cara Mengambil Keputusan

Bertemu. Berkenalan. Menjalin hubungan. Mencintai. Dikhianati. Sakit hati. Siklus berulang.

Pola klasik yang masih dipegang kebanyakan orang. Kamu pernah? Astaga, sama!

Masalahnya, pada fase terkahir itu terdapat dua kemungkinan.

  1. Mencari pelabuhan baru.
  2. Mengulang dengan si kampret lagi.

Mengapa kita mencari pelabuhan baru? Alasan utamanya sih karena dilandasi keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik atau yang terbaik.

Mengapa kita mengulang dengan si kampret lagi? Iya, betul, jawaban universal. Karena CINTA.

• • •

Hari yang cerah. Perasaan yang bahagia. Tiba-tiba berubah menjadi amarah karena satu hal. Jempol kaki berciuman dengan kaki meja.

Apa yang terjadi? Kita marah dengan benda mati. Pernah? Ya ampun, sama!

• • •

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Dua kejadian diatas dipengaruhi oleh bagaimana cara kita mengambil keputusan.

Jika kita telaah lagi, dalam pengambilan keputusan, kita akan dihadapkan pada dua hal: emosi dan logika.

Emosi kita diatur oleh salah satu bagian otak bernama limbic system.

Bagian ini adalah bagian yang selalu mengatakan kepada kita “Dengar! Kamu harus mengikuti kata hatimu!”

Di sinilah naluri dasar kita berkembang: seks, kemarahan, kesedihan, dll. Dia hanya bisa melihat keadaan sekarang dan hanya memikirkan sesuatu jangka pendek, berorientasi visual, konkret, berpusat pada diri sendiri, dan tidak dirancang untuk berurusan dengan konsep dan gagasan yang abstrak dan kompleks.

Sedangkan cara berpikir rasional diatur oleh bagian otak yang bernama Pre-Frontal Cortex. Bagian ini memiliki tugas dalam penalaran, perencanaan, dan kesadaran. Dia memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu, dan menganalisa konsekuensi jangka panjang.

cara mengambil keputusan yang tepat

Makanya, meskipun kamu dikhianati pacar berulang kali, kamu akan lebih memilih untuk mempertahankannya. Itu semua karena kamu mengikuti emosi sesaat (limbic system), takut kehilangan atau karena perasaan yang sudah dalam (pret).

Padahal, secara logika (pre-frontal cortex), mempertahankan si kampret adalah hal yang salah. Ngapain juga mempertahankan orang yang telah mengingkari janji “Aku akan berubah sayang” berulang kali?

Bonus : Prefrontal cortex pada seorang remaja belum sepenuhnya bisa digunakan secara maksimal atau masih dalam tahap perkembangan sampai umur 25 tahun.

Hal inilah yang menyebabkan seorang anak remaja menjadi anak yang labil, karena dalam pengambilan keputusan, mereka masih mengikuti emosi (limbic system) dan tidak bisa menggambarkan konsekuensi jangka panjang yang akan terjadi.

Melihat fakta diatas, maka bukanlah hal yang bijak jika kita menghakimi atau mencaci anak remaja seperti diatas. Tugas kita adalah memahami mereka. Sedangkan untuk orang terdekat seperti orangtua, peran mereka sangat vital. Karena dengan mengajak mereka berdiskusi, melatih mereka dengan menghadirkan masalah adalah hal yang tepat untuk membantu perkembangan prefrontalcortex mereka.

Punya teman yang sudah tua tetapi masih tidak dewasa? Salah satunya adalah karena prefrontal cortex yang tidak berkembang.

• • •

EMOSI VS PIKIRAN

Setelah mengenal dua bagian otak diatas, kita sekarang tahu bahwa dalam mengambil keputusan, dua bagian otak kita (pre-frontal cortex dan limbic system) akan bertarung.

Untuk mempermudah bagaimana kita mengambil keputusan, kita akan menggunakan ‘segitiga pengambil keputusan.’

cara mengambil keputusan

Emosi dan pikiran akan berada pada tempatnya masing-masing (di kanan dan di kiri). Mereka tidak selalu sejalan.

Ketika emosi lebih mendominasi, maka kita akan mudah menurut pada lymbic system.

Ketika pikiran lebih mendominasi, maka kita akan mudah mengikuti pre-frontal cortex.

Seiring berjalannya waktu, pengalaman yang terakumulasi, dan informasi yang semakin banyak di dapat membuat kedua hal yang bertentangan ini semakin mempersempit jaraknya.

Dan ketika keduanya bertemu dipuncak, disitu jugalah kita akan disuguhkan oleh “panggung kacau”. Panggung dimana bercampurnya antara pikiran dan emosi.

Di momen itu, tak jarang kita akan mengubah keputusan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Contoh :

  • Ketika mata melihat dia yang menarik, perasaan suka itu langsung ada. Emosi mengambil kendali, dan melupakan segala logika. Ketika fakta tentang dirinya terkumpul, kita baru sadar akan hal yang tidak kita ketahui.
  • Ketika perbedaan pendapat terjadi, lagi-lagi emosi kita akan mendominasi. Kita mengutamakan perasaan untuk selalu benar meskipun sebenarnya kita salah. Setelah berpikir jernih dan menganggap bahwa salah adalah sesuatu yang wajar, kita menyesal.
  • Ketika melihat seseorang yang menurut kita salah, emosi kita menjadi pemenang. Kita menjadi nitizen yang maha benar, dan lupa apa itu empati. Setelah kita tahu proses dibaliknya, kita baru sadar bahwa apa yang dia lakukan bukanlah sepenuhnya kesalahannya.

The more we understand how we make decisions, the better we can manage them.

• • •

MENGAMBIL KEPUTUSAN SECARA TEPAT

Dari kejadian diatas kita bisa melihat sebuah pola: kita ini adalah insan yang selalu mengedepankan emosi daripada logika.

Maka ketika kita berada di ‘panggung kacau’, kita dituntut untuk mengambil keputusan final. Dan ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ketepatan itu terkadang meleset ketika kita salah bersikap.

Ada dua cara bersikap dalam pengambilan keputusan:

  • Reaktif, adalah cara merespon stimulus tanpa adanya pemberian waktu untuk berpikir.

Melihat lawan jenis yang dinilai sempurna (stimulus) > mengambil keputusan (respon.)

  • Proaktif, adalah cara untuk memberi waktu saat merespon stimulus. Kita akan berhenti sejenak dan berpikir kemungkinan apa yang akan terjadi berdasarkan data dan fakta yang ada.

Melihat lawan jenis yang dinilai sempurna (stimulus) > mengumpulkan data dan fakta, mengevaluasi segala kemungkinan (memberi waktu) > mengambil keputusan (respon.)

Sikap proaktif adalah cara terbaik untuk mengambil keputusan secara tepat. Selalu tanyakan pertanyaan ini ketika kita pada tahap ‘memberi waktu’:

    • Apa yang aku rasakan?
    • Dari mana perasaan ini berasal?
    • Kenapa aku merasakan hal ini?
    • Apakah semua hal yang aku butuhkan sudah tersedia?
    • Apa yang harus aku lakukan?

Dengan secara sadar memantau suasana hati dan keputusan terkait, kita akan lebih baik dalam mengambil keputusan.

Atau, kita bisa memodifikasi tahap ‘memberi waktu’ agar hasil yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Alternatif adalah, stimulus > mengumpulkan data > menimbang pilihan > memutuskan.

Sadar akan emosi yang terjadi di dalam diri kita mungkin adalah hal yang terdengar sepele, tetapi, faktanya, ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, kita memiliki kemungkinan untuk lupa yang sangat besar.

Don’t make a permanent decision for your temporary emotion.

cara mengambil keputusan

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.