Mungkin kamu alergi dengan kata buku. Mungkin kamu malas melihat kertas dengan tulisan penuh tanpa adanya meme di dalamnya. Mungkin juga kamu selalu melindungi dirimu dengan alasan klasik—aku tidak punya waktu.membangun kebiasaan membaca

Tetapi, di relung hatimu paling dalam, aku tahu kamu sebenarnya ingin bisa menikmati wawasan baru dalam setiap lembarannya. Aku tahu kamu ingin menciptakan dunia tak terjamah dalam pikiranmu. Iya, aku tahu bahwa kamu sebenarnya ingin jatuh cinta pada membaca buku.

Satu hal yang aku tahu agar kamu bisa cinta pada membaca adalah dengan membangun kebiasaan. Maka pertanyaan selanjutnya adalah “mengapa?”

• • •

HARUS VS TERBIASA

Apakah kamu membutuhkan waktu untuk memikirkan alasan mengapa kamu sikat gigi? Tentu saja tidak karena kamu bertindak dalam mode “terbiasa”, bukan “harus”.

“Harus” mengartikan bahwa ada sesuatu yang kamu putuskan. Kamu membutuhkan waktu untuk memikirkan hal-hal lain yang bisa menggerakkanmu untuk melakukan kegiatan tersebut.

Adalah hal yang kecil jika dalam satu hari kita hanya memutuskan 1 atau 2 hal. Faktanya, setiap hari kita akan menemui banyak hal yang membutuhkan mode “harus”.

Masalah besar yang kemudian muncul adalah bahwa kita akan mengalami yang namanya “decision fatigue” atau kelelahan dalam pengambilan keputusan.

Istilah tersebut diciptakan oleh psikolog sosial Amerika dan penulis Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength, Roy F. Baumeister.

Roy menggambarkan bahwa orang akan lebih berjuang dalam menentukan pilihan mereka setelah membuat terlalu banyak keputusan. Akibatnya kita akan cenderung mudah untuk membuat pilihan yang buruk di penghujung hari.

Sekarang kita tahu mengapa kita selalu mencari alasan untuk tidak membaca buku jika kita meletakkannya sebagai kegiatan penutup.

Mungkin hal yang lebih baik akan kita dapatkan jika menjadikan kegiatan membaca buku sebelum memulai hari yang nampaknya hanya akan berakhir dalam bentuk rencana.

Hal inilah yang menjadi alasan terbesar mengapa kita harus menjadikan membaca buku ke mode “terbiasa” atau membuatnya sebagai kebiasaan. Dengan kebiasaan, kita telah membebastugaskan prefrontal cortex dalam pengambilan keputusan. Ini berarti kita telah mengurangi beban otak serta menghindari decision fatigue.

Keotomatisan yang diberikan oleh kebiasaan akan membuat kita untuk tidak berpikir dan langsung bertindak!

• • •

“KEBIASAAN” DI DALAM OTAK

Ann Graybiel, seorang Profesor Institut di MIT menunjukkan bahwa bagian otak yang disebut basal ganglia, tepatnya striatum, memainkan peran utama dalam pembentukan kebiasaan.

Beberapa tahun sebelumnya, dia dan grupnya menemukan bahwa pola neuron dalam striatum mengalami perubahan ketika menguji tikus untuk mempelajari kebiasaan baru, seperti berbelok ke kanan atau ke kiri dalam labirin setelah mendengar nada tertentu untuk mendapat hadiah makanan.

Neuron-neuron pada otak tikus tersebut menyala sepanjang tugas saat baru mulai mempelajari labirin. Seiring berjalannya waktu, kemampuan mereka semakin membaik. Neuron-neuron tersebut kemudian hanya menyala di awal dan akhir tugas. Hal ini menandakan bahwa tidak ada pengambilan keputusan yang berat lagi karena pola atau kebiasaan telah terbentuk.

• • •

SIKLUS MEMBANGUN KEBIASAAN

Jika kamu sudah membaca ebook gratisku—Hidupku Kebiasaanku—kamu akan menemukan bahwa kebiasaan terbangun dari tiga unsur—pemicu, rutinitas, hadiah.

cara membangun kebiasaan

  • Pemicu: Pengingat yang berfungsi mengarahkan kira ke rutinitas.
  • Rutinitas: Perilaku yang terjadi karena pemicu dan perilaku yang akan menjadi kebiasaan.
  • Hadiah: Sebuah hasil yang positif atau negatif karena telah melakukan rutinitas.

Jika 3 unsur tersebut kita terapkan dalam membangun kebiasaan membaca, maka yang harus kita lakukan adalah:

  • Pemicu: Tentukan pemicunya. Pemicu ini bisa berupa waktu, orang, tempat, keadaan emosi, atau sebuah kegiatan yang mengingatkan kita untuk melakukan rutinitas (membaca).
  • Rutinitas: Membaca buku.
  • Hadiah: Hal yang kamu dapatkan dan bisa memberikanmu perasaan baik setelah melakukan rutinitas. Hal itu bisa seperti menonton film, makan ice cream, makan coklat, dll.

Oke, kamu sekarang telah mengerti tentang unsur kebiasaan dan hal apa yang harus kamu lakukan setelah ini. Tetapi, aku yakin kamu pasti bergumam “ngomong selalu lebih mudah daripada melakukan.” Tentu saja!

Lalu, hal apa yang membuat kita masih sulit juga untuk cinta membaca? Jawabannya ada pada unsur “rutinitas”.

Setiap jam 7, setiap bertemu si A, setiap berada di kamar, setiap bahagia, setiap bangun tidur adalah macam-macam pemicu. Dari sini kita tahu bahwa mencari pemicu itu mudah.

Hadiah? itu hal yang kecil! Cari saja hal yang membuatmu bahagia dan gunakan itu sebagai hadiah.

Bukankah rutinitas juga hal yang mudah? ambil buku, baca, dan selesai? Kamu benar, tetapi faktanya, meskipun pemicu sudah ditentukan, hadiah yang wow telah disiapkan, tetap saja ada waktu di mana rutinitas tidak berjalan. Itu semua karena kita salah dalam membangunnya.

• • •

MEMBANGUN RUTINITAS MEMBACA

Dari ketiga unsur pembentuk kebiasaan, rutinitaslah yang harus menjadi fokus utama kita. Di tahap inilah kebiasaan bisa dikatakan berhasil atau tidak, di tahap inilah kualitas menjadi prioritas nomor satu demi mendapat hasil yang maksimal.

Inilah beberapa cara yang bisa kamu terapkan untuk membangun rutinitas yang tidak hanya berkualitas tetapi juga memiliki kontinuitas.

1. PERJELAS TUJUANMU

Mungkin kamu tahu apa yang ingin kamu lakukan (membaca buku setiap hari). Mungkin kamu juga tahu bagaimana cara melakukannya (membiasakannya). Tetapi, apakah kamu tahu mengapa kamu ingin melakukannya?

Setiap orang akan memiliki versinya masing-masing.

Ada yang membaca buku untuk menambah kotak wawasan mereka. Ada yang membaca buku untuk mendapatkan kesempatan berbagi lebih. Ada yang membaca buku untuk merefleksi diri.

Untuk memberimu kejelasan tujuan dan perspektif baru, tanyakan pertanyaan-pertanyaan sanggahan!

  • Untuk apa menambah wawasan jika kehidupanmu masih sama?
  • Untuk apa kesempatan itu jika pada akhirnya tidak dibagikan?
  • Untuk apa hasil refleksi itu jika tidak memperbaikimu?

Membaca adalah kegiatan konsumtif. Kamu hanya menerima dan memasukkan informasi. Untuk mengubahnya ke dalam tindakkan nyata, kamu harus menerapkan atau menciptakan sesuatu dari apa yang kamu dapatkan. Dengan cara ini lah perubahan akan terlihat.

Apa pun tujuanmu, pastikan hal itu bisa membuat hidupmu lebih baik!

2. BUANG PENGHALANG MENTAL

Dalam banyak kasus, penundaan terjadi karena kita memperpanjang waktu dan mengisinya dengan gambaran kosong. Hal itu juga berlaku ketika kita hendak membangun kebiasaan baru—kebiasaan membaca buku.

Ketika kita pernah mencoba melakukannya dan gagal, kita cenderung memperpanjang waktu ke belakang. Hal itu akan menjadi baik jika kita mencari kekurangan dan memperbaikinya di kesempatan selanjutnya.

Masalahnya, kita justru menjadikan kegagalan masa lalu itu sebagai penghalang ketika hendak memulai. Kita ditarik perasaan sedih, kecewa, dan tidak percaya diri untuk melakukannya (lagi).

Tak berhenti sampai disitu, kita menambah keadaan semakin parah dengan menarik garis waktu ke depan dan mengisinya dengan kekhawatiran, ketakutan, dan hal-hal mengerikan. Padahal, seringkali semua hal negatif tersebut tidak pernah terjadi.

Masa depan adalah hal yang tidak akan pernah kita ketahui. Membayangkan sesuatu yang tidak jelas tidak akan membawa kita kemana-mana.

Ingin menghindari penghalang mental? hiduplah di waktu sekarang! Lupakan hal negatif di masa lalu dan ketidakpastian di masa yang akan datang.

Jika kamu masih menemukan dirimu menunda setelah melakukan hal di atas. Aku tahu alasannya. Kamu membiarkan pertanyaan masuk ke dalam pikiranmu. Penundaan hanya akan berhenti jika kamu berhenti berpikir (bagaimana, apakah, mengapa, apa).

Fokuslah hanya untuk memberikan usaha terbaik. Di satu waktu. Tanpa pertanyaan. Sekarang.

3. JIKA KAMU TIDAK BISA MELAKUKANNYA, KAMU TIDAK LEBIH BAIK DARI ANAK KECIL

Kesalahan umum yang terjadi ketika membangun kebiasaan baru adalah memulai dari hal yang besar. Terlihat memuaskan, tetapi justru membuatmu kewalahan.

Tidak usah mengatakan ingin membaca 2 bab dalam satu hari jika hal itu membuatmu tidak bergerak. Semakin kamu membuat rutinitasmu berat, semakin besar kesempatanmu untuk gagal.

Apa yang harus kamu lakukan? Buatlah rutinitas membaca sekecil mungkin. Aturannya adalah jika kamu tidak bisa melakukannya, kamu tidak lebih baik dari anak kecil.

Membaca 1 bab berat? Bacalah satu lembar. Jika masih terlalu besar, bacalah satu paragraf. Jika masih terlalu besar juga, bacalah satu kalimat. Masih terlalu besar? bacalah satu kata!

Tidak bisa melakukan hal paling kecil? Kamu tidak lebih baik dari anak kecil!

Membiasakan diri dan mencapai 1% lebih baik adalah tujuan dari cara ini. Tidak masalah sekecil apa pun yang kamu lakukan. Selama hal itu dilakukan terus-menerus, kamu akan menemukan momen di mana kamu tidak bisa untuk tidak membaca buku dalam sehari.

Dan jangan lupa untuk selalu menambah beban jika satu kata sudah terlalu mudah!

4. TEMUKAN EMASMU

“Bagaimana cara menemukan buku yang bagus?” 

Buku yang bagus bukan buku rekomendasi dari orang lain atau juga buku best seller, buku yang bagus adalah buku yang membuatmu tertarik dan memang kamu butuhkan.

Oke, dalam hal ini kamu akan membutuhkan tenaga ekstra karena harus bisa menemukan “emas” yang kamu cari melalui perjalanan.

Perjalanan yang harus kamu tempuh adalah membaca buku sebanyak mungkin. Eits, santai dan tenang, buku itu bukan untuk kamu selesaikan, tetapi hanya untuk mencari poin yang paling menarik perhatianmu.

Cara yang bisa kamu lakukan adalah mencari penilain buku tersebut dari orang yang telah membaca, membaca rangkumannya di internet, atau membaca dari bab yang membuatmu mengatakan “Ini yang aku cari, sayang!”.

Jika semua hal di atas masih belum membuatmu tertarik pada buku tersebut, jangan memaksakan diri dan segeralah untuk mencari pelarian. Kita tidak akan mendapat kenikmatan jika memaksakan sesuatu yang tidak kita sukai.

Ulangi cara di atas terus menerus sampai kamu menemukan “emas” yang kamu cari!

• • •

Pertanyaan akhir yang harus kamu tanyakan kepada dirimu adalah “maukah kamu membaca buku setelah ini?” atau masih memeluk erat alasan aku tidak punya…“?

Aku harap kamu bisa mengubah artikel ini ke dalam tindakan. Jika tidak, nampaknya kamu hanya menjejali pikiranmu dengan sesuatu yang tidak membawamu kemana-mana!

A person who won’t read has no advantage over one who can’t read.

— Mark Twain

 

membangun kebiasaan membaca


FOOTNOTES

  1. Jika kamu ingin membaca lebih lanjut tentang bagaimana kebiasaan di dalam otak, kamu bisa membacanya di Distinctive brain pattern helps habits form.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.