Mari kita mulai dengan pertanyaan yang sering bersirkulasi dalam kehidupan bermedia sosial: Apakah media sosial itu baik, atau buruk?

Tanpa memberitahumu, aku yakin kamu sudah memiliki jawaban mayoritas: Media sosial itu alat. Baik buruknya media sosial tergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Namun, ketika kamu memberi ruang untuk berpikir ulang tentang media sosial, kamu bisa melihat hal yang tidak kamu sadari sebelumnya.

Aku memang tidak tahu bagaimana caramu menggunakan media sosial, tetapi aku yakin kamu pernah mengalami setidaknya satu di antara hal ini: Kamu mengecek notifikasi meskipun sedang mengerjakan sesuatu. Kamu menyelam ke dalam beranda media sosial tak berujung ketika menghadapi kebosanan. Kamu membaca satu cerita ke cerita yang berbeda, dari status ke status yang lain dengan motif pribadimu sendiri-sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia kita memang lebih maju daripada kehidupan puluhan tahun yang lalu. Kemudahan untuk terhubung dengan orang lain dan kemudahan mendapat informasi adalah sedikit contoh keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam media sosial.

Sayangnya, dengan segala kemudahan yang ada, kemampuan kita untuk memperbaiki atau memaksimalkan sebuah pengalaman tidak begitu signifikan dibandingkan nenek moyang kita. Meskipun sekarang kita bisa mengisi waktu senggang dengan menelusuri Facebook, menonton video hiburan di YouTube, menjelajahi Instagram, atau membanjiri otak dengan informasi baru, hal itu jugalah yang memperbesar kesempatan kita untuk gelisah, tidak percaya diri, bahkan kehilangan identitas.

Memang, tidak semua orang menganggap hal itu sebagai masalah. Perbedaan pandangan tentang dampak penggunaan media sosial adalah hal yang lumrah karena setiap orang akan memiliki ukurannya sendiri-sendiri, tetapi faktor biologis yang berlaku bagi kita semua sama: Perilaku kita banyak diatur oleh batang otak yang lebih dikenal sebagai otak reptil—bagian otak yang mengatur naluri paling dasar kita seperti rasa lapar, takut, marah, seks, bertahan hidup.

“Lupakan logika!” adalah perintah dasar yang selalu otak reptil bisikan kepada kita. Efeknya, kita sulit mengikuti pikiran rasional yang menginginkan keuntungan jangka panjang dan lebih mengalokasikan tenaga, waktu, dan emosi pada hal yang bisa memuaskan insting, gairah, hasrat, atau keinginan—memuaskan otak reptil—misalnya menunda pekerjaan untuk menyelami media sosial.

Kita tidak perlu menyalahkan otak reptil. Selain karena masih bagian dari diri kita, dalam kacamatanya, kegiatan yang sering kita tunda adalah hal yang membosankan, monoton, atau membuat kita tidak nyaman. Sehingga menghindarinya secepat mungkin dianggap sebagai bentuk kontribusi dalam “melindungi” kita dari “bahaya”, sebelum akhirnya pikiran rasional mengambil alih dan membuat kita merasakan fase baru—menyesal karena tidak menggunakan waktu sebaik mungkin.

Manusia—kitamemang spesies paling menonjol secara intelektual di planet bernama bumi ini, tetapi lucunya, meskipun kita “sudah” berorientasi pada keuntungan jangka panjang, kita masih saja sering mengikuti kemauan otak reptil dengan porsi yang tidak wajar. Ini menunjukkan bahwa kita masih kesulitan untuk menggunakan kesadaran secara penuh dalam memperlakukan kemudahan—teknologi, khususnya media sosial.

Kita bisa menyimpulkan bahwa baik buruknya media sosial tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana kita menggunakannya, tetapi hal lain yang paling memengaruhi adalah bagaimana kita mengendalikan pikiran kita secara sadar.

Sayangnya, pengendalian pikiran itu tidak akan pernah bisa kita lakukan secara maksimal jika kita masih menganggap media sosial sebagai alat yang hanya patuh pada tuannya.

Tidak, media sosial itu bukan alat. Mantan ahli etika desain di Google, Tristan Hariss, menjelaskannya dalam sebuah dokumenter Netflix, The Social Dilemma.

Jika sesuatu adalah alat, dia benar-benar duduk di sana, menunggu dengan sabar. Jika sesuatu bukan alat. Dia menuntut sesuatu dari kita. Itu merayumu. Itu memanipulasimu. Itu menginginkan sesuatu darimu. Media sosial bukanlah alat yang hanya menunggu untuk digunakan. Dia memiliki tujuannya sendiri, dan itu memiliki maksud untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan psikologimu untuk melawanmu.

Penjelasan bahwa ini semua adalah permainan antara diri kita dan media sosial hanyalah sesuatu yang masih berada di permukaan. Melihat lebih dalam lagi, kita akan sadar bahwa ini adalah pertarungan antara tujuan kita dengan tujuan media sosial—atau lebih tepatnya perusahaan media sosial.

Siapa yang menang? Lihat kenyataan ini!

Sesuatu yang kita sebut sebagai hiburan, nyatanya menjadi perantara kita untuk jauh dari sesuatu yang kita impikan. Sesuatu yang kita anggap bisa mendekatkan kita dengan teman-teman berbeda kota, nyatanya menjadi jembatan kita untuk membandingkan hidup. Sesuatu yang kita lihat sebagai media penambah informasi, nyatanya menjadi medium untuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain.

Mengiyakan contoh-contoh di atas hanya menjelaskan bahwa kita terlalu banyak memusatkan perhatian pada media sosial di mana itu adalah tujuan mereka. Semakin lama kita menghabiskan waktu di media sosial, semakin banyak kita terpapar iklan, dan kehidupan orang lain. Semakin banyak kita terpapar iklan dan kehidupan orang lain, semakin kita miskin kebahagiaan, semakin kaya perusahaan media sosial.

Shoshana Zuboff, seorang psikolog sosial mengatakan dalam dokumenter yang sama bahwa media sosial telah menemukan rumus untuk memengaruhi perilaku dan emosi penggunanya di dunia nyata tanpa memicu kesadaran penggunanya sama sekali.

Di mata perusahaan media sosial, kita ini adalah ladang uang. Perhatian kita hanyalah produk yang ditawarkan perusahaan media sosial kepada pengiklan. Ini menjadi masuk akal jika tujuan perusahaan media sosial adalah membuat kita menghabiskan waktu selama mungkin di aplikasinya. Kita tidak jauh berbeda dengan boneka Pinokio di tangan Geppetto.

Aku sangat setuju dengan salah satu poin yang ditulis Yuval Noah Harari, seorang ahli sejarah dari Israel, dalam bukunya berjudul 21 Lessons for the 21st Century.

Algoritme sedang mengawasimu sekarang. Mereka mengawasi ke mana kamu pergi, apa yang kamu beli, siapa yang kamu temui. Setelah itu mereka akan memantau semua langkahmu, semua napasmu, semua detak jantungmu. Mereka mengandalkan big data dan machine learning untuk mengenalmu lebih baik dan lebih baik. Dan, begitu algoritme ini mengenalmu lebih baik daripada dirimu sendiri, algoritme ini dapat mengontrol dan memanipulasimu, dan kamu tidak akan dapat berbuat banyak tentangnya. Kamu akan tinggal di matriks, atau di The Truman Show. Pada akhirnya, ini masalah empiris sederhana: Jika algoritme benar-benar memahami apa yang terjadi di dalam dirimu lebih baik daripada kamu memahaminya, otoritas akan beralih ke algoritme tersebut.

Jika masih mau berpikir positif, kita bisa mengambil pemahaman bahwa media sosial hanya berpikir tentang uang dan sama sekali tidak berniat untuk menimbulkan dampak buruk pada kehidupan manusia, tetapi fakta di lapangan berbicara lain. Sedikit demi sedikit kehidupan kita di dunia maya mengubah cara kita bersikap di dunia nyata, termasuk dalam menjalin hubungan.

Perubahan itu tidak hanya disebabkan oleh kemauan otak reptil yang hanya memikirkan kenyamanan dalam jangka pendek, tetapi juga disebabkan oleh sesuatu yang kita nilai sebagai hal positif: Informasi.

• • •

Duniamu Adalah Duniamu, Duniaku Adalah Duniaku

Kita sedikit tahu cara kerja AI. Contohnya, jika kamu membuka Instagram, explore-mu akan berisikan dengan konten-konten yang tidak jauh berbeda dengan konten yang kamu lihat sebelumnya. AI sengaja membuatnya seperti itu dengan mengamati “kesukaan”-mu dan menyuguhkannya secara berulang-ulang agar kamu betah. Itu berarti satu orang dengan yang lain akan memiliki tampilan explore yang berbeda mengingat setiap orang memiliki kesukaan yang beragam.

Di satu sisi, AI seperti sahabat kita yang pengertian dengan meminimalisir hal-hal yang tidak kita suka. Di sisi lain, AI menciptakan polarisasi. Jika itu hanya sebatas hiburan, dampak yang ditimbulkan kebanyakan hanya bersifat pribadi, seperti menunda pekerjaan, tetapi jika itu menyangkut informasi, ceritanya menjadi berbeda.

Hal ini semakin rumit karena kita tidak hanya berhadapan dengan AI dan perusahaan media sosial, tetapi juga para oknum yang mengutamakan traffic dengan berita bohongnya.

Penjelasan sederhananya begini: Ketika kita berhenti pada sebuah informasi baru, kita akan cenderung mencari informasi yang senada. Semakin kita memperbanyak input yang sama, AI akan menganggapnya sebagai hal yang kita senangi dan semakin banyak dia menyuguhkan informasi serupa secara terus-menerus untuk membentuk dunia ideal kita, di mana berisikan hal-hal yang hanya ingin kita dengar.

Kerentanan psikologi ditambah kemampuan AI yang hanya patuh pada deretan kode menciptakan illusory truth effect—kita akan lebih mudah percaya kepada sesuatu yang diulang-ulang, terlepas itu benar atau tidak.

Jika seperti itu, maka setiap orang memiliki cara pandang berbeda dalam melihat dunia karena mengonsumsi informasi yang berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap dari kita memiliki dunia ideal masing-masing.

Dan, ketika hal itu dibawa ke dunia nyata, kita akan lebih mudah terjebak bias konfirmasi—kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan kita sebelumnya—ketika menghadapi kontradiksi yang dibawa orang lain.

Akibatnya, kita tidak lagi bisa mendengar satu sama lain, tidak lagi mengerti satu sama lain, dan tidak lagi percaya satu sama lain. Kita hanya berusaha untuk membenarkan diri demi menjauhkan citra buruk—orang yang salah atau bodoh—di mata orang lain.

Tidak berhenti di sana, spiral negatif ini kemudian menarik kita ke dalam bias kognitif: Curse of knowledge—ketika seseorang tanpa sadar berasumsi bahwa orang lain memiliki latar belakang yang sama dalam memahami sesuatu.

Misalnya, jika ada orang yang tidak memiliki/memiliki informasi berlawanan dengan apa yang kita percaya, kita akan mudah menghakimi orang lain dan mengkategorikan mereka ke dalam keranjang yang kita buat—orang yang tidak update, orang bodoh, orang yang sok tahu.

Kita kehilangan empati karena kita tidak lagi mau mempertimbangkan kemungkinan lain seperti berbedanya prioritas setiap orang, berbedanya informasi yang diserap orang, atau berbedanya sumber yang dikonsumsi. Belum lagi faktor lain seperti kemampuan dalam memahami dan mengambil kesimpulan.

Benang merah yang harus kita bawa ke mana pun dan di mana pun adalah: Kita tidak bisa menjadikan realitas diri kita sebagai tolok ukur dan izin untuk meletakkan kata sifat negatif kepada individu lain.

• • •

Terhubung untuk Terhubung

Dengan semua penjelasan sebelumnya, kita bisa mengambil satu pertanyaan yang harus bisa kita jawab: Apakah selama ini aku benar-benar mendikte tindakanku dalam menggunakan media sosial atau media sosial yang mendikteku tanpa aku sadari?

Jika kejujuran kita melekat pada pilihan kedua, itu tidak mengartikan bahwa kita harus berhenti menggunakan media sosial. Itu menjelaskan bahwa kita harus bisa mengontrol penuh kesadaran kita dalam menggunakannya jika tidak ingin tujuan kita dibelokkan—secara tidak sadar—dan diarahkan pada tujuan model bisnis penciptanya—perusahaan media sosial.

“Ketidakterikatan bukan berarti kamu tidak memiliki apa-apa,” kata Ali bin Abi Thalib, “tetapi tidak ada yang seharusnya memilikimu.” Mudahnya, kita tidak memberikan kontrol kepada insting yang hanya memprioritaskan kesenangan dan kenyamanan jangka pendek, tetapi kita harus mengambil kontrol dengan membagi keinginan dalam bingkai “efektif” dan “tidak efektif”.

Itu menjadi penting karena semakin perhatian kita hanya dipusatkan pada informasi yang tidak bisa kita realisasikan dalam pengalaman kehidupan nyata—tidak efektif—semakin buruk cara pandang kita dalam memahami dunia, semakin sedikit kendali yang kita miliki.

Mendapatkan kesadaran secara penuh membutuhkan audit tentang informasi apa yang sering kita konsumsi. Jika informasi tersebut bisa ditransfer ke dalam kehidupan nyata dan menjadi sesuatu yang berguna, penilaian dan pengambilan keputusan kita akan menjauhi aksis negatif.

Sedangkan terjebaknya kita dalam bias, solusinya hanya satu: Mengakui bahwa kita ini manusia. Artinya, semua kata sifat bisa melekat pada kita. Baik, jahat, malas, rajin, pemarah, sabar, bodoh, pintar.

Pengakuan diri sebagai manusia akan membuat kita bisa menerima segala kontradiksi dan tidak akan pernah takut untuk dicap sebagai orang yang salah atau bodoh karena priotitas kita adalah kebenaran, bukan pembenaran. Kita juga akan lebih mudah menerima reaksi orang lain sebagai kenyataan tanpa merendahkannya. Dengan ini, kita akan selalu bisa menghargai perbedaan pandangan, ketidaksamaan pilihan prioritas, dan ketidaktahuan seseorang dengan lebih bijak.

Beragamnya warna pikiran setiap individu dalam sebuah hubungan sebenarnya justru menjadi alat yang bisa mempererat hubungan itu sendiri jika realitas yang ditukar didefinisikan oleh setiap orang sebagai jendela baru yang harus dilihat, dipelajari, dan dievaluasi bersama.

Di sana, media sosial berubah fungsi dari terhubung untuk terpisah, menjadi terhubung untuk terhubung.