Jumlah sahabat Bill Gates bisa kita hitung dengan jari. Meskipun begitu, mereka memiliki cara berpikir yang sama dengan Bill. Di antara sahabat-sahabatnya, ada salah satu cerita yang paling diingat Bill, yaitu bagaimana dia bisa menjalin hubungan dengan investor tersukses sepanjang masa, Warren Buffett. Percaya atau tidak, hubungan itu dimulai dari penolakan Bill.

Pada tahun 1991, ibu Bill memintanya untuk bertemu Warren. Bill menolaknya dengan alasan bahwa mereka berdua berbeda. Bill adalah seorang technology nerd dan Warren adalah seorang investor.

“Aku terlalu sibuk, bu. Dia hanya membeli dan menjual kertas. Itu bukan nilai tambah nyata. Aku rasa kami tidak memiliki banyak kesamaan.”

“Itu akan jadi hal yang menarik, Bill. Bertemulah dengannya!”

“Oke, aku akan ke sana tidak lebih dari 2 jam dan pulang melanjutkan pekerjaanku.”

Untuk pertama kalinya, kedua orang hebat itu bertemu, duduk di kursi yang sama, dan berbincang-bincang selama berjam-jam.

cara membangun pertemanan

Dalam serial dokumenter Netflix, Inside Bill’s Brain: Decoding Bill Gates, Bill menceritakan kekagumannya terhadap Warren. Dalam percakapan tersebut, Bill mendapat pertanyaan seperti: mengapa IBM tidak bisa mengalahkan Microsoft, bagaimana ekonomi Microsoft, bagaimana cara Microsoft dalam menemukan orang pintar yang sejalan dengan tujuan perusahaan, atau juga bagaimana cara Microsoft menentukan harga.

Bill mengatakan bahwa dia selalu berharap bisa bertemu dengan orang yang bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan Warren adalah orang pertama yang melakukannya. Warren juga memberi nasihat kepada kita semua dengan mengatakan, “Sangat penting bagimu untuk memiliki teman yang tepat jika mereka menjadikanmu orang yang lebih baik daripada sebaliknya. Itulah hadiah utama.”

Jika menginginkan kehidupan yang lebih baik, kita tidak harus berteman dengan Bill atau Warren. Selain karena kecilnya kesempatan kita untuk mewujudkannya, fokus kita sebenarnya bukanlah pada mereka, tetapi pada pesan yang disampaikan bahwa kita harus mempunyai teman atau sahabat yang bisa membantu kita mencapai versi diri yang lebih baik.

• • •

Kualitas Kita Adalah Siapa Teman Kita

Jika aku bertanya berapa banyak teman yang kamu miliki, berapa jawabanmu? 30, 50, atau 101? Berapa pun jumlah teman yang kamu miliki akan menjadi hal percuma jika mereka tidak memberimu dampak baik. Hubungan pertemanan yang baik akan memprioritaskan kualitas, bukan kuantitas.

Kita juga sering mendengar kutipan yang dikaitkan dengan Jim Rohn, seorang pengusaha Amerika, bahwa “You are the average of the five people you spend the most time with” atau bisa juga diartikan, kualitas diri kita adalah rata-rata dari 5 orang yang sering menghabiskan waktu dengan kita.

Sayangnya, itu kurang tepat. Lebih buruk dari itu, diri kita sebenarnya dipengaruhi lebih dari 5 orang. Adalah hal yang masih bisa dipercaya jika aku mengatakan bahwa kita memiliki tingkat risiko 45% lebih besar untuk terkena obesitas karena pengaruh teman kita, tetapi bagaimana kalau aku mengatakan bahwa kita masih memiliki tingkat risiko 20% lebih besar terkena obesitas karena pengaruh temannya teman kita?

Mungkin kamu akan menjawab bahwa itu adalah omong kosong, atau hanya sebuah lelucon saja. Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu sampai aku tahu bahwa itu adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Christakis dan James Fowler dari tahun 1971 sampai 2003. Hal yang lebih menarik dari penelitian itu adalah kita juga masih memiliki tingkat risiko 10% lebih besar untuk terkena obesitas karena pengaruh teman dari temannya teman kita.

Singkatnya, tidak hanya temanmu yang memengaruhimu, tetapi juga temannya dan juga teman dari temannya. Menurut para peneliti, hal itu terjadi karena adanya peran jarak sosial. Jarak sosial yang semakin dekat akan membentuk aturan yang disetujui. Jika obesitas dipandang hal yang wajar oleh orang-orang di lingkungan kita, persepsi kita juga akan mengikutinya, bahkan mungkin juga perilaku kita.

Tidak hanya obesitas, Christakis dan Fowler juga menemukan hal yang sama terkait merokok. Kita akan memiliki kemungkinan menjadi perokok sebesar 61% jika teman kita adalah perokok. Jika teman dari teman kita adalah perokok, kita memiliki kemungkinan 29%. Jika teman dari temannya teman kita adalah perokok, kemungkinannya adalah 11%.

Bagaimana jadinya jika diterapkan dalam hal lain?

  • Kemungkinan kita menjadi pecandu obat-obatan terlarang akan lebih besar jika kita sering menghabiskan waktu dengan seorang pecandu.
  • Kemungkinan kita menjadi pemabuk juga akan lebih besar jika kita sering menghabiskan waktu dengan pemabuk.
  • Kemungkinan kita sulit move on juga akan lebih besar jika kita sering menghabiskan waktu dengan mereka yang selalu ambyar.

Sedikit banyak, teman kita memiliki andil dalam masa depan kita, tetapi kita juga harus ingat bahwa ini bukan seruan untuk membeda-bedakan siapa orang yang pantas untuk menjadi teman kita dan siapa yang tidak. Ini adalah peringatan bahwa kita boleh berteman dengan siapa saja, tetapi kita harus bijak dengan siapa kita menghabiskan waktu.

• • •

Teman yang Tepat Memberikan Kehidupan Lebih Baik

Setelah mengetahui betapa pentingnya teman dalam membentuk kehidupan kita, apa yang selanjutnya kita lakukan? Tentu saja kita harus merefleksikannya dan membuat monolog internal, “Siapa saja temanku dan bagaimana mereka?

Tujuan dari hal ini adalah agar kita bisa menciptakan lingkungan yang berisikan orang-orang yang sejalan dengan apa yang kita ingin capai. Sayangnya, itu tidak mudah. Seringkali, kita tidak objektif hanya karena kebiasaan yang sering kita lakukan dengan mereka. Kita selalu bertemu. Kita selalu mengobrol. Kita selalu bercanda. Iya, mereka memang selalu ada buat kita, tetapi apakah mereka benar-benar memacu kita untuk menjadi lebih baik? Jika tidak, maka hubungan yang kita bangun hanya sebatas pengisi waktu tanpa adanya nilai.

Aku tidak mengatakan bahwa kita harus selalu serius di setiap kesempatan seperti membahas bagaimana ekonomi dunia atau bagaimana cara kerja omni processor yang dikembangkan oleh tim dari yayasan Bill & Melinda Gates. Kita di sini berbicara tentang porsi. Ketidakseimbangan antara apa yang didapat dan apa yang diberikan dalam sebuah hubungan akan memiliki harga yang harus dibayar.

Dalam sebuah hubungan, kita pasti telah menginvestasikan energi, uang, mental dan juga waktu. Jika kita tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang telah kita berikan, lalu apa tujuan kita membangun hubungan?

Mungkin beberapa di antara kita menyangkal dengan mengatakan, “Aku masih untung kok. Karena dengan adanya hubungan, aku tidak merasakan kesepian.” Oke, aku bisa terima pandangan tersebut, tetapi apakah itu adalah keuntungan yang benar-benar mereka cari? Keuntungan yang bisa menjadikan mereka lebih baik dan bisa mendekatkan mimpi mereka? Atau sebenarnya hubungan itu tidak lebih sebagai penenang atau pelarian yang tidak membawa mereka ke mana-mana? Aku tidak tahu, tetapi bagiku hal semacam itu bukanlah sebuah keuntungan.

Mungkin sekarang kamu berpikir bahwa kita seperti memanfaatkan seseorang atau juga masih memiliki pamrih dalam sebuah hubungan. Kamu tahu, kebenaran tersembunyi yang ada di dalam diri kita masing-masing? Kita memang pamrih dalam sebuah hubungan!

Ilustrasi sederhana: kamu mengajak temanmu untuk menikmati kopi di cafe yang sama hanya karena ingin memenuhi kebutuhanmu agar tidak merasa kesepian, agar bisa bertukar pikiran, agar bisa berkeluh kesah. Kamu membutuhkan mereka karena kamu ingin mendapatkan sesuatu dari mereka. Itulah mengapa aku menuliskan dalam artikel ini bahwa kebanyakan hubungan yang kita bangun memang transaksional. Kita hanya melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, apa pun bentuknya.

Waktu kita ini terbatas. Jika interaksi dalam hidup bernilai 100% dan 70% kita gunakan untuk berinteraksi dengan hal-hal yang tidak bisa memberikan perbaikan, itu sama artinya kita sedang menyiapkan masa depan yang sebenarnya kita hindari.

Aku tidak mau terdengar sok atau munafik karena aku sendiri terkadang masih melakukan hal yang sama, tetapi semakin aku menyadarinya, aku semakin lebih sadar di setiap pengambilan keputusan. Aku juga lebih bisa menyeleksi kapan saatnya bersantai dan kapan saatnya mencari manfaat dalam sebuah hubungan pertemanan. Tentu saja, kita tidak bersikap seperti lintah yang hanya mau menyedot dan berhenti ketika merasa cukup, kita juga harus memberikan nilai yang bisa mereka pelajari. Dalam sebuah hubungan, tujuan kita bukan untuk menjadi orang yang sempurna, tetapi berusaha untuk mengurangi kesalahan.

Maka dari itu, kita harus bisa membentuk tim yang berisikan orang-orang terbaik bagi diri dan kehidupan kita dan itu semua tergantung kepada diri masing-masing. Hanya kamu yang bisa memilih siapa teman yang toksik dan siapa yang tidak. Hanya kamu yang tahu siapa teman yang sejalan dengan apa yang kamu butuhkan dan siapa yang tidak.

Kamu harus objektif tentang mereka untuk mempercepat perkembanganmu karena ketika ada masalah, bukan mereka yang menjadi penanggung jawab, tetapi dirimu sendiri.

Satu hal yang harus selalu kita ingat adalah kita tidak mengakhiri hubungan dengan mereka yang tidak memberikan dampak baik, tetapi kita hanya membatasi diri. Di saat itu terjadi, di sanalah kehidupan yang lebih baik itu berada.