Secangkir kopi yang ditemani pikiran penat dan air dari Tuhan yang sedang turun membuatku memiliki waktu untuk merefleksikan apa saja yang aku lalui pada hari ini.

  • Apakah aku sudah menyelesaikan semua tugas yang harus aku kerjakan?
  • Berapa lama waktu yang aku gunakan untuk menyelami dunia virtual?
  • Kenapa aku selalu menunda sesuatu yang baik?
  • Apa yang aku dapatkan di hari ini?
  • Adakah sesuatu yang membuatku lebih baik?

Sampai di tegukan terakhir, aku hanya menemukan satu jawaban…

” Aku tidak lebih baik dari hari kemarin ”

Tapi, tunggu, otak ini seakan mencari pembenaran bahwa apa yang aku lakukan di hari ini adalah hal yang sudah baik. Tapi apa buktinya?

Hati hanya bersanding dengan rasa penyesalan, kenapa waktu begitu singkat? Atau sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat adalah ” kenapa aku masih menjadi orang yang sama? ”

Ah, tidak baik menghakimi diri sendiri.

Aku akhiri percakapan dua versi diriku pada titik dimana aku menerima bahwa aku masih berada pada poin yang sama.

Janji kemudian terucap bahwa aku akan memulai merangkai asa untuk memberikan sedikit harapan baru pada kehidupanku.

Dan ketika hari itu datang, aku kembali lagi kepada sebuah kursi, secangkir kopi, dan sebuah kesimpulan yang sama…

” Aku masih tidak lebih baik dari hari kemarin ”

• • •

Masih ingat hari pertama kamu masuk sekolah?

Semua tampak baru. Ada yang terlihat menyeramkan, ada yang terlihat menyenangkan, tetapi pada akhirnya, setelah kamu mengamati dan mengeksplorasi, kamu tahu apa arti belajar.

Sayangnya proses itu tidak berlanjut setelah kita lulus dari pendidikan formal.

Kebanyakan dari kita sadar atau tidak sadar telah berhenti untuk belajar hal baru.

Tetapi ada juga orang-orang yang terus belajar untuk menjadikan hidupnya lebih baik.

Menjadi orangtua yang lebih baik? Mereka belajar.

Menjadi guru yang lebih baik? Mereka belajar.

Menjadi karyawan yang lebih baik? Mereka belajar.

Menjadi pengusaha yang lebih baik? Mereka belajar.

Orang-orang inilah yang akan terus mendapatkan proses dan hasil yang diinginkan.

Orang-orang inilah yang akan selalu melihat kesempatan baru di dalam kehidupannya.

Orang-orang inilah yang akan bisa menjadikan hidup lebih bermakna.

Tapi, pentingkah menjadi lebih baik?

Oh, aku tidak memaksamu atau meyakinkanmu untuk menjadi orang yang terus-menerus belajar. Setiap orang memiliki tujuan hidup masing-masing, bukan?

Tetapi, ada tiga pertanyaan ( golden circle ) yang membuatku bergerak kearah yang lebih baik setiap harinya.

  • WHY : Kenapa aku ingin terus belajar? Apakah ada orang diluar sana yang membutuhkan aku? Apakah aku tidak ingin berkontribusi untuk mereka?
  • HOW : Bagaimana aku membantu mereka? Bagaimana aku bisa memberikan apa yang aku bisa?
  • WHAT : Apa yang aku berikan kepada mereka? Hal bermanfaat apa yang ingin aku bagikan kepada mereka?

Once you stop learning, you start dying!

— Albert Einstein

• • •

KELUARLAH DARI GOA

Menjadi lebih baik sama halnya dengan memperbaiki diri. Tetapi ternyata masih ada hal yang membuatku ( khususnya ) menyalahartikan arti menjadi lebih baik itu sendiri.

Saatnya kita keluar dari goa yang gelap, mencari dan menemukan penerangan.

Dan inilah beberapa kesalahan itu :

KITA TERLALU TERPAKU PADA GOAL YANG BESAR

Lagi-lagi, garis finish adalah hal yang selalu kita lihat terlebih dahulu.

Contoh yang paling sering aku temui adalah ketika ada seseorang yang ingin berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Mereka langsung meletakkan goal ” berbicara seperti penutur asli ” di depan mata, dan selalu membawanya kemanapun mereka pergi.

Jangan salah paham dulu. Jika goal besar itu adalah sebagai bahan bakar agar kamu selalu bersemangat, that’s fine.

Tetapi, beda halnya ketika goal itu justru hanya membuat kamu takut, khawatir dan tidak percaya diri. Kamu berakhir dengan rasa stres dan bahkan menyerah di tengah perjalanan setelah menyadari bahwa tujuan yang kamu inginkan masih jauh dari kata “sampai”.

Goal besar memang pisau bermata dua, menyemangatimu atau membunuhmu!

Maka, hal yang seharusnya kita lakukan adalah fokus kepada proses.

Membagi sebuah tujuan besar ke dalam tujuan-tujuan kecil akan lebih mudah memberikan kita check point. Check point ini sangat berguna untuk tetap menyemangati kita, memberikan gambaran progress kita, dan memberikan perasaan “Yes, aku berkembang!”

Dalam bukunya The first 20 Hours, Josh Kaufman menjelaskan bagaimana kita bisa membagi sebuah tujuan besar kedalam goal yang lebih kecil.

Whoever wants to reach a distant goal must take small steps.

— Helmut Schmidt

GARIS FINISH IBARAT OBAT PELUPA

Selamat!

Kata penyejuk hati ketika kamu telah berhasil melewati garis akhir.

Ibarat lari, kamu akan berhenti, beristirahat, dan bersantai untuk menikmati semua kemenanganmu itu.

Bangun!

Kata pendobrak diri yang menamparmu tepat dihati!

Kenapa?

Karena garis akhir tadi adalah obat tidur bagi kita semua!

Ketika kita telah berhasil mencapai suatu tujuan, apa yang akan kita lakukan?

Kita berhenti, kita merasa bahwa apa yang kita cita-citakan sudah berada dalam genggaman tangan, lantas, kenapa harus bersusah payah untuk berdiri dan kembali mengayunkan kaki?

Ya pada titik kepuasan itulah kita berheti berkembang.

Apa yang kita dapatkan belumlah sesuatu yang final!

Kita masih bisa membuatnya lebih baik lagi.

Ketika kamu telah sampai pada kemampuan berbicara bahasa Inggris dengan lancar, kemudian kamu berhenti belajar, apa yang kamu lewatkan?

Banyak!

Kamu mungkin melewatkan bagaimana cara pengucapan yang benar kata A, B, C, dll.

Kamu mungkin melewatkan bagaimana panjang pendeknya kata D, E,F, dll.

Kamu mungkin melewatkan bagaimana cara menyusun kata A dengan B, B dengan Z, dll.

Kamu mungkin melewatkan bagaimana melatih aksen yang baik dan benar.

Garis finish bukanlah akhir.

Garis finish bukanlah fokus kita.

Fokus kita adalah proses!

Become addicted to constant and never-ending self-improvement.

 Anthony J. D’Angelo

MENCARI TANPA BERAKSI

Mencari cara? Boleh.

Mencari referensi? Boleh.

Mencari mentor? Boleh.

Mencari jalan pintas? Ini yang akan kita bahas!

Tidak semua hal memiliki jalan pintas. Bahkan aku bisa mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada jalan pintas untuk mencapai suatu hal. Karena hasil adalah kombinasi antara usaha dan doa.

Apapun hasil yang kamu dapat adalah cerminan dari usaha dan doamu. Sesederhana itu!

Tetapi, kenapa masih banyak orang yang mencari jalan pintas untuk sesuatu hal?

Oh ya aku lupa, mungkin jalan pintas itu memang benar adanya. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah hasil dari jalan pintas ini hanyalah sementara.

Dan semua kembali kepadamu, apakah kamu menginginkan hasil yang sesaat atau hasil yang bertahan lama?

Jika jawabanmu adalah yang kedua, maka jangan pernah habiskan energimu untuk mencari, mencari dan terus mencari jalan pintas yang fana itu.

Kamu akan kehabisan waktu dan tenaga, yang malah akan mengakibatkan kamu berkenalan dengan dilema.

Kamu kemudian terjebak dalam paradox of choice. Kamu bingung dan berakhir dengan tindakan nihil.

You may never know what results come of your actions. But if you do nothing, there will be no result.

— Mahatma Gandhi

• • •

THEORY OF MARGINAL GAINS

Berbicara prestasi cabang olahraga Inggris, kita akan menemukan sebuah cerita yang luar biasa hebatnya.

Bisa dibilang, ini adalah cerita tragis yang berakhir menjadi manis.

Bagaimana tidak, sejak tahun 1908, pembalap sepeda Inggris hanya memenangkan satu medali emas di Olimpiade, dan yang lebih buruk terjadi dalam ajang terbesar balapan sepeda, Tour de France. Dalam 110 tahun, tidak satupun ada atlet sepeda Inggris yang memenangkan kejuaraan tersebut.

Hingga pada tahun 2002, Organisasi yang menangani dunia sepeda profesional di Inggris itu merekrut Dave Brailsford sebagai direktur kinerja barunya.

cara menjadi baik

Harapannya? Sudah jelas, mereka ingin mengubah sejarah karena prestasi atlet sepeda Inggris yang masuk dalam kategori “biasa-biasa saja”. 

Tidak sampai disitu, karena peforma yang sangat mengecewakan, salah satu pabrikan sepeda top di Eropa menolak untuk menjual sepeda mereka kepada tim, karena takut akan berimbas buruk kepada penjualan.

Ada hal yang menarik dari Brailsford. Hal yang membedakannya dari pelatih-pelatih sebelumnya.

Apa itu?

Dia menggunakan teori dalam ekonomi yang disebut “Theory of marginal gains“.

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran kita adalah ” bagaimana bisa teori ekonomi digunakan dalam menangani sebuah tim balap sepeda? “

Jawabannya : Sangat bisa!

Theory of marginal gains memiliki filosofi yaitu mencari margin kecil peningkatan dalam semua aspek yang kamu lakukan.

The whole principle came from the idea that if you broke down everything you could think of that goes into riding a bike, and then improved it by 1%, you will get a significant increase when you put them all together.

Kalimat diatas adalah ungkapan Brailsford yang berarti “Seluruh prinsip berasal dari gagasan bahwa jika Anda memecah semua yang Anda pikirkan tentang naik sepeda, dan kemudian memperbaikinya dengan 1 persen, Anda akan mendapatkan peningkatan yang signifikan ketika Anda menggabungkan semuanya.”

Brailsford dan timnya mulai dengan membuat sedikit penyesuaian dimana-mana.

  • Mereka mendesain ulang kursi sepeda untuk membuatnya lebih nyaman.
  • Menggosok alkohol pada ban untuk cengkeraman yang lebih baik.
  • Mereka meminta para pembalap untuk mengenakan sepatu yang dipanaskan dengan listrik untuk mempertahankan suhu otot yang ideal saat berkendara dan menggunakan sensor biofeedback untuk memantau bagaimana setiap atlet merespons latihan tertentu.
  • Tim menguji berbagai kain di terowongan dan membuat pembalap luar ruangan mereka beralih ke pakaian balap dalam ruangan, yang terbukti lebih ringan dan lebih aerodinamis.

menjadi lebih baik

Tetapi mereka tidak berhenti di situ. Brailsford dan timnya terus mencari hal apa yang sering diabaikan yang sebenarnya bisa ditingkatkan 1 persen.

  • Mereka menyewa seorang ahli bedah untuk mengajari setiap pengendara cara terbaik untuk mencuci tangan untuk mengurangi kemungkinan terkena flu.
  • Mereka menentukan jenis bantal dan kasur yang menghasilkan tidur malam terbaik untuk setiap pembalap.
  • Mereka bahkan mengecat lantai, yang bertujuan untuk membantu mereka menemukan sedikit debu yang biasanya akan luput dari perhatian tanpa disadari tetapi dapat menurunkan kinerja sepeda yang sudah disetel dengan baik.

Sekarang, ada banyak hal yang telah diperbaiki secara kecil atau sedikit.

Sesuatu yang paling menarik adalah disini. Hal-hal kecil itu akhirnya terakumulasi dan menghasilkan hal baik yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun.

Hanya dalam lima tahun setelah Brailsford mengambil alih, tim sepeda Inggris mendominasi ajang bersepeda di Olimpiade 2008 di Beijing, di mana mereka memenangkan 60 persen medali emas yang tersedia.

Empat tahun kemudian, ketika Olimpiade London, Inggris kembali membuat sembilan rekor Olimpiade dan tujuh rekor dunia.

Pada tahun yang sama, Bradley Wiggins menjadi pengendara sepeda Inggris pertama yang memenangkan Tour de France.

cara berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari

Tahun berikutnya, rekan satu timnya Chris Froome memenangkan perlombaan, dan ia menang lagi pada tahun 2015, 2016, dan 2017, memberi tim Inggris lima kemenangan Tour de France dalam enam tahun.

cara merubah diri anda menjadi lebih baik

Selama kurun waktu sepuluh tahun dari 2007 hingga 2017, pesepeda Inggris memenangkan 178 kejuaraan dunia dan 66 medali emas Olimpiade atau Paralimpiade dan meraih 5 kemenangan Tour de France yang secara luas diakui sebagai hal paling sukses dalam sejarah bersepeda.

cara terbaik menjadi orang yang lebih baik setiap hari

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana tim yang sebelumnya biasa berubah menjadi juara dunia dengan hanya melakukan perubahan kecil? Mengapa perbaikan kecil yang terakumulasi membuat hasil yang luar biasa, dan bagaimana kamu bisa meniru pendekatan ini dalam kehidupanmu?

You will never change your life until you change something you do daily.

 Mike Murdock

• • •

KAIZEN : PERBAIKAN YANG TERUS-MENERUS

Sudah waktunya kita bergerak dan berubah.

Untuk melakukannya, kita akan berkenalan dengan filosofi perbaikan kecil yang berkelanjutan.

langkah kecil untuk mengubah hidupmu lebih baik

Konsep ini disebut Kaizen. Sebuah filosofi dari Jepang.

Tapi ada cerita yang menarik dari lahirnya filosofi ini.

Faktanya, filosofi ini sebenarnya justru dikembangkan oleh para manajemen bisnis Amerika di era depresi dalam pembangunan demokrasi yang bertujuan membantu Amerika memenangkan Perang Dunia II.

Para ahli teori manajemen ini tidak menyuruh melakukan perubahan besar, drastis dan radikal pada infrastruktur dan proses bisnis mereka. Mereka malah melakukan perbaikan terus-menerus dengan cara-cara kecil.

Sebuah petunjuk yang diciptakan Amerika untuk membantu perusahaan dalam menerapkan filosofi bisnis ” mencari ratusan hal kecil yang dapat di perbaiki “.

Tidak ada waktu untuk merencanakan departemen yang baru – atau pergi setelah pemasangan peralatan baru yang besar.

Carilah peningkatan pada pekerjaan yang ada dengan peralatan yang ada saat ini.

Setelah Amerika dan sekutu-sekutunya mengalahkan Jepang dan Jerman dengan persenjataan yang diproduksi oleh pabrik menggunakan filosofi perbaikan kecil yang berkelanjutan, Amerika memperkenalkan konsep tersebut ke pabrik-pabrik Jepang untuk membantu merevitalisasi ekonomi mereka. Jepang segera mengambil gagasan tentang perbaikan kecil yang berkelanjutan dan memberinya nama: Kaizen – bahasa Jepang untuk perbaikan berkelanjutan.

Sementara perusahaan-perusahaan Jepang menganut gagasan Amerika tentang perbaikan kecil dan terus-menerus ini, perusahaan-perusahaan Amerika, dalam tindakan yang tidak sadar, melupakan semuanya. Sebaliknya, “inovasi radikal” menjadi semboyan dalam bisnis Amerika.

Menggunakan Kaizen, perusahaan mobil Jepang seperti Toyota perlahan tapi pasti mulai mengungguli pembuat mobil Amerika selama tahun 1970-an dan 1980-an.

Sebagai tanggapan, perusahaan-perusahaan Amerika mulai meminta perusahaan-perusahaan Jepang untuk mengajarkan mereka tentang filosofi bisnis. Perusahaan-perusahaan Amerika yang pada awalnya mengajarkan itu ke orang Jepang, sekarang hilang begitu saja.

• • •

Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih menghargai kata “tindakan besar” dan meremehkan nilai dari melakukan perbaikan kecil setiap hari.

Kita meyakini bahwa untuk mencapai kesuksesan yang besar, kita juga membutuhkan tindakan yang besar.

Kemudian kita melupakan bahwa, peningkatan sebesar 1 persen yang terlihat tidak terlalu menonjol atau bahkan terkadang tidak terlihat, bisa jauh lebih berarti, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang.

Para atlet sepeda Inggris pun juga membuktikan bahwa perbedaan yang bisa dihasilkan oleh sedikit peningkatan dari waktu ke waktu sangatlah mengejutkan.

Begini cara perhitungan matematika: 1% dari 100 adalah 1. Anggaplah kemampuan kita berada pada level ini. Yang terjadi kemudian adalah, jika kita melakukan perbaikan itu setiap hari, kita akan berakhir di angka 100 atau bahkan lebih.

cara membuat diri anda menjadi lebih baik

Kemenangan kecil atau kemunduran kecil pada akhirnya akan terakumulasi menjadi sesuatu yang lebih besar.

Mungkin 1% tidak akan mempengaruhi kita hari ini. Entah itu lebih baik atau lebih buruk. Tetapi seiring berjalannya waktu, perbaikan atau penurunan kecil itu semakin kompleks dan kita tiba-tiba kita menemukan bahwa jarak kemampuan kita dengan orang lain sangat besar. 

Maka, kita akan punya dua pilihan. Memperbaiki 1% setiap hari, atau memperburuk 1% setiap hari.

When you improve a little each day, eventually big things occur. When you improve conditioning a little each day, eventually you have a big improvement in conditioning. Not tomorrow, not the next day, but eventually a big gain is made. Don’t look for the big, quick improvement. Seek the small improvement one day at a time. That’s the only way it happens — and when it happens, it lasts.

 —  John Wooden

• • •

PENERAPAN KAIZEN DALAM KEHIDUPAN

Untuk menerapkan Kaizen ini, kita hanya butuh kesadaran dan pengakuan.

Kesadaran akan keadaan yang biasa-biasa saja atau bahkan buruk. Dan pengakuan diri jika kita memang ada di tahap itu dan ingin ada sesuatu yang berubah.

Maka, tanyakan  kepada dirimu sendiri setiap hari : Satu hal kecil apa yang bisa aku lakukan dan bisa meningkatkan kualitas pada hidupku?

Langkah terakhir, mulailah dari yang kecil!

  • Ingin memulai kebiasaan berolahraga? Lakukan saja push-up segera setelah kamu bangun dari tempat tidur di pagi hari. Mulailah dari 5 push-up, pagi berikutnya, tambahkan lagi. Dan seterusnya dan seterusnya. Dalam dua bulan, Anda akan jumlah push-up yang tidak pernah terpikirkan olehmu. Dalam waktu satu tahun, saatnya kamu berkompetisi dengan Ade Rai.
  • Ingin mulai membaca buku? Mulailah dengan malam hari, dan berkonsentrasilah pada 10 menit tepat sebelum kamu pergi tidur. Setiap hari, tambahkan 5 menit lagi sampai membaca buku menjadi sebuah rutinitas. Kemudian cobalah tambah pada pagi hari. Dalam kurun waktu dua tahun, Rocky Gerung bisa kamu kalahkan.
  • Ingin mulai menulis? Mulailah dengan menulis sebentar. Kamu mungkin hanya mendapatkan satu atau dua kalimat, tapi tidak apa-apa. Hari berikutnya, tambahkan satu menit. Dalam sebulan, kamu akan memiliki kebiasaan menulis selama 30 menit jika itu adalah sesuatu yang benar-benar kamu inginkan.
  • Ingin mulai membaca Al-Qur’an? Mulai saja dengan satu ayat satu hari. Tambahkan ayat lain setiap hari, sampai berakhir di lembar terakhir.

Kamu sudah lihat polanya, kan?

Pikirkan langkah terkecil yang dapat kamu ambil. Langkah yang tidak membuatmu malas, langkah yang tidak membuatmu takut untuk melakukannya.

Ambil langkah kecil yang bisa menggerakkanmu secara bertahap menuju tujuanmu. Kemudian cobalah membuatnya lebih besar dan lebih besar.

Ketika menangani tujuan besar, kita akan hanya bisa bekerja pada satu tujuan dan hanya pada satu waktu, tetapi dengan pendekatan Kaizen, mengerjakan beberapa hal sekaligus itu sepenuhnya bisa dilakukan.

Cobalah untuk melakukan 1% lebih baik dari hari sebelumnya. Mulai dari yang kecil dan lakukan peningkatan secara bertahap. Hindari godaan untuk menjadi tidak sabar dan mulai bergegas maju dan mengambil lompatan yang lebih besar.

Lambat, stabil, dan konsisten.

Peningkatannya akan bertahap. Bahkan, dalam beberapa hari, kamu mungkin tidak melihat peningkatan dan akan tergoda untuk meninggalkan kapal perjuangan dan mencoba sesuatu yang lain.

Tetapi dengan Kaizen, waktu adalah sekutumu. kamu harus memainkan permainan panjang dengan melakukan sesuatu yang kecil.

Legenda gulat Dan Gable menyebutnya sebagai “Kesabaran Perubahan”.

Setelah kamu sampai pada tujuanmu, kamu belumlah selesai. Sekarang, tugasmu adalah menjaga dan mempertahankannya selama sisa hidupmu.

Perbaikan diri bukan tujuan. Ini adalah sebuah proses. Seperti mencukur; meskipun kamu melakukannya pagi ini, kamu masih harus bangun dan melakukannya lagi besok. Prosesnya tidak pernah berakhir.

Lupakan tentang gagasan bahwa suatu hari kamu akan “tiba.”

Kamu tidak akan pernah tiba.

Daripada berfokus pada hasil, fokuslah pada prosesnya. Nikmatilah sukaduka dalam perjalanan yang mungkin membuatmu mual seperti naik wahana roller coaster.

Dan ingat ini: Jangan biarkan kesuksesan awalmu menjadi hipnotis yang membuaimu ke dalam keamanan palsu, dan membuatmu mengendur.

• • •

Bagaimana dengan kemunduran?

Tentu saja, akan ada hari dimana kamu akan menghadapi kemunduran. Beberapa hari akan membuatmu bertambah buruk 1%.

Tidak apa-apa. Itu adalah hal yang normal.

Hanya 1% lebih buruk, kan?

Segera lupakan hal kemarin dan berkonsentrasilah pada detik itu juga.

Kembalikan kakimu ke pedal dan mulai ayuhkan 1% lebih baik lagi. 

Untuk bisa menjadi lebih baik. Kita hanya butuh waktu, kesabaran dan tindakan kecil. Dan dalam jangka waktu yang lama, kita akan sampai ke bahtera baru yang sangat besar.

Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan hari kemarin, berarti orang yang merugi. Dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang celaka.

— Al Hadits


FOOTNOTES

1. Cerita tentang kesuksesan pesepeda Inggris bisa kamu baca di Olympics cycling: Marginal gains underpin Team GB dominanceHow 1% Performance Improvements Led to Olympic GoldHow a Cycling Team Turned the Falcons Into NFC Champions.

2. Penjelasan tentang marginal gains bisa kamu cek di Marginal gains matter but gamechangers transform, This Coach Improved Every Tiny Thing by 1 Percent and Here’s What Happened.

3. Filosofi Jepang, Kaizen, bisa kamu baca secara singkat di Get 1% Better Every Day: The Kaizen Way to Self-Improvement.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.