Dengan tingkat keparahannya masing-masing, kita semua pernah menghadapi hal ini: Kita mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan. Kita menyetujui sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Secara sederhana, kita kesulitan mengatakan “tidak”.

Kita memang tinggal dalam dunia di mana menjalin hubungan dengan orang lain adalah salah satu alat untuk bertahan hidup. Dengan menjalin hubungan, kita bisa mendapatkan dukungan. Dengan menjalin hubungan, kita mendapatkan keamanan.

Sayangnya itu tidaklah gratis. Kita juga harus menyediakan sesuatu yang bisa membuat orang lain merasakan hal yang sama. Dan, satu tindakan yang bisa mewakili contoh-contoh yang ada adalah mengiyakan permintaan mereka.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan itu semua, tetapi ketika itu menjadi kebiasaan, kita menjadi kecanduan validasi dari luar. Kita ingin diakui bahwa diri kita ini baik. Kita ingin diterima bahwa diri kita ini pantas berhubungan dengan mereka. Dengan kata lain, kita bergantung pada orang lain untuk memberi tahu tentang nilai diri yang kita punya. Kita tidak lagi memiliki hubungan dengan diri kita sendiri karena perhatian kita hanya didedikasikan pada bagaimana cara orang lain melihat kita.

Ini menjadi masuk akal mengapa kita akhirnya lebih memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada memprioritaskan kebutuhan diri sendiri, atau menyimpan kata “tidak” dalam keadaan yang sebenarnya kita butuhkan karena itulah cara yang kita percaya untuk menjaga citra baik diri di mata mereka. Dengan citra baik, kita bisa mempertahankan kenyamanan yang disediakan mereka. Dengan mempertahankan kenyamanan, kita bisa menjauhi kesepian.

Mengharapkan orang lain untuk menyukai kita sebenarnya adalah hal yang manusiawi, tetapi mengandalkan mereka untuk menentukan harga diri kita adalah indikasi bahwa kita kehilangan kekuasaan atas diri sendiri.

Ada sebuah kutipan anonim yang menggambarkan kesulitan kita dalam mengatakan tidak, “Pertempuran terberat yang pernah kamu hadapi adalah antara apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu ketahui.”

Ketika kita mendasarkan keputusan pada apa yang kita rasakan, kita akan memprioritaskan insting yang hanya ingin memenuhi kesenangan dalam waktu secepatnya. Kita lebih mudah mengiyakan ajakan teman untuk nongkrong daripada mengerjakan daftar kewajiban yang harus diselesaikan karena ketakutan dicap buruk oleh orang lain lebih besar daripada keinginan untuk memenuhi kebutuhan diri. Keputusan inilah yang seringkali membuat kita menyesal, dan menempatkan diri sendiri sebagai korban.

Sebaliknya, ketika kita mendasarkan keputusan kita pada apa yang kita ketahui, kita memprioritaskan kerasionalan yang ingin memenuhi kesenangan dalam jangka panjang. Kita tidak melihat apa manfaat yang kita dapat sekarang, tetapi melihat apa manfaat yang kita dapatkan setelah melakukannya. Di sini kita juga paham, bahwa sesuatu yang memberikan kesenangan tidak selalu berdampak baik. Alhasil, kita tidak akan mengambil keputusan final tanpa mempertimbangkan dampak dari mengiyakan permintaan orang lain terhadap tujuan kita.

Lagi-lagi, itu memang mudah dalam teori, dan kacau dalam kenyataan, tetapi seperti apa yang ditulis mantan kaisar Romawi, Marcus Aurelius dalam jurnalnya Meditation, “Jika kamu tertekan oleh sesuatu dari luar, rasa sakit itu bukan karena hal itu, tetapi karena perkiraanmu. Dan, kamu memiliki kekuatan untuk membatalkannya kapan saja.”

Catatan Marcus Aurelius tersebut membuat semuanya lebih jelas. Jika persepsi tentang menjalin hubungan membuat kita tertekan dan sulit mengatakan tidak, itu berarti ada persepsi salah yang harus kita revisi.

• • •

Revisi I: Mengatakan “Tidak” Selalu Memperburuk Hubungan

Apakah mengatakan “tidak” bisa memperburuk hubungan? Sekilas, kita bisa menjawabnya dengan ya, tetapi dengan kacamata yang lebih luas, kita akan menyadari bahwa mengatakan “tidak” justru menjadi tindakan yang sangat penting dalam sebuah hubungan.

Dalam bukunya yang berjudul Essentialism, Greg Mckeown menjelaskan alasannya dengan sangat baik, “Saat orang meminta kita melakukan sesuatu, kita bisa bingung antara permintaan dan hubungan kita dengan mereka. Kadang-kadang mereka tampak saling berhubungan. Kita lupa bahwa menolak permintaan itu tidak sama dengan menolak orangnya.”

Jika sebagai orang yang menolak, memahami perbedaan itu membuat kita sadar bahwa penolakan yang kita berikan tidak menjelaskan bahwa kita tidak mau berhubungan dengan orang tersebut, tetapi menjelaskan adanya kebutuhan diri yang lebih penting yang harus dipenuhi.

Jika sebagai orang yang ditolak, memahami perbedaan itu membuat kita mengerti bahwa kata “tidak” bukanlah alat perusak sebuah hubungan, tetapi alat untuk melatih empati kita tentang keadaan yang dimiliki individu lain.

Greg juga memberikan tips untuk menolak permintaan secara sopan yang dia sebut sebagai the soft “no”. Caranya adalah dengan menjelaskan keadaan kita secara jujur ditambah tetapi:

  • Aku masih harus belajar karena besok ujian, tetapi akan sangat menyenangkan jika kita bertemu setelah semuanya selesai.
  • Aku harus mengurus pekerjaan kantor, tetapi aku akan menghubungimu untuk mengatur ulang jadwalnya ketika semuanya beres.

• • •

Revisi II: Mengatakan “Tidak” Hanyalah Bentuk Menyakiti Orang Lain

Semakin terhubung diri kita dengan orang lain dalam sebuah hubungan, semakin kuat kepercayaan kita bahwa menolak orang lain adalah bentuk keegoisan diri yang bisa membuat mereka kecewa. Kita berusaha mempertahankan identitas sebagai orang baik meskipun dilakukan dengan tidak menghargai diri sendiri. Kita gagal mengerti bahwa sesuatu yang menyakitkan tidak selalu membahayakan.

Bayangkan ketika hasil karyamu dikritik, apakah itu menyakitkan? Iya, sekalipun itu konstruktif, perasaan sakit hati itu masih ada meskipun hanya dalam dosis yang kecil, tetapi jika ditanya apakah itu membahayakan? Tidak, karena kritik harusnya bisa menunjukkan kita sudut lain yang bisa diperbaiki atau dimaksimalkan.

Dengan cara pandang itu, menolak permintaan orang lain mungkin akan membuat mereka sakit hati, tetapi itu juga memberikan dampak positif yaitu mengingatkan kita tentang salah satu aturan dasar yang berlaku dalam sebuah hubungan: Kerentanan—keadaan di mana kita membuka diri untuk diserang atau disakiti, baik secara fisik maupun emosional.

Tanpa adanya kerentanan, setiap individu di dalam sebuah hubungan tidak akan bisa jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jika tidak bisa jujur, kita tidak akan tahu batasan orang lain. Jika satu sama lain tidak tahu, kesempatan untuk belajar menghargai batasan orang lain juga semakin kecil. Jika semakin kecil, keawetan sebuah hubungan yang akan dipertaruhkan.

• • •

Jawaban yang Kita Butuhkan

Menjalin sebuah hubungan memang membuka kesempatan untuk kecanduan hal eksternal semakin besar, tetapi menarik diri sepenuhnya juga bukan pilihan yang bijak mengingat adanya pemenuhan kebutuhan biologis di sana.

Meskipun kita sudah merevisi kepercayaan lama dengan kepercayaan baru dan membuat kita lebih mudah dalam mengatakan tidak, kita masih belum mendapat jawaban tentang bagaimana mengusir perasaan bersalah kepada diri sendiri setelah menolak seseorang.

Untuk mengatasinya kita harus paham bahwa permasalahan mendasar yang menyebabkan sulitnya kita mengatakan tidak adalah ketidakmampuan kita untuk memisahkan diri. Atau lebih tepatnya, kita kehilangan kemampuan untuk mencari kebahagiaan secara mandiri.

Dalam bukunya yang berjudul Flow, Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog yang pernah bekerja dalam studi tentang kebahagiaan dan kreativitas, menjelaskan bahwa seseorang tidak akan menjadi boneka karena kontrol sosial jika bisa mengganti penghargaan yang diberikan orang lain dengan penghargaan yang dihasilkan dari diri sendiri.

Itu tidak mengartikan bahwa kita harus meninggalkan tujuan kolektif yang didukung oleh masyarakat, tetapi kita harus mengembangkan tujuan pribadi sebagai alat pelarian ketika menolak permintaan mereka.

Artinya, ketika kita tidak melakukan apa-apa setelah menolak permintaan orang lain, kita akan semakin merasakan perasaan bersalah, tetapi ketika kita memiliki tujuan lain yang harus dipenuhi, misalnya melukis, menari, bermain alat musik, membaca buku, perasaan bersalah itu akan hilang.

Dalam kata-katanya, Mihaly menuliskan “Langkah paling penting dalam membebaskan diri dari kontrol sosial adalah kemampuan untuk menemukan hadiah dalam kegiatan setiap saat. Jika seseorang belajar untuk menikmati dan menemukan makna dalam arus pengalaman yang sedang berlangsung, dalam proses hidup itu sendiri, beban kontrol sosial secara otomatis jatuh dari pundaknya.”

Kita bisa melihat bahwa kegiatan yang digunakan sebagai pelarian harus bermakna bagi kita sehingga dalam pengerjaannya kita akan mendapatkan hadiah perasaan positif tanpa bergantung pada dunia luar. Kita akan mendapatkan kontrol penuh untuk memilih pengalaman karena kita tidak lagi terikat imbalan dari luar.

Setiap “iya” yang kita berikan kepada orang lain adalah “tidak” untuk hal lainnya juga. Jika kita hanya mengikuti kebutuhan orang lain tanpa memerhatikan kebutuhan diri, kita tidak akan pernah mendapatkan pengalaman hidup yang optimal.

Aku tahu bahwa segala cara yang kita bahas di atas bukanlah aturan pasti, tetapi hal universal yang bisa diterapkan semua orang adalah: “Ketika kamu mengatakan ya kepada orang lain, pastikan kamu tidak mengatakan tidak kepada dirimu sendiri.” — Paulo Coelho