Bayangkan kamu sedang berada di Tunisia dan melihat rumah setengah jadi sepeti ini.

Jika kamu mengambil referensi lingkunganmu, mungkin kamu akan menilai bahwa orang Tunisia sangat tidak teratur, atau mereka memiliki cara pengelolaan uang yang tidak baik.

Kita lupa bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi kehidupan mereka seperti kehidupan di lingkungan kita. Selain itu, penilaian kita tentang mereka salah karena kesimpulan yang kita buat terbentuk hanya dari sepotong fakta yang tidak bisa menggambarkan cerita utuhnya.

Untuk melihat sisi yang terlewatkan, kita harus menyelami cerita yang lebih luas.

Dalam bukunya yang berjudul Factfulness, Hans Rosling tidak membagi dunia ini menjadi dua kelompok—negara maju dan negara berkembang. Dia membaginya ke dalam 4 level penghasilan di mana level 1 adalah orang-orang miskin, dan level 4 adalah orang-orang yang sangat berkecukupan. Dan, kebanyakan orang di dunia ini berada di tengah-tengahnya.

Pada level 2 dan 3, sebuah keluarga sering kali tidak memiliki akses ke bank untuk meminjam atau menyimpan uang mereka.

Itulah yang terjadi pada keluarga Salhi, penghuni rumah di atas tadi. Kesulitan mereka untuk menyimpan uang di bank membuat mereka harus mencari jalan lain. 

Menyimpan uang mereka di rumah? Itu hanya meningkatkan risiko dicuri. Terlebih lagi, nilainya juga semakin turun karena adanya inflasi.

Keluarga Salhi kemudian mengambil solusi yang lebih baik, yaitu menyimpan uang mereka dalam bentuk batu bata. Memang, nilainya tidak akan turun, tetapi risiko untuk dicuri masih saja tetap ada, bukan?

Untuk menghilangkan dua risiko tersebut, mereka akhirnya menggunakan batu bata yang mereka beli untuk merenovasi rumahnya. Dengan cara seperti itu, batu bata mereka tidak akan bisa dicuri dan nilainya tidak akan mengalami penurunan. Rumah mereka juga menjadi semakin baik jika mereka terus melakukannya selama 10 atau 15 tahun ke depan.

Dari sini, kita sadar bahwa cara berpikir mereka dalam menyimpan uang telah mematahkan gambaran kita. Ternyata, di balik rumah yang setengah jadi ada hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.

• • •

Dua Hal yang Mendasari Penilaian

Galileo Galilei adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Melalui salah satu perobaannya, Galileo menunjukkan kita tentang keterbatasan diri yang tidak kita sadari ketika menilai seseorang.

Bayangkan kamu sedang berada di dek kapal yang tidak memiliki porthole (jendela kapal) dengan arah dan kecepatan yang konstan. Di dalam sana, kamu menjatuhkan sebuah bola ke lantai dari tangan yang kamu angkat. Bagimu, bola tersebut jatuh ke bawah yang menandakan adanya peran gravitasi.

Sekarang, dengan arah dan kecepatan yang masih konstan, bayangkan kamu berada di luar kapal dan bisa melihat seorang ilmuwan menjatuhkan bola dari dalam dek. Di poin ini, kamu tidak hanya bisa melihat perubahan vertikal yang terjadi pada bola, tetapi juga bisa melihat perubahan horizontal.

Vertikal dan horizontal itulah yang mendasari penilaian kita terhadap orang lain. Vertikal adalah sesuatu yang bisa kita lihat, misalnya penampilan, atau tindakan. Sedangkan horizontal adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat, misalnya motivasi, niat, atau harapan.

Dalam menilai seseorang, sering kali kita menjadi orang yang ada di dalam dek kapal. Kita hanya bisa melihat sisi vertikal dan melupakan bahwa ada cerita yang menunjukkan sisi horizontal. Kita hanya melihat seseorang dari penampilan atau tindakannya dan menghiraukan niat atau motivasi yang melatarbelakangi keputusan mereka.

  • Kita mudah saja menilai seseorang yang melanggar lalu lintas sebagai orang yang bodoh, tetapi kita bisa saja melewatkan fakta bahwa orang tersebut sedang terburu-buru menuju rumah sakit.
  • Kita mudah saja menilai seseorang yang telat datang ke sekolah sebagai orang yang malas, tetapi kita bisa saja melewatkan fakta bahwa siswa tersebut harus berjualan terlebih dahulu demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
  • Kita mudah saja menilai seseorang yang tersenyum sebagai orang yang bahagia, tetapi kita bisa saja melewatkan fakta bahwa orang tersebut sedang menyembunyikan kesepian yang dirasakannya.

Dalam banyak kesempatan, kita jarang sekali memberikan waktu untuk merekonstruksi asumsi dan realitas. Akibatnya, kita terikat dan terjebak oleh perasaan palsu karena menghiraukan spektrum lain yang bisa memberikan jalan cerita berbeda.

Kata bunda Teresa, “Jika kamu menghakimi seseorang, kamu tidak memiliki waktu untuk mencintai mereka.” Dengan kata lain, penilaian atau penghakiman membuat kita rapuh, jauh dari perasaan yang lebih sehat, karena menempatkan diri pada hierarki tertentu.

Begini, penilaian yang kita buat hanya karena seseorang bertindak di luar kepercayaan kita akan membuat kita memposisikan diri di atas mereka. Secara tidak sadar, kita merasa lebih baik, lebih hebat, atau lebih yang lainnya daripada mereka.

Perasaan lebih yang kita rasakan itu kemudian membuka diri untuk mendalami perasaan negatif seperti marah, atau jengkel, karena kita memiliki keinginan untuk mengubah mereka yang kita lihat sebagai orang yang salah, konyol, atau bodoh.

Hasil akhirnya, perasaan lebih baik yang kita rasakan hanya memberi kita alasan bahwa merendahkan mereka yang melampaui batas toleransi kita adalah tindakan yang pantas.

“Jangan berjalan di depanku, aku mungkin tidak mengikuti,” tegas Albert Camus, “jangan berjalan di belakangku, aku mungkin tidak memimpin. Berjalanlah di sampingku, jadilah temanku.”

Kita bisa mengambil pelajaran dari kutipan Camus di atas bahwa merendahkan orang lain adalah permainan tentang siapa yang pantas di depan dan menghasilkan sekat penghalang. Sedangkan berjalan bersama-sama adalah sebuah permainan yang memenangkan semua pihak.

Kita harus ingat bahwa emosi yang berlandaskan cerita tidak lengkap hanya membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri (merasa semena-mena). Maka dari itu, menggali informasi lebih dalam saat berusaha memahami orang lain harusnya menjadi prioritas untuk bisa menjauhkan kita dari penilaian yang salah. Menjauhkan diri dari penilaian yang salah akan membuat kita tetap berada pada posisi yang sejajar—tidak merasa lebih baik, tidak merendahkan mereka.

• • •

WYSIATI: Alasan Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain

Daniel Kahneman, seorang pemenang hadiah Nobel tahun 2002, menjelaskan dalam bukunya Thinking, Fast and Slow tentang dua sistem yang ada di otak kita.

  • Sistem 1 bertanggung jawab pada kegiatan otomatis (kebiasaan) yang kita lakukan sehari-hari. Dia cepat dan mudah untuk digunakan.
  • Sistem 2 bertanggung jawab pada kegiatan yang melibatkan analisis yang bersifat lebih kompleks. Dia lebih lambat, tetapi mampu melakukan tindakan yang tidak bisa dilakukan sistem 1.

Misalnya, jika aku bertanya 3 + 3, angka 6 akan langsung muncul di kepalamu. Itulah pekerjaan sistem 1. Kamu tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menghitungnya karena jawaban atas pertanyaanku telah ada di memorimu.

Bagaimana jika aku bertanya 19 x 24? Aku yakin, sistem 1 yang kamu miliki tidak memiliki jawabannya. Alhasil, kali ini kamu tidak bisa meresponnya dengan cepat. Untuk menemukan jawaban pertanyaan itu, kamu harus menghitungnya dan itu adalah tugas sistem 2. Dia menuntutmu untuk melakukan investasi tenaga dan mental terlebih dahulu sebelum mendapatkan hasil yang kamu inginkan.

Kedua sistem tersebut akan selalu terlibat dalam keputusan apa pun yang kita buat termasuk menilai orang lain. Dari cara kerjanya, kita harus berhati-hati dengan sistem 1. Dia adalah pencerita. Dia hanya mengambil cerita dari informasi yang tersedia, bahkan ketika informasinya tidak komplit dan tidak bisa diandalkan. Sifatnya yang tidak sensitif terhadap kuantitas dan kualitas data yang didapat bisa membuat narasi yang dibuat terdengar masuk akal dan terlihat benar hingga menciptakan kesan dan penilaian yang jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Kahneman menyebutnya sebagai WYSIATI—What You See Is All There Is—yang berarti kita hanya menggunakan informasi yang kita miliki seolah-olah itu adalah satu-satunya informasi. Tidak berhenti di situ, sistem 1 juga memberikan perasaan puas tentang apa yang kita ketahui dan menyuruh kita agar tidak membuang-buang waktu untuk memikirkan kemungkinan lain.

Bagaimanapun, penilaian itu akan selalu terjadi. Kita tidak akan mungkin bisa menekan tombol off untuk sesuatu yang memang dirancang untuk selalu on. Jadi, tugas kita di sini bukanlah untuk mematikan fungsi sistem 1 yang membentuk penilaian dengan cepat. Tugas kita adalah mengaktifkan sistem 2 untuk memeriksa hasil pekerjaan sistem 1.

Memang, tugas kita menjadi kurang efisien, tetapi kita tidak akan kehilangan kendali diri untuk melakukan tindakan ceroboh yang menjauhkan kita dari kebenaran yang dicari.

Pesan penting yang bisa kita bawa adalah ketika kita mendapati diri menciptakan penilaian tentang orang lain, memberikan waktu diri untuk berpikir menjadi hal yang perlu dilakukan untuk mempekerjakan sistem 2 agar bisa mengevaluasi semua kesimpulan dari sistem 1.

• • •

Catatan Akhir

Dalam bersosialisasi, kita memainkan 2 peran: sebagai penerima dan sebagai pemberi.

Ketika sebagai penerima, kita akan selalu menemukan momen penghakiman dari orang lain. Tak jarang penilaian itu kemudian membuat kita merasa terpukul dan memberi tiket masuk kepada rasa marah.

Saat seperti itu, mengontrol emosi agar tidak tenggelam dalam perasaan sendiri adalah keahlian yang harus selalu kita pelajari. Cara paling sederhana adalah dengan memahami sonder—perasaan mendalam dari kesadaran bahwa setiap orang, termasuk orang asing yang lewat di jalan, memiliki cerita hidup yang berwarna, baik dan buruk, bahagia dan sedih, mudah dan rumit, masuk akal dan tidak masuk akal.

Pemahaman itu bisa memberi waktu berpikir—atau lebih tepatnya mengaktifkan sistem 2—untuk menghadang kesimpulan pendek yang sering dilakukan sistem 1 dan membuat kita lebih mudah menerima segala penilaian yang diberikan orang lain karena tahu bahwa mereka melakukannya bukan untuk melawan kita. Mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri. Entah sebagai penenang diri, atau sebagai tempat persembunyian kegelisahan mereka.

Sebaik apa pun usaha kita dalam menjalani kehidupan, akan selalu ada orang yang menempatkan kita sebagai pemeran antagonis dalam cerita yang mereka buat. Berdamai dengan fakta itu bisa membuang keinginan kita untuk mengubah cara pandang mereka yang hampir mustahil untuk dilakukan.

Ketika sebagai pemberi, kita cenderung membenarkan narasi tentang apa yang kita lihat, atau dengar. Tak jarang, kita menjadi lebih mudah untuk merendahkan orang lain.

Saat seperti itu, mengontrol emosi agar tidak membuat keputusan ceroboh adalah keahlian yang harus selalu kita pelajari. Menyadari—mengaktifkan sistem 2—adanya perasaan ‘aku tidak selalu benar’ dalam diri akan bisa memberi kita waktu untuk merasionalkan sisi lain yang bisa meruntuhkan narasi yang kita buat sebelumnya.

Kita mungkin saja memang benar tentang hal vertikal yang kita lihat, tetapi tanpa sisi horizontal, kita kehilangan pelengkap yang akhirnya memendungkan pikiran dan hati kita.

Jika terlalu sulit, jalan yang lebih mudah untuk kita ambil adalah dengan berhenti menyusun titik-titik jika penilaian itu tidak memberi pengaruh yang lebih baik kepada hidup kita.

Misalnya, kita tidak harus tahu tentang kebenaran kehidupan seorang pengemis—kaya atau benar-benar miskin—karena berbagi dengan orang lain tidak memerlukan alasan. Hubungan yang ada hanya sebatas niat yang kita punya dan diri mereka, bukan realitas kehidupan mereka. 

Cara itu tidak saja menghindarkan kita dari perasaan buruk tentang orang lain, tetapi juga memberi kita kekuatan untuk memfokuskan diri pada tindakan baik.

Kita harus bisa membedakan penilaian seperti apa yang memberikan manfaat dan mana yang tidak. Ketika kita bisa melakukannya, kita akan selalu bisa menjaga diri dari kerapuhan.