Jika kamu melihat gedung tinggi di pinggir jalan, kamu tahu bahwa itu dibangun berdasarkan desain. Jika kamu melihat cangkir kopi yang biasa kamu gunakan, itu dibuat berdasarkan desain. Jika kamu melihat layarmu sekarang, itu dirakit berdasarkan desain. Kehidupan? Tentu saja juga berdasarkan desain. Bagaimana dengan Epidemi? Pandemi? Itu juga desain.

Desain yang aku maksud bukanlah tentang konspirasi, tetapi tentang sebuah kenyataan yang memang sudah ada dalam urutan kehidupan.

Kita tahu bahwa kehidupan selalu menyajikan titik-titik baru. Entah itu titik yang bisa kita prediksi, atau bahkan titik yang tidak pernah kita bayangkan akan pernah ada. Iya, kita berbicara unknown unknowns atau black swan di sini.

Pertanyaannya, apakah “kekacauan” yang terjadi sekarang ini adalah black swan? Beberapa orang awam, termasuk aku, akan melihat pandemi yang terjadi sekarang ini sebagai kejutan kehidupan, tetapi beberapa yang lain telah memprediksi jauh sebelumnya.

5 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 18 Maret 2015, Bill Gates membuat sebuah artikel dengan judul “We’re Not Ready for the Next Epidemic.” Artikel itu dibuat tepat setelah dia menghadiri konferensi TED di Vancouver, Kanada. (Aku sangat merekomendasikanmu untuk membacanya.)

Belajar dari pengalamannya dalam membantu mengatasi wabah Ebola di Afrika Barat, Bill menuliskan satu pelajaran penting yang diperolehnya:

Yang berikutnya bisa jauh lebih buruk. Dunia sama sekali tidak siap menghadapi penyakit—flu khusus yang ganas, misalnya—yang menginfeksi sejumlah besar orang dengan sangat cepat.

Jika kamu menonton konferensi TED-nya, Bill juga memberi kita sebuah pesan penting yang sebenarnya harus diperhatikan oleh dunia:

Jika ada yang membunuh lebih dari 10 juta orang dalam beberapa dekade mendatang, kemungkinan besar itu adalah virus yang sangat menular dan bukan perang. Bukan rudal, tetapi mikroba.

Ada dua berita di sini. Pertama prediksi Bill salah. Iya, virus itu datang bahkan tidak membutuhkan beberapa dekade. Tamu tak diundang itu datang hanya membutuhkan 5 tahun setelah prediksinya. Kedua, prediksi Bill sangat tepat. Kita tidak siap!

• • •

Ketika Kita Melihat Kekacauan

Peristiwa yang kita hadapi ini berdampak secara berantai. Kita tidak hanya takut tertular, tetapi juga bingung apa yang harus kita lakukan. Semua itu karena ketidaktahuan masa depan yang kita hadapi. Kita akhirnya hanya paham bahwa mengumpulkan semua hal yang kita butuhkan adalah cara terbaik untuk melindungi diri.

Kita membeli masker sebanyak 97 kotak hingga lupa bahwa ada petugas medis yang kesulitan mendapatkannya. Kita membeli bahan pokok secara berlebihan hingga lupa bahwa ada orang-orang yang sulit mendapatkan makanan.

Tidak usah terlalu menyalahkan diri sendiri karena itu semua adalah naluri manusia ketika melihat sebuah bahaya—kita akan berusaha untuk bertahan hidup. Di sana kita akan memiliki dua pilihan: lari atau hadapi. Pilihan pertama—lari atau kabur— tidak bisa membantu kita karena lambat laun, penyebaran virus ini akan semakin meluas. Mau tidak mau, kita harus menghadapinya, bagaimanapun caranya. Sayangnya, menghadapinya dengan membeli semua hal secara membabi buta hanya akan membuat keadaan semakin memburuk. Inflasi akan terjadi dan rentetan kekacauan akan menjadi bola salju yang terus bergulir.

Aku jadi teringat salah satu adegan dalam serial Netflix, Kingdom, di mana seorang tabib wanita marah kepada seorang lelaki yang memasak mayat temannya sendiri untuk bertahan hidup dari kelaparan.

Wanita: “Apakah kamu sudah gila? Dia manusia seperti kita. Bagaimana mungkin seorang manusia memakan manusia lain?”

Pria: “Lalu kenapa? Apa kita semua harus mati kelaparan karena memperdebatkan moralitas?”

Percakapan itu memberikan kita sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri.

Apakah kita memang benar-benar tega untuk “memakan” saudara kita sendiri secara tidak langsung dengan melakukan panic buying?

Kita ini butuh kewaspadaan, bukan kepanikan. Mengapa? Karena semakin kita panik, besar kemungkinan juga orang lain tertular kepanikan kita.

Cukupkan, jangan lebihkan, itulah cara terbaik yang bisa kita lakukan agar tidak menambah titik api yang baru!

• • •

Mencari Ketenangan di dalam Kekacauan

Marcus Aurelius, mantan kaisar Romawi, menuliskan dalam jurnalnya, Meditations, bahwa kebahagiaan hidupmu tergantung pada kualitas pikiranmu.

Jika dipikir-pikir, hal itu adalah suatu kebenaran. Tindakan kita memang sangat dipengaruhi oleh pikiran kita. Jika pikiran kita mendung, kita juga akan lebih mudah untuk melakukan tindakan yang salah. Sebaliknya, jika pikiran kita jernih, kita akan bisa bertindak lebih tenang dan bijaksana.

Aku tahu bahwa hal itu mudah dimengerti, tetapi sulit untuk diikuti. Kabar baiknya, kita masih bisa sedikit mengurangi kekhawatiran kita dengan melihat ketidakpastian hidup ini dengan Stoisisme.

Stoisisme memberikan pendekatan berbeda dalam melihat sebuah kekacauan. Jika biasanya kita mempedulikan hal yang ada di luar kontrol, Stoisisme mengharuskan kita mempedulikan apa yang ada di dalam kontrol.

Apa saja hal yang ada di luar kontrol kita?

  • Berapa banyak orang yang akan tertular selanjutnya
  • Kapan daerah kita akan tertular
  • Harga kebutuhan pokok yang naik
  • Kapan kita akan tertular

Ketika kita menghabiskan pikiran dan tenaga kita untuk hal-hal semacam itu, keadaan justru akan bertambah buruk karena kita akan mengisi ruang masa depan dengan ketidakpastian yang menakutkan daripada memfokuskan diri pada apa yang bisa kita maksimalkan.

Lalu, apa saja yang ada di dalam kontrol kita?

  • Melakukan social distancing semaksimal mungkin
  • Mencuci tangan dengan sabun
  • Tidak menimbun barang-barang
  • Memeriksakan diri jika ada gejala

Ketika kita memfokuskan diri pada hal-hal di atas, akan semakin sedikit kesempatan kita untuk khawatir. Mengapa? Karena bukan hal eksternal yang mengatur emosi kita, tetapi hal internal—pikiran dan tindakan kita. Ingat, ini bukan ajakkan untuk tidak waspada! Justru ini adalah ajakkan untuk waspada secara tenang.

Stoisisme tidak menyuruh kita untuk menutup mata atau menjadi seseorang yang mati rasa terhadap apa yang terjadi, tetapi menyuruh kita untuk menerima kenyataan dan mengelola perasaan agar tetap berpikir jernih.

You have power over your mind-not outside events. Realize this, and you will find strength.

― Marcus Aurelius

• • •

Renungan

Pandemi sudah terjadi dan menjadi kenyataan. Titik lama yang luput dari kesadaran kita menjadi peringatan bahwa semua yang ada di dunia—pekerjaan, kesehatan, orang yang kita sayangi, barang yang kita banggakan—hanyalah bersifat sementara.

Sekarang, kita perlahan-lahan harus mulai belajar melepaskan ketergantungan kita terhadap kopi di cafe favorit, barang-barang di mall kesayangan, atau film terbaru di bioskop, hanya untuk berada di rumah.

Bagi seorang introvert seperti aku, menghabiskan waktu di rumah adalah sebuah hal yang biasa, tetapi bagi seorang ekstrovert yang menyukai keramaian, itu boleh jadi malah menjadi penjara.

Mungkin, sekarang adalah waktu terbaik untuk menggali potensi diri yang sudah lama tidak diselami, atau waktu terbaik untuk mendalami hobi yang seringkali tertutup oleh kesibukan industri, atau juga waktu terbaik untuk mengenal diri yang biasanya tidak kita jalani.

Mungkin, sekarang adalah waktu terbaik untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, atau waktu terbaik untuk memahami pesan dari planet kita, atau juga waktu terbaik untuk berlatih empati.

Mungkin, sekarang adalah waktu terbaik untuk belajar apa arti persiapan, persamaan dan kemanusiaan.

Kejadian ini tidak hanya memberi waktu kepada kita untuk bernafas dalam situasi berbeda, tetapi juga memberi bumi nafas untuk beristirahat dari ulah manusia.

Selalu ada kebaikan di dalam sebuah peristiwa. Selalu ada ketenangan di dalam sebuah kekacauan. Kita harus ingat, bahwa ketenangan yang kita cari tidak bergantung pada dunia luar, tetapi pada diri kita sendiri.

Mari kita berjuang bersama! Saatnya kita bahu-membahu dengan apa yang kita bisa dan dengan apa yang kita punya. Jika semua ini berlalu, kalimat penutup Bill dalam konferensi TED akan tetap relevan sampai kapan pun.

If there’s one positive thing that can come out of the Ebola epidemic, it’s that it can serve as an early warning–a wake-up call to get ready.

— Bill Gates

Baik-baik di sana, kawan!