Bagaimana cara mencintai diri sendiri? Sudah berapa kali kita mendengar pertanyaan semacam itu.

Tidak usah menyangkal bahwa mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh semua orang. Masalahnya, menerapkan kalimat tersebut tidak semudah membukakan pintu yang diketuk abang GoFood.

Masih banyak orang yang hanya “merasa” bahwa mereka sudah bisa mencintai dirinya sendiri, padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka belum bisa melakukannya.

Ah, terlalu banyak contoh yang bertebaran di dunia kita ini atau jika kamu mau, kamu bisa mengingat-ingat kembali hal-hal yang menunjukkan belum bisanya kamu dalam mencintai dirimu sendiri. Lupa? Tenang, akan aku bantu!

Masih ingat hari di mana kamu lebih memilih bertahan dalam hubungan yang tidak sehat? Itu bisa berupa pertemanan, asmara, dll. Kamu sadar bahwa sebenarnya kamu adalah orang yang tersiksa di dalam hubungan tersebut, tetapi kamu lebih memilih bertahan hanya karena satu kata andalan, “cinta”.

Salah! kamu bukan bertahan karena cinta. Kamu bertahan karena kamu belum bisa mencintai dirimu sendiri. Kamu takut kehilangan orang tersebut dan mengorbankan apa pun agar dia tetap berada dalam kehidupanmu. Sakit yang kamu rasakan hanya kamu anggap sebagai alat penguji kesabaran. Hingga pada satu titik, kamu lebih memilih untuk selalu mengalah.

Kamu ingin menyerah tetapi tidak sanggup. Kamu kemudian menyalahkan dirimu sendiri atas ketidaksanggupanmu itu. Tidak ada lagi waktu buatmu, semua hal yang kamu miliki hanya untuk dia, dia dan dia. Senyumanmu hanyalah alat tukar palsu untuk ketidakbahagiaanmu.

Ingat ini, kamu mungkin memang tidak kehilangan dia, tetapi kamu telah kehilangan dirimu sendiri! Ketika kamu menempatkan orang lain sebagai tumpuan, lambat laun kamu akan lupa cara bertumpu pada diri sendiri. Dan ketika kamu lupa, kamu akan “menjual” dirimu dengan sesuatu yang sebenarnya hanya menjatuhkanmu.

Masih ada waktu dan akan selalu ada waktu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Hal yang perlu disadari adalah bahwa mencintai diri sendiri bukanlah sesuatu yang instan. Semua membutuhkan proses. Tetapi pada dasarnya, kamu tidak akan bisa mencintai dirimu tanpa adanya penerimaan diri dan keadaan terlebih dahulu.

Dan di sanalah kita memiliki masalah baru.

• • •

Dua Macam Penerimaan Diri dan Keadaan

Sekarang kita akan membahas tentang penerimaan. Penerimaan diri sendiri dan penerimaan keadaan. Kedua hal tersebut bisa lahir dari dua cara;

  1. Dari dalam, di mana penerimaan itu terbentuk dari kesadaran seseorang tentang batasan-batasan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri. Dia paham betul mana hal yang masuk dalam kategori “mencintai diri” dan “tidak mencintai diri”. Penerimaan dari dalam diri sendiri adalah tentang bergantung kepada diri sendiri.
  2. Dari luar, di mana penerimaan itu terbentuk dari orang-orang di lingkungannya. Dia menciptakan batasan berdasarkan dukungan yang diberikan orang lain sehingga daftar dalam “mencintai diri” dan “tidak mencintai diri” menjadi sesuatu yang terkontaminasi. Penerimaan yang lahir dari luar adalah tentang bergantung pada penilaian orang lain.

Mana yang terbaik? Sulit untuk mengatakan yang pertama karena kita ini manusia. Kita butuh penerimaan dari luar. Kita butuh diakui. Kita butuh orang-orang yang mendukung kita dan semua hal itu adalah hal yang normal.

Tetapi, kebenaran pahit yang harus kita sadari adalah bahwa penerimaan diri dari luar tidak akan bertahan lama. Dia akan berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup kita, bertambahnya orang-orang baru dalam hidup kita, yang akhirnya menciptakan lingkungan dan pengaruh yang baru.

Tidak selamanya lingkungan baru itu bersambut dengan apa yang kita harapkan, karena terkadang, dialah yang menjadi penghalang untuk kita.

Jika itu lingkungan yang buruk, mungkin meninggalkannya adalah keputusan yang terbaik. Tetapi bagaimana jika lingkungan baiklah yang sebenarnya menjadi penghalang untuk kita?

• • •

Lingkungan yang Baik Bisa Membuatmu Masuk ke dalam Fase Denial

Sesuatu yang terlihat baik tidak selamanya baik. Lingkungan yang kamu anggap baik bisa saja adalah lingkungan yang buruk. Mari kita bahas lebih dalam!

Sekarang bayangkan dirimu memiliki berat badan yang berlebihan. Belum dalam tahap obesitas, tetapi kamu sudah bisa melihat lemak-lemak yang menonjol pada perut, lengan, atau dagumu.

Semua hal itu tidak kamu lihat sebagai masalah karena orang-orang di sekitarmu yang sangat suportif.

Tidak apa-apa gemuk!”

“Jangan pikirkan perkataan orang lain yang mengolok-olokmu!”

“Jangan minder dengan badan, apa adanya aja!”

Terlihat baik, bukan? Atau ada sesuatu yang tidak kamu sadari?

Ketika kamu merasakan bahwa kamu lambat dalam berlari di antara teman-temanmu, ketika kamu sadar bahwa tubuhmu membuatmu sulit beraktivitas, ketika kamu ingin berubah karena ejekan dari teman-temanmu, kamu membuat tameng—dukungan dari lingkunganmu—yang menghentikanmu untuk berubah.

Kamu kemudian kembali merasa aman, merasa puas dan akan tetap melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin kamu ubah. Di sinilah kamu, berada pada fase denial, menyangkal dirimu sendiri, kamu membohongi dirimu sendiri dengan meminum obat penenang yang diberikan oleh lingkunganmu.

Coba pikir deh, bagaimana bisa kamu acuh pada sesuatu yang kamu inginkan? Bagaimana bisa kamu cuek pada sesuatu yang kamu butuhkan?

Masa bodoh katamu? Hei, ini bukan tentang seberapa baik sikap masa bodohmu, ini tentang seberapa baik kamu mengenal dirimu dan seberapa baik kamu dalam mewujudkan hal-hal yang kamu ingin dan butuhkan.

Masa bodoh itu diterapkan setelah kamu mengenal dirimu sendiri, tahu batasan-batasanmu. Jika kamu menerapkan masa bodoh sebelum mengenal hal-hal itu, yang ada hanyalah ketidakcocokan, kepalsuan dan penderitaan yang menggerogoti secara perlahan-lahan.

Kamu tidak bisa mengambil semuanya karena ketika kamu menerima A, maka ada hal lain yang kamu tolak. Itu sama seperti ketika kamu menerima bahwa gemuk adalah hal yang normal, maka kamu telah menolak lainnya—keinginan untuk berubah.

Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh gemuk, tidak sama sekali. Aku sadar bahwa hidup adalah pilihan, bukan? Tidak masalah kamu memilih yang mana, tetapi pastikan bahwa kamu tidak membohongi dirimu sendiri. It hurts!

Oke, jika penerimaan yang terbentuk dari luar bisa membawa kita ke fase denial, lalu bagaimana cara agar kita bisa mendapatkannya dari dalam diri sendiri?

• • •

Belajar dari Francis Tsai

Sebelum kita membahas bagaimana cara mencintai diri sendiri, mari kita berkenalan dengan pria luar biasa ini. Francis Tsai.

mencaintai diri sendiri

Dia adalah seorang komikus, ilustrator, penulis dan seniman konseptual dari Amerika.

Karya Tsai sukses membawanya mengerjakan projek besar seperti pada tahun 1998 dengan Presto Studios, dia menjadi perancang konseptual yang berkontribusi dalam pengembangan visual dan desain game untuk video game Myst 3, dan Star Trek: Hidden Evil.

Bahkan, Tsai juga bekerjasama dengan Marvel Comics untuk membuat sampul dan seni interior.

Hingga suatu ketika, kejutan kehidupan itu datang. Pada tahun 2010, saat usianya 42 tahun, Tsai didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Penyakit itu membuat tangan dan lengannya bermasalah. Pada awal 2011, kondisi tangan dan lengannya semakin memburuk dan tidak bisa digunakan lagi. Momen itu semakin membuat kehidupan Tsai semakin kelam.

Tsai mungkin berpikir bahwa dia sedang hidup dalam mimpi buruk. Sedih? pasti! Menyerah? Tidak!

Tsai mencari solusi dan menemukan bahwa dia bisa melukis secara digital di ponselnya dengan jempol kaki kanan yang dipegang dengan kaki kirinya. Sayangnya, kehidupan memiliki rencana lain untuknya. Kali ini, penyakit itu membuat kakinya tidak bisa digunakan.

Membayangkannya saja adalah sesuatu yang mengerikan. Harapan yang sebelumnya mulai terbit nyatanya malah tenggelam. Tetapi Tsai membuktikan bahwa kata “menyerah” bukanlah kata yang pantas untuk digunakan dalam hidup.

Setelah kehilangan kemampuan tangan dan kakinya, Tsai kemudian menggunakan PC Eye dari Tobii.

Pada awal 2012, Tsai mulai menciptakan seni lagi dengan menggunakan teknologi eye-gaze (teknologi yang menggunakan pandangan mata) untuk menjalankan program menggambar seperti Sketchup dan Photoshop.

belajar mencintai diri sendiri

• • •

Tiga Tahapan Mencintai Diri Sendiri

Tsai adalah bukti nyata dari seseorang yang mencintai dirinya sendiri karena keberhasilannya menerima diri dan keadaan yang ada.

Mengapa aku bisa mengatakan bahwa Tsai telah bisa menerapkan konsep mencintai diri sendiri? Karena ketika dia kehilangan kemampuan untuk melakukan hal yang menjadi nyawanya—membuat karya seni—dia tidak berdiam diri atau menerima keadaan dengan pasif. Dia tahu batas-batas mana yang hanya membuat dunianya semakin runtuh dan mana yang akan membuatnya hidup lagi.

Mungkin juga karena dia tidak menerima dukungan dari orang-orang terdekatnya yang mengatakan “Sudah, tidak usah memaksakan diri, nikmati saja hidup yang tersisa dengan santai“. Dia malah berusaha mencari jalan keluar karena dia tahu bahwa membuat karya adalah hal yang membuatnya bahagia.

Jika dari sini aku mengatakan padamu, “Jadilah seperti Tsai! Cintai dirimu sendiri apa pun yang terjadi dan jangan lupa berusaha!“, mungkin kamu akan bereaksi…

“Kalau gitu doang ya aku tahu!”

Tenang, aku paham kok kalau beberapa orang tidak sadar atau bahkan tidak tahu, bahwa ada hal yang harus dilakukan sebelum sampai pada tahap mencintai diri sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana cara Tsai hingga berhasil ke tahap tersebut, tetapi aku akan memberikan 3 tahapan untuk mencintai diri sendiri berdasarkan apa yang telah aku alami dan pelajari.

1. Mencari Perspektif Baru

Ketika mendapatkan masalah, hal pertama yang kebanyakan orang lakukan adalah melihat masalah itu dan menariknya ke situasi yang lebih buruk. Mereka membuat skenario terburuk yang sebenarnya malah akan membuat kata “cinta” semakin jauh dari dirinya.

Bayangkan kamu masuk ke dalam mode perbandingan—keadaan di mana kamu membandingkan dirimu dengan orang lain. Ayolah, setiap orang pasti pernah masuk ke dalam mode ini.

Ketika kamu berada di sana, apa yang kamu lakukan? Kamu melihat kondisi orang lain yang lebih baik dan menjadikan itu sebagai alat untuk mengukur seberapa kurangnya dirimu. Kamu kemudian berpikir bahwa kamu adalah orang yang tidak becus, orang yang gagal, orang yang tertinggal, dan sifat-sifat buruk lainnya yang kamu anggap pantas melekat pada dirimu.

Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan itu? Kamu fokus kepada permasalahan, padahal seharusnya kamu fokus mencari solusi.

Di sanalah kamu melakukan tahap pertama—mencari perspektif baru.

Jika kamu masuk ke dalam mode perbandingan, jangan berpikir tentang seberapa buruk keadaanmu, berpikirlah tentang apa yang harus kamu lakukan untuk mendekatkanmu pada keinginanmu.

Jika kamu mengalami patah hati, jangan berpikir tentang dia yang pergi, berpikirlah tentang mengapa dia pergi dan apa yang bisa kamu pelajari dan lakukan atas kejadian itu.

Tsai bisa saja berpikir bahwa kariernya telah selesai setelah mendapati tangan dan kakinya tidak berfungsi. Dia kemudian memilih berdiam diri dan duduk di depan TV selama sisa hidupnya. Tetapi, dia mencari perspektif baru untuk menemukan solusi di setiap kemungkinan yang bisa membantunya.

Ketika kamu dipertemukan dengan masalah dan masuk ke dalam pikiran yang menghancurkanmu secara perlahan, ingatlah untuk mencari perspektif baru!

2. Memahami dan Menerima Perspektif Baru

Menemukan perspektif baru tidaklah cukup. Kamu sekarang harus bisa memahami dan menerimanya.

Memahami perspektif baru akan bisa memberimu kekuatan dan ketenangan pada perasaanmu.

  • Katakanlah cintamu bertepuk sebelah tangan. Daripada berpikir dia adalah orang yang tidak peka (perspektif lama), kamu lebih memilih untuk memahami bahwa kamu terlalu memaksakan perasaanmu atau dia bukanlah orang yang cocok untukmu (perspektif baru).

Sedangkan menerima perspektif akan membuatmu bisa fokus. Kamu akan lebih sulit untuk keluar jalur—menjatuhkan diri sendiri lagi. Kamu akan semakin kokoh pada hal-hal yang hanya membawamu pada perbaikan.

Di tahap ini kamu tahu betul batasan-batasanmu. Kamu telah bisa menyaring mana tindakan yang masuk ke dalam keranjang “tidak mencintai diri” dan mana yang masuk ke “mencintai diri”.

Tidak ada yang bisa aku ucapkan selain, “Selamat, di titik ini, kamu telah mendapatkan sikap masa bodoh!

3. Mengambil Tindakan

Waktunya bergerak!

Jika kamu sudah mencari perspektif baru, memahami dan menerimanya, sekarang saatnya mengambil tindakan. Tindakan yang akan mengembalikan kebahagiaanmu. Tindakan yang akan membuat rasa cinta pada dirimu kembali dan bertambah. Tindakan yang menjauhkanmu dari perasaan negatif yang berlarut-larut.

Tindakan yang kamu ambil adalah indikator bahwa kamu telah mencintai diri sendiri dalam arti yang sebenarnya.

• • •

Pengecualian?

Aku tahu bahwa akan ada orang yang mengatakan, “ah, orang-orang seperti Tsai adalah pengecualian. Contoh seperti itu tidaklah realistis!”

Jawabanku? Tidak ada pengecualian! semua orang bisa mencapai tahap mencintai dirinya sendiri!

Jika kamu melihat sebuah kesuksesan dari apa yang dihasilkan seseorang, kamu bisa mengatakan bahwa Bill Gates, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg adalah pengecualian karena adanya faktor keluarga, pendidikan, sumber daya, dll.

Tetapi jika kita membahas mencintai diri sendiri? Setiap orang akan memiliki hal yang sama. Setiap orang akan membutuhkan satu hal untuk mencintai diri sendiri—pikiran.

When there is no enemy within, the enemies outside can’t hurt you.

— African Proverb

FOOTNOTES

  1. Jika ingin membaca lanjutan tentang kehidupan Francis Tsai, kamu bisa membacanya di sini. cara mencintai diri sendiri cara mencintai diri sendiri cara mencintai diri sendiri cara mencintai diri sendiri cara mencintai diri sendiri