Jika kita disuruh untuk menyebutkan kebiasaan yang baik, daftar itu pasti tidak akan jauh dari membaca buku, bangun tidur lebih pagi, atau berolahraga. Kita kemudian dibawa kepada perasaan di mana kita dan hidup kita sedang dalam perjalanan menuju perbaikan.kebiasaan yang terlupakan

Tetapi, bagaimana kalau sebenarnya kita hanya sekedar merasakan? bagaimana kalau sebenarnya kita masih belum menjadi seseorang yang lebih baik?

Kita tidak membutuhkan rumus yang rumit, tidak juga membutuhkan praktik yang sulit. Cara yang akan kita bahas ini adalah cara yang mudah. Bahkan cara ini telah dilakukan oleh para filsuf Stoa seperti Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi, sejak ribuan tahun yang lalu.

marcus aurelius

Pertanyaan besarmu sekarang adalah “Apakah cara ini masih relevan di zaman yang serba maju sekarang ini?” Jawabanya IYA!

Kita tahu bahwa ribuan tahun dulu teknologi masih sangat terbatas. Tidak ada Facebook untuk melihat foto alay, tidak ada Instagram untuk stalking, tidak ada juga Youtube untuk menonton cara membuat kue nastar. Tetapi, di balik ketertinggalannya akan teknologi, zaman dulu justru memiliki keunggulan yang sulit dimiliki oleh kita sekarang.

Fokus.

Iya, itulah hal yang kurang dari kita semua sekarang ini. Kemudahan teknologi justru menawarkan kita pada dunia baru—dunia penuh gangguan. Akibatnya tidak main-main.

  • Kita sekarang menjadi orang yang mudah membandingkan diri dengan orang lain. Depresi pun menjadi sesuatu yang tak terelakkan.
  • Kita sekarang menjadi orang yang mudah untuk melakukan multitasking. Produktivitas pun menjadi korban.
  • Kita sekarang menjadi orang yang mudah terkena paradox of choice. Kebahagiaan pun seakan-akan harus sesuai dengan ukuran orang lain.

Review your day atau tinjau harimu adalah kebiasaan yang terlupakan untuk menghindari semua hal negatif di atas.

I make use of this opportunity, daily pleading my case at my own court. When the light has been taken away and my wife has fallen silent, aware as she is of my habit, I examine my entire day, going through what I have done and said. I conceal nothing from myself, I pass nothing by. I have nothing to fear from my errors when I can say: ‘See that you do not do this anymore. For the moment, I excuse you.

— Seneca

• • •

KEBIASAAN YANG TERLUPAKAN: REVIEW YOUR DAY

Setiap bangun di pagi hari kita akan selalu memiliki gambaran apa saja kegiatan yang harus diselesaikan. Mulai dari menyiapkan diri, bekerja, melakukan hobi, dll.

Jika pagi hari menawarkan kita waktu untuk menyelesaikan segala kegiatan, maka malam hari menawarkan kita waktu untuk meninjau hari yang sudah kita lalui.

Di setiap penghujung hari, tepat ketika kamu ingin menarik selimut, luangkanlah waktu kurang lebih 15 menit untuk melihat bagaimana jalannya harimu.

Tulis dan jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. APA YANG AKU LAKUKAN HARI INI?

Kita sama-sama tahu bahwa terkadang ada saja hal di luar rencana yang meminta blok waktu hidup kita. Maka dari itu, di sini kamu tidak hanya meninjau kembali kegiatan yang memang sudah terjadwal, tetapi juga meninjau kegiatan yang di luar rencana.

2. APA YANG AKU LAKUKAN DENGAN BAIK DAN APA YANG AKU LAKUKAN DENGAN TIDAK BAIK?

Setelah mengetahui kegiatan apa saja yang kamu lakukan di hari itu, sekarang waktunya memberi penilaian.

Penilaian yang bisa kamu tulis di pertanyaan ini tidak hanya berupa seberapa baik atau tidaknya hasil pekerjaan itu, tetapi juga bagaimana emosi yang terlibat saat kamu mengerjakannya.

Jadi, daripada hanya menulis “mengerjakan pekerjaan kantor,” tulislah “mengerjakan pekerjaan kantor dengan bahagia.”

Dengan cara tersebut kamu akan mendapat 4 gambaran:

  • Pekerjaan terselesaikan dengan emosi positif.
  • Pekerjaan terselesaikan dengan emosi negatif.
  • Pekerjaan tidak terselesaikan dengan emosi positif.
  • Pekerjaan tidak terselesaikan dengan emosi negatif.

3. BAGAIMANA AKU MEMPERBAIKINYA?

Sekarang saatnya kita merenung dan menemukan solusi apa yang bisa membawa kita pada perubahan yang lebih baik.

  • Pekerjaan terselesaikan dengan emosi positif. Ini adalah hal yang harus kita lakukan dan rasakan setiap hari. Tetapi, jangan merasa puas dan kemudian berhenti.
    Solusi: Tidak ada yang sempurna, bukan? Maka dari itu jika kamu sudah berada pada jawaban ini, cari lagi hal-hal yang masih bisa diperbaiki, cari lagi hal-hal yang bisa lebih dimaksimalkan.
  • Pekerjaan terselesaikan dengan emosi negatif. Hal ini menggambarkan bahwa pekerjaan itu selesai karena adanya sebuah paksaan atau sesuatu yang mengganggu selama proses pengerjaan.
    Solusi: Cari tahu alasan di balik ketidaknyamanan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Apakah pengaruh dari luar atau pengaruh dari dalam dirimu sendiri. Timbang pro dan kon serta beri hadiah pada dirimu jika kamu berhasil menyelesaikannya.
  • Pekerjaan tidak terselesaikan dengan emosi positif. Jika kamu berada pada poin ini, berarti kamu lebih mengutamakan kesenangan jangkan pendek daripada kesenangan jangka panjang. Kamu menunda pekerjaan hanya karena ingin mendapatkan kebahagiaan sesaat yang diberikan oleh tugas lain—video prank, 10 kejadian lucu di Indomaret.
    Solusi: Kamu harus sadar bahwa hal yang kita lakukan sekarang adalah investasi di masa datang. Menyelesaikan pekerjaan memang bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi tidak menyelesaikannya juga bukan sebuah solusi. Tidak usah banyak memainkan kalimat “bagaimana kalau….”. Berhentilah berpikir tentang kemungkinan, dan kerjakan itu sekarang.
  • Pekerjaan tidak terselesaikan dengan emosi negatif. Ini adalah hasil akhir poin ketiga. Perasaan positif yang kamu rasakan hanya akan ada di awal. Di akhir cerita kamu tetap akan menemukan pekerjaan yang terabaikan dan perasaan negatif yang meledak.
    Solusi: Nasi sudah menjadi bubur. Terima saja semua kenyataan bahwa kamu memang belum bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Penundaan adalah hal yang wajar, tetapi pura-pura tidak menyadari kerugiaannya adalah tindakkan bodoh. Maafkan dirimu, segera bergerak dan tidak mengulanginya adalah cara terbaik untuk menyayangi dirimu.

• • •

Pertanyaan di atas bukanlah pertanyaan mutlak. Kamu bisa menambahkan pertanyaan yang bisa membantumu lebih mengenal siapa dan bagaimana dirimu.

  • Kebiasaan buruk apa yang aku lakukan hari ini?
  • Kesalahan apa yang tidak aku terima?
  • Dalam hal apa saja aku lebih baik?kebiasaan yang terlupakan

• • •

PESAN AKHIR

Menjadikan refleksi harian sebagai rutinitas adalah hal yang sangat penting. Dengan ini kita akan tahu di mana kita salah dan bagaimana cara untuk memperbaikinya. Sebaliknya, jika kita tidak pernah melakukan refleksi diri, bagaimana kita tahu bahwa kita menjadi pribadi yang lebih baik atau bahkan lebih buruk?

Katakanlah kamu sudah melalui harimu hari ini. Kamu meluangkan waktu untuk berefleksi dan mendapati bahwa salah satu hal yang menarikmu ke perasaan negatif di hari ini adalah ketika kamu melakukan kebiasaan burukmu lagi. Setelah menimbang semua hal yang menyebabkanmu melakukannya, kamu kemudian menemukan solusi yang mengharuskanmu untuk tidak melakukannya lagi ketika dalam situasi yang sama. Bahkan kamu bisa melakukannya lebih baik lagi.

Dalam menjalani hari, kita sering bersikap reaktif daripada proaktif. Jika hal itu terus kita lakukan tanpa kita sadari, kerugian tidak hanya berdampak pada diri kita saja, tetapi juga pada orang lain.

Saat melakukan refleksi diri, kita akan dalam mode proaktif. Kita akan mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mengukur apa saja hal baik yang kita lakukan, apa yang tidak, apa yang membuat kita kesal, marah, iri hati, atau ketakutan, dan bagaimana cara kita memperbaikinya.

Refleksi diri memberikan kita kekuatan baru dalam menjalani hari. Semua analisis diri akan mengarah pada pembelajaran yang terus menerus dan pertumbuhan diri. Ditambah lagi, hal ini akan membuat kita lebih bisa memegang kontrol dan memperhatikan tindakan kita di kemudian hari.

Selalu ingat! Pasti ada saatnya semua orang yang berjuang mengalami kemunduran. Tidak usah berlarut-larut, maafkan dirimu dan segeralah kembali ke jalur yang seharusnya sebelum kerugian yang lebih besar memukul tepat di wajahmu!

We don’t learn from experience. We learn from reflecting on experience.

— John Dewey

kebiasaan yang terlupakan

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.