberi sifat alami untuk selalu berusaha untuk menguasai keahlian. Entah untuk menjadi seorang medioker yang menguasai banyak hal dengan kemampuan minimal atau menjadi pembeda yang menguasai sedikit hal dengan kemampuan maksimal.

Kita melakukannya karena kita ingin mendapatkan posisi di masyarakat. Kita ingin dihargai, ingin dihormati, dan ingin disegani oleh orang lain.

Sayangnya, kita terlalu fokus membangun keahlian yang hanya bisa memberi perbaikan materi, dan lupa untuk belajar menguasai keahlian yang tidak kalah penting, keahlian yang membawa kita lebih dekat dengan perbaikan diri dan hidup.

• • •

1. Keahlian Mengatakan Tidak

Dalam episodenya yang berjudul overbooked, SpongeBob mengajari kita tentang pentingnya mengatakan “tidak”.

Di pagi hari, SpongeBob mendapat telepon dari Sandy yang memintanya untuk datang ke presentasi sainsnya pada malam hari.

“Ya” jawab SpongeBob dengan yakin.

Saat SpongeBob memulai pekerjaannya di Krusty Krab, Mr. Krabs yang kesulitan merakit teleskopnya menghampiri si kotak kuning itu dan memintanya datang ke rumah untuk membantunya merakit teleskop pada malam hari.

SpongeBob ragu, tetapi tetap memberi jawaban “ya”.

Tidak lama setelah itu, Patrick datang ke Krusty Krab dan memberitahu SpongeBob untuk datang ke pesta ulang tahunnya di malam hari dan menyuruh membawa kue untuknya.

Menolak sahabat terdekat? Tentu saja tidak! Lagi, SpongeBob mengatakan “ya”.

SpongeBob kemudian menepati 3 janjinya dalam satu waktu dan menemukan dirinya yang harus bolak-balik dari satu rumah ke rumah lain, tidak bisa memberikan yang terbaik dan berakhir dengan kekecewaan sahabat-sahabatnya.

Apa yang dilakukan SpongeBob sangatlah mencerminkan kebiasaan buruk kita—menyimpan “tidak” di saat waktu yang tidak tepat.

Ketika kita mengatakan “ya” kepada hal yang tidak kita inginkan dan butuhkan, di sanalah kita mengatakan “tidak” kepada sesuatu yang lebih kita hargai.

Kita lupa bahwa mengatakan “tidak” adalah alat untuk menolak permintaan, bukan alat untuk memutus hubungan.

Jika kamu masih berpikir untuk mengatakan “iya” kepada semua permintaan karena alasan tidak tega, sungkan, atau takut mereka kecewa, di saat yang bersamaan kamu lebih memilih untuk menyesal di garis akhir, lebih memilih memprioritaskan hidup orang lain, dan lebih suka membohongi diri sendiri.

Dalam bukunya yang berjudul Essentialism, Greg Mckeown memberikan tips untuk menolak permintaan secara sopan dan anggun. Dia menyebutnya sebagai The soft “no” (or the “no but”).

Caranya hanya menjelaskan keadaanmu dengan jujur + tetapi …….

  • Aku masih harus belajar karena besok ujian, tetapi akan sangat menyenangkan jika kita bertemu setelah semuanya selesai.
  • Aku harus mengurus pekerjaan kantor, tetapi aku akan menghubungimu untuk mengatur ulang jadwalnya ketika semuanya beres.
  • Aku akan pergi bermain futsal di jam itu, tetapi waktuku tersedia setelah itu berakhir.

Mengatakan “tidak” memberikan kita batasan—sebuah kejelasan tentang mana yang harus kita dahulukan dan apa yang harus mereka pahami.

Seperti inti dari kutipan Paulo Coelho—mengatakan ‘tidak’ pada diri sendiri adalah waktu yang tepat untuk menolak permintaan orang lain.

• • •

2. Keahlian untuk Diam

Hah, sedikit banget gajimu! Mending kamu pindah kerja deh, kebutuhan semakin tambah mahal bro sekarang. Cari perusahaan yang menghargai keringatmu bro!

Si A yang sebelumnya merasa berkecukupan dengan gajinya 2 juta menjadi minder dan sedih karena ucapan tersebut. Si A kemudian kehilangan semangat bekerjanya. Dia meminta kenaikan gaji, tetapi ditolak. Dia resign dari pekerjaannya dan menjadi pengangguran.

Kenapa beli yang itu? Itu kan udah ketinggalan zaman. Ganti aja udah!

Si B yang sebelumnya bahagia karena bisa membeli telepon pintar baru dari hasil jerih payahnya sendiri menjadi muram dan malu karena pendapat tersebut. Si B kemudian menjual telepon pintarnya dan memilih untuk meminjam uang agar bisa membeli telepon pintar yang lebih mahal dengan model paling baru.

Perasaan kok bisnismu nggak maju-maju. Kamu mungkin memang nggak cocok deh jadi pengusaha.”

Si C yang sebelumnya sangat percaya pada kemampuannya, sekarang menjadi ragu-ragu karena tanggapan itu. C kemudian mengakhiri perjalanan bisnisnya dan meninggalkan pelajaran yang selama ini ia dapatkan.

Itulah kita. Memiliki kebiasaan untuk memberi “nasihat” tentang suatu hal dari orang lain tanpa diminta. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita memberikan bom waktu kepada kehidupan orang tersebut.

Nasihat bukanlah sesuatu yang menjatuhkan hati orang lain. Nasihat juga bukan sesuatu yang mengecilkan dunia orang lain.

Diam itu adalah emas, jika kamu tahu kapan harus menggunakannya!

• • •

3. Keahlian Menghargai Jendela Orang Lain

Jadwal diatur. Teman-teman diundang. Tempat ditentukan.

Kami bertemu dalam sebuah acara informal berjudul “nongkrong.”

Tempat duduk dipilih. Makanan dipesan. Diskusi dimulai.

Kami membicarakan dari “lu masih jomblo?” sampai “Bagaimana falcon 9 milik SpaceX dirancang?” (Ayolah, kami tidak sepintar itu.)

Di setiap diskusi tersebut, tak jarang perbedaan pendapat akan terjadi. Dan, (lagi) aku selalu menemukan seseorang yang sangat menarik perhatianku.

Sebut saja Joni. Seorang anak blesteran yang hidup berkecukupan, tetapi selalu memegang teguh bagaimana posisi padi yang semakin berisi.

Setiap terlibat dalam diskusi di antara kami, 90% dia selalu diam. Diam untuk mendengar. Mendengar untuk mengerti.

Begitupun ketika ada salah satu dari kami yang membuat argumen berbeda. Kebanyakan dari kami akan cenderung mencemooh perbedaan itu, memamerkan kemampuan agar terlihat lebih baik, dan tak jarang malah berakhir dengan perasaan benci karena telah menghadapi orang semacam itu.

Joni? Dia justru mengajarkan kepada kita tentang arti perbedaan.

Pelajaran itu dijelaskan dengan sangat baik oleh Kathryn Schulz, jurnalis Amerika, dalam konferensi TED-nya, on being wrong. Menurut Kathryn, kita akan melewati 3 fase dalam melihat perbedaan.

  1. Kita berasumsi bahwa orang lain tidak tahu. Kita tidak boleh lupa bahwa setiap orang tidak memiliki akses informasi sama seperti kita. Menyampaikan informasi tersebut dengan tidak menggurui dan rendah hati akan jauh lebih bisa membantu daripada mencemooh mereka.
  2. Jika asumsi pertama tidak bekerja dan kita tahu betul bahwa mereka memiliki informasi yang sama, kita akan masuk ke asumsi bahwa mereka bodoh karena memberikan pendapat yang tidak sejalan. Kita menganggap mereka tidak mampu menyusun potongan puzzle secara benar.
  3. Meskipun mereka memiliki informasi yang sama, meskipun mereka adalah orang yang pintar, kita masih saja membuat asumsi bahwa mereka telah mendistorsi kebenaran untuk tujuan jahat mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering memaksakan orang lain untuk melihat keluar dari jendela yang sama.

Kita seakan lupa bahwa setiap orang memiliki tinggi rendah jendelanya masing-masing. Setiap orang memiliki pemandangannya masing-masing. Dan, itulah yang membuat dunia ini tidak membosankan.

• • •

4. Keahlian Mengatakan “Tidak Tahu”

Jimmy Kimmel Live! adalah sebuah acara talk show malam di Amerika Serikat yang dibuat dan dipandu oleh Jimmy Kimmel.

Di acara tersebut ada sebuah segmen menarik yang dinamai dengan Lie Witness—segmen di mana narasumber diberi pertanyaan palsu terkait suatu peristiwa.

Pada episode Coachella 2013—festival musik dan seni tahunan yang diadakan di Indio, California, Amerika Serikat—narasumber ditanyai tentang band yang sebenarnya tidak ada.

Hasilnya? Sangat luar biasa!

Reporter: Band favorit saya di sini adalah Dr. Slowmo dan GI clinic….

Narasumber: Ya, mereka luar biasa!

Reporter: *dalam hati* luar biasa apanya zaenap?


Reporter: Apakah kalian senang melihat obesity epidemic?

Narasumber: Mereka sangat inovatif!

Reporter: *dalam hati* Inovatif gimana? Musiknya gendut-gendut gitu?


Reporter: Salah satu band yang saya suka di sini bernama Get The Kucf out of My Pool…

Narasumber: Ya, saya dengar dari teman saya, saya tidak akan melewatkannya.

Reporter: *dalam hati* Temanmu yang mana? Temanmu yang berendam di kolam belut listrik?


Meskipun narasumber tidak tahu, mereka masih menjawabnya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Mengakui ketidaktahuan sebenarnya adalah hal yang wajar, tetapi bagi beberapa orang hal itu sangat sulit dilakukan.

Itu bukan sesuatu yang mengherankan mengingat setiap dari kita tidak ingin terlihat bodoh dihadapan orang lain. Hasilnya, kita akan menjawab sesuatu yang tidak kita ketahui, atau mengiyakan sesuatu sesuatu yang tidak kita mengerti.

Kita harus mengubah sudut pandang kita bahwa mengakui ketidaktahuan tidak mengartikan bahwa kita bodoh. Mengakui ketidaktahuan mengartikan bahwa kita telah menemukan ruang untuk berkembang.

Kita tidak perlu malu untuk mengakui ketidaktahuan. Kita harus malu menjadi orang yang sok tahu!

• • •

5. Keahlian untuk Mendengarkan

Kamu tahu apa hal yang paling menyenangkan ketika berbicara dengan seseorang? Bukan tentang mereka, tetapi tentang saya, saya dan saya. Dengan kata lain, kita cenderung lebih suka menceritakan diri sendiri.

Scientific American menunjukkan bahwa ketika kita membicarakan tentang diri sendiri, ada peningkatan aktivitas saraf di area otak yang terkait dengan motivasi dan penghargaan. Dan itulah alasan mengapa pengungkapan diri adalah hal yang bisa memuaskan kita.

Lantas, jika kebanyakan orang suka menceritakan tentang diri mereka, mengapa kita tidak menjadi orang yang berbeda? Menjadi orang yang lebih banyak mendengar?

Di sana, kita akan semakin banyak belajar. Kita akan semakin membuka pikiran. Kita akan mempunyai banyak perspektif. Kita akan bisa menyeleksi pemahaman yang sebelumnya kita punya.

Mungkin input yang kita dapatkan tidak membawa kita ke tingkatan “benar,” tetapi bisa membawa kita ke tingkatan “sedikit salah”.

Kesempatan baru akan selalu ada. Jika kamu mengedepankan perkembangan diri, percakapan itu bukan tentang “aku”, tetapi tentang “mereka”.

• • •

6. Keahlian untuk Menerima Kehilangan

Satu hal yang sering kita lupa dalam menghadapi pilihan adalah kepastian untuk kehilangan.

Ketika kita memilih A daripada B, kita hanya memperpanjang umur A untuk bisa menemani hidup kita. Karena pada hakikatnya, kita akan kehilangan keduanya.

Jadi, siapkanlah dirimu untuk kehilangan, baik itu dalam sebuah hubungan cinta, pertemanan, keluarga atau materi.

Semua hal yang berwujud selalu memiliki umur. Pilihan kita hanyalah sebuah kehilangan yang tertunda.

• • •

7. Keahlian untuk Hidup di Satu Waktu

Suatu hari, ada seorang ayah merobohkan tembok di depan tokonya setinggi 16 kaki dan panjang 30 kaki karena menginginkan tembok yang baru. Bukan kuli bangunan yang dia pekerjakan untuk membangun tembok barunya, tetapi kedua anak laki-lakinya yang masih kecil.

Mereka menganggap bahwa ayahnya memberikan tugas yang tidak mungkin dilakukan, tetapi, pada akhirnya, kedua anak itu mulai menggali sedalam 6 kaki untuk membuat fondasi tembok.

Hal itu semakin sulit karena mereka harus mengaduk beton dengan tangan mereka sendiri.

Tidak jarang, pekerjaan itu membuat mereka menemui keraguan. Suatu ketika, sang anak pertama berdiri, melihat progres yang mereka lakukan, dan mengatakan, “Akan ada lubang disini, selamanya!

Meskipun mereka pesimis bisa menyelesaikan temboknya, mereka terus meletakkan batu bata satu per satu setiap hari setelah pulang sekolah.

Dan, hari yang ditunggu itu datang. Mereka berhasil meletakkan batu bata terakhir mereka setelah 1,5 tahun menyusunnya.

Anak pertama itu bernama Willard Carroll Smith II atau lebih kita kenal sebagai Will Smith.

Kebanyakan dari kita pasti pernah menghadapi keraguan ketika dihadapkan pada suatu masalah. Kita menggambarkan ketidakmungkinan masa depan dalam pikiran dan lupa untuk memaksimalkan apa yang sedang kita kerjakan di waktu sekarang.

“Pria yang memindahkan gunung,” kata Confucius, “memulainya dengan membawa batu-batu kecil.” Kita tidak perlu mengatakan menjadi fotografer terhebat, menjadi penulis ternama, atau menjadi pelukis terkenal, karena seringkali hal besar justru mengurung keberanian kita.

Alternatif lebih baik yang bisa kita lakukan adalah memulainya dari tindakan kecil, mengumpulkan kemenangan kecil, di satu wktu tanpa distraksi masa depan.

Kita bisa mulai dari hal termudah seperti memotret satu foto, menulis satu kalimat, melukis satu objek. Mengumpulkan kesalahan dan memperbaikinya.

Tugas utama kita bukan mengaktifkan pengandaian, tetapi meletakkan batu bata satu demi satu, secara konsisten, di satu waktu.

• • •

8. Keahlian untuk Malas

  • Masih ingat dengan tugas yang tidak tersentuh karena lebih memilih menarik selimut?
  • Masih ingat dengan pekerjaan yang berdebu karena lebih memilih menjelajahi Instagram?
  • Masih ingat dengan kegiatan penting yang tidak kunjung diselesaikan karena lebih memilih menonton film?

Di antara fase “mengerjakan” ke “menunda,” ada satu hal yang paling sering kita gunakan sebagai alasan—malas.

Lucunya, setelah menjadikan kemalasan sebagai sahabat di awal, kita kemudian menjadikannya sebagai kambing hitam karena perasaan negatif yang datang di akhir penundaan.

Kita menyesal karena tidak menggunakan waktu sebaik mungkin. Kita bersedih karena pekerjaan yang terbengkalai. Kita marah karena ketidakmampuan kita mengontrol diri.

Sadar atau tidak, itu terjadi karena kita menempatkan kata “malas” pada sesuatu yang baik dan penting.

Padahal, dalam spektrum yang berbeda, kemalasan sangatlah kita butuhkan dan bahkan harus kita lakukan dengan disiplin dan konsisten.

  • Berapa banyak waktu yang kita selamatkan, jika kita malas menanggapi orang yang tidak suka dengan kita?
  • Berapa banyak energi yang kita simpan, jika kita malas memikirkan apa yang orang lain katakan tentang kita?
  • Berapa banyak perasaan positif yang kita dapatkan, jika kita malas mengatakan “iya” kepada semua hal?
  • Berapa banyak uang yang kita sisihkan, jika kita malas mengikuti gengsi?

Malas akan menjadi hal yang positif jika kita menempatkannya pada sesuatu yang memberi dampak buruk.