Mengapa kamu berteman dengan temanmu sekarang? Mengapa kamu memilih satu di antara banyak orang untuk menjadi kekasihmu saat ini? Atau sederhananya, mengapa kamu menjalin hubungan dengan orang yang kamu pilih?

Kamu bisa menjawabnya dengan daftar kata sifat seperti baik, rupawan, tidak egois, sabar, dll, karena kebanyakan dari kita memang membangun sebuah hubungan berlandaskan hal itu, tetapi alasan lebih besar sebenarnya adalah karena kita melihat sebuah hubungan sebagai tempat antara dua orang atau lebih yang jika disatukan bisa saling membantu meringankan rasa sakit, membantu mengenali diri sendiri, dan membantu menjadi lebih baik.

Dengan kata lain, kata sifat bukanlah patokan pasti untuk terhubung lebih dalam dengan orang lain karena tidak menjamin adanya pertukaran nilai yang dibutuhkan di sana.

Kamu mungkin memang suka dengan orang yang rupawan, tetapi ketika berusaha terhubung dan menemukan ketidakcocokkan, kedekatan emosional tidak akan bisa tercipta. Kamu mungkin memang mengagumi seseorang yang terkenal, tetapi ketika berusaha terhubung dan menemukan ketidaknyamanan, kepercayaan dan keamanan tidak akan bisa terbentuk.

Menjalin hubungan yang intim membutuhkan waktu yang berkelanjutan, bukan sekedar mengatakan hai atau saling berkabar melalui pesan dalam semalam. Dia tercipta ketika orang-orang di dalamnya bisa mengomunikasikan perasaan mereka satu sama lain, bisa berbagi subjektivitas satu sama lain, dan bisa memahami satu sama lain.

Di sanalah, mereka menciptakan sebuah budaya yang dijunjung tinggi dalam hubungan, terucap atau tak terucap, yang mendikte jalan mana yang bisa membuat hubungan mereka bekerja dengan baik.

Jika itu masih abstrak, kita bisa melihat contoh umum yang ada di sekeliling kita—menggunjing orang lain. Ketika satu orang membagikan perasaannya tentang orang lain dan disetujui oleh orang-orang yang ada di dalam lingkaran hubungannya secara terus-menerus, mereka semua telah membangun budaya bahwa menggunjing adalah alat yang bisa memberikan validasi diri, bahwa menggunjing adalah cara instan untuk terhubung, bahwa menggunjing adalah hal yang bisa mempererat sebuah hubungan.

Baik atau buruk, sehat atau tidak, itu adalah salah satu dari sekian banyak budaya dalam hubungan yang kita lakukan untuk meningkatkan kedekatan dengan orang lain entah itu dalam lingkup keluarga, pertemanan, pekerjaan, atau percintaan.

• • •

Budaya dalam Hubungan yang Tidak Terpenuhi

Dalam lingkup kecil, budaya yang dipraktikkan dalam sebuah hubungan memang bisa memberikan dampak positif bagi pelaku-pelaku yang terlibat. Sayangnya, kita melewatkan sisi lain yang mengatakan: Jika konsistensi pola budaya yang ada dalam hubungan itu rusak, maka mutu hubungan itu juga akan rusak.

Begini, katakanlah kita saling berteman dan memiliki budaya untuk saling tolong menolong. Suatu hari, aku membutuhkan bantuanmu. Aku menghubungimu dan meminta waktumu. Tanpa berpikir panjang, bagaimanapun kondisi dan situasimu, kamu mengiyakannya karena itulah budaya yang kita setujui dan percayai.

Sekarang, ceritanya berubah. Kamu memiliki masalah dan menghubungiku karena tahu bahwa aku memiliki apa yang kamu butuhkan. Rupanya, harapan yang kamu gantungkan hanya bersambut kenyataan bahwa aku tidak bisa menyanggupi permintaanmu.

Apa yang kamu rasakan? Kamu merasa jengkel. Kamu akan memainkan bermacam-macam narasi di dalam kepalamu dan mulai membuat pernyataan yang mendukung asumsi bahwa aku ‘hanyalah sahabat yang datang ketika butuh saja’.

“Tidak apa-apa.” Itu pikirmu secara positif dan mencoba memahami keadaanku, tetapi bagaimana jika aku melakukannya berkali-kali dengan skenario yang sama? Aku yakin, di satu titik, kamu tidak akan tinggal diam. Kamu akan berusaha mengonfrontasiku dan mempertanyakan kapasitasku sebagai sahabat. Bahkan, kamu tidak segan untuk mengungkit-ungkit segala hal yang telah kamu berikan. Kita sama-sama marah dan menunjukkan sisi kebenaran masing-masing.

Pelajaran besar yang bisa kita ambil adalah: Ketika budaya dalam hubungan terbangun dengan baik, orang-orang di dalamnya akan cenderung berperan sebagai ‘pengemis’—terus-menerus meminta cinta, waktu, rasa hormat, kenyamanan, kebahagiaan, ini dan itu. Mereka bergantung kepada orang lain ketika dihadapkan dengan suatu masalah.

Alhasil, ketika ada anggota yang tidak mendapatkan timbal balik sesuai dengan budaya yang dihargai dalam hubungan tersebut, mereka akan menghadapi ketidakpuasan dan kekecewaan. Mereka melihat ketidakseimbangan usaha yang mereka berikan dengan respon yang diberikan. Lebih buruk, mereka yang dulu dengan semangat membantu orang terdekatnya akan menarik diri dan membuat batasan baru.

Memang, konsisten mengikuti budaya dalam hubungan bisa mempertahankan keharmonisannya, tetapi mengikutinya 7/24 juga akan menyebabkan kita kehilangan waktu untuk diri sendiri.

Bukankah itu pilihan yang sulit? Pilihan pertama mengartikan bahwa kita harus mementingkan orang lain. Sedangkan pilihan kedua mengartikan bahwa kita harus mementingkan diri sendiri.

Sayangnya, kita tidak bisa memilih mana yang lebih baik di antara dua hal tersebut karena merekalah yang membuat kita menjadi manusia. Solusinya adalah kita harus mencari jalan tengah—memahami pentingnya kebersamaan dan pemisahan dalam sebuah hubungan.

• • •

Kesalahan dalam Menjalin Hubungan

Dalam bukunya yang berjudul Mating in Captivity: Unlocking Erotic Intelligence, Esther Perel menuliskan…

Ada hubungan yang kompleks antara cinta dan keinginan, dan itu bukan pengaturan sebab akibat, linear. Kehidupan emosional pasangan bersama dan kehidupan fisik mereka bersama masing-masing memiliki pasang surut, tetapi ini tidak selalu sesuai. Mereka berlawanan, mereka saling memengaruhi, tetapi mereka juga berbeda.

Secara tersirat, itu menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan, kita harus bisa membuat batasan antara kebersamaan dan pemisahan. Kebersamaan menjelaskan tentang pendekatan diri dengan hal eksternal—hubungan kita dengan orang lain dan budaya yang berlaku. Sedangkan pemisahan menjelaskan tentang menikmati hal internal—hubungan kita dengan diri kita sendiri.

Hubungan yang baik akan lahir ketika orang-orang di dalamnya bisa menyikapi perbedaan itu secara seimbang. Henry Cloud dan John Townsend menuliskan dalam bukunya yang berjudul Boundaries bawah keseimbangan akan memberikan mutualisme—kebersamaan menciptakan kebutuhan untuk terpisah, pemisahan menciptakan perasaan saling rindu.

Kita bisa melihat bahwa tujuan pemisahan bukanlah untuk memperburuk hubungan. Malah, dia bisa membuat hubungan menjadi lebih dekat karena adanya celah yang harus ditutup. Tidak hanya itu, pemisahan juga memberikan ruang bagi kita untuk menikmati dunia kita sendiri.

Pernah mendengar keluhan semacam ini? “Pasanganku kerjaannya main game terus. Nggak inget waktu. Nggak inget umur!”

Pernyataan seperti itu menjelaskan adanya dua orang yang tidak bisa menyeimbangkan kebersamaan dan pemisahan. Satu mengekspresikan kebersamaan secara 100%, satu lagi mengekspresikan pemisahan secara 100%. Bisa kita tebak bahwa orang pertama akan merasakan kekecewaan dan sakit hati yang lebih besar karena merasa tidak adanya perhatian dari pasangannya.

Kita pasti pernah mengalaminya juga, tetapi dalam kondisi seperti itu, siapa sebenarnya yang tidak pengertian?

Jawabannya adalah tidak ada! Hubungan seperti itu hanya menggambarkan kesalahan terbesar sebelum menjalin hubungan dengan orang lain: Tidak memiliki dunia sendiri—melakukan hobi, mengasah keterampilan, mengembangkan proyek, dllsebagai tempat pelarian penolakan sehingga kita selalu membuat orang lain bertanggung jawab atas kebutuhan dan keinginan kita, dan menyalahkan mereka atas kekecewaan kita.

  • Ketika pasangan membutuhkan waktu untuk melakukan hobinya, kita merasa diacuhkan dan membenci tindakan mereka.
  • Ketika teman kita menikmati me time mereka, kita merasa tidak diindahkan dan marah kepada mereka.

Hei, kehidupan tidak bekerja seperti itu! Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan meskipun kita harus merengek, menunjukkan kekecewaan, atau bahkan menghukum orang lain agar mereka mengerti.

Kita harus sadar bahwa keinginan kita adalah tanggung jawab kita, bukan orang lain. Sakit hati yang kita rasakan bukan salah orang lain, tetapi kesalahan kita yang tidak meletakkan tugas pada tempatnya.

Meskipun dalam hubungan kita membawa tujuan yang sama, tetapi jangan melupakan dasar bahwa kita adalah individu yang berbeda—mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menjalani kehidupan.

Ketika kita tidak mampu memisahkan diri dalam sebuah hubungan, masalah besar tidak hanya berlaku bagi kita, tetapi juga kualitas hubungan itu sendiri.

• • •

Mencapai Keseimbangan Hubungan

Menyeimbangkan kontradiksi—kebersamaan dan pemisahan—bukanlah sebuah perkara mudah dalam sebuah hubungan. Terlebih lagi, kita memiliki kebiasaan untuk lebih menghargai bagaimana kata ‘peka’ bekerja daripada memberitahu seseorang secara langsung.

Kita menyimpan ketidaksesuaian yang mereka lakukan dan menjadikannya tolok ukur apakah teman, sahabat, atau pasangan kita sadar terhadap apa yang dilakukannya atau tidak. Padahal, pada akhirnya, hasilnya akan sama—kita menyalahkan mereka.

Aku mengerti bahwa dalam kasus tertentu kita memang membutuhkan kepekaan seseorang, tetapi dalam konteks perbedaan haluan—kebersamaan atau pemisahan—mengomunikasikannya secara langsung adalah tindakan yang lebih tepat. Selain tidak menguras emosi karena menunggu seseorang sadar, kita juga lebih bisa mempersingkat waktu untuk mencari kejelasan.

Kaisar Romawi, Marcus Aurelius, menuliskan poin yang sama dalam jurnalnya Meditations

Don’t be irritated at people smell or bad breath. What’s the point? With that mouth, with those armpits, they’re going to produce that odor. But they have a brain! Can’t they figure it out? Can’t they recognize the problem? So you have a brain as well. Good for you. Then use your logic to awaken his. Show him Make him realize it. If he’ll listen, then you’ll have solved the problem. Without anger.

Sederhananya, jika ada hal yang mengganggu, ada batasan diri yang dilanggar orang lain, berdialog adalah tahap awal untuk menyelesaikan perbedaan secara bersama-sama. Tidak menunggu. Tidak berharap. Tidak berbuat pasif.

Sayangnya, tidak ada formula pasti bagaimana cara untuk mencapai keseimbangan itu karena setiap orang akan menyesuaikan kebutuhan berdasarkan batasannya masing-masing. Meskipun begitu, kita masih bisa mengambil satu pelajaran universal yang bisa kita terapkan pada hubungan apa pun: Ketika kedua belah pihak telah menyetujui batasan yang ditetapkan, menghargai pilihannya di waktu selanjutnya adalah kewajiban yang harus selalu dijaga.

Kita juga harus paham bahwa batasan yang kita buat masih bisa diintervensi oleh kehidupan. Banyak hal di luar kontrol yang bisa menggagalkan rencana yang kita buat. Dengan menyadari dan menerima fakta itu, kita akan tetap bisa berada pada jalur yang seharusnya, jalur untuk saling menghargai keputusan orang lain.

  • Temanmu membatalkan janji karena ingin menyelesaikan tugas kuliahnya? Dukung mereka dan alokasikan waktu yang ada untuk melanjutkan membaca bukumu yang belum selesai, bermain game favoritmu, atau menonton film.
  • Pasanganmu menolak untuk menghadiri acara X karena tidak nyaman dengan beberapa temanmu di sana? Bicarakan baik-baik. Kamu bisa tetap berangkat dan pasanganmu bisa menghabiskan waktu untuk melakukan hobinya.

Tujuan dalam menjalin hubungan adalah mencapai kebaikan bersama-sama, tetapi jika kita tidak menghargai ruang orang lain untuk memisahkan diri dan menikmati dunia mereka, hubungan hanya menjadi sebuah media untuk menyakiti satu sama lain.

Pertanyaannya, apakah kamu sudah mempunyai dan bisa menikmati duniamu sendiri?