Dia yang bertubuh besar, berwajah sangar, dan dibalut dengan kulit yang eksotis menampakkan dirinya dalam sebuah ruangan yang sama denganku.

Tarik napas, kembali menghembuskannya dan menahan segala penghakiman yang muncul.

“Pasti orangnya nggak bisa santuy, resek, dan sumbu pendek” kegagalanku menahan hati.

Setelah dalam beberapa kesempatan bisa mengobrol dengan dia, ternyata dugaanku salah.

Dia sama sekali bukan orang yang aku gambarkan diatas.

• • •

Bagaimana pendapat kamu tentang pria ini?

don't judge a book by its cover

Tua, lemah, dan sepertinya hidup dalam kekurangan, huh?

Jangan salah sangka dulu.

Beliau adalah mantan penguasa Uruguay, bahkan sering disebut sebagai “presiden termiskin.”

Jose Mujica.

Dia menolak untuk tinggal di kediaman resmi dan pindah ke pertanian bersama istrinya, di sana ia menanam bunga untuk dijual. Mantan presiden itu menyumbangkan 90% dari gajinya yang $ 12.000 untuk dana amal.

Saya disebut sebagai presiden termiskin, tetapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba mempertahankan gaya hidup yang mahal dan selalu menginginkan lebih dan lebih.

—  Jose Mujica.

• • •

Bagaimana dengan pria yang satu ini?

cara menilai orang

Biasa, kelihatan tidak kaya dan sederhana, ya?

Hei, itu Keanu Reeves. Seorang aktor, sutradara, produser, dan musisi Kanada. Dia mendapatkan ketenaran untuk perannya sebagai pemeran utama dalam beberapa film blockbuster, salah satunya The Matrix. Ingat?

Seseorang mengatakan kepada saya suatu waktu bahwa dia merasa tidak enak dengan orang lajang karena mereka kesepian sepanjang waktu. Saya katakan itu tidak benar. Saya sendiri dan saya tidak merasa kesepian. Saya membawa diri saya keluar untuk makan, saya membeli pakaian untuk diri saya sendiri. Saya bersenang-senang sendiri. Setelah Anda tahu bagaimana cara merawat diri sendiri, teman menjadi pilihan, bukan keharusan.

— Keanu Reeves

• • •

Berapa kali kita menghakimi orang dari penampilan luarnya?

Berapa kali kita menilai orang dari kesan pertama?

Kita memiliki kepercayaan dimana kita tidak boleh menilai orang dari bungkusnya saja.

Nyatanya hal itu sangat sulit dilakukan, atau ada hal yang tidak kita ketahui?

Psikolog Leslie Zebrowitz dari Universitas Brandeis mempelajari informasi wajah yang kita gunakan untuk menilai orang lain. Meskipun kesan pertama cenderung rentan terhadap kesalahan, kita tidak bisa menghentikan diri untuk menilai dan hanya perlu sepersepuluh detik untuk membentuk penilaian tentang karakter orang lain, bahkan dari foto.

Dalam penelitiannya, Zebrowitz telah mengidentifikasi empat isyarat wajah yang digunakan orang untuk menilai karakteristik orang lain :

1. Babyfaceness

Orang dewasa yang memiliki wajah baby face akan cenderung dinilai sebagai orang yang baik.

Belum selesai.

Mereka juga dinilai sebagai orang yang lemah, harus dijaga dan akan sering dikira sebagai seseorang yang tidak memiliki kapabilitas.

Menyedihkan? Indeed!

2. Familiarity

“Kamu kok mirip sama mantanku sih?”

“Dia jahat, dia jahat, dia jahat” ceramah setitik noda hitam dalam hatiku.

Familiarity adalah kecenderungan kita menilai orang lain berdasarkan kesamaan wajah dengan seseorang yang sudah kita kenal.

Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua.

Jika orang tersebut dikaitkan dengan orang yang baik, kita juga akan menilainya baik, begitupun sebaliknya.

3. Fitness

Adalah kecenderungan kita menilai orang lain berdasarkan bentuk wajahnya.

Jika wajahnya atraktif, simetris dan dinilai ganteng/cantik, kita akan menilai bahwa orang tersebut baik, sehat dan pintar.

Jika orang tersebut memiliki bentuk wajah yang tidak simetris dan tidak atraktif, kita akan cenderung untuk menilai bahwa mereka adalah orang yang tidak baik, sering sakit-sakitan dan perlu kita jauhi.

4. Emotional resemblance

Sebenarnya, kita sangat pandai dalam melihat emosi seseorang dari wajahnya.

Misalnya, orang dengan alis ke bawah mungkin terlihat marah. Demikian juga, mereka yang mulutnya mengarah ke atas di sudut-sudut tampak bahagia. Walaupun sebenarnya itu bukanlah hal yang benar.

jangan menilai orang dari luarnya

Don’t judge burgers by its photos, it hurts!

• • •

Kamu pasti memiliki teman yang super duper introver, yang dimana suara dan pendapatnya sangat mahal untuk dikeluarkan?

Atau teman yang super duper ekstrover, yang dimana sangat lantang untuk bersua?

Bagaimana pendapat kamu tentang mereka? Positif atau negatif?

Apakah kamu pernah dibuat bingung bagaimana bisa si introver memiliki seorang kekasih, padahal untuk berdialog denganmu dan temanmu saja sangat kesulitan? Kok bisa dengan orang lain?

Atau apakah kamu dikagetkan dengan si ekstrover yang sampai sekarang belum memiliki seorang pendamping, padahal dia adalah orang yang paling gampang dalam bersosialisasi?

Sebenarnya ada dua kemungkinan yang bisa ditimbulkan dari menilai orang dari luarnya.

  1. Kita mengetahui apa yang hanya kita tahu, menyimpulkan, dan salah.
  2. Kita mengetahui apa yang hanya kita tahu, menyimpulkan, dan benar.

Poin pertama akan bisa membuat kita malu, bahkan merasa bersalah dan menyesal.

Poin kedua akan membuat kita semakin lupa dan disilaukan karena kekurangan ataupun kelebihan. Kita akan semakin brutal ketika menemukan kekurangan, dan akan semakin tunduk ketika menemukan kelebihan.

Lalu, dari dua kemungkinan diatas mana yang lebih baik?

Jawabannya : Tidak ada!

Karena pada dasarnya kita tidak akan pernah bisa mencapai sebuah kesimpulan akhir.

Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, kita akan sangat kesulitan untuk menilai orang tersebut, karena sisi yang tidak kita ketahui jauh lebih besar dibanding dengan sisi yang kita tahu.

Tapi, bagaimana dengan seseorang yang sudah lama kita kenal bahkan dengan sangat baik? Apakah bisa kita mengambil sebuah penilaian atau kesimpulan akhir?

Tidak bisa!

Alasannya adalah, karena setiap orang pasti memiliki sisi yang tidak ditunjukkannya.

Mudahnya, kita hanya mengetahui apa yang dibolehkan mereka untuk diketahui.

Sekalipun sahabat dekat?

Iya!

Kita bukanlah orang yang 24 jam selalu berada disampingnya, yang selalu mengontrolnya tanpa mengedipkan mata. Selebihnya, kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana lembutnya hati yang sering berubah-ubah.

Mereka memiliki proses dimana hanya orang yang dipilih (opsional), dirinya dan hanya Tuhan saja yang tahu.

Ketidaklengkapan informasi sering menggiring kita untuk mengambil kesimpulan FINAL. Padahal hal itu bisa berubah kapan saja ketika mereka melalui proses yang baru.

Kebaikan dan keburukan yang kita lihat hanyalah sebatas “umum.”

Banyak hal berlawanan yang belum kita ketahui, yang mungkin saja bisa mengubah pandangan kita terhadap orang tersebut.

Maka, bertemulah dengan seseorang dalam keadaan baru.

Tanpa penghakiman.

Tanpa kesimpulan akhir.

Oh, aku tidak mencoba menyuruhmu untuk bertindak bodoh seperti tetap berprasangka baik ketika kamu dalam bahaya. Tolong bedakan!

Kembali ke pertanyaan awal, bisakah kita untuk tidak menilai seseorang?

Kita tidak bisa menghentikan sebuah penilaian (buruk maupun baik) terhadap seseorang.

Kita hanya bisa menghentikan tindakan buruk (menarik kesimpulan sepihak, bertindak yang tidak seharusnya) yang akan kita lakukan .

Ketika kita melihat seseorang, dengan alasan apapun, ingatlah bahwa dia memiliki sebuah proses. Proses yang mengubah dirinya. Dan itu tidak kita ketahui.
Jangan menilai orang lain Jangan menilai orang lain Jangan menilai orang lain

FOOTNOTES

  1. Jika kamu ingin membaca daftar orang-orang terkenal yang rendah hati, kamu bisa membacanya di 12 Rich Celebrities Who Live Refreshingly Humble Lives by Brightside.
  2. Keterangan Keanu Reeves aku dapatkan di Wikipedia.
  3. Penjelasan tentang penelitian kesan pertama bisa kamu baca selengkapnya di The Psychology of First Impressions.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.