Kenapa Kita Harus Selalu Belajar?

Kenapa Kita Harus Selalu Belajar

BENARKAH OTAK KITA SEPERTI MESIN?

Ya, otak kita seperti mesin.

Semakin kita merawatnya makan semakin lancar dia digunakan.

Semakin kita gunakan untuk selalu bekerja semakin dia cepat dan bertenaga.

Tetapi ketika kita berhenti menggunakannya dalam waktu yang lama, dia akan menjadi pelan dan berkarat.

The capacity to learn is a gift. The ability to learn is a skill. The willingness to learn is a choice.

— Brian Herbert

———

Setiap ada bugs, aplikasi di smartphone pasti di update. Tujuannya jelas, untuk membuat aplikasi lebih baik dan lancar.

Setiap bermain game ada banyak level yang harus kita taklukkan. Di game juga diharuskan mengupgrade peralatan yang dibutuhkan, mengupgrade skill yang dibutukan. Untuk apa? sudah pasti agar semakin mudah untuk melewati rintangan dan cepat bisa menaikkan level kita.

Tapi bagaimana dengan hidup kita? Sadarkah bahwa sesuatu yang virtual saja selalu di upgrade, masa tidak dengan kehidupan realita kita?

Maaf, aku lupa bahwa kita selalu mengupgrade sesuatu dari hidup kita.

MIMPI.

Kalian membaca dengan benar. Kita hanya selalu mengupgrade mimpi atau tujuan kita, tapi tidak pernah mau melalui prosesnya. Bahkan banyak diantara kita yang hanya ingin mencari jalan pintas.

Kita lupa bahwa kesuksesan tidak lah bisa tercapai dalam semalaman saja.

Ketika pokemon Go menjadi sensasi di seluruh dunia, dalam satu minggu mungkin pembuat Pokemon Go mendapatkan jutaan dolar dalam waktu yang singkat.

Betapa beruntungnya dia!

Tapi kita salah.

Itu bukanlah suatu kkeberuntungan. Itu adalah kerja keras selama 20 tahun.

Itulah John Hanke yang membutuhkan hampir 20 tahun untuk menciptakan suksesnya dengan Pokemon Go

 

Lionel Messi juga mengatakan

” Aku memulai lebih awal, dan bertahan lama, hari ke hari, tahun ke tahun, itu membutuhkan 17 tahun 114 hari untuk menjadi sukses dalam semalam”

Lalu kita menginginkan sukses dengan cepat tanpa mau melalui prosesnya?

Apa proses itu? BELAJAR!

———

LALU BELAJAR SEPERTI APA?

Belajar pengalaman hidup? Tentu saja!

Belajar keuangan? Pasti iya, karena kita hidup membutuhkan uang.

Belajar agama? Petunjuk untuk selalu ke jalan yang lurus, harus kita pelajari setiap hari.

Belajar teknologi? Belajar kepemimpinan? Belajar design grafis? dll.

Setiap orang akan selalu punya prioritas dalam belajar.

Ini ditentukan oleh passion kita dan impian kita.

Jika kita memiliki passion di design grafis maka kita akan selalu berupaya untuk mengembangkannya, dengan apa? dengan belajar.

Intinya adalah kita bisa belajar apapun yang kita inginkan.

Tapi tunggu!

Kita sadar kita hidup di zaman penuh gangguan.

Otak kita dialihkan untuk melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan, padahal sebenarnya itu adalah yang kita butuhkan. Otak lebih memilih sesuatu yang menyenangkan. Menonton TV, buka whatsapp, nonton trending Youtube berjam-jam, scrolling feed instagram, melihat post terbaru facebook dan ha-hal yang menjadikan kita malas untuk belajar.

Kita juga banyak memakan informasi sampah. Kenapa kita harus peduli dengan berapa harga mobil artis A? Kenapa kita harus peduli dengan siapa A berpacaran? Kenapa kita harus peduli kemana mereka liburan?

Tapi kan itu hanya soal perspektif, iya itu benar.

Setiap orang punya sudut pandangnya sendiri. Tapi point yang aku ingin sampaikan adalah kita harus bisa memilih informasi yang kita butuhkan, bukan informasi yang kita inginkan.

Jika dengan mengetahui kemana mereka liburan menambah wawasan kita sebagai tour guide, traveller, go for it!

Tapi kalau kita tidak butuh? Kenapa harus menghabiskan waktu untuk mengkonsumsi itu semua?

Untuk hiburan? Berapa jam yang kamu butuhkan? Huh?

Bukankan lebih baik kita gunakan untuk sesuatu yang bisa menambah informasi yang sebenarnya kita butuhkan?

Jika kalian ingin berbisnis, maka ya belajarlah bisnis dengan konsisten.

Jika kalian ingin menjadi pemimpin, maka ya belajarlah tentang kepemimpinan dengan konsisten.

———

BELAJAR DARIMANA?

Sebelum membahasa darimana kita bisa belajar, aku ingin memberi gambaran bahwa pemikiran manusia dibedakan menjadi 2. Fixed Mindset dan Growth Mindset.

Mindset adalah pola pikir. Mindset juga salah satu yang menentukan attitude kita terhadap sesuatu.

1. Fixed Mindset

Ketika kita percaya bahwa kualitas kita sudah ditentukan sejak lahir, sesuatu yang sudah pasti, tidak bisa dirubah, sesuatu yang sudah ditakdirkan.

Kita percaya bahwa kita hanya memiliki kepintaran terhadap sesuatu yang tertentu saja, memiliki kepribadian yang sudah tidak bisa dirubah, memiliki nilai moral yang sama setiap waktunya.

Jika kita menganggap  bahwa semua sudah memang dari sananya tanpa adanya usaha maka kita akan cepat menyerah ketika dihadapkan pada suatu halangan.

2. Growth Mindset

Ketika kita percaya bahwa sejak lahir kita sudah diberi kualitas yang menjadi pondasi agar kita bisa mengembangkannya, memperbaikinya melalui usaha yang dilakukan terus-menerus.

Jika kita memahami bahwa selalu ada ruang untuk mengembangkan diri kita, selalu ada waktu untuk terus berusaha dan belajar maka hasilnya adalah kita akan memperlakukan rintangan  sebagai kesempatan untuk memperbaiki kemampuan kita untuk menghadapi masalah yang lebih besar didepan nanti.

Kembali lagi ke pertanyaan, darimana kita bisa belajar?

1. Pengalaman hidup orang lain

Suatu hari seekor tikus memperhatikan seorang petani yang memasang jebakan tikus.

Tikus itu bercerita tentang hal itu kepada ayam, kambing dan sapi. Tapi mereka semua menjawab

“Jebakan tikus itu adalah masalahmu, itu tidak ada urusannya denganku”

Suatu hari ada seekor ular yang terperangkap jebakan tikus tersebut dan menggigit  istri petani.

Mencoba untuk menyembuhkan istrinya, si petani membunuh ayam dan menjadikannya sup.

Kemudian menyembelih  kambing untuk dimasak dan disajikan kepada tamu yang menjenguk.

Sapi pun juga  dijual kepada penjual daging, uagnya digunakan untuk pengobatan istrinya.

Si tikus hanya bisa melihat semua kejadian tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Apa moral dari cerita tersebut?

” Jika sesuatu tidak berhubungan denganmu langsung maka jangan berpikir hal itu tidak akan berimbas kepadamu juga”

Sahabat nabi pernah mengatakan

“Ambilah hikmah dari orang-orang yang kamu dengar, karena seseorang terkadang berkata suatu hikmah tetapi dia bukanlah seorang ahli hikmah. Hikmahnya itu seperti panah yang mengenai sasaran, tetapi yang memanah bukanlah seorang pemanah yang ahli”

Dulu aku hanya berpikir bahwa kita harus belajar dengan orang yang sudah punya nama saja, hanya kepada orang – orang besar. Padahal kepada siapapun kita belajar selama itu benar, tidak menyimpang agama dan sosial, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Maka jangan pernah menyepelekan seseorang!

2. Membaca Buku

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 Minat baca Indonesia menduduki no 60 dari 61 negara, artinya memang masyarakat Indonesia bisa dibilang rendah, di tahun 2016. Bagaimana dengan 2018? Kita lihat saja nanti.

Tenang saja, jangan beranggapan bahwa aku adalah seorang kutu buku. Aku juga masih belajar terus untuk selalu menjadikan buku sebagai penghabis waktu.

Sedikit cerita kenapa aku bisa mulai suka membaca?

Hari kedua lebaran tahun kemarin, Smartphone jadul yang biasa aku gunakan untuk stalking tiba-tiba mati.

Sebagai anak kos yang tidak ada televisi di kamar, HP adalah alat yang ampuh untuk melupakan penat dan capek setelah seharian bekerja.

Karena rusaknya yang aneh, aku mencoba membawa ke tempat service HP dan sesekali otak-atik sendiri -.-

Endingnya tuh HP tetep tidak bisa diperbaiki.

Tapi ada sesuatu yang menarik selama HP-ku rusak.

Karena aku bukan orang yang suka main keluar, dan banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, buku menjadi pelarian terbaikku.

Awalnya aku membaca sebuah novel milik temanku, dari situ entah kenapa aku merasa membaca buku itu bukanlah hal yang membosankan.

Dari sebuah novel, aku membeli buku secondhand secara online, kali ini aku membeli buku nonfiksi tentang pengembangan diri.

Buku itu adalah The Willpower Instict karya dari Kelly McGonigal.

Lucunya, aku membeli buku ini karena berpikir bahwa buku ini menarik, aku tidak melihat review atau sinopsisnya terlebih dahulu untuk membeli buku waktu itu.

Beruntungnya aku, buku ini merubah mindsetku tentang bagaimana Willpower (Kekuatan Tekad) mempengaruhi kehidupan kita.

Dari buku inilah aku menjadi suka buku pengembangan diri, dan suka untuk membaca.

Aku sadar, membaca adalah aktivitas yang memakan sedikit energi tetapi menghasilkan hasil yang besar.

Membaca adalah sumber untuk pembentukan identitas kita.

Membaca membuat kita bisa menjelajahi waktu, menemukan pemikiran-pemikiran yang hebat dari orang-orang yang hebat di tahun dimana kita belum dilahirkan.

Membaca adalah jalan pintas terbaik untuk belajar dari pengalaman orang-orang yang pernah gagal.

Membaca membuat kita memandang berbeda dunia ini.

 

Mobil termahal di dunia tidak akan bisa digunakan jika jalanan yang dilalui nya rusak.

Komputer tercanggihpun tidak akan bisa berfungsi jika tidak ada listrik yang menjalankannya.

Semua itu karena adanya infrastruktur.

Sama seperti mobil dan komputer, kita akan bisa menggunakan kemampuan terbaik kita jika kita memiliki infrastruktur yang baik.

Apa infrastruktur kita?

Kesehatan, kebiasaan yang baik, kesadaran diri, spiritual, uang dll

Bagaimana cara agar kita bisa mengoptimalkan infrastruktur kita?

Tidak bosan aku mengatakan, BELAJAR!

———

MANFAAT BELAJAR HAL BARU

1.  Melihat dunia secara berbeda

Setiap hari bisa menjadi sebuah petualangan yang baru ketika kita belajar tentang dunia disekeliling kita.

Dengan belajar kita akan lebih peka terhadap sesuatu di sekeliling kita.

Kita lebih bisa hidup di waktu sekarang ( Tidak meratapi masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan ).

Kita kebih bisa menikmati apapun yang kita lakukan.

Ada 5 orang yang berjalan melewati bangunan yang besar, memiliki taman yang indah dan juga pohon yang besar.

Kelima orang ini akan melihat secara berbeda tentang bangunan itu. Mereka akan melihat berdasarkan apa yang mereka pelajari.

Orang pertama adalah seorang tukang kayu. Ketika dia melewati rumah besar itu dia memperhatikan bagaimana indahnya kayu yang diukuir indah dan dijadikan pintu yang besar didepan rumah.

Orang kedua adalah seorang traveller. Ketika melewati rumah besar, dia tidak memperhatikan rumahnya, tetapi dia memperhatikan bagaimana indahnya langit yang ada diatas bangunan besar itu. Langit yang biru dan dipenuhi awan yang putih membuat matanya tidak bisa berpaling.

Orang ketiga adalah seorang penyanyi. Ketika melewati rumah besar itu, dia juga tidak memperhatikan bangunannya. Dia memperhatikan suara burung yang ada dipohon besar. Mendengarkan cuitan merdu yang menenangkan hatinya.

Orang keempat adalah seorang tukang kebun. Ketika melewati rumah megah itu, dia memperhatikan bagaimana taman dan pohon berpadu untuk melengkapi keindahan rumah itu. Bunga-bunga yang memberikan warna kepada rumah itu dan juga pohon besar yang memberikan keteduhan rumah itu.

Orang kelima adalah seorang yang tidak suka belajar hal baru. Dia melewati bangunan besar itu dengan mata yang hanya tertuju pada sosial media di handphonenya dan telinga yang hanya mendengarkan notifikasi yang didapatnya. Dia berjalan melewati rumah besar itu tanpa memperhatikan sesuatu yang menarik baginya. Dia melewatkan bagaimana burung bernyanyi, awan yang memamerkan keindahannya, bunga yang memberikan keharumanya, dan dia sama sekali tidak memperhatikan itu semua.

Poinnya adalah setiap orang akan melihat dan merasakan sesuatu yang berbeda. Itu tergantung dari apa yang mereka pelajari.

Jangan pernah jadi orang kelima!

 

2. Menjadi orang yang lebih menarik

Semakin kita belajar, semakin kita menarik dimata orang lain.

Kita akan selalu bisa mempertahankan pembicaraan dengan topik-topik yang menarik.

Bayangkan jika kita tidak pernah belajar, kita tidak akan pernah bisa menjalin komunikasi dengan baik, atau bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang akan mau dibahas.

Selama kita rendah diri, orang akan tertarik dengan kita dan pengetahuan kita. Bonusnya adalah mereka akan senang berbicara dengan kita

Keluar bersama teman-teman adalah hal yang paling kita tunggu-tunggu, dimana kita bisa mencurahkan kangen kita, unek-unek kita, atau sharing tetang masalah yang kita hadapi.

Jum’at kemarin aku keluar dengan teman SMP dimana lebih dari 1 tahun tidak bertemu.

Ketika sudah berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, bukannya bertukar pembicaraan ,mereka malah sibuk dengan smartphone mereka sendiri-sendiri.

Mereka sibuk untuk mengupdate instagram mereka yang mereka anggap sebagai alat ukur ke-HITS-an mereka

Sesuatu yang menyedihkan bukan?

Bukannya melarang, tetapi kenapa kita selalu mengutamakan kehidupan virtual kita daripada kehidupan realita kita?

Apakah jempol, love, dan follower baru yang membuat hidup kita menjadi lebih bermakna?

Oh ya aku lupa bahwa dunia nyata adalah kehidupan kedua bagi kita!

 

3. Menjadi lebih bernilai

Orang-orang sukses selalu belajar hal baru.

Pernah dengar quote ini…

The more you learn the more you earn.

Semakin banyak kita belajar, semakin banyak sesuatu yang kita hasilkan.

Mungkin terlihat basi, tapi terimalah kenyataannya.

Pengetahuan dan skill kita akan membuat kita melangkah lebih maju, dan membukakan kesempatan untuk mencapai mimpi teliar kita.

 

4. Menemukan diri sendiri

Semakin kita belajar, kita akan mengenal diri sendiri lebih baik.

Kita telah banyak melihat kegagalan dari orang lain maupun diri kita sendiri, ini membawa kita untuk menjadikan kita menjadi orang yang lebih baik lagi.

Kita telah banyak melihat orang sukses, ini membawa kita untuk termotivasi untuk selalu belajar, masa?

Ada hal yang mudah untuk kita pelajari, ada juga yang sulit untuk dipelajari, tapi kedisiplinan akan membawa kita melalui itu semua.

 

5. Memberi kontribusi

Ilmu itu bukan yang dihafal, tapi yang memberi manfaat

— Imam Syafi’i

Ketika belajar hal baru dan memperoleh pengetahuan, kita akan mendapat kemampuan yang lebih baik untuk diri sendiri, dan akan menjadi jauh lebih baik jika orang lain juga merasakannya.

Dengan memiliki ilmu, kita bisa membantu mereka yang belum mengerti.

Dengan ilmu, kita bisa memajukan mereka yang belum tahu.

Dengan ilmu, kita bisa menyadarkan mereka yang malas.

 

6. Melihat dengan berbeda dan menghindari kesalahan

Ketika kita belajar hal baru, kita akan bisa melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang lain.

Banyak orang Indonesia yang hanya memakan informasi mentah-mentah, mempercayai dari satu sudut pandang, tanpa mengumpulkan informasi dan fakta sebenarnya. Akhirnya kita mudah terprovokasi dan mudah untuk diadu domba.

Ketika kita bisa melihat sesuatu dengan objektif, kita akan bisa melihat perubahan yang tidak hanya terjadi pada diri kita tetapi juga di dalam masyarakat. Kita juga akan bisa menghindari kesalahan yang seharusnya memang tidak boleh kita lakukan.

 

7. Menikmati lebih

Teruslah belajar, dan kita tidak akan menemukan hal yang membosankan.

Kita akan selalu bisa menemukan seribu cara untuk menikmatinya.

———

 

Some People die at 25 and aren’t burried until 75.

— Benjamin Franklin

Kita sama seperti orang mati jika diumur 25 tahun berhenti belajar, dan akan dikubur diumur 75 tahun.

Poinnya adalah jadikan diri kita sebagai versi terbaik, tingkatkan kualitas kita dari hari ke hari, jangan biarkan pikiran kita mati.

Tetaplah belajar dan jangan menjadi seperti orang mati yang hidup ( orang yang tidak berkembang ).