Millennials : Kita Generasi Terburuk?

Millennials : Kita Generasi Terburuk?

Each generation imagines itself to be more intelligent than the one that went before it, and wiser than the one that comes after it.

— George Orwell

Baby Boomers, Generation X, adalah generasi yang telah melewati masanya. Dan seperti biasa adanya, akan selalu ada generasi setelahnya.

Tiba saatnya anak muda yang mewarisi tongkat estafet untuk kelangsungan hidup manusia, dan merekalah yang sering kita sebut dengan….

MILLENNIALS!

Tapi tunggu, apakah kalian termasuk dalam generasi ini?

Jika menurut artikel yang dipublished oleh theatlantic, millennial adalah mereka yang lahir pada 1982 dan 20 tahun sesudah itu.

Berdasarkan pengumpulan data, inilah generasi dari tahun-ke tahun.

Millennial : Kita Generasi Terburuk?

Baik, jika memang kalian merasa generasi millennials, apakah kalian merasa ada yang salah dengan generasi kita?

Generasi sebelum kita mengatakan bahwa kita adalah generasi terburuk. Apakah kalian berpikir demikian?

• • •

Dalam kesempatan saat diwawancarai oleh Tom Bilyeu di Inside Quest, Simon Sinek menaggapi tentang bagaimana generasi kita, millennials, di dalam dunia kerja.

Menurut Simon Sinek, Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, Millennials adalah generasi yang sulit untuk menata, dilabeli dengan generasi yang narsis, egois, tidak fokus, pemalas, dan generasi yang dianggap sulit untuk bahagia.

Berikut ini adalah tanggapan Sinek dan sedikit aku tambah dengan realita yang terjadi di sekitar kita.

Ada 4 hal yang membuat generasi kita menjadi generasi yang buruk.

SALAH DIDIK

Generasi kita adalah generasi dari hasil didikan orangtua yang salah.

Kita sering diberitahu bahwa kita spesial, kita bisa memiliki apapun di dunia ini hanya karena kita ingin. Terkadang kita mendapatkan sesuatu bukan karena kita layak medapatkannya tetapi karena adanya pengaruh orangtua yang selalu mendukung kita.

Banyak sudah contoh di sekitar kita, dimana siswa yang mendapat hukuman karena jelas melakukan hal yang salah, justru dibela oleh orangtuanya. Mereka diberlakukan bak raja dan ratu.

Iya, aku tahu jika aku yang menjadi orangtua, aku akan melindungi anakku. Tetapi, aku sebagai orangtua juga harus tahu bahwa sesuatu yang salah tidak sepatutnya untuk dibela. Selama anak kita dihukum dengan benar kenapa harus membayar dengan kekerasan kepada guru mereka?

Bukankah dari kecil kita juga sudah dididik untuk selalu memperjuangkan yang benar. Lalu kenapa saat menjadi orangtua kita buta mata buta hati akan hal itu?

Guru yang seharusnya menjadi orangtua disekolah, dihormati dan kita sayangi malah menjadi korban oleh anak didiknya sendiri. Yang lebih memprihatinkan, mereka didukung penuh oleh orangtuanya. Akhirnya? Nyawa gurupun dianggap bukan sesuatu yang mahal lagi.

Padahal jika kita pikir, titik dimana kita sekarang pijaki ini juga karena ada jasa dari guru-guru kita.

Dan pada saat mereka lulus, dan mendapatkan pekerjaan. Mereka sadar bahwa mereka tidak spesial, orangtua mereka tidak bisa membantu, mereka sadar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, mereka harus berjuang. Sendiri!

Mereka juga sadar bahwa semua butuh waktu, dan mereka sadar bahwa tidak ada yang instant.

TEKNOLOGI

Berkembangnya teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi dan bersosialisasi. Dibalik manfaatnya yang banyak, sosial media juga mempunyai setumpuk sisi negatif jika penggunanya tidak bijak dalam menggunakannya.

Sosial media tidak jauh halnya dengan alkohol, judi, atau merokok. Mereka membuat kita kecanduan!

Ketika likes, followers dan views adalah prioritas hubungan sosial kita. Mereka jugalah yang membuat kita terus memproduksi hormon dopamin. Hormon yang membuat kita bahagia, sehingga ingin terus mendapatkannya.

Tempat yang indah, makanan yang mewah, barang-barang yang wah telah menjadi alat ukur untuk kepercayaan diri. Ketika kalian tidak mendapatkan like, kalian akan berpikir bahwa kalian tidak disukai, kalian berpikir kalian telah melakukan sesuatu yang salah.

Akibatnya? Kalian menjadi kurang percaya diri.

Dulu, kita hanya menerima pengakuan dari orangtua kita. Tapi, sekarang kita membutuhkan pengakuan dari teman-teman kita. Kita menggantungkan mereka!

Ketika kita bahagia? Kita lari ke sosial media.

Ketika kita stres? Kita lari ke sosial media.

Ketika kita sedih? Kita lari ke sosial media.

Apapun emosi yang kita dapat, sosial media adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan pengakuan dari teman-teman kita. Kita hanya mencari pelampiasan yang bersifat sementara.

Tidak ada yang salah denga sosial media, tetapi ada ketidakseimbangan antara bagaimana sosial media yang terus berkembang dengan bagaimana kita berkembang.

Sosial media akan membayar dengan hubungan, waktu, uang dan kehidupan yang lebih buruk jika tidak dimanfaatkan dengan baik.

KETIDAKSABARAN

Ingin makanan? swipe and you get it!

Ingin melihat film? swipe and you get it!

Ingin belanja? swipe and you get it!

Bahkan ingin berkencan? swipe and you get it!

Semuanya bisa kita dapatkan secara instant, tidak butuh waktu lama, dan selalu bisa memuaskan dalam waktu yang sekejap.

Kita tidak perlu lagi untuk menunggu lama, membuat kita tidak nyaman karena proses yang lama dan berantakan.

Kita memimpikan menjadi orang yang sukses, yang memiliki pengaruh yang besar kepada masyarakat. Oh tidak, bahkan lebih dari itu, kita bermimpi untuk mengubah dunia.

Itu bagus, aku tidak bilang itu salah. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah kita masih sering meilihat suatu puncak tanpa melihat gunungnya. Kita sering melihat kesuksesan tanpa meilhat prosesnya. Kita masih saja tidak mau untuk belajar hal baru.

Banyak diantara kita yang menggebu-gebu ingin menjadi entrepreneur setelah melihat kesuksesan seseorang, tetapi bingung mau mulai dari mana.

Banyak diantara kita yang menganggap keluar dari kuliah merupakan hal yang bagus, karena kita tahu bahwa CEO dunia kebanyakan seorang yang tidak melanjutkan kuliahnya. Tapi ada hal yang kalian harus tahu.

Pertama, mereka keluar dari kampus sekelas Harvard. Kurang jelas? HARVARD!

Kedua, mereka tidak hanya tahu tentang passion mereka sebenarnya, tetapi juga memiliki ilmu yang cukup untuk memulainya.

Kita? Dipancing judul ” Lihat lingkaran merah dan lihat apa yang terjadi “ saja sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menontonya. Dan yang enggaknya, masih meluangkan waktu untuk mengomentarinya. What a waste!

Belajarlah untuk sabar dalam proses, karena cinta, pekerjaan, kepercayaan diri, kesuksesan adalah sesuatu yang membutuhkan waktu.

LINGKUNGAN

Dunia pekerjaan adalah dunia yang akan kita hadapi setelah lulus dari bangku pendidikan. Tidak sedikit dari kita yang akan bekerja untuk perusahaan.

Masalahnya adalah, kebanyakan perusahaan hanya memikirkan tentang angka, tentang uang yang akan mereka hasilkan. Mereka lupa,  bahwa mereka sebenarnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu kepada karyawannya.

Perusahaan tidak membantu kita untuk membangun kepercayaan diri, tidak membantu kita untuk belajar sesuatu keahlian perusahaan, tidak membantu kita untuk mengatasi tantangan di era digital, dan tidak membantu kita untuk mengatasi kebutuhan kita tentang sesuatu yang instan.

Yang terjadi? Kita merasa bahwa kita seorang yang gagal, kita beranggapan kita yang tidak bisa mengatasi semua masalah itu.

Yakinlah, bahwa itu semua tidak sepenuhnya salah kita, tetapi yang lebih besar adalah perusahaan, lingkungan kita bekerja dan kekurangannya pemimpin yang baik.

• • •

BREAK DOWN

Itu kan subjektif saja.

Mungkin itu adalah kalimat yang ada dibenakmu. Tidak terima ketika generasi kita dibilang generasi terburuk. Kalian juga berpikir bahwa masih banyak kaum millennial yang memiliki prestasi mentereng , bahkan beberapa dari mereka menjadi orang yang berpengaruh untuk negaranya.

Lalu kemudian muncul pertanyaan seperti ini

” Apakah memang benar generasi sebelum kita adalah generasi yang lebih baik? “

Kita merasa bahwa kita dikritik dan dicap habis-habisan dengan label “buruk” oleh generasi sebelum kita. Faktanya, ternyata hal itu juga terjadi di generasi sebelum kita. Dimana generasi penerus dikritik oleh generasi sebelumnya. Tidak percaya?

Lihat video ini, Video itu adalah dari sebuah serial TV berjudul Dragnet 1967. Dalam video tersebut ada dua polisi yang sedang menasihati beberapa anak muda.

Kita tahu bahwa serial TV itu sudah direkam lebih dari 50 tahun yang lalu. Tetapi memiliki sesuatu kemiripan.

Iya,  di video itu memperlihatkan bagaimana anak muda yang juga dikritik oleh generasi sebelumnya, Baby Boomers. Tidak jauh halnya kita yang sekarang di kritik oleh generasi diatas kita.

Poinnya adalah, setiap generasi pasti selalu menghadapi hal yang berbeda dan berperilaku yang berbeda, sehingga akan selalu dilihat berbeda juga oleh generasi sebelum kita. Lalu kenapa seakan-akan millennials dilihat sebagai generasi yang paling buruk?

The Children now love luxury. They have bad manners, contempt for authority, they show disrespect for elders. And love chatter in place of exercise.

Children are now tyrants, no longer rise when elders enter the room. They contradict their parents, chatter before company, gobble up dainties at the table, cross their legs, and tyrannize their teachers.

— Socrates

• • •

BENANG MERAH

Tidak usah menaikkan ego dan membuktikan bahwa generasi kita adalah generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Karena bisa saja kita memang lebih buruk dari mereka, sebelum kita.

Yang terpenting bukanlah itu. Yang terpenting adalah bagaimana sekarang, kita, millennials, menggunakan semua kemajuan zaman ini dengan benar dan bijak, sehingga bisa membuat perubahan yang lebih baik.

Jika kalian merasa sudah benar dalam menjalani kehidupan ini, tingkatkan lagi. Jika kalian masih tersinggung dengan kritakan diluar sana, perlu ada yang kalian ubah.

Kita adalah generasi pertama yang menghadapi internet. Dimana berita-berita palsu bisa tersebar dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Jika kita tidak bisa menyaring itu semua, maka bersiaplah untuk menuju kehancuran.

Kita harus sadar bahwa kita adalah generasi penerus, yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelum kita.

Dengan berbagai infrastruktur yang semakin baik, harusnya bisa membuat kita menjadi generasi yang lebih baik juga.

Kita sebagai millennials akan membawa pengaruh yang besar, dan berperan dalam hal-hal yang penting dalam lingkungan, teknologi dan kehidupan manusia.

Kita sebagai millennials akan menjadi orang tua untuk generasi setelah kita. Yang artinya kita akan menjadi panutan mereka. Jika sekarang kita tidak bisa berbuat baik untuk diri sendiri, bagaimana untuk anak, cucu kita, dan lingkungan yang lebih besar?

Kita sebagai millennials harus bisa memberi perubahan dengan segala fasilitas yang kita dapatkan. Bukan hanya menjadi penikmat, tetapi juga menjadi inovator.

Dengan bersatu, sadar akan pentingnya diri kita, tahu memanfaatkan semua perkembangan zaman yang ada, kita akan bisa mengubah dunia.

Dari mana kita mulai? Lihat dirimu, dan mulai dari dirimu!

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Katakanlah : “Lakukan perjalanan dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.”

— QS Ar-Rum 41:42