Just do it! begitu teriak Nike. Tidak mau kalah, Tokopedia juga menyarankan kita dengan lantang—mulai aja dulu!

Kamu kemudian bangkit dari tempat tidurmu dan memulai mengerjakan sesuatu yang dari tadi sudah memanggilmu untuk mendapatkan perhatianmu—telepon pintar.

Jawaban klise itu datang lagi, kawan. Fakta bahwa membaca kalimat bermakna positif tidak akan selalu bekerja adalah sebuah keniscayaan. Berhasil memulai untuk berdiri, tetapi gagal untuk bertindak akan tetap bernilai nol karena berdiri hanya mengartikan kita masih di garis yang sama, sedangkan bertindak mengartikan bahwa ada sesuatu yang diubah.

Ide tidak akan menjadi sebuah tulisan jika kamu tidak menulis. Gagasan tidak akan menjadi sebuah produk jika kamu tidak menciptakan. Buah pikiran tidak akan menjadi sebuah karya jika kamu tidak bekerja.

Meskipun dengan 100% hatimu yakin bahwa idemu brilian, meskipun 100% pikiranmu mengatakan bahwa idemu bernilai satu juta dolar, semua itu akan tetap bernilai 0% jika kamu tidak menginvestasikan tenagamu ke dalamnya. Sesuatu yang abstrak tidak akan menjadi sesuatu yang konkret jika tidak pernah dieksekusi.

Jadi, mengapa kamu (masih) tidak mau memulai?

• • •

ALASAN MENGAPA KAMU TIDAK MEMULAI

Kita ini sering lupa bahwa terkadang apa yang sedang kita cari itu tidak ada di luar, tetapi ada di dalam. Bukan dari orang lain, bukan video motivasi, atau bahkan bukan juga dari artikel semacam ini, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Iya, itulah sumber utama yang menghalangi kita untuk melangkahkan kaki menjauh dari garis start.

Tepat pada kepala kita—pikiran kita—menyajikan segala hal mengapa kita berhenti di garis dengan alasan yang sama. Dia telah mengelabui kita dengan ilusinya dan membuat kita percaya bahwa berdiam adalah cara terbaik daripada harus capek bekerja dengan segala risikonya.

Apa yang menahan kita?

1. IMAJINASI NEGATIF

Masih ingatkah kamu ketika kamu masih anak-anak, kamu banyak menemukan momen untuk berteriak “Aku akan melakukannya!” “Itu mudah!” “Aku tidak takut!

Di masa itu kita hanya mengerti bahwa ketakutan lahir karena kita pernah melihat sesuatu yang menyeramkan itu langsung di hadapan kita dan disimpan oleh pikiran kita. Sedangkan sesuatu yang belum berwujud seolah-olah adalah sesuatu yang selalu bisa kita taklukkan.

Ketika aku mengatakan “laba-laba” kepada seorang anak, dia tidak akan merasakan ketakutan jika tidak pernah melihat seperti apa bentuk laba-laba itu. Mereka harus melihat, membutuhkan waktu untuk memahami atau menghubungkan sesuatu yang bisa menggambarkan itu. Dengan kata lain, mereka membutuhkan fakta untuk mengerti bagaimana kata “takut” itu bekerja.

Jika itu terlihat berbahaya, mungkin mereka akan berakhir dalam ketakutan. Jika tidak, mungkin mereka akan menganggap laba-laba sebagai binatang yang biasa saja.

Sayangnya, semakin bertambahnya usia, kita justru mengubah semua itu. Kita sekarang lebih sering bergumam “Aku tidak mungkin bisa melakukannya” “Itu terlihat sulit” “Aku takut.”

Di masa sekarang kita lebih menuruti asumsi dan lebih suka menciptakan imajinasi. Yang lebih buruk, semua itu tidak berdasarkan fakta.

Poin yang ingin aku sampaikan adalah, kita membiarkan perasaan negatif hadir dari sesuatu yang tidak valid.

  • Kamu tidak menulis karena takut hasilnya akan jelek.
  • Kamu tidak belajar memainkan alat musik karena khawatir jika kemampuanmu payah.
  • Kamu tidak mau berbicara bahasa asing karena ragu akan pengucapan yang salah.

Semua perasaan negatif di atas lahir bukan karena fakta, tetapi karena bualanmu. Oh, atau kamu sebenarnya tidak memulai (lagi) karena fakta sebelumnya menunjukkan kepadamu sesuatu yang tidak kamu harapkan? Maka pertanyaannya menjadi;

  • Jika kamu tahu tulisanmu jelek, mengapa kamu tidak mencoba menulis dengan topik yang baru lagi?
  • Jika kamu tahu kemampuan bermain musikmu payah, mengapa kamu tidak mencoba dengan jenis musik atau lagu yang lain?
  • Jika kamu tahu pengucapan bahasa asingmu masih belum baik, mengapa kamu tidak mencoba pembenarannya dan membiasakan itu?

Lebih baik melakukan kesalahan dan menemukan fakta apa yang harus diperbaiki daripada tidak melakukan apa pun dan bergulat dengan perasaan yang menyiksa diri.

Bekerjalah, kumpulkan fakta, perbaiki apa yang masih kurang, tingkatkan apa yang sudah baik! Jangan hanya menunggu, membayangkan, dan larut dalam perasaan negatif!

2. TIDAK AHLI DALAM HAL APA PUN

Aku pernah berada di perahu yang sama denganmu—menganggap bahwa alasanku tidak memulai karena aku tidak memiliki keahlian apa pun.

Tetapi, jika kita perhatikan, pengakuan akan ketidakahlian kita terhadap suatu bidang adalah langkah pertama yang sangat penting.

Di sanalah kita sadar bahwa kita memiliki dua jalan. Yang satu memberi tahu kita bahwa sedikitnya pengetahuan yang kita punya adalah sebuah sinyal yang harus kita perhatikan dan perbaiki. Sedangkan yang lainnya memberitahu kita bahwa keterbatasan pengetahuan adalah sinyal betapa payah dan tidak mampunya diri kita.

Dan kamu tahu jalan mana yang lebih kita pilih? Iya, tepat sekali! Kita lebih memilih untuk melangkahkan kaki dan hati ke jalan yang kedua. Akhir yang sudah bisa ditebak, bukan? Kita mengundurkan diri dan merendahkan diri sendiri.

Just stop!

Kamu tidak butuh menjadi ahli untuk memulai sesuatu. Seorang koki mengawali kariernya dari belajar mengupas bawang. Seorang penyanyi mengawali kariernya dari belajar tangga nada. Seorang pelukis mengawali kariernya dari belajar memadukan warna.

Semua keahlian tercipta dari proses kerja keras yang baik, benar dan konsisten.

  • Jika kamu ingin bisa koding, kamu bisa memulainya dari dasar, kemudian lihat kelanjutannya.
  • Jika kamu ingin bisa menari, kamu bisa belajar dari gerakan paling sederhana, kemudian lihat kelanjutannya.
  • Jika kamu ingin bisa memainkan gitar, kamu bisa memainkannya dari kunci yang paling mudah, kemudian lihat kelanjutannya.

Kelanjutan dari kegiatan itu akan memberimu gambaran apa yang harus diubah dan apa yang harus dipertahankan.

Memulai meskipun hanya 1% adalah langkah awal untuk menemukan jawaban. Jawaban yang memandumu ke mana kamu akan melangkah selanjutnya.

3. TIDAK MEMILIKI IDE

  • Aku tidak memiliki ide, maka dari itu aku tidak memulai.
  • Aku tidak memiliki ide, maka dari itu aku tidak bisa melakukannya.
  • Aku tidak memiliki ide, maka dari itu aku bingung apa yang harus aku kerjakan.

Kamu salah!

Jika kamu tidak memiliki ide, yang kamu butuhkan bukan alasan yang membenarkan pemberhentianmu, yang kamu butuhkan hanya satu—jemput mereka!

Menunggu ide untuk datang sama artinya menyambut ketidakpastian. Kamu justru akan menghabiskan banyak waktu karena kamu bergantung kepada sesuatu yang tidak memiliki garansi.

Aku ulangi sekali lagi, jemput ide itu!

Zaman digital membuat kita semakin mudah untuk memperkaya input. Kamu bisa menemukan artikel, mendengarkan podcast, menonton video, atau membaca buku yang bisa menyuapi pikiranmu dengan pengetahuan yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Jika masih kurang, keluarlah! perbanyak pengalamanmu!

Semua input atau masukkan yang kamu dapatkan akan menambah titik-titik baru dalam pikiranmu. Mereka yang semakin banyak dan lebih dekat akan mudah untuk disambung.

Mungkin ide tersebut tidak langsung muncul dan memintamu untuk mengeksekusinya, tetapi setidaknya, titik-titik baru itu akan mempermudahmu dalam pencarian berikutnya. Trust me!

4. TIDAK TAHU DARI MANA HARUS MEMULAI

Ada dua tipe orang yang menggambarkan poin ini:

  1. Orang yang sama sekali tidak tahu kegiatan apa yang akan dikerjakan.
  2. Orang yang tahu kegiatan apa yang dia kerjakan, tetapi masih tidak tahu dari mana memulainya.

Orang tipe pertama adalah orang yang bingung tentang apa yang dia suka, tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tidak yakin apakah itu adalah hal yang tepat.

Orang seperti ini harus memperkecil gambarannya ke dalam 24 jam. Dia harus bisa menjawab pertanyaan—kegiatan apa yang paling menghabiskan waktumu dan meninggalkan perasaan positif setelah melakukannya?

Jika dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan itu, dengan bersedih hati aku harus mengatakan bahwa ketidaktahuannya terjadi karena dia terlalu banyak mengonsumsi hingga lupa untuk menciptakan. Dia terlalu banyak membaca artikel, tetapi tidak pernah tergerak untuk menerapkan pesannya. Dia terlalu banyak menonton, tetapi tidak pernah bertindak untuk mengubah sesuatu. Dia terlalu banyak mendengar, tetapi tidak pernah berusaha mewujudkan pengetahuan yang dia dapatkan.

Dia tidak tahu apa yang dia suka karena dia tidak mencobanya!

Maka, salah satu solusi terbaiknya adalah dengan menulis semua kegiatan yang ingin dia lakukan, mencoba satu per satu sampai dia menemukan kegiatan yang cocok dengannya.

Orang tipe kedua adalah orang yang sudah menemukan kegiatan yang cocok dengannya, tetapi masih belum bergerak untuk memulai. Solusinya adalah dia harus menemukan akar permasalahannya dengan mengajukan pertanyaan “mengapa” kepada dirinya beberapa kali.

Mengapa 1: Menemukan akar permasalahan utama (Mengapa kamu tidak/belum memulai….?”
Jawaban ini bisa berbentuk masalah keuangan, ide, peralatan, waktu, keberanian, dll. Kejujuran dari hati akan sangat membantumu dalam menemukan masalah utama yang harus kamu selesaikan.

Mengapa 2: Menemukan akar permasalahan atas jawaban “mengapa 1” (Mengapa kamu tidak memiliki uang/ide/peralatan/waktu/keberanian/dll?)
Tanyakan lagi pertanyaan”mengapa” sebanyak 3 sampai 5 kali hingga memberimu jawaban akhir yang tidak memiliki alasan lagi dibaliknya.

Katakanlah aku ingin memulai membuat artikel, tetapi aku belum juga mulai menulis. Di saat inilah aku bisa menggunakan pertanyaan “mengapa”.

Mengapa 1: Mengapa aku belum mulai menulis? Aku belum menemukan ide.

Mengapa 2: Mengapa aku belum menemukan ide? Aku belum mencarinya.

Mengapa 3: Mengapa aku belum mencarinya? Aku masih belum mempunyai waktu.

Mengapa 4: Mengapa aku belum mempunyai waktu? Aku tidak memprioritaskannya.

Kesimpulan akhir: Aku tidak memulai karena aku gagal memprioritaskan tugasku. Sekarang untuk menyelesaikannya, aku harus bisa mengatur waktu, memprioritaskan tugas dengan baik, dan melakukannya dengan disiplin.

5. KUALITAS ADALAH NOMOR SATU

Kualitas melebihi kuantitas.

Iya, ungkapan itu benar adanya jika kamu telah menempuh kuantitas yang berkualitas.

  • Tidak usah mengatakan aku akan memulai ketika kemampuanku berbicara di depan umum terbaik di antara lainnya.
  • Tidak usah mengatakan aku akan memulai membuat blog ketika cara menulisku sudah sempurna.
  • Tidak usah mengatakan aku akan memulai memotret ketika kameraku adalah kamera terbaik.

Sampai kapan pun, perkataan seperti itu tidak akan memberimu kualitas. Kualitas hanya akan terbangun dari jumlah usaha yang kamu investasikan dengan baik dan benar. Kualitas terbangun tidak selalu dari peralatan terbaik. Kualitas terbangun bukan dari kesempurnaan, tetapi dari kesalahan yang diperbaiki terus menerus.

Kualitas itu akumulasi dari proses. Proses itu tercipta dari melakukan sesuatu. Prioritaskan latihan berkualitas karena waktu dan usaha akan membawamu kepada hasil yang berkualitas.

Jadi, katakan padaku apa yang kamu dapat dari ungkapan “aku akan memulai X ketika aku Y”? Oh, ada! Kamu masih sama!

• • •

MULAI, MULAI, MULAI!

“Ah, kebanyakan teori!”

“Ah, omong kosong!”

Jika kamu sudah berada di titik kemuakan tertinggi seperti di atas, aku justru malah sangat senang. Itu semua karena aku tahu kamu akan memulai mengerjakan sesuatu yang sudah kamu tunda. Karena aku tahu kamu tidak membutuhkan artikel semacam ini. Karena aku tahu kamu hanya perlu satu: angkat pantatmu dan mulai bekerjalah!

Jadi, apa yang ingin kamu mulai sekarang?

The start is what stops most people.

mengapa kamu tidak memulai mengapa kamu tidak memulai

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.