SMA adalah masa yang paling indah. Begitu pun jika dikaitkan dengan cinta.

Nampaknya, hal itu terjadi dengan temanku satu sekolah. Beberapa dari mereka saling mempercayakan perasaan mereka satu sama lain.

Maka, bukanlah hal yang aneh lagi jika setiap hari aku melihat pemandangan dua sejoli yang selaing bermesra-mesraan.

Akan tetapi, kata “mesra” itu ternyata masih kalah pamor dengan kata “bertengkar”.

Iya, beberapa di antara mereka tidak sungkan untuk mempertontonkan pertengkaran mereka di depan umum dan di lihat banyak orang.

Masih kurang?

Bukan hanya adu argumen, adu fisik adalah hal yang biasa.

Bisakah kamu membayangkannya? kamu melihat sinetron secara langsung? Dan yang lebih baiknya lagi adalah, ini bukanlah sandiwara.

Mereka buta akan lingkungan di sekitar mereka yang mungkin saja mendapat dampak dari apa yang mereka katakan dan lakukan.

• • •

Merokok adalah kebiasaan yang sudah tidak bisa ditinggalkan oleh temanku satu ini. Bahkan kebiasaan itu dibawanya ketika akan memulai bekerja.

Jam 8 pagi hanyalah waktu yang menandakan bahwa dia sudah berada di kantor, bukan tanda untuk siap bekerja.

30 menit adalah waktu tambahan untuknya agar bisa mengisi tenaga. Merokok.

Kebiasaan ini berlangsung hampir 2 tahun, sampai akhirnya, supervisorku mengetahuinya.

Cerita selanjutnya?

Sudah pasti dia dipanggil dan diharuskan memberikan penjelasan.

Beruntungnya dia, karena kesempatan kedua diberikan.

Ternyata tidak selesai sampai disitu. Temanku ini justru mengeluh karena merasa ada orang lain yang melaporkannya. Dia menyerahkan semua kesalahan kepada orang lain.

Marah? Checklist.

Jengkel? Checklist.

Temanku masih belum bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.

• • •

” Lagi di kafe nih “

” Yes, dapet hadiah handphone baru (picture) “

” Lagi sedih nih “

” Kok kebelet ya “

” Kenapa sih jadi cow/cew kayak 354@#$^! “

Tahukah kamu apa itu?

Status!

Lagi-lagi itu adalah hak mereka untuk bebas berekspresi.

Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin kamu bisa membantuku untuk menjawabnya.

Apa alasan mereka menceritakan semua kegiatan mereka? Followers atau Attention?

Privasi? Ah lupakan!

• • •

Jika ditanya apa hiburanku saat melihat foto di Instagram atau video di YouTube, jawabannya adalah KOLOM KOMENTAR.

Jika belum pernah piknik ke sana, ada baiknya kamu sesekali meluangkan waktumu melihat bagaimana orang-orang mengkritik sesuatu dengan cara yang memprihatinkan.

Mengapa?

Pertama, kritik mereka tidak membangun. Kedua, kata kotor adalah kata sisipan yang sepertinya harus selalu ada. Ketiga, mereka tidak akan mengakui kesalahan sekalipun mereka tahu mereka salah.

No comment. Nitizen selalu benar (titik).

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, kamu bisa mendownload e-book tentang Minimalisme dan Hidupku Kebiasaanku ( Panduan Membangun dan Membuang Kebiasaan ).  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis!

• • •

APA ITU DEWASA?

Contoh-contoh diatas tadi bisa masuk dalam kategori seseorang yang tidak mencerminkan sikap dewasa.

Tetapi apakah kita tahu arti dewasa itu sendiri?

Mungkin kamu memiliki definisi dewasa sendiri, tetapi mari kita samakan arti dewasa itu.

Dalam psikologi, kedewasaan adalah kemampuan untuk merespon lingkungan dengan cara yang tepat. Kedewasaan juga meliputi kesadaran akan waktu dan lokasi yang tepat untuk berperilaku dan mengetahui kapan harus bertindak, sesuai dengan keadaan dan budaya masyarakat yang hidup di dalamnya. 

Kita juga bisa mengartikan bahwa dewasa adalah kecakapan untuk mengelola mental dan emosional secara baik.

• • •

MEREKA YANG BELUM SIAP

Dunia kita sekarang memanglah sudah berbeda.

Kemajuan semua teknologi ini memberikan kemudahaannya dengan akibat yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Informasi juga bukanlah hal yang mahal, kita bisa mengonsumsinya di mana pun dan kapan pun.

Dan disitulah masalahnya.

Ketika kita sudah mencapai tahap dewasa, kita mungkin akan lebih bijak dalam menyaring suatu informasi, tetapi bagaimana dengan mereka yang masih memiliki proses yang panjang untuk menuju ke kedewasaan?

Karena tidak bisa dipungkiri lagi, anak SD saja sekarang sudah memiliki telepon pintarnya sendiri + sudah piawai sekali untuk mengakses internet.

Mereka sebenarnya belum siap untuk menerima itu semua (tanpa bimbingan orang tua). Bagian dewasa dari otak mereka masih dalam proses terbentuk dan belum siap untuk menerapkan semua yang diperolehnya dari dunia maya.

Mereka akan mudah mengambil dan menyimpannya, tetapi keinginan dan emosi mereka tidak siap untuk bertindak dengan cara yang sehat.

Mereka dapat menjadi “lumpuh” oleh semua konten yang mereka konsumsi.

Mereka sangat ingin dapat merasakan dunia yang mereka lihat di situs web atau video yang mereka lihat, tetapi di waktu yang sama, mereka juga tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak siap untuk pengalaman itu secara emosional.

Lobus frontal otak yang bertanggung jawab untuk penalaran tingkat tinggi dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya matang hingga awal 20-an.

Menurut Deborah Yurgelun-Todd, ahli saraf di Harvard’s Brain Imaging Center, ada sebagian waktu ketika “pengelola sikap anak” dari otak telah dipangkas, tetapi bagian “orang dewasa” dari otak belum sepenuhnya terbentuk. 

Mereka benar-benar di antara anak dan orang dewasa.  

• • •

Terlepas dari masalah diatas, sebenarnya apa saja sih tanda-tanda seseorang bisa dikatakan bahwa dia adalah orang yang sudah dewasa?

1. BISA MENJAGA KOMITMEN JANGKA PANJANG

Ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu untuk mencapai sesuatu yang lain.

Sesuatu yang kita korbankan adalah sesuatu yang tidak memberikan hasil positif untuk diri kita dan kehidupan kita. Sedangkan sesuatu yang lain adalah mimpi yang ingin kita capai.

Dengan berkomitmen jangka panjang kita akan selalu bisa mengesampingkan keinginan untuk menjunjung tinggi kebutuhan.

Kesenangan jangka pendek adalah musuh yang nyata untuk kesenangan jangka panjang yang sebenarnya kita dambakan.

Most people fail, not because of lack of desire, but, because of lack of commitment.

— Vince Lombardi

2. KRITIK DAN PUJIAN BUKANNLAH HALANGAN

Orang yang telah dewasa akan selalu bisa memperlakukan pujian dan kritik sebagaimana mestinya.

Ketika di puji, mereka sadar bahwa itu bukanlah karena siapa mereka, tetapi itu semua karena hasil kerja keras mereka.

Begitu pun ketika mereka dikritik, mereka akan menggunakan hal itu untuk alat memperbaiki diri, bukan alat untuk menurunkan semangat mereka.

Mereka tidak akan goyah dengan pujian dan kritikan.

The trouble with most of us is that we would rather be ruined by praise than saved by criticism.

Norman Vincent Peale

3. KEPUTUSAN YANG DIBUAT BERDASARKAN KARAKTER, BUKAN PERASAAN

Orang dewasa akan hidup berdasarkan nilai-nilai. Mereka memiliki prinsip-prinsip yang memandu keputusan mereka.

Maka ketika ada sesuatu yang melibatkan perasaan mereka, mereka tidak akan terpengaruh begitu saja.

Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are.

John Wooden

4. TIDAK MENGHAKIMI

Perbedaan membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah. Meskipun kamu tidak setuju dengan seseorang, bukan berarti mereka salah dan kamu pantas untuk menghakiminya habis-habisan.

Seorang yang dewasa selalu menyambut perbedaan tanpa adanya perselisihan dan menjadikan itu sebagai ajang tukar pendapat dan wawasan baru.

No one cares how much you know, until they know how much you care.

Theodore Roosevelt

• • •

TUA BELUM TENTU DEWASA

Aku yakin kamu pernah menjumpai atau bahkan memiliki seorang teman yang lebih tua dari kamu tetapi masih memiliki pemikiran yang seperti anak-anak.

Atau sebaliknya, memiliki seorang teman yang lebih muda dari kamu tetapi sangat memiliki perilaku dan pemikiran orang dewasa.

Satu kesimpulan yang bisa kita ambil adalah semakin tua seseorang tidaklah sebanding lurus dengan tingkat kedewasaannya.

Mengapa?

Jawabannya adalah kerena umur kita dibagi menjadi dua, Chronological age dan Mental age.

  1. Chronological age  (umur kronologis), adalah umur seorang individu yang diukur dari hari, bulan, dan tahun dari dia lahir. Maka ketika ada orang bertanya berapa umurmu, dia sebenarnya menanyakan umur kronologismu. Jika kamu lahir tahun 2000 maka umur kronologismu di tahun 2018 adalah 18 tahun.
  2. Mental age (umur mental), adalah umur yang sangat erat kaitannya dengan kecerdasan dan menekankan pada kemampuan intelektual.

Mental age > Chronological age =  Dewasa.

• • •

KUNCI MENJADI DEWASA

Oke, karena kita sudah tahu dua jenis umur. Kita tidak akan membahas umur kronologis, karena kita sudah tahu bahwa umur ini hanya menunjukkan angka. Sebatas itu.

Untuk mengetahui apa saja kunci menjadi dewasa, kita harus membahas umur mental, karena di sini lah tempat di mana hasil yang kita cari berada.

Maka, ketika membahas umur mental kita juga akan membahas tentang Cognitive Development (perkembangan kognitif). Kongnitif sendiri adalah kemampuan yang mencangkup kemampuan mental pada otak.

Perkembangan kognitif mengacu pada bagaimana seseorang mempersepsikan, berpikir, dan memperoleh pemahaman tentang dunianya melalui interaksi faktor genetik dan pengalaman (interaksi sosial).

Di antara bidang pengembangan kognitif adalah pengolahan informasi, kecerdasan, penalaran, pengembangan bahasa, dan memori.

Teori yang paling terkenal dan berpengaruh dalam perkembangan kognitif adalah psikolog Perancis, Jean Piaget (1896–1980). Teorinya tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1952.

kunci kedewasaan

Menurut Piaget, semua manusia dilahirkan dengan struktur mental yang sangat mendasar, sehingga kita harus melewati serangkaian tahap biologis, membangunnya secara bertahap untuk mencapai suatu kedewasaan.

Menurut Piaget perkembangan kognitif terjadi dalam serangkaian empat tahapan universal yang berbeda, masing-masing ditandai dengan tingkat pemikiran yang semakin maju.

Tahapan-tahapan ini selalu terjadi dalam urutan yang sama, dan masing-masing dibangun di atas apa yang telah dipelajari pada tahap sebelumnya. Mereka adalah sebagai berikut:

  • Tahap sensorimotor (bayi): Pada periode ini, yang memiliki enam sub-tahap, kecerdasan ditunjukkan melalui aktivitas tanpa menggunakan simbol. Pengetahuan tentang dunia terbatas, tetapi berkembang, karena didasarkan pada interaksi dan pengalaman fisik. Anak-anak memperoleh objek permanen di sekitar usia tujuh bulan (memori). Perkembangan fisik (mobilitas) memungkinkan anak untuk mulai mengembangkan kemampuan intelektual baru. Beberapa kemampuan simbolis (bahasa) dikembangkan pada akhir tahap ini.
  • Tahap pra-operasional (balita dan anak usia dini): Pada periode ini, terdapat dua sub tahap, kecerdasan ditunjukkan melalui penggunaan simbol, penggunaan bahasa matang, dan memori dan imajinasi dikembangkan, tetapi pemikiran dilakukan secara non-logis , cara non-reversibel. Pemikiran dan sifat egois lebih dominan.
  • Tahap operasional konkret (SD dan awal masa remaja): Pada tahap ini, dicirikan oleh tujuh jenis konservasi (jumlah, panjang, cair, massa, berat, luas, dan volume), kecerdasan ditunjukkan melalui manipulasi simbol yang logis dan sistematis.. Pemikiran operasional berkembang (tindakan mental yang reversibel). Berkurangnya sakiap dan pemikiran yang egois.
  • Tahap operasional formal (masa remaja dan dewasa): Pada tahap ini, kecerdasan ditunjukkan melalui penggunaan logis dari simbol yang terkait dengan konsep abstrak. Di awal periode ada kembali ke pemikiran egosentris. Hanya 35 persen lulusan sekolah menengah di negara industri yang mendapatkan kemampuan operasi formal.

Dari keempat tahap diatas, bisa dikatakan bahwa proses menuju kedewasaan terjadi karena dua sebab.

Pertama faktor genetik dimana kita tidak punya andil untuk mengubahnya. Kedua faktor lingkungan (interasksi sosial) yang akan membantu kita dalam perkembangan kognitif kita.

• • •

3 KUNCI MENJADI DEWASA

Berbicara tentang genetik sama artinya kita membicarakan berbagai macam bunga di suatu taman.

Iya, itu semua karena genetik setiap orang akan berbeda. Ada yang memiliki genetik di mana perkembangannya sangat baik, ada juga yang sebaliknya.

Maka kita akan membahas bagaimana cara mengembangkan kedewasaan melalui pengalaman interaksi sosial.

Seringkali kita mendengar bahwa semakin seseorang memiliki banyak pengalaman, semakin dewasa juga dirinya.

Nyatanya tidak!

Fakta yang sering kita lewatkan adalah, banyaknya pengalaman tidak sebanding dengan tingkat kedewasaan seseorang.

Tidak usah disangkal, pasti kamu punya kerabat atau teman di mana dia sangat memiliki banyak pengalaman tetapi masih saja memiliki pemikiran yang belum dewasa.

Mengapa itu bisa terjadi?

Itu semua karena mereka kekurangan 3 hal (3 kunci kedewasaan).

Catatan yang perlu diperhatikan adalah, tanpa memiliki kunci yang pertama, kita tidak akan pernah bisa menggunakan kunci yang kedua dan ketiga.

Apa saja ketiga kunci tersebut?

1. SELF-AWARENESS (KESADARAN DIRI)

Masih ingat kan bahwa kunci pertama ini sangatlah menentukan sebelum kamu ke kunci yang kedua dan ketiga?

Sekarang, ambil sebuah kaca dan bercerminlah!

Apa yang kamu lihat sekarang?

Kamu sekarang sedang melihat dirimu yang lain, yang sedang terjebak di dalam kaca tersebut. Jangan panik, tenang, dan tarik nafaslah!

Apa yang kamu perhatikan dari wajahmu yang tercermin itu? Wajah yang marah? Wajah yang sedih? Wajah yang penuh beban? Atau bahkan wajah yang penuh dengan keputusasaan?

Itulah wajah yang kamu selalu bawa dan tunjukkan kepada dunia.

Kecuali kamu mengubahnya!

Adalah kewajiban kita untuk mengetahui bagaimana diri kita dan hal yang paling mendasar untuk kita sadari adalah ekspresi wajah kita.

Intinya di sini adalah:

  • Apakah kamu menyadari bagaimana kamu berinteraksi dengan “dunia”? Bagaimana keadaan sekitarmu ketika kamu berangkat sekolah atau kerja?
  • Apakah kamu menyadari tentang segala tindakan yang kamu perbuat? Apakah hal itu akan berdampak pada orang lain? Dampak yang baik atau dampak yang buruk? Apakah itu tindakan yang baik atau tindakan yang buruk?
  • Apakah kamu memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulutmu?
  • Apakah kamu merasakan semua emosi yang terjadi pada dirimu? Apakah itu emosi yang benar? Ataukah emosi yang salah?

Kesadaran diri itu sulit karena banyaknya gangguan yang berada di dalam atau di luar kendali kita.

Tanpa sebuah kesadaran, dalam hal apapun, jangan pernah berharap untuk menjadi seorang yang lebih baik.

2. SELF-CONTROL (KONTROL DIRI)

Dunia memang penuh dengan cobaan. Dari orang yang mengemudi sembrono di depan kita, sampai rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang berakhir dengan kegagalan.

Tampaknya kita memang dilatih bukan untuk menjadi orang yang mengeluh, tetapi dilatih untuk menjadi orang yang kuat.

  • Berapa kali kita memilih berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena masalah yang sebenarnya bisa deselesaikan?
  • Berapa kali kita memilih untuk marah dibandingkan tetap sabar dan menyimpan tenaga?
  • Berapa kali kita mengeluh dan menyalahkan semua hal kepada orang lain atau keadaan?

Tanpa adanya kesadaran diri, kita tidak akan pernah bisa mengontrol diri kita.

Semua masalah yang terjadi sebenarnya adalah ajang berlatih kita dalam mengendalikan diri. Selebihnya tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkannya untuk menjadi orang yang lebih bijak dan dewasa.

Pada dasarnya, semua masalah akan selalu memiliki solusi. Solusi bisa tercipta dari situasi yang kondusif dan mendukung. Dan semua itu bisa dicapai dengan mengendalikan diri.

3. SELF-EVALUATION (EVALUASI DIRI)

Jadi, kesadaran dirimu adalah disalahkan orang karena suatu hal yang kamu lakukan. Kontrol dirimu adalah menahan marah dan tetap bersikap tenang. 

Itu masih tidaklah cukup untuk membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri.

cara untuk menjadi orang yang dewasa

Maka, kamu perlu memperlajari kunci ketiga, yaitu evaluasi diri.

  • Jika semua yang terjadi adalah karena tindakanmu, bertanggung jawab atas semua konsekuensi yang ada adalah hal yang terbaik.
  • Jika semua hal negatif yang kamu dapatkan karena kesalahanmu, mengakui dan memperbaikinya adalah hal yang bijak.

Tanpa sebuah evaluasi, kita bisa saja dengan gampang menyalahkan semua hal ke dunia luar. Bagaimana kalau sumber masalahnya memanglah diri kita sendiri?

Mengevaluasi diri sama seperti batu yang ditempa dan berubah menjadi berlian.

• • •

APA SELANJUTNYA?

Menjadi dewasa bukanlah secepat membeli pulsa melalui ATM. Kita harus berlatih dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dengan melatih diri kita dengan 3 kunci diatas, pergi dari tempat yang kotor ke tempat yang bersih bukanlah sebuah masalah. Berubah dari seorang yang kekanak-kanakan menjadi seorang yang dewasa bukanlah hal yang mustahil.

Untuk berlatih, tanyakan kepada dirimu setiap hari :

  • Kesadaran diri : Apakah aku memperhatikan pengaruh tindakan/perilakuku?
  • Kontrol Diri : Apakah aku bereaksi dengan cara yang sesuai untuk situasi tertentu?
  • Evaluasi Diri : Sudahkah aku meluangkan waktu untuk memberi nilai kepada diriku sendiri?

Intinya: Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Dan itu sangatlah bisa kita usahakan dengan berlatih setiap hari.

He who gains a victory over other men is strong, but he who gains a victory over himself is all powerful.

— Lao Tzu

 


FOOTNOTES

  1. Tanda-tanda seseorang sudah dewasa bisa kamu baca di psychologytoday.
  2. Perkembangan kognitif disajikan dengan baik oleh healthofchildren.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.