Albert Einstein pernah mengatakan “Once you stop learning, you start dying.” Dunia kita seakan berhenti, jika kita berhenti belajar. Kita hidup sebatas hanya bergerak, tetapi mati secara jiwa dan pikiran.keahlian yang harus dimiliki

Karena hal itu lah, kita akan selalu berusaha untuk menguasai keahlian. Entah untuk menjadi seorang medioker yang menguasai banyak hal dengan kemampuan minimal atau menjadi pembeda yang menguasai sedikit hal dengan kemampuan maksimal.

Kita selalu fokus untuk belajar menguasai keahlian yang bisa membawa kita kepada materi, sebuah alat yang digunakan untuk bertahan hidup. Akibatnya, kita sering lupa untuk belajar menguasai keahlian yang tidak kalah penting, yaitu keahlian yang membawa kita kepada sebuah hubungan baik antar individu.

Keahlian-keahlian yang akan aku bahas kali ini adalah keahlian yang masih sangat diremehkan, dihiraukan, bahkan tidak disadari oleh kebanyakan orang. Padahal, jika setiap orang menguasai keahlian-keahlian ini, hidup mereka akan berubah ke arah yang jauh lebih baik.

• • •

1. KEAHLIAN MENGATAKAN TIDAK

Dalam bukunya yang berjudul Essentialism, Greg McKeown menuliskan sesuatu yang bisa menyadarkan kita akan sesuatu…

One reason is that in our society, we are punished for good behavior (saying no) and rewarded for bad behavior (saying yes.)

Artinya…

Salah satu alasannya adalah bahwa dalam masyarakat , kita dihukum karena perilaku baik (mengatakan tidak) dan dihargai karena perilaku buruk (mengatakan iya.”

Jika pahami dengan saksama kutipan di atas, kita kemudian sadar, bahwa kita ini masih sering membohongi diri sendiri. Kita lebih memilih untuk mengorbankan kebahagiaan kita hanya demi kepentingan orang lain.

Aku tidak mengatakan bahwa kita menolak untuk berbuat baik, tetapi faktanya adalah, kita seringkali lupa untuk menempatkan jawaban “iya” pada hal yang benar.

  • Meskipun kemu memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, kamu mengatakan “iya” kepada ajakan nongkrong temanmu.
  • Meskipun kamu masih dalam masa diet, kamu mengatakan “iya” kepada undangan makan bersama teman.
  • Meskipun kamu memiliki masalah kesehatan, kamu mengatakan “iya” kepada permintaan untuk menonton film terbaru.

Sudah lihat? Kita mengatkaan “iya” karena kita takut untuk dibenci, takut untuk dihina, takut untuk tidak disukai, hingga akhirnya kita memilih mengorbankan kehidupan kita.

Satu pesanku: Belajarlah berkata “tidak”!

Kita ini bukan badut yang bertugas untuk selalu membahagiakan orang lain. Ada kalanya, kita mengambil waktu dan membahagiakan diri kita sendiri. Ini adalah bentuk keegoisan yang tepat.

Sekali kamu berkata “iya” kepada hal yang pantas mendapatkan jawaban “tidak”, kamu telah berhasil melakukan dua kebohongan: Kebohongan kepada diri sendiri dan kebohongan kepada orang lain. Sebuah paket hemat untuk menjalani hidup dalam kepura-puraan, bukan?

• • •

2. KEAHLIAN UNTUK DIAM

Hah, sedikit banget gajimu! Mending kamu pindah kerja deh, kebutuhan semakin tambah mahal bro sekarang. Cari perusahaan yang menghargai keringatmu bro!

Si A yang sebelumnya merasa berkecukupan dengan gajinya 2 juta, menjadi minder dan sedih karena ucapan kita. Si A kemudian kehilangan semangat bekerjanya. A meminta kenaikan gaji tetapi ditolak. A resign dari pekerjaannya dan menjadi pengangguran.

• • •

Kenapa beli yang itu? Itu kan udah ketinggalan zaman. Ganti aja udah!

Si B yang sebelumnya bahagia karena bisa membeli telepon pintar baru dari hasil jerih payahnya sendiri, menjadi muram dan malu karena pendapat kita. Si B kemudian menjual telepon pintarnya dan memilih untuk meminjam uang agar bisa membeli telepon pintar yang lebih mahal dengan model paling baru.

• • •

Perasaan kok bertengkar terus sih kalian, lihat dong aku sama si X, baik-baik terus kan. Putusin aja pasangan kaya gitu, buang-buang waktu aja!

Si C yang sebelumnya sangat percaya pada hubungannya, sekarang menjadi ragu-ragu karena tanggapan kita. C kemudian meminta mengakhiri kisah cintanya dan melupakan janji pasangannya ke jenjang yang lebih serius.

• • •

Kita ini memiliki kebiasaan buruk yang tidak kita sadari. Kebiasaan memberi tanggapan kepada sesuatu tanpa diminta oleh orang yang bersangkutan.

Kita membungkus dan menyebutnya sebagai “nasihat.” Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, kita memberikan bom waktu kepada kehidupan orang tersebut.

Nasihat bukanlah sesuatu yang menjatuhkan hati orang lain.

Nasihat bukanlah sesuatu yang mengecilkan dunia orang lain.

Diam itu adalah emas, jika kamu tahu kapan harus menggunakannya!

• • •

3. KEAHLIAN MENGAKUI KESALAHAN

“Lah, itu karena dia!”

“Ini gara-gara si A pasti!”

“Bukan aku kok, aku nggak mungkin kayak gitu!”

Kita ini bukan malaikat! Kita ini manusia yang sering melakukan kesalahan. Dan itu adalah hal yang wajar.

Tidak usah berusaha menjadi orang yang ingin selalu benar dalam segala hal. Tidak usah berusaha menjadi orang yang ingin dilihat pintar atau sempurna di mata orang lain. Tidak usah juga berusaha mencari pembenaran dan menjadikan orang lain atau keadaan sebagai kambing hitam.

Cukup akui dan perbaiki!

Karena, tidak mengakui kesalahan adalah sebuah kesalahan setelah melakukan kesalahan. Dan itu adalah hal bodoh!

• • •

4. KEAHLIAN MENGATAKAN “TIDAK TAHU”

Si A bertanya B, kamu tahu. Si C bercerita D, kamu tahu. Si E membahas F, kamu tahu.

Jika apa yang kamu ketahui adalah hal yang memang benar, itu adalah hal yang baik. Yang menjadi masalah adalah ketika kamu “merasa” tahu.

Iya, kamu hanya “merasa.” Kamu tidak benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan. Kamu hanya bersandiwara seolah-olah tahu, hanya untuk mencegah cap “bodoh” atau “tidak mampu.”

Kita ini bukan Google, kita juga bukan ensiklopedia. Jika kamu tidak tahu akan sesuatu, kamu hanya butuh satu hal: katakan “maaf, aku tidak tahu.”

Terimalah setiap kekuranganmu. Tidak usah memperlebar cerita. Tidak usah merangkai cerita. Karena semua itu hanya bersifat kosong!

• • •

5. KEAHLIAN UNTUK MENDENGARKAN

Kita tidak memerlukan uang yang banyak untuk membahagiakan orang lain. Kita tidak memerlukan mobil yang mewah untuk membuat tersenyum orang lain. Kita tidak memerlukan nasihat yang bijak untuk memotivasi orang lain.

Karena terkadang, untuk menjadi orang yang ada untuk mereka, kita hanya butuh telinga. Satu alat yang kita perlukan untuk belajar mendengarkan.

Mendengarkan keluh kesah mereka. Mendengarkan curahan hati mereka.

Dengarkanlah, tersenyumlah. Dalam poin tertentu, mereka hanya butuh telinga dan hati yang mampu mengerti.

• • •

6. KEAHLIAN UNTUK KEHILANGAN

Satu hal yang sering kita lupa dalam menghadapi pilihan adalah kepastian untuk kehilangan.

Ketika kita memilih A daripada B, kita hanya memperpanjang umur A untuk bisa menemani hidup kita. Karena pada hakikatnya, kita akan kehilangan dua duanya.

Jadi, siapkanlah dirimu untuk kehilangan, baik itu dalam sebuah hubungan cinta, pertemanan, keluarga atau berupa materi, karena itu adalah sebuah kepastian.

Semua hal yang berwujud selalu memiliki umur. Dan pilihanmu terhadapnya adalah kehilangan yang tertunda!

• • •

7. KEAHLIAN UNTUK PESIMIS

Untuk mencapai hal yang kita impikan di dunia ini tidak harus selalu diiringi dengan perasaan optimis. Karena dalam kasus tertentu, rasa optimis hanya akan membodohi kita.

  • Kita menutup hati kepada hal yang mengguncang perasaan kita.
  • Kita menutup telinga kepada cerita yang mendidihkan darah kita.
  • Kita menutup mata kepada orang yang baik kepada kita.

Mengapa semua itu terjadi? Karena kita terlalu optimis dengan apa yang kita punya. Kita terlalu percaya dengan hal yang belum tentu benar.

  • Bisa saja hal yang mengguncang perasaan kita adalah sebuah fakta yang tak terelakkan.
  • Bisa saja cerita yang mendidihkan darah kita adalah sebuah pelajaran baru untuk memperbaiki hidup.
  • Bisa saja orang yang baik kepada kita adalah orang yang ingin menghancurkan hidup kita.

Optimis adalah titik di mana kita telah berhenti. Berhenti untuk belajar. Berhenti untuk melihat luasnya kehidupan. Berhenti untuk berusaha mengurangi kesalahan.

Dan ketika itu terjadi, kita akan menjadi manusia paling keras kepada di dunia. Menjadi manusia yang merasa paling benar. Menjadi manusia yang mati hatinya.

Pesimis itu perlu. Karena dia adalah obat untuk mengurangi ekspektasi yang sering kita lebih-lebihkan.

• • •

8. KEAHLIAN UNTUK TIDAK BERGANTUNG KEPADA ORANG LAIN

Jika kamu bahagia karena bisa menjaga diri, tidak usah membahayakan diri sendiri hanya karena dihina sebagai pecundang.

Jika kamu menikmati hidup dalam batas kemampuanmu, tidak usah memaksakan kemampuan hanya karena diejek sebagai orang miskin.

Jika kamu bersemangat dengan hal yang dianggap penting, tidak usah melakukan hal bodoh hanya karena diremehkan sebagai penakut,

Kemampuan untuk tidak bergantung kepada bagaimana dunia luar menilai kita adalah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan sesungguhnya.

Hidupmu bukan untuk mereka. Hidupmu hanya untukmu.

• • •

9. KEAHLIAN UNTUK TIDAK MENGELUH

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Waktu yang harusnya saya gunakan untuk tidur, nyatanya malah membuat perut ingin bekerja.

Tanpa berpikir panjang, pergilah saya dan teman sekamar saya untuk membeli makanan.

Berhentilah kami pada sebuah rumah makan India, tepat di sudut perempatan jalan kota Batam. Di sana, kami tidak membeli makanan berat, tetapi hanya makanan ringan berupa roti prata yang dicelupkan pada semangkok susu kental.

Setelah perut mendapatkan haknya, bergegaslah kami untuk kembali ke kos agar bisa mengistirahatkan badan dan pikiran yang besok harus kami gunakan lagi.

Dan momen itu datang.

Saat keluar dari rumah makan tersebut, saya melihat beberapa anak yang masih belum tidur dan malah bermain di tengah jalan yang mulai kosong.

Mereka adalah anak-anak yang menjalani kehidupan di jalanan dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan mengamen.

Tetapi, raut muka kelelahan dari mereka tidak terlihat oleh saya. Sebaliknya, mereka justru menunjukkan betapa riang gembiranya mereka di malam yang sudah larut itu. Semua itu terlukis dari senyum yang melengkung dan suara tawa yang saling bersahutan satu sama lain.

Melihat bagaimana mereka bahagia, membuat saya merefleksikan itu semua pada hidup saya.

  • Di saat saya mengeluh dan bersedih karena telepon pintar saya rusak, mereka berbahagia dengan alat musik petik sederhana yang dibawanya.
  • Di saat saya mengeluh dan kecewa karena makanan yang tidak enak, mereka berbahagia dengan nasi bungkus yang mereka makan bersama-sama.
  • Di saat saya mengeluh dan marah karena sepatu yang tiba-tiba rusak, mereka berbahagia dengan sandal yang mereka gunakan untuk berlarian.

Mungkin bagi kita mereka masih kecil.

Mungkin bagi kita mereka belum mengerti tentang kehidupan.

Tetapi, hal itu tidak mengartikan bahwa kita tidak bisa mengambil pelajaran dari mereka, bukan?

• • •

Sesuatu yang dinamakan “hidup” akan selalu menunjukkan kejutan-kejutannya. Dan disitulah reaksi kita akan diuji. Jika semua berjalan sesuai dengan alur yang diinginkan, rasa syukur selalu tercurahkan. Yang menjadi masalah adalah ketika semua rencana yang kita bangung runtuh karena kenyataan berkata lain.

Hasilnya? Mengeluh.

Ketika kita mengeluh dan melihat orang ‘di atas’ kita, kita semakin lupa untuk mensyukuri apa yang kita punya.

Anak-anak kecil tadi mengajarkan kepada kita, bahwa ketika lingkungan mendukung siapa diri kita, kita akan tetap bisa merasakan kebahagiaan dengan apa pun yang kita punya.

Ketika kita mengeluh dan melihat orang di bawah’ kita, kita semakin merasa bahwa keadaan dan kehidupan kita lebih baik dari mereka.

Anak-anak kecil tadi mengajarkan kepada kita, bahwa apa yang kita anggap lebih buruk tidak selalu benar-benar buruk. Ketika kita menganggap bahwa kehidupan kita lebih baik dari orang lain, itu sebenarnya hanyalah kalimat penenang, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu kebenaran pasti.

Mengeluh adalah hal yang tidak berguna karena memberi kita kesempatan untuk merendahkan hidup sendiri dan merendahkan hidup orang lain.

Maka, ketika kita menemukan momen dimana kita akan mengeluh karena masalah, katakan kepada diri kita…

“Oh, kamu datang. Oke, aku siap untuk memperkuat diri!”

• • •

10. KEAHLIAN UNTUK MEMILIH LINGKUNGAN

A: Aku dapet nilai jelek nih!

B: Tenang aja, kita sama! Santai coy!

A: Betul juga sih! Emang pengertian lu!

• • •

A: Eh udah adzan tuh!

B: Haha, terus kenapa?  lanjutin aja main gamenya!

A: Haha, emang kampret lu, oke deh!

• • •

A: Lagi ada masalah keluarga nih gue!

B: Nih minum dulu, mabuk bisa meringankan beban bro!

A: Oke, temani gue!

• • •

Ketika A memilih untuk mengabaikan nilai jeleknya, A kehilangan kesempatannya untuk belajar lebih giat.

Ketika A memilih untuk mengabaikan panggilan hatinya. A kehilangan kesempatannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika A memilih untuk mengabaikan masalahnya. A telah kehilangan kesempatannya untuk menemukan solusi.

Orang yang dengan sadar mengizinkan orang-orang negatif masuk ke dalam hidupnya dan menariknya ke lubang yang sama adalah orang yang hidup dalam lingkungan yang salah.

Bertemanlah dengan siapa saja, tetapi bijaklah dengan siapa kamu menghabiskan waktumu!

Buat lingkunganmu sendiri. Lingkungan yang bisa membawamu menjadi orang yang lebih baik!

keahlian yang harus dimiliki keahlian yang harus dimiliki keahlian yang harus dimiliki keahlian yang harus dimiliki

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.