Berapa lama hari ini kamu melakukan sesuatu tanpa handphone?

Oh atau aku yang salah menanyakan petanyaan itu?

Baik, akan aku ubah menjadi…

Berapa kali kamu mengecek handphonemu dalam sehari?

Dua kali? Lima kali? Atau berpuluh-puluh kali?

Lalu, manfaat apa yang sudah kamu dapat dari kegiatan tersebut?

Menambah pengetahuan? Meningkatkan produktivitas? Membuat hubungan sosial semakin baik? Atau tetap dengan jawaban klise seperti…

Hiburan.

Faktanya, kita justru…..

Tunggu! Apakah aku mengetik kata “kita”?

Dari hati yang paling dalam, aku meminta maaf untuk kesalahan itu. Maksudku adalah “aku”.

Tetapi, jika hatimu juga meng”iya”kan, mungkin ungkapan kata “kita” memang benar adanya.

Faktanya, aku masih sangat sulit mengontrol semua gangguan pada rakitan teknologi bernama smartphone ini.

Dan ketika aku mengevaluasi apa yang aku dapat dari kegiatan yang melatih otot ibu jari ini adalah manfaat yang aku dapatkan < kerugiaan yang aku dapatkan.

Satu kesimpulan yang bisa aku ambil adalah, aku belum cukup pintar untuk memanfaatkan sebuah telepon pintar.

• • •

Kita sama-sama tahu bahwa banyak sekali media sosial yang sudah bersarang di Play Store atau Appstore.

Mulai dari Facebook, sampai membutuhkan waktu yang lama untuk sampai lagi ke Facebook.

Mungkin kamu memiliki media sosial favoritmu, tetapi bagiku sendiri, satu aplikasi yang paling menyita waktuku adalah Instagram.

Foto cewek cantik? Ada.

Foto cowok ganteng? Ada.

Apa? Kamu ingin foto cowok yang cantik? Ada Juga!

Tak cukup sampai foto, kamu bisa menemukan video dengan berbagai genre dengan durasi yang tidak banyak menguras kuota.

Pendapatku tentang instagram? SPESIAL. PAKE TELOR. DUA.

Instagram sangat penuh sekali dengan janji dopamin.

Hasilnya?

Kita akan berlomba-lomba mengupload foto terbaik, dan berharap asupan notifikasi love dan followers tercukupi. Jika foto dianggap tak cukup. Video yang bisa menjelaskan sedikit siapa kamu sebenarnya, juga akan berada di sana.

Hingga aku mempertanyakan sesuatu.

Aku bukan artis. Aku bukan influencer. Bukan juga orang yang memiliki jabatan tinggi.

Bahkan apa yang aku upload hanyalah foto receh yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan ditampilkan sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa hidupku sempurna dan selalu bahagia.

Anehnya, kenapa ada saja orang yang men”tap” layarnya pada ikon like?

Apakah mereka benar-benar suka kehidupanku? Apakah mereka benar-benar menikmati apa yang ada di hidupku? Atau mereka hanya menyukai karena ingin disukai? Atau karena mereka tidak ingin dicap sebagai sahabat yang buruk?

Ah, mungkin itu perasaanku saja.

Tetapi terlepas dari artis, orang yang memiliki pengaruh, dan juga orang yang menggunakan Instagram sebagai bisnis, satu hal besar yang ingin aku pertanyanyakan kepada diriku adalah…

Jika aku bukan siapa-siapa, lantas kenapa aku mengumbar semua kehidupanku?

Apakah aku benar-benar memberikan nilai disetiap apa yang aku bagi? Atau hanya sekedar menjadi orang yang mengemis like, followers, oh dan satu lagi, perhatian? Atau hanya menjadi seorang yang hanya ingin memuaskan egoku sendiri?

Pada akhirnya, aku tetaplah orang pertama yang akan bertanggung jawab!

• • • 

KECANDUAN MENGUMBAR HIDUP!

Dulu tuh ya, kegiatan sehari-hari adalah sesuatu yang dirahasiakan. Atau jika memang ingin membagikannya, hal itu akan berupa sebuah cerita dari mulut ke mulut. Dan setidaknya aku menjadi orang sosial dengan benar-benar mengobrol dan menatap lawan bicaraku.

Sekarang? kegiatan yang remeh temeh seperti makan saja harus diabadikan agar semua orang tahu “Hei, ini loh makanan dari cafe xyz,  ini makananku hari ini”.

Tetapi mengapa ketika menu itu biasa dan tidak di plating dengan tingkatan instagramable tinggi, kamu tidak berteriak di dunia maya? Ah, kamu tidak konsisten Wahyu.

Atau, “Hei, ini loh pasanganku, cantik kan? Ya beginilah kehidupan kami. Selalu bahagia”. Hingga suatu hari jumlah post dalam berandamu turun drastis.

Oh rupanya, foto yang kamu pamerkan dulu sudah kamu hapus. Ah, Wahyu ini ada-ada saja. Besok mau mengumbar keromantisan dan ketidakpastian dengan siapa lagi?

Mengapa aku menjadi orang yang seperti ini???

Sejak 2009, Facebook tiba-tiba menjadi sensasi dunia, dan kemudian mengguncang dunia media sosial sepenuhnya, bahkan menjadi ujung tombak situs-situs media sosial.

Mengapa setelah sejak 2009, tiba-tiba pendapatan Facebook mulai berkembang seperti balon, dan demikian pula pendapatan bersih mereka?

Lihatlah grafik pendapatan mereka!

kenapa kita kecanduan sosial media

Alasannya karena pada tahun 2009, facebook memperkenalkan sesuatu yang membawa revolusi ke media sosial. Facebook memperkenalkan Ini:

mengatasi kecanduan media sosial

Tombol suka ini dimulai sejak tanggal 9 Februari 2009.

Jadi, apa dampaknya terhadap pengguna setia Facebook saat itu?

Menurut Sean Parker, salah satu pendiri Facebook ,

Ketika Facebook sedang dikembangkan, tujuannya adalah: bagaimana kita mengonsumsi sebanyak mungkin waktu dan perhatian sadar Anda?

Inilah pola pikir yang mengarah pada penciptaan fitur seperti tombol “ suka” yang akan memberi pengguna “sedikit asupan dopamin” untuk mendorong mereka mengunggah lebih banyak konten.

Ini adalah pengulangan umpan balik validasi sosial, persis seperti yang akan dilakukan oleh peretas seperti saya, karena Anda mengeksploitasi kerentanan dalam psikologi manusia.

Dan itulah yang membuat kita kecanduan.

Dopamin dosis kecil yang lambat itu secara berangsur-angsur membuat kita bergantung padanya, itulah yang menyebabkan kita membangun “ego virtual”, di mana “suka” dihitung sebagai bentuk virtual dari validasi sosial, sebagai bentuk apresiasi timbal balik antara orang satu dengan yang lain.

Tak herankan kemudian kita mulai berbagi makanan, lelucon, meme, foto liburan, kisah patah hati, apa saja dan semuanya, hanya untuk mendapatkan suka.

Orang terdekat kita pasti akan memeriksa apa yang orang lain gunakan setidaknya satu kali, dan begitulah orang akan terjebak dalam Bandwagon Effect.

Setelah Facebook, setiap media sosial termasuk Instagram, menggunakan sistem asupan dopamin ini, dengan notifikasi suka atau hamparan video yang bisa kita nikmati secara mudah.

Begitulah cara mereka mendapatkan lalu lintas yang sangat besar di media sosial.

I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.

— Attibuted to Einstein, but it’s actually an altered version of lines from the movie “Powder (1995)”

• • • 

HANCURKAN KECANDUAN ITU!

Ketika aku mengetikkan kata kencanduan, akan ada dua versi jawaban yang akan aku terima.

Pertama, kamu mengakuinya, atau yang kedua, kamu menyangkalnya.

Sebenarnya, di balik semua keuntungan yang bisa kita dapatkan dari media sosial, tersimpan juga banyak kerugian.

Kerugian yang tanpa kita sadari terjadi tetapi sangat memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita adalah, kita akan menjadi orang yang suka membandingkan.

Lalu apa saja yang bisa kita lakukan untuk tetap menggunakan media sosial tak lebih dari sekedar alat?

1. MATIKAN NOTIFIKASIMU

Saat pertama kali aku menggunakan Instagram dan mengupload beberapa foto aku sadar bahwa aku telah masuk kepada apa yang direncanakan aplikasi berbagi foto ini.

Notifikasi yang muncul pada layar telepon pintarku membuatku mengecek Instagram berulang kali. Lebih parahnya, aku terkadang masuk ke dalam black hole di mana aku singgah dari akun A ke akun B tanpa mempedulikan waktu yang sudah terpakai.

Singkat cerita, aku kecanduan!

Langkah yang aku tempuh kemudian adalah dengan menonaktifkan notifikasi pada Instagram.

Hasilnya?

Cukup signifikan. Aku tidak lagi masuk keluar aplikasi tersebut.

Mengapa hal ini berhasil?

Pada tahun 1901, seorang psikolog asal Rusia bernama Petrrovich Pavlov dan asistennya, Ivan Fillippovitch Tolochinov,  mempelajari sebuah konsep yang mereka sebut dengan “Conditioned Reflex”, untuk menguji bagaimana anjing menghasilkan air liur ketika mereka mendengar atau mencium makanan sebagai antisipasi makan.

kerugiaan media sosial

Pavlov telah mempelajari bahwa ketika ada sesuatu yang berdengung seperti buzzer atau sebuah metronome yang dibunyikan dalam waktu bersamaan dengan makanan yang disajikan untuk anjing secara berturut-turut, anjing akan mengeluarkan air liurnya.

Anjing itu kemudian sangat terhubung dengan suara dan penyajian makanan, sehingga anjing juga terangsang dan mengeluarkan air liurnya. Seiring berjalannya waktu, anjing akan berliur ketika mendengar suara dari metronome meskipun tanpa adanya makanan yang disajikan.

Dan itulah yang terjadi kepada diri kita.

Kita melihat notifikasi media sosial (pemicu), kemudian membuat kita menghabiskan waktu untuk bermain media sosial (rutinitas), dan kita merasakan kebahagiaan dan kepuasan (hadiah).

Maka itulah kenapa mematikan notifikasi sangatlah memberi dampak yang signifikan. Kita tidak akan lagi terpicu untuk membuka media sosial tersebut.

2. BATASI DIRIMU

Ketika kita mau berefleksi tentang bagaimana kita menggunakan media sosial, kita akan tahu berapa lama dan berapa sering kita menggunakannya.

Dan kebanyakan dari kita akan menemukan bahwa kita sebenarnya tidaklah memiliki waktu yang spesifik kapan harus menggunakan media sosial tersebut.

Yang lebih parahnya lagi adalah, tujuan kita dalam menggunakan media sosial tak lebih dari sekedar menghilangkan kebosanan.

Maka, ada baiknya kita menata hidup kita dengan membatasi diri dari media sosial.

Kita bisa memulainya dengan menentukan waktu tertentu untuk menggunakannya. Contohnya, kita baru bisa menggunakannya setelah kita sudah menyelesaikan tugas-tugas kita.

Jika itu terlalu sulit, kita bisa membatasi waktu dalam penggunaannya, semisal hanya akan menggunakan Instagram selama 1 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Setelah itu akan menggunakan waktu untuk melakukan hal yang lebih memberi manfaat.

• • • 

HARUSKAH AKU BERHENTI DARI MEDIA SOSIAL?

Dalam bukunya yang berjudul Deep Work, Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer di Georgetown University dan penulis buku pengembangan diri membahas tentang hal yang dia namakan Any-Benefit Approach.

Any-Benefit Approach sendiri adalah menggunakan manfaat sebaik mungkin, tidak masalah berapa kecil atau besarnya manfaat tersebut untuk membenarkan penggunaan alat (tanpa memperhitungkan kerugian ).

Cara ini mungkin akan merampok waktu dan perhatian kita dari kegiatan yang lebih bisa mendukung dan memperbaiki kehidupan pribadi kita.

Tetapi, yang ingin di tekankan Newport adalah kita sendirilah yang harus bisa memilih mana yang terbaik buat diri kita.

Maka tanyakan kepada dirimu sendiri :

  • Apakah aplikasi itu memberikan manfaat yang aku cari?
  • Apakah aplikasi itu memberikan pengaruh positif kepada diriku sendiri dan kehidupanku?

Jika tidak, sudah saatnya kamu menghapus dan berhenti menggunakan aplikasi tersebut!

Value your privacy. Less scrolling. More living!

 

 


FOOTNOTES

  1. Diagram pendapatan Facebook bisa kamu lihati di statista.
  2. Pernyataan Sean Parker dijelaskan oleh theguardian.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.