Menciptakan karya ternyata bukanlah sesuatu yang mudah.

Aku yakin, pasti ada di antara kamu yang sedang membaca artikel ini, ingin sekali membuat sebuah karya yang bisa dilihat oleh dunia.

Karya yang disukai, karya yang dikagumi, atau yang lebih baik lagi jika karya itu juga menghasilkan uang.

Sayangnya, semua gambaran indahmu itu masih tetap sebatas mimpi karena kamu tidak berani memulai!

  • Kamu takut dicemooh orang, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk tidak menulis.
  • Kamu khawatir dicibir orang, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk tidak menggambar.

Perasaanmu kacau karena ketidakberdayaanmu. Kamu kemudian mencari pelarian yang bisa membawa pergi masalahmu, meskipun hanya sesaat—media sosial.

Kejutan! Di sana, tempat yang seharusnya bisa membawakan kebahagiaan untukmu malah menjadi tempatmu berkubang dengan kesedihan, keputusasaan, dan penghakiman diri.

Di tempat pencitraan itu, kamu melihat orang-orang yang seusia atau bahkan lebih muda darimu yang telah berhasil membuat sesuatu yang bisa dibanggakan. Kamu berhenti sejenak dan berbalik arah untuk menanyakan perihal tersebut pada dirimu.

Apa yang sudah aku buat? Oh, kamu masih berkutat dalam perasaan yang jelas-jelas hanya menahanmu untuk melangkah maju.

Rasa takut dan khawatirmu itu hanya akan membawamu pada garis akhir yang menyedihkan—kamu menunda, kamu tidak melakukan apa pun, kamu masih berada di titik yang sama.

Tunggu, bukankah itu adalah hal yang baik karena kamu berhasil menghindari perasaan negatif yang akan ditimbulkan oleh orang-orang yang siap menjatuhkanmu?

Tetapi, bagaimana kalau itu hanya ilusimu? Karena realitas sebenarnya adalah kamu menjatuhkan dirimu sendiri!

• • •

YANG SALAH DALAM DIRIMU

Jika kamu berpikir bahwa orang-orang di dunia ini kejam dan jahat, itu memang benar.  Mereka adalah orang yang senang melihat penderitaan orang lain, tidak suka melihat orang lain berkembang dan senang sekali menjatuhkan mental orang lain. Kehancuran orang lain adalah hal yang bisa membuat hidupnya berwarna.

Memang tidak semua orang seperti itu. Masih ada banyak kok orang yang baik, tetapi entah mengapa beberapa orang jahat itulah yang justru berhasil menyetir tindakkan dan kehidupanmu, bukan?

Kamu lupa, bahwa kamu tidak akan pernah “tersentuh” mereka jika kamu tidak mengizinkannya. Pikiranmu adalah milikmu. Sekali kamu menyerahkannya kepada orang lain, bersiap-siaplah menjadi boneka yang hanya patuh pada tuannya.

Hal pertama yang harus kamu lakukan terlebih dulu adalah ambil alih lagi pikiranmu.

Dia satu-satunya aset yang kamu miliki. Dia adalah alatmu untuk membentuk duniamu. Maka, jangan sekali-kali kamu membiarkan orang mengotorinya, apalagi memberikan tempat untuk mengendalikannya!

• • •

Perasaan untuk diterima dan disukai oleh orang lain sebenarnya adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika hal itu justru menghambat kita untuk menciptakan sesuatu yang sebenarnya kita inginkan dan bisa membuat kita bahagia.

Dengan sangat jelas kita mengiyakan bahwa kita masih memikirkan apa yang orang lain katakan.

Kamu kemudian mencari solusi di dalam dunia maya. Ke sana ke sini, menjelajahi artikel, mendengarkan podcast, menonton video hingga akhirnya kamu menemukan satu jawaban yang sama untuk bisa keluar dari bayang-bayang pendapat orang lain—I don’t give a kcuf!

• • •

MEMBUAT “I DON’T GIVE A KCUF!” BEKERJA

Nyatanya nasihat itu tidak selalu membawa hal yang kita harapkan. Ekspektasi kita adalah ketika mengucapkan dan menerapkannya, kita langsung terbebas dari belenggu orang lain. Sayangnya, dalam banyak kasus, hal itu tidak terjadi.

Maka, agar berhasil dalam menerapkan nasihat sejuta umat itu, kita harus mengubah rumus yang selama ini kita yakini sebagai “penyelamat” ketika akan melakukan sesuatu yang harus kita kerjakan.

Memikirkan banyak kemungkinan, kemudian bertindak.

Karena percaya rumus itu, kita tidak akan pernah memulai, membuat atau menciptakan sesuatu karena kita mengaitkan semua yang akan kita lakukan pada hal-hal di luar kendali kita—penerimaan dan rasa disukai dari orang lain.

Rumus yang benar dan seharusnya selalu kita terapkan adalah bertindak kemudian berpikir.

Jadi? Mulai saja dulu!

  • Ingin menulis? Menulislah!
  • Ingin membuat video Youtube? Buatlah!
  • Ingin menciptakan lagu? Ciptakanlah!

Tujuan kita bukan untuk disukai dan diterima.

Tujuan kita adalah untuk menciptakan.

Perubahan kecil dari “ingin diterima/disukai” menjadi “ingin menciptakan” akan menghasilkan fakta.

Fakta itu kemudian akan memberi tahu di mana kita sekarang, menjelaskan bagaimana perkembangan kita, dan menunjukkan hal-hal yang perlu diperbaiki.

Fakta yang kita dapatkan bisa berupa kritik yang membangun, saran atau bahkan hujatan. Semua itu menjadi satu dan dinamakan dengan input. Dari input yang kita dapatkan, sekarang saatnya memilah mana yang berguna untuk perbaikan karya kita dan mana yang hanya menghabiskan energi dan waktu kita.

Jika itu bisa membuat kita dalam versi diri kita yang lebih baik, gunakan!

Jika itu hanya menarik kita ke dalam perasaan negatif, i don’t give a kcuf and move on!

Jadi, siapkah dirimu untuk menciptakan karya?

Stop letting other people’s opinion create your reality.

— Anonim

menciptakan karya

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.