Motivasi tidak akan selalu bekerja! menjadi disiplin

Pernahkah kamu berada di keadaan di mana kamu sulit tergerak untuk melakukan sesuatu? Kamu kemudian beranjak dan memulai petualanganmu untuk mencari motivasi, entah itu membaca artikel, menonton video atau juga mendengarkan podcast. Setelah beberapa waktu, kamu menyadari bahwa ada hal yang tidak biasa terjadi pada dirimu—kamu tetap tidak bersemangat.

Di ronde selanjutnya, kamu kemudian memilih untuk bersantai dan menunda (lagi) pekerjaan yang seharusnya kamu selesaikan. Daripada harus melihat pekerjaan kantor, tugas kuliah atau proyek yang bisa memperbaiki keahlianmu, kamu lebih memilih untuk kembali mengambil telepon pintar dan mulai masuk ke dalam lubang hitam tak berujung—dunia maya.

10 menit yang kamu janjikan nyatanya berakhir dengan 3 jam. Kamu memang terhibur dengan video “rencana kucing menguasai dunia”, tetapi di saat yang bersamaan kamu juga merasa menyesal telah meninggalkan pekerjaanmu.

Motivasi memang tidak selalu bekerja, tetapi kedisiplinan akan selalu bisa membuatmu menyingsingkan lengan baju!

You will never always be motivated. You have to learn to be disciplined

•  •  •

MOTIVASI VS KEDISIPLINAN

Mengerjakan sesuatu dengan motivasi dan mengerjakan sesuatu dengan kedisiplinan adalah dua hal yang berbeda.

Motivasi adalah tentang perasaan. Kita tidak akan memulai bahkan menyelesaikan sesuatu jika kita berada pada titik “tidak ingin”, “tidak bahagia”, “malas”, dll. Dengan kata lain ketika kita menggunakan motivasi sebagai bahan bakar, kita harus memberi makan emosi dan mental kita agar bisa mulai bekerja.

Masalahnya, bagaimana kalau emosi dan mental kita tetap saja tidak membaik setelah disuapi berbagai macam motivasi dari luar? Apakah itu artinya menunda pekerjaan dan bersantai adalah pilihan yang tepat? Apakah itu berarti menelantarkan tugas adalah pilihan yang terbaik?

Bergantung pada motivasi hanya akan melukai pekerjaan yang harus diselesaikan, perbaikan, dan perasaan kita sendiri.

Daripada bergantung pada motivasi, seharusnya kita bergantung pada kedisiplinan. Kedisiplinan membedakan antara emosi yang terlibat dengan pikiran rasional kita. Emosi mungkin memberi sinyal kepada kita untuk mencari hal yang bisa memuaskannya, tetapi pikiran rasional kita menyuruh kita untuk mulai bekerja karena adanya bayang-bayang kerugian yang akan kita dapatkan jika menunda pekerjaan.

Di sanalah perbedaan yang harus selalu kita ingat!

Motivasi itu rapuh karena kita hanya mau mulai bergerak ketika emosi dan mental kita “siap”, padahal kita tidak bisa menjamin hal itu. Berbeda dengan kedisiplinan, dia sangatlah kuat karena dia tidak mempedulikan perasan kita. Mau sedang bersedih karena putus cinta, mau sedang marah karena celana robek, kita akan tetap mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Jangan gantungkan pekerjaan pada emosi, gantungkan pada konsekuensi!

•  •  •

ATURAN SATU: KEMBALI KE DASAR UNTUK MENJADI DISIPLIN

Pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana cara menjadi disiplin?” Kembalilah ke dasar dan gunakan aturan satu!

Saat belajar untuk disiplin, kita seringkali masih memegang kepercayaan bahwa semua hal besar dimulai dari hal yang besar juga.

  • Jika mau disiplin dalam berolahraga, kita harus melakukannya selama 5 jam dengan beban yang bisa membuat otot menangis.
  • Jika mau disiplin dalam belajar, kita harus membaca materi selama berjam-jam sampai mata merah, perut lapar, kepala pusing, kemudian mengerjakan soal sampai otak berasap.
  • Jika mau disiplin dalam membaca buku, kita harus menyelesaikan dua buku dalam satu hari.

Kepercayaan seperti itu hanya akan membuat kita kembali ke mode “remuk bro!” karena semua hal itu hanya menyiksa kita layaknya melakukan debus tanpa memiliki ilmunya.

Kembali ke dasar mengartikan bahwa kita harus memulai belajar disiplin dari hal yang paling mudah, tidak membebani kita, tetapi selalu bisa membuat kita beranjak dan menggunakan otot-otot kita.

Maka dari itu, kita membutuhkan aturan satu untuk membangun kedisiplinan dalam hal apa pun.

cara menjadi disiplin

1. SATU TUJUAN (WHY)

Kesalahan umum: Pikiran kita sangat mudah terganggu. Sekali kita mengizinkan dia untuk memberikan fokus kepada hal lain, di sanalah kita kehilangan tujuan utama kita.

Ketika kamu membuka Instagram, tujuanmu yang awalnya ingin stalking akun yang berisi informasi penting menjadi stalking akun yang berisi video makanan.

Ketika kamu membuka Youtube, tujuanmu yang awalnya ingin menonton video TED menjadi menonton rekomendasi Youtube—alasan mengapa kamu jomblo.

Kembali ke dasar: Lupakan semua gangguan! ambil alih pikiranmu dan tanamkan SATU tujuan utamamu!

Kita harus mulai belajar untuk hanya fokus pada satu tujuan sebelum menyelesaikan tujuan yang lain.

Jika tujuanmu ingin menulis, menulislah terlebih dulu dan hiraukan hal lainnya. Jika tujuanmu ingin melukis, melukislah dan tinggalkan semua gangguan lainnya. Jika tujuanmu ingin berolahraga, berolahragalah dan jangan pedulikan penarik hati lainnya.

•  •  •

SATU PERSEN (HOW)

Kesalahan umum: Melihat puncak terkadang justru malah melupakan kita. Kita akhirnya hanya ingin melihat hasil besar secara cepat meskipun harus mengorbankan hal lain—tenaga, kualitas, waktu, kesehatan, dll.

Jika kamu adalah seorang yang bisa bertahan dalam tekanan tinggi, mungkin kamu akan melihat hal besar sebagai tantangan yang bisa ditaklukkan. Sayangnya, kebanyakan orang hanya berakhir dengan tempat yang sama—tidak ada perkembangan.

Mereka hanya mendorong dirinya di awal perjalanan dan kemudian berhenti karena kewalahan.

Kembali ke dasar: Confucius mengatakan bahwa perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Artinya, sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil.

Tidak usah menyetel pekerjaan dalam tingkat tertinggi jika dalam tingkat terendah saja kita masih belum tahu bisa atau tidak. Ini bukan berarti kita tidak mau mendorong diri kita untuk berusaha lebih, tetapi ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan konsistensi yang tahan lama.

Permulaan yang besar biasanya hanya membuat kita terbebani, akibatnya konsistensi dikorbankan. Di sini menjadi disiplin hanya akan berakhir dalam status “wacana”. Tidak lebih!

Lakukanlah dari hal terkecil meskipun itu hanya satu persen. Setelah terlihat mudah tambah beban lagi untuk terus berkembang.

Mulailah menulis satu kalimat per hari. Jika sudah terlalu mudah tambah menjadi satu paragraf, dan seterusnya.

Mulailah memotret satu foto per hari. Jika sudah terlalu gampang tambah menjadi 10 foto, dan seterusnya.

Satu persen akan mengatakan pada pikiran kita bahwa pekerjaan yang dikerjakan adalah pekerjaan yang mudah dan sangat bisa untuk diselesaikan. Selain kita bisa memaksimalkan usaha di setiap satu persennya, kita juga akan memperbaiki kemampuan jika beban terus ditambah seiring berjalannya waktu.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit!

•  •  •

SATU PEKERJAAN (WHAT)

Kesalahan umum: Mengerjakan banyak pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Salah!

Mengerjakan banyak pekerjaan atau multitasking hanya akan menyakiti produktivitasmu. Dalam banyak kasus, orang seperti ini hanya menggambarkan bahwa mereka sibuk, bukan produktif.

Setiap kali kita beralih dari melakukan A ke melakukan B, ada proses jeda di mana kita akan berhenti dan mulai kembali. Hal ini menyebabkan kita terkena switching cost.

Switching cost adalah gangguan dalam kinerja yang kita alami ketika kita mengalihkan perhatian kita dari satu tugas ke tugas lain.

Sebuah studi tahun 2003 yang diterbitkan dalam International Journal of Information Management menemukan bahwa biasanya orang yang memeriksa surel setiap lima menit memiliki rata-rata 64 detik untuk kembali fokus dan bisa melanjutkan tugas sebelumnya setelah memeriksa surel.

Dengan kata lain, karena surel saja, kita membuang satu dari setiap enam menit.

Bagaimana kalau tugasnya lebih berat? mungkin kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa kembali fokus pada tugas sebelumnya.

Kembali ke dasar: Multitasking memberi kita perasaan bahagia. Dia memberi sebuah ilusi bahwa mengerjakan banyak pekerjaan membuat kita lebih produktif.

Maka dari itu, adalah pilihan yang sangat baik jika kita menjadi seorang monotasker—seorang yang hanya mengerjakan satu pekerjaan.

Selain mendapatkan fokus dalam poin tertinggi, menjadi monotasker juga memberikan kita kualitas dalam pengerjaannya. Kita akan jauh dari gangguan yang menarik kita kepada kerugian.

Sebanyak apa pun daftar pekerjaan yang kamu buat, pastikan untuk memprioritaskannya dengan baik. Setelah itu, kerjakan satu per satu secara dengan dedikasi tinggi dan berkualitas tanpa mempedulikan pekerjaan yang lainnya. Ketika waktunya telah tiba, semua konsentrasi boleh kamu berikan kepada tugas selanjutnya.

•  •  •

SATU WAKTU (WHEN)

Kesalahan umum: Kutipan dari Seneca akan sangat pas untuk mengawali bagian ini.

Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada kenyataan.

Ketakutan kita akan gagalnya sesuatu yang kita kerjakan, keraguan kita akan buruknya hasil yang kita harapkan, atau kesedihan akan hilangnya sesuatu yang kita jaga, seringkali hanya bermain dalam imajinasi.

Kita? Hilang di dalamnya!

Kembali ke dasar: Kita harus selalu ingat bahwa masa lalu tidak bisa diubah. Masa depan belumlah kita ketahui. Satu hal yang dimiliki setiap orang adalah SEKARANG.

Jadi tidak usah tenggelam dalam perasaan yang dibawa masa lalu dan jangan lancang untuk menerka-nerka waktu di depan dengan suara pikiran yang bernilai kosong.

Tugas kita hanya melakukan yang terbaik di satu waktu, sekarang. Tugas selanjutnya? Menerima apa yang kenyataan bawa pada kita dan memperbaikinya!

•  •  •

SAATNYA MENJADI DISIPLIN

Membangun kedisiplinan akan menjadi hal yang mudah jika kita memulainya dari yang paling dasar sampai menjadi hal yang besar.

Berikut ini adalah rangkuman manfaat yang kita dapatkan dari aturan satu ini:

  • Tujuan yang kuat di setiap tugas.
  • Pekerjaan yang berkualitas.
  • Kemampuan yang akan terus membaik dari waktu ke waktu.
  • Fokus hanya pada hal yang terbaik.
  • Mencegah perasaan khawatir, takut, ragu, dan memilih untuk memulainya dengan kemampuan yang terbaik.

Saatnya menjadi disiplin dan tidak ada lagi pekerjaan yang terabaikan!

Discipline is being able to force yourself to do something, in spite of how you feel, over and over until it becomes a habit.

— Kim Brenneman

menjadi disiplin menjadi disiplin

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.