Pada abad ke-2, seorang penyair Romawi bernama Juvenal mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Latin, “rara avis di terris nigroque simillima cygno” yang berarti “burung langka di tanah dan sangat mirip angsa hitam”.

Ungkapan Juvenal tersebut kemudian dipakai sebagai ungkapan yang menyatakan ketidakmungkinan di London pada abad ke-16 karena orang dahulu menganggap angsa hitam itu tidak ada. Selain itu catatan sejarah sebelumnya menunjukkan bahwa semua angsa memiliki bulu putih.

Pada tahun 1697, hal yang tidak pernah dipikirkan semua orang terjadi. Willem de Vlamingh, seorang pemimpin penjelajah Belanda, menjadi orang pertama yang menemukan angsa hitam di Australia Barat. Jelas sekali bahwa “kemustahilan” itu menghancurkan cara pandang orang terhadap dunia.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi semakin populer ketika Nassim Nicholas Taleb, seorang penulis, ahli statistik dan mantan trader asal Lebanon, membahasnya dalam bukunya yang berjudul Fooled By Randomness pada tahun 2001.

Taleb menamai peristiwa itu sebagai Black Swan Theory.

• • •

Bukan Hanya Black Swan

Setiap orang, tanpa terkecuali, akan memiliki black swan—peristiwa mengejutkan yang tidak pernah terbayangkan untuk terjadi—dalam kehidupannya dengan versinya masing-masing. Sayangnya, black swan bukan satu-satunya hal yang membentuk realitas kita.

Untuk memahaminya lebih dalam, mari kita kembali pada tanggal 12 Februari 2002 ketika sekretaris pertahanan Amerika Serikat, Donald Rumsfeld, menanggapi pertanyaan di sebuah briefing berita Departemen Pertahanan AS (DoD) tentang kurangnya bukti yang menghubungkan pemerintah Irak dengan pasokan senjata pemusnah massal kepada kelompok-kelompok teroris.

Reports that say that something hasn’t happened are always interesting to me, because as we know, there are known knowns; there are things we know we know. We also know there are known unknowns; that is to say we know there are some things we do not know. But there are also unknown unknowns—the ones we don’t know we don’t know. And if one looks throughout the history of our country and other free countries, it is the latter category that tend to be the difficult ones.

Kategori di atas dimulai dari unknown unknowns yang pertama kali diciptakan pada tahun 1955 oleh dua psikolog Amerika, Joseph Luft dan Harrington Ingham dalam mengembangkan teknik Johari Window, teknik yang membantu orang untuk lebih memahami hubungan mereka dengan diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam memoarnya, Rumsfeld menuliskan bahwa istilah yang dia gunakan dalam pidatonya dikutip dari administrator NASA William Graham ketika mereka bertugas bersama di akhir 1990-an.

3 kategori itu kemudian mendapat satu pelengkap setelah seorang filsuf psikoanalitik, Slavoj Žižek, memberi satu poin baru, yaitu unknown knowns.

• • •

4 Hal yang Membentuk Kehidupan Kita

Kita bisa meminjam istilah sosiolog Jerman, Daase dan Kessler, untuk memahami bahwa kehidupan ini adalah hubungan antara apa yang kita ketahui (known knowns), apa yang tidak kita ketahui (known unknowns), apa yang sebenarnya ada, tetapi tidak kita sadari keberadaannya (unknown knowns), dan apa yang tidak bisa kita ketahui (unknown unknowns).

unknown unknowns

Known knowns adalah hal-hal yang dengan jelas kita ketahui. Kita tidak hanya mengetahui konteksnya saja, tetapi juga bagaimana cara menyelesaikannya.

Memasak Indomie adalah contoh yang paling sederhana. Kamu tahu di mana kamu harus membelinya dan bagaimana cara memprosesnya. Kamu menyelesaikannya dengan mudah.

Jika dikaitkan dengan masalah yang lebih rumit, known knowns bisa membutakan kita. Dia memandu kita dengan apa yang kita tahu, melebih-lebihkan pengalaman sebelumnya dan seringkali membuat kita meremehkan fakta dan emosi yang terlibat di masa sekarang.

Akibatnya kita akan menjadi orang yang hanya percaya pada hal yang hanya ingin kita percayai—bias konfirmasi. Maka, menjadi seseorang yang selalu mengosongkan cangkir di mana pun dan kapan pun adalah pilihan yang bijak agar selalu bisa beradaptasi dan bisa mengambil pelajaran dalam keadaan apa pun.

Stay foolish, stay hungry!

— Steve Jobs

• • •

Known unknowns adalah hal-hal yang butuh kita ketahui, tetapi masih belum bisa diwujudkan. Hal ini juga bisa diartikan dengan percaya bahwa sesuatu itu ada, tetapi kita belum memiliki informasi yang cukup.

Contoh dari kategori ini adalah membangun bisnis. Kita tahu bahwa ada banyak cara yang bertebaran di luar sana tentang cara membangun bisnis yang baik, tetapi untuk mendapatkan cara yang lebih efektif dan efisien, kita perlu belajar dari para pebisnis yang sudah terbukti sukses. Merekalah orang-orang yang akan membuka gembok informasi yang belum kita ketahui.

Known unknowns adalah sinyal diri bahwa ada hal yang masih jauh dari jangkauan kita, perlu diperbaiki, dan juga diselesaikan. Hanya menyadari atau meyakini sesuatu tanpa adanya tindakan adalah sebuah stagnasi. Maka, menjadi seseorang yang terus belajar dan bekerja adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.

Ideas without action is useless.

— Helen Keller

• • •

Unknown knowns adalah hal-hal yang ada dan memengaruhi kehidupan kita, tetapi kita tidak menyadarinya, atau yang lebih buruk kita menolak untuk mengakuinya.

Contoh yang paling mudah adalah kemampuan bahasa Indonesia yang kita miliki. Kita memang bisa berbicara atau menulis dalam bahasa Indonesia, tetapi apakah kamu tahu jika ditanya tentang seluk beluk tata bahasa yang ada di dalam bahasa kita sendiri? Aku yakin kebanyakan orang (termasuk aku) tidak menyadari bahwa ada banyak sekali aturan yang berlaku. Ini sama seperti penutur asli bahasa Inggris, mereka sangat lancar bebicara dan menulis, tetapi kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa di dalamnya ada tata bahasa yang disebut tenses.

Unknown knowns mengingatkan kita untuk selalu menyadari bahwa tidak ada hal yang sempurna. Ada sesuatu yang tidak kita sadari di balik apa yang kita ketahui. Tugas kita adalah terus memupuk rasa penasaran agar tidak terjebak dalam kepercayaan diri yang berlebihan.

The important thing is not to stop questioning. Curiousity has its own reason for existing.

— Albert Einstein

• • •

Unknown unknowns adalah hal-hal yang tidak kita ketahui dan tidak kita sadari. Mereka tidak teridentifikasi dan inilah yang disebut dengan black swan.

Contoh nyata dari unknown unknowns ini adalah kisah heroik John William Perry, salah satu anggota kepolisian New York. Pada pagi hari tanggal 11 September 2001, John Perry menuju markas besar kepolisian dengan niat mengurus dokumen pensiunnya. Jika kamu teliti, tanggal itu adalah hari di mana terjadinya serangan 11 September oleh teroris. Perry sebenarnya memiliki pilihan untuk berkumpul dengan keluarganya dan menikmati sisa hidupnya di masa pensiun, tetapi yang dilakukan Perry justru sebaliknya, dia justru ikut membantu mengevakuasi korban hingga akhirnya meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Itu adalah unknown unknowns. Perry tidak memikirkan tentang kemungkinan terjadinya serangan itu sedikit pun. Dia tidak mendapat tanda-tanda. Dia juga tidak bisa memprediksi. Dia hanya ingin menyelesaikan tugasnya hingga black swan itu tiba-tiba terjadi.

Unknown unknowns adalah sebuah kejutan. Kita tidak tahu kapan terjadi dan ke mana mencarinya. We are clueless.

As known unknowns become known, unknown unknowns proliferate. The larger the island of knowledge, the longer the shoreline of wonder.

— Huston Smith

• • •

Kegagalan Melihat Black Swan

Christopher Voss, mantan negosiator sandera FBI, menggambarkan black swan dalam bukunya yang berjudul Split The Difference, “The black swan symbolizes the uselessness of predictions based of previous experience. Black swans are event or pieces of knowledge that sit outside our regular expectations and therefore can not be predicted.” Ibaratnya kamu memiliki 1000 ekspektasi tentang suatu hal, tetapi black swan berada di urutan 1001, 1010, atau bahkan 2000 yang mana tidak ada di dalam daftarmu. Kamu bahkan tidak pernah mempunyai pikiran bahwa itu ada.

  • Kehidupan yang damai tiba-tiba berubah mencekam karena adanya virus baru. Itu black swan.
  • Perjalanan pesawat yang menyenangkan tiba-tiba berubah tegang karena ada seseorang yang perlu dioperasi secepatnya. Itu black swan.

Menurut Taleb, black swan tidak hanya memberikan voltase kejutan yang tinggi untuk diri kita, tetapi juga memberikan dampak yang besar dan hanya bisa dipahami setelah kejadian itu terjadi.

Epictetus mengatakan “Ini bukan tentang apa yang terjadi kepadamu, tetapi bagaimana kamu bereaksi terhadapnya yang penting” atau juga nasihat lain yang serupa di mana “kehidupan adalah 10% apa yang terjadi padamu dan 90% bagaimana kamu bereaksi terhadapnya.”

Kutipan itu kemudian hanya membuat kita beragumen bahwa hal itu hanya mudah untuk dibaca, tetapi tidak pernah mudah untuk diterapkan. Tidak mudah untuk move on setelah patah hati, tidak mudah untuk memulai hal baru setelah mengalami kegagalan. Kita langsung memberi penilaian terhadap suatu peristiwa hingga lupa menanyakan diri sendiri sebuah pertanyaan yang lebih penting—apa yang membuat kita kesulitan menerapkan nasihat tersebut?

Jika kamu bisa mengidentifikasinya, aku ucapkan selamat, tetapi beberapa yang lain, termasuk aku, membutuhkan waktu lebih sebelum bertemu dengan apa yang dicari. Jawabanmu adalah milikmu, sedangkan milikku adalah—kesulitanku menerapkan nasihat tersebut terletak pada kesalahanku dalam melihatnya.

Kita melihat tiga kategori pertama, known knowns, known unknowns, unknown knowns, sebagai ukuran seberapa baik kita mengenal diri sendiri. Known knowns mengajarkan kita pentingnya keraguan, known unknowns mengajarkan kita pentingnya memperbaiki kekurangan, unknown knowns mengajarkan kita pentingnya kesadaran dalam melihat ketidaktahuan.

Sedangkan kategori ke empat, unknown unknowns atau black swan, hanya kita anggap sebagai anomali. Sayangnya, melihat black swan hanya sebagai anomali kehidupan adalah tindakan ceroboh. Dengan melakukan itu, kita hanya akan melihat bahwa perubahan hidup terjadi karena hal eksternal saja, sedangkan kita tidak memiliki andil apa pun. Kita kehilangan satu kepingan puzzle lainnya yang menegaskan bahwa black swan sebenarnya sama seperti tiga kategori pertama—tentang mengenali diri sendiri.

Ketika black swan masuk tanpa izin ke dalam kehidupan kita, itu bukan hanya tentang bagaimana hal eksternal memperlakukan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita bereaksi terhadap hal eksternal tersebut. Itu adalah tentang bagaimana kita mengelola perasaan yang terlibat ketika suatu peristiwa terjadi. Itu adalah tentang bagaimana kita bertanggung jawab atas diri sendiri. Itu adalah tentang membuat batasan baru untuk diri sendiri.

Hanya memikirkan bagaimana hal eksternal memperlakukan kita seringkali membuat kita masuk ke mode pasif, hanya menerima keadaan dengan diiringi keluhan. Sedangkan bagaimana kita bereaksi terhadap hal eksternal membuat kita tahu bahwa kehidupan memang berubah karena black swan, tetapi kehidupan dimulai saat kita bereaksi terhadap black swan.

Pada akhirnya, kehidupan kita terbentuk dari bagaimana kita bereaksi.